Petualang Masa Lalu episode 3

Chapter 3 : Gunung Sumbing

Ki Gede membawaku ke sebuah emm…apa ya namanya? Perkampungan? Kurang pas .. Soalnya lebih besar dan lebih ramai.
Oke..aku sebut saja pemukiman…ga salah lagi..hehe.
Ssbuah pemukiman yang besar. Tadi, saat kami sampai di dekat gapura pemukiman itu, Ki Gede menghentikan larinya dan berjalan santai.
Akupun mengikutinya… Hmmm…sama seperti orang naik motor mungkin ya? Begitu masuk daerah pemukiman harus berjalan dengan pelan..ga ngebut.
Kami berjalan beriringan memqsuki pemukiman tersebut.
Ternyata, di pemukiman itu ada juga warung. Tapi ya bukan warung seperti di jamanku…hehe. Ga bisa beli rokok di situ..
Beberapa bapak-bapak yang sedang di warung menyapa Ki Gede dan 2 putrinya. Yang dijawab Ki Gede dengan ramah.

“Siapakah anak muda ini Ki Gede?” tanya seseorang dari mereka.
“Oh…dia adalah tamuku.”
“Apakah dia seorang pendekar Ki Gede?”

Ki Gede memandangku dan aku menggeleng.

“Dia hanya pemuda biasa. Namanya Aji. Asalnya dari tempat yang jauh! Maaf, kami akan pulang dulu..sudah menjelang maghrib ini!”
“Oh…silahkan Ki Gede…!”

Kamipun melanjutkan perjalanan, hingga sampailah di sebuah rumah kuno yang sangat besar dengan halaman yang luas. Di regol (sekarang mungkin gerbang ya), ada dua orang bersenjata berjaga.
Melihat kedatangan kami, mereka segera menegakkan tubuh dalam sikap sempurna. Terlihat gagah sekali.

Ki Gede melangkah melewati regol, memasuki sebuah halaman yang sangat luas, yang dikelilingi oleh pohon sawo kecik. Sedang di tengah halaman, kosong tak ada apapun. Mirip tanah lapang.
Setelah melewati halaman, kami sampai di sebuah pendopo yang juga sangat luas. Tapi tak seluas pendopo di Keraton Jogja yang pernah kulihat.
Di pendopo hanya ada kursi beberpa buah saja, yang mengelilingi sebuah meja besar.
Selain itu, pendopo itu kosong.
Dari pendopo, kami masuk ke rumah utama.
Di situlah Ki Gede beserta keluarganya tinggal.
Ketika kami masuk ke dalam rumah utama itu, kami disambut seorang perempuan setengah baya yang masih terlihat kecantikannya.
Taksiranku, mungkin berumur kira-kira mendekati usia 40-an.
Setelah mencium tangan Ki Gede, wanita itu mendelik kepada Melati dan Menur.

Melati menunduk, tapi Menur malah cengengesan…

“Aji, kenalkan ini isteriku. Ibu dari kedua anak bandel ini!”

Aku hanya mengangguk hormat pada wanita itu. Wanita itu tersenyum padaku, lalu mempersilahkan kami untuk masuk ke ruang tamu.
Jangan membayangkan ruang tamu dengan sofa empuk ya?
Di ruang tamu itu hanya ada amben (semacam ranjang kayu) berukuran sangat besar. Cukup untuk duduk orang 20 di situ.
Ki Gede mengajakku duduk di situ sambil menunggu maghrib.
Saat sedang duduk dan minuman baru saja keluar, terdengar suara bedug dipukul bertalu-talu.

“Ah…sudah wayah (waktu) maghrib. Ayo kita sholat berjamaah di langgar!” ajak Ki Gede.
“Mari Ki Gede…!”

Kamipun menuju langgar (mushola) yang terletak di samping halaman luas itu. Sudah banyak orang yang berkumpul di situ. Di samping langgar, tampak banyak padasan (gentong tanah yang ada tempat keluar air semacam kran) untuk berwudhu jamaah. Iseng kuhitung ada 17 padasan. Busyet dah… Trus siapa yang ngisi padasan itu dengan air ya?
Jika satu padasan isinya 20 liter air, berarti untuk mengisi penuh padasan itu diperlukan 340 liter air. Bayangin aja kita disuruh nimba air dari sumur buat ngisi semua padasan itu…gempor yang ada mah.
Aku mengambil wudhu dan ikut bersama jamaah lain sebagai makmum. Ternyata Imamnya adalah Ki Gede.
Subhanallah…bacaan suratnya fasih dan indah. Ga nyangka, di balik sosoknya yang terlihat sangar, tapi begitu indah suaranya saat membaca ayat suci.
Ternyata memang kita ga bisa menilai seseorang hanya dari chasingnya doang.

Selesai sholat maghrib berjamaah, dilanjutkan dengan doa dan mengaji bersama. Yang mengisi pengajian juga Ki Gede… Salut…
Aku bisa mengambil kesimpulan bahwa Ki Gede, selain sebagai pemimpin pemerintahan di tanah perdikan ini, beliau juga pemimpin spiritual di sini.

Tak ada jamaah yang pulang.
Setelah itu, dilanjutkan dengan sholat Isya.
Setelah sholat Isya, jamaah bersalaman dengan Ki Gede dan pulang ke rumahnya.
Ki Gede mengajakku pulang ke rumahnya.
Kalian tahu apa yang kupikirkan? Minuman yang dikeluarkan sebelum maghrib tadi tentu sudah dingin…itu yang ada di pikiranku..
Dan…aku mulai lapar..haha.

Sesampai di rumah beliau, aku segera diajak masuk ke ruang makan dan diajak makan bersama.
Suasana makan bersama yang sudah lama tak kutemui, terasa menghangatkan hati.

Selesai makan, Ki Gede mengajakku duduk di balai-balai (amben)……..—baru nemu kata yang pas—…..

“Nak Aji…boleh aku memanggil begitu?”
“Silahkan saja Ki Gede…!”
“Nak Aji, aku penasaran sebenarnya daru mana asalmu? Apakah kamu bukan dari tanah jawa ini, karena tidak paham unggah ungguh (sopan santun), atau dari mana?”
“Maaf sebelumnya Ki Gede.. Saya akan menceritakan sejujurnya tentang diri saya. Namun, kemungkinan besar Ki Gede tak akan mempercayainya. Karena sebetulnya, sampai saat inipun saya juga masih sulit untuk mempercayainya. Tapi itulah yang terjadi.”
“Teruskan Nak…!”

Saat itulah Melati datang dengan membawa nampan berisi teko dari tanah beserta cangkirnya yang juga dari tanah.
Lalu dengan anggun meletakkannya di hadapan kami berdua. Setelah itu dia mengundurkan diri dari situ.

Akupun mulai mengisahkan apa yang aku alami dari awal aku tersedot oleh portal ghaib yang membawaku ke alam ini, sampai aku bertemu dengan Menur dan Melati.
Ki Gede Pamungkas tampak menyimak ceritaku tanpa memotong. Dan tak kudapati kekagetan ataupun keheranan atas ceritaku.
Setelah ceritaku selesai….

“Hmm…memang sebuah kejadian yang tak masuk akal. Intinya, kamu datang dari masa beratus tahun yang akan datang, dan ingin kembali lagi ke jaman itu?”
‘Benar Ki Gede…!”
“Baiklah… Jangan pernah ceritakan ini pada yang lain. Karena pasti tak ada yang mau percaya!”
“Termasuk Ki Gede sendiri…?” tanyaku.
“Memang susah untuk mempercayai ceritamu. Tapi aku percaya bahwa tak ada yang tak mungkin di dunia ini kalau Allah sudah berkehendak. Maka tenangkan hatimu. Aku akan menjaga rahasia ini. Tapi jika ditanya oleh orang lain asalmu dari mana, itu yang akan menyulitkan!”
‘Ki Gede punya masukan? Karena saya sama sekali tidak tahu nama daerah di jaman inl!”
“Hmm…kita cari daerah yang agak jauh dan sedikit terpencil. Ah..iya, katakan saja kalau kamu datang dari Gunung Sumbing. Begitu saja..
Karena aku juga punya sahabat di sana, dan orang-orang tanah perdikan ini juga mengetahuinya.
Dan letaknya sangat jauh dari sini…!”
“Baiklah kalau begitu Ki Gede.. Jika ada yang bertanya, saya akan menjawab begitu!”

Kaml mengobrol hingga larut malam, dan setelah larut, aku dipersilahkan untuk beristirahat di sebuah senthong (kamar) yang dikhususkan untuk tamu jauh.

Jadilah aku punya identitas baru. Aji, dari Gunung Sumbing.
Entah gunung sumbing sebelah mana…
Gunung Sumblng kan luas…
Yah…paling tidak jika dltanya asalku, aku bisa menjawabnya.


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset