Petualang Masa Lalu episode 31

Chapter 31 : Arya Damar

Siang harinya kami berkumpul kembali di pendopo. Asli…masih ngantuk banget… Capek, kurang tidur, masih harus mengikuti pertemuan terbatas kayak gini…

Tapi melihat yang lain tetap semangat, aku ikut tertular semangat mereka. Rasa kantuk yang menyelimutiku menguap entah kemana.

Ki Gede membuka pertemuan dengan pernyataan terima kasih yang tak terhingga pada semua orang yang ikut andil dalam pertempuran semalam. Dan juga ucapan syukur bahwa semua selamat, walaupun beberapa prajurit menderlta luka. Tapi tak membahayakan nyawa mereka.

Menurut interogasi yang dilakukan kepada tawanan, diketahui bahwa Anggoro yang menjadi dalang semua kekacauan itu.

“Sekali lagi Anggoro yang menjadi dalang semua kekacauan ini. Tapi aku belum yakin benar, karena untuk mengumpulkan semua orang itu butuh biaya yang tidak sedikit.” kata Ki Gede, lalu beliau melanjutkan…
“Aku curiga, Anggoro.hanya dimanfaatkan sebagai boneka oleh seseorang dengan ambisi pribadi, didukung oleh harta kekayaan yang melimpah.”

“Apakah kakang punya pandangan siapa kiranya orang itu?” tanya Ki Santiko.
“Aku tak mau mengira ngira siapa orangnya. Akan kita ketahui nanti jika Anggoro sudah tertangkap.” sahut Ki Gede.
“Lalu apa rencana kita selanjutnya Kakang? Apakah kita akan menggunakan siasat yang sama untuk menghancurkan dukun di barat dan timur?” tanya Ki Santiko.
“Tidak Adi… Pasti mereka sudah lebih waspada sekarang. Siasat kemarin adalah gertakan untuk membuat mereka bingung dan menebak-nebak apa rencana kita selanjutnya! Jadi untuk sementara, kita akan diam dulu sambil melihat perkembangan yang terjadi. Tapi tetap saja, pengamanan di daerah perbatasan harus ditingkatkan.” kata Ki Gede.
“Baik kakang, kami menurut perintah!”
“Sambil menunggu perkembangan selanjutnya, silahkan kalian beristirahat dan memulihkan kondisi kalian. Namun pesanku, tetap siaga. Sewaktu-waktu aku membutuhkan, kalian harus siap!”
“Baik Ki Gede!” jawab kami bersamaan.

Usai sudah pertemuan siang itu, dengan intinya melihat perkembangan dan istirahat sementara waktu.

Seneng sih, bisa istirahat sepuasnya. Tapi bakalan gabut nih, ga ada hiburan…

Aku berjalan gontai ke rumah didampingi Zulaikha dan Menik. Bingung mau ngapain seharian ini.
Sementara, Menik berjalan sambil melompat-lompat. Kayaknya ga ada yang bisa buat si Kunyil bersedih deh….
Kelihatannya tuh anak ceria terus. Ga ada sedih-sedihnya, dan kayak no problem gitu lah…
Tapi melihat kegembiraan Menik, membuatku terhibur juga. Seolah si Kunyil itu menyebarkan kegembiraan pada orang di sekitarnya…
Bahkan Zulaikha kadang tertawa melihat tingkah Menik yang kadang absurd.

Sesampai di rumah, aku ngegoler di balai-balai yang ada di teras.
Melihat orang yang lalu lalang dari dan ke ladang.
Semua yang melihatku, menyapa dengan ramah dan kubalas sapaan mereka dengan sopan. Keramahan khas desa…
Tiba-tiba aku melihat seorang pria muda kira-kira seumuran denganku lewat di depan rumahku.
Aku tak mengenalnya, tapi wajahnya terlihat familiar buatku…
Melihatku duduk santai di depan rumah, dia menghampiriku…

“Maaf kisanak. Apakah benar ini jalan menuju rumah Ki Gede Pamungkas?” tanyanya setelah dekat denganku.
“Benar kisanak. Mari silahkan duduk dulu dan melepas lelah kisanak!” jawabku.
“Ah ..terima kasih kisanak. Aku ingin menumpang duduk sebentar di sini!”
“Silahkan kisanak. Jangan pekewuh, anggap saja rumah sendiri!” kataku.

Setelah tamu itu duduk, aku masuk mengambil kendi berisi air putih.

“Silahkan diminum kisanak. Mohon maaf, hanya air ini yang saya punya saat ini!”
“Terima kasih kisanak. Cukuplah air ini untuk menghilangkan haus…!” katanya yang lalu menenggak air kendi itu.

“Maaf kisanak, jika boleh tahu, siapakah kisanak dan ada keperluan apa dengan Ki Gede?” tanyaku kepo.
“Boleh kisanak. Perkenalkan, namaku Arya Damar, dari Tanah Perdikan Munggangsari. Dan aku diutus ayahku untuk menyampaikan sebuah surat untuk Ki Gede!” katanya memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuannya.
“Oh…begitu. Kenalkan juga, namaku adalah Aji. Nampaknya kita seumuran, marilah kita saling memanggil nama saja, agar lebih akrab!”
“Hahaha…nama yang bagus. Aji, apakah kau kenal dengan Ki Gede Pamungkas?” tanyanya.
“Semua penduduk tanah perdikan ini tentunya mengenal Ki Gede Pamungkas. Oh.iya… Tanah perdikan Munggangsari itu letaknya dimana?” tanyaku.
“Tanah Perdikan Munggangsari terletak jauh di selatan sana. Untuk sampai ke tanah perdikan ini, aku membutuhkan waktu 15 hari berjalan kaki…!” kata Arya Damar.
“Wah jauh juga ya? Dan kau berjalan kaki selama itu untuk sampai kemari?”
“Benar…. Dan sudah beberapa hari ini, aku tak bertemu dengan sebuah desapun. Baru hari ini aku bertemu desa, dan ternyata tujuanku sudah dekat sekali!” katanya.
“Nah, beristirahatlah dulu. Hanya saja maaf, aku tidak mempunyai makanan untuk disuguhkan…!”
“Baik Aji… Tapi tenang saja, tampaknya sebentar lagi ada makanan datang kok!” kata Arya Damar.
“Benarkah …?”

Belum sempat Arya Damar menjawab, aku melihat Menur dan seorang pelayan rumah Ki Gede dari kejauhan. Mereka membawa bakul yang tentunya berisi makanan.
Heran… Darimana Arya tahu kalau mereka akan datang membawa makanan?

Saat sudah dekat dengan rumahku, tampak Menur terpaku sejenak. Kelihatan bingung. Demikian juga pelayan itu, tampak agak ragu-ragu.
Mungkin karena mereka melihat Arya Damar dan merasa asing dengannya.
Aku melambai dan memanggil nama Menur…
Akhirnya mereka melanjutkan langkah menuju ke arahku.

“Eh. .ada tamu rupanya. Kenapa kangmas tidak memberitahuku?” tanya Menur.
“Kenapa harus memberitahumu?” tanyaku heran.
“Ya supaya makanan yang kubawa bisa diperbanyak…!”
“Ah…sebegitu juga cukup kok Nimas, aku hanya makan sedikit. Tidak tahu kalau Aji…hahaha!” kata Arya Damar.

Menur tertawa mendengar ucapan Damar. Kemudian.ia meletakkan makanan yang dibawanya ke balai-balai.

“Nah…makanan sudah datang. Ayo Damar, kita makan bersama!” ucapku.
“Wah…ayolah. Lapar juga nih…!” sahut Damar.
“Ayo nimas, bibi, kita makan bersama!” ajakku pada Menur dan pelayan itu.
“Silahkan kangmas, aku dan bibi sudah makan tadi!” sahut Menur.

Sambil makan, aku memperkenalkan kepada Menur siapa itu Arya Damar.

“Oh..berarti kisanak ini putra Ki Gede Munggangsari?” tanya Menur.
“Benar Nimas… Dan aku ingin menghadap Ki Gede Pqmungkas untukemyampaikan nawala (surat) dari ayahku!” kata Damar.
” Oh..begitu. Biarlah nanti kangmas Aji yang mengiringi panjenengan menghadap kanjeng romo!” sahut Menik.
“Begitu juga baik Nimas… Ah..sedap sekali masakan ini. Apakah ibu nimas yang memasaknya?” tanya Damar.
“Benar… Dibantu oleh mbakyu!” jawab Menur.

Setelah bercakap sejenak, Menur permisi pulang sambil membawa perabotan makan yang kotor.

Setelah kepergian Menur, Arya Damar berkata…:
“Kau pasti orang istimewa ya? Hingga Ki Gede mengirim masakan ke rumahmu!” tanyanya.
“Bukan begitu. Aku sebenarnya bukan penduduk asli tanah perdikan ini. Aku pendatang, dan sempat menginap di rumah Ki Gede beberapa hari. Lalu dibuatkan rumah di sini. Karena belum beristru, maka Ki Gede berbaik hati mengirim makanan tiap.hari padaku!” jawabku.
“Oh…begitu rupanya…!”
“Eh… Aku masih heran, bagaimana kau bisa tahu kalau bakal ada makanan yang datang?” tanyaku.
“Hahaha…kuberi tahu ya? Kadang-kadang aku bisa melihat masa depan. Ngerti sakdurunge winarah (tahu sebelum kejadian).”
“Wah…kok kadang-kadang?”
“Iya…hanya kadang-kadang saja…. Tapi cukup sering juga sih. Tanpa ada niat, tiba-tiba muncul saja gambaran kejadian.yang akan datang!” jelasnya.
“Wah…hebat banget tuh… Bisa melihat masa yang akan datang!” sahutku kagum.
‘Yah…inilah anugerah dari Allah SWT. Disyukuri saja…!” ujar Damar.

Kami masih asyik ngobrol sampai beberapa lama. Lalu aku ajak dia menuju rumah Ki Gede
Pasti Menur sudah melapor pada Ki Gede bahwa akan ada tamu dari tanah perdikan tetangga.

Singkat cerita, sampailah kami di rumah Ki Gede. Ki Gede tampak sudah siap.menyambut kami di pendopo.
Setelah mengucap salam dan dijawab, kami segera menghadap Ki Gede.
Arya Damar memperkenalkan diri dengan bahasa jawa halus (kromo inggil), lalu menyerahkan sebuah tabung bambu pada Ki Gede.
Ki Gede membuka tutup tabung itu dan mengeluarkan isinya. Ternyata sebuah gulungan kecil dari kain sutra.
Ki Gede .membuka gulungan itu dan membaca isinya, lalu tersenyum….
Beliau lalu menggulung kembali kain itu dan memasukkannya ke dalam tabung bambu tadi dan menutupnya kembali.
Aku jadi heran sendiri, apa sih isi surat itu hingga Ki Gede tersenyum setelah membacanya?


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset