Petualang Masa Lalu episode 30

Chapter 30 : Pertempuran 2 ( Serangan Gelap )

Mendengar peringatan Zulaikha itu, reflek aku menundukkan badanku. Kudengar kesiur lirih melewati atas kepalaku…

“ARGHHH……..!”
Kudengar sebuah jeritan di depanku. Musuhku jatuh terkapar dengan sebuah belati yang mengkilap menancap di batok kepalanya.
Aku terpana melihatnya ..
Aku segera berbalik untuk melihat siapa yang telah melontarkan belati itu. Mataku jelalatan mencari, namun yang ada hanya hiruk pikuk pertempuran dan bayang gelap pepohonan.
Zulaikha sudah berdiri di sampingku. Sedang Menik sudah melesat ke arah asal belati itu.

“Terima kasih ..!” ujarku pada Zulaikha.
“Sama-sama… Kita lihat apakah Menik berhasil menangkap pelakunya!”

Aku memandang ke sekitar.. Waspada terhadap serangan gelap yang mungkin datang
Tampak Ki Santiko berhasil melumpuhkan musuhnya. Sementara jin telik sandinya berjaga di dekatnya.
Aku menghampiri Ki Santiko…

“Bagaimana musuhmu?” tanya beliau.
“Mati terbunuh oleh serangan gelap. Entah siapa pelakunya?” jawabku.
“Ah ..sayang sekali… Tapi untunglah yang satu ini bisa kita lumpuhkan. Jadi kita bisa mengorek keterangan darinya!”kata Ki Santiko.

Tampak pasukan musuh juga sudah menyerah kalah. Mereka sudah membuang senjata tanda menyerah…
Pertempuran sudah usai…

Saat tiba-tiba kulihat ada beberapa cahaya keperakan meluncur cepat ke arah kami.

“Awas…serangan gelap !” seruku sambil bertiarap.
Semua orang bertiarap menghindari serangan gelap itu.
Ki Santiko meraih dukun yang dikalahkannya dan menyeretnya untuk tiarap.
Prajurit musuh yang tidak sempat bertiarap, menjerit kesakitan karena terkena pisau terbang yang menancap di tubuhnya.
Sebagian besar prajurit musuh mati karena serangan gelap itu.

Pasukan khusus tanah perdikan segera membentuk lingkaran, mengelilingiku dan Ki Santiko.
Senjata mereka terhunus, dan bersiap menghadapi jika ada serangan gelap lagi.
Setelah ditunggu sekian lama, tak ada lagi serangan gelap.
Mungkin musuh sudah mengubdurkan diri, atau mengawasi kami di tempat tersembunyi.
Menik kembali ke sampingku dengan tangan kosong. Dia tak menemukan orang yang menyerang musuhku.
Aneh…bahkan makhluk ghaib seperti Menik tak bisa menemukan mereka.
Ada apa ini? Apakah musuh bisa mengecoh makhluk ghaib? Atau mereka bisa menekan auranya hingga tak terdeteksi?
Pertanyaan yang tidak terjawab…
Kami semakin waspada. Musuh di tempat gelap, dan kami di tempat terang. Kami adalah sasaran empuk timpukan senjata rahasia.
Aku berembug dengan Ki Santiko dan ,3 makhluk ghaib yang ada.

“Ki, seandainya kita bisa menciptakan ilusi agar kita tampaknya masih di sini, tapi kita ternyata telah bergerak pergi, mungkin akan bisa menyelamatkan kita semua!”
“Tapi bagaimana caranya nak Aji?”
“Saya juga kurang tahu Ki… Coba kita tanya pada teman ghaib kita, apakah mereka bisa!”
“Baiklah… Mari…!”

Aku bertanya pada Zulaikha dan Menik. Sementara, Ki Santiko bertanya pada jin telik sandinya.

“Kalau ilmu ngerjain orang, si Menik tuh yang bisa!” sahut Zulaikha.

Aku memandang ke arah Menik. Dia malah nyengir….

“Gimana Nyil… Kamu bisa?” tanyaku.
“Wah…gampang itu. Tapi aku butuh bantuan mbakyu. Soalnya kita ada banyak orang. Tenagaku sendiri ga mampu!” kata Menik.
Kemudian Menik berbisik-bisik pada kakaknya, dan Zulaikha tampak mengangguk.

“Jin telik sandi mengatakan bahwa dia tidak bisa. Kalau menghilangkan kita semua, dia bisa!” kata Ki Santiko.
“Menik ini katanya bisa Ki… Tapi butuh bantuan tenaga!” sahutku.
Ki santiko memanggil jin telik sandinya.
Lalu terjadi perundingan antara dia dan Menik. Dan tampaknya dia setuju membantu Menik.

Zulaikha dan jin telik sandi itu segera menempelkan tangan di punggung Menik.
Menik tampak terpejam dan komat kamit entah membaca apa.
Lalu kedua tangannya bergerak membentuk lingkaran.
Sebuah energi yang terbentuk di tangannya menyelubungi kami semua.

“Sekarang… Semua silahkan bergerak menuju jalan pulang. Ilusi ini hanya akan bertahan sekitar 100 hitungan. Jadi bergeraklah cepat menuju tempat terbuka. Jika mereka menyusul, mereka tidak bisa lagi menyerang dalam gelap!” desis Menik.
Segera kami semua bergerak… Pemimpin pasukan khusus segera meraih dukun yang tak berdaya dan menggendongnya. Kami semua menggunakan ilmu lari cepat untuk segera mencapai tempat terbuka di luar hutan.
Masing-masing bergerak cepat dan dalam hati menghitung. Sementara Menik dan Zulaikha serta jin telik sandi tetap di tempat untuk mempertahankan ilusi itu.

Tepat pada hitungan ke seratus, kami hampir sampai di luar hutan itu. Kami yakin, ilusi itu sudah berakhir.
Kami mempeecepat langkah kami hingga sampai di luar hutan, dan mengambil jarak yang tak mungkin dijangkau oleh lontaran senjata rahasia.
Kami berhenti dan mengatur nafas.
Pasukan khusus kembali membentuk lingkaran yang melindungi kami.
Saat itulah, Zulaikha dkk kembali ke dekat kami.

“Waspadalah… Tampaknya mereka melakukan pengejaran.” kata Zulaikha.

Kami semakin waspada, sambil terus bergerak maju. Menjauhi hutan itu semakin jauh.
Dan benar saja, tak lama kemudian, tampak beberapa orang muncul dari tengah hutan dan mengejar kami.
Sekarang kami bisa melihat mereka. Ternyata mereka berpakaian hitam-hitam dengan topeng yang menutupi muka mereka. Pantas saja kami sulit melacak keberadaan mereka di kegelapan.
Kulihat mereka ada 20 orang. Seimbang dengan jumlah kami saat itu. Hanya saja, kami harus melindungi tawanan kami agar dapat mengorek keterangan darinya.
Apalagi mereka mempunyai kemampuan melontarkan senjata rahasia, sehingga kami harus lebih berhati-hati.

Alam mulai tampak remang-remang. Sebentar lagi sang surya akan menampakkan diri. Sekarang kami sama-sama di tempat terang.

Seorang anggota pasukan khusus, tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Sebuah tabung bambu dengan sebuah tali yang keluar dari batang bambu itu.
Kemudian batang bambu itu diarahkan ke atas, dan ditariknya tali yang keluar itu. Sebuah ledakan kecil terjadi, dan sesuatu yang bercahaya kebiruan melesat ke angkasa. Membelah remangnya alam menjelang subuh itu.
Rupanya itu adalah semacam suar untuk memberikan kabar pada pasukan yang lain.

Melihat suar yang ditembakkan itu, musuh tampak merandek sejenak. Mereka saling berpandangan dan kemudian mundur kembali ke dalam hutan.
Tampaknya mereka merasa tak mampu menghadapi kami jika ada pasukan pendukung yang datang.

Melihat musuh mundur, Ki Santiko segera memerintahkan kami untuk segera melanjutkan perjalanan kami dengan cepat.
Kamipun segera berlari lagi menuju ke tanah perdikan. Jika kami sudah memasuki tanah perdikan, pasti mereka akan berpikir ulang jika ingin mengejar kami.

Saat matahari mulai nampak di ufuk timur, kami masuk ke Tanah Perdikan.
Setelah di tanah perdikan, kami berjumpa dengan pasukan pendukung yang dikirim Ki Gede.
Namun setelah dijelaskan kondisinya, mereka kembali lagi, namun meninggalkan 10 orang untuk berjaga di perbatasan.
Tawanan dibawa oleh pasukan pendukung, sementara pasukan khusus menyebar kembali entah kemana.
Aku dan Ki Santiko mempeecepat perjalanan menuju rumah Ki Gede.
Mumpung masih sempat, kami bermaksud untuk sholat subuh dahulu sebelum melaporkan tugas kami.

Setiba kami di rumah Ki Gede, kami segera menuju langgar untuk melaksanakan sholat subuh.
Usai sholat, barulah kami menuju ke pendopo.
Di pendopo sudah ada Ki Gede beserta minuman panas dan makanan pendampingnya…
Ini dia yang ditunggu… Setelah semalaman bertempur dan mengalami ketegangan, saatnya menikmati kemenangan…hehe…

Begitu melihat kami, Ki Gede menyambut kami berdua dan mempersilahkan kami duduk.
Beliau sendiri yang menuangkan minuman ke dalam cangkir untuk kami.
Wuah…serasa dimanja….

Setelah meneguk wedang sereh yang masih panas itu, Ki Gede menanyakan tentang pelaksanaan tugas kami.
Ki Santiko menceritakan semua kejadian secara runtut. Gaya berceritanya menarik. Aku yang ikut dalam kejadian itu saja, seolah mengalami ulang kejadian itu karena mendengar Ki Santiko bercerita.
Harusnya ngarang novel nih Ki Santiko. Pasti pembaca bakal ikut larut dalam kisahnya…

Ki Gede mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa memotong sama sekali.
Beberapa kali beliau mengangguk-angguk, mengepalkan tangan dan wajahnya menunjukkan ekspresi marah, terkejut dsb.

Hingga Ki Santiko selesai bercerita, Ki Gede menghembuskan nafas panjang.

“Kemungkinan mereka ingin menghilangkan jejak agar rahasia mereka tak terbongkar. Lontaran senjata rahasia itu tentunya mempunyai 2 tujuan. Yang pertama, membunuh kalian jika mampu. Jika tidak, membunuh teman-temannya sendiri untuk membungkam mulut mereka, supaya rahasia mereka tetap aman!” kata Ki Gede.
“Benar kakang… Beruntung nak Aji melihatnya dan sempat memberi peringatan, hingga kami semua masih hidup sampai sekarang!” kata Ki Santiko.

Ki Gede menatapku dengan senyumnya yang menyejukkan.

“Nak Aji, sudah banyak jasamu bagi tanah perdikan ini. Entah dengan cara bagaimana aku harus membalas jasamu.itu!” kata beliau.
“Maaf Ki Gede, saya hanya membantu semampu saya. Sebagai wujud rasa terima kasih saya yang sudah diterima di tanah perdikan ini. Padahal saya adalah orang yang asal-usulnya tidak jelas. Tapi Ki Gede dan semua warga tanah perdikan ini sudah.mau menerima saya. Sudah sepantasnya saya membalas semampu saya Ki.” ujarku.
“Terima kasih nak Aji. Jasamu akan dikenang oleh seluruh warga tanah perdikan ini.” kata Ki Gede

Kemudian pembicaraan beralih kepada kelompok yang menyerang ke sebelah utara.
Ternyata mereka tidak menghadapi halangan yang berarti, dan sudah pulang terlebih dahulu dibanding kami.
Ki Gede lalu menyuruh kami untuk beristirahat, karena esok akan diadakan pertemuan untuk menentukan langkah selanjutnya.


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset