Petualang Masa Lalu episode 32

Chapter 32 : Melati Dilamar

After Ki Gede slurupkeun the nawala to the bumbung pring….he look at Arya Damar with mesem…
(Setelah Ki Gede memasukkan surat itu ke bumbung bambu, beliau memandang Arya Damar sambil tersenyum…) [terjemahan bebas]

Maaf, penulis agak error nih… Kepalanya abis kepanasan…hihi…

“Bagaimana kabar Ki Gede Munggangsari?” tanya beliau pada Damar.
“Alhamdulillah sehat Ki Gede! Beliau menitipkan salam hormat untuk Ki Gede Pamungkas!”
“Wa’alaikum salam..terima kasih. Syukurlah kalau beliau sehat. Aku sudah berteman lama dengan ayahmu itu, bahkan sejak kami masih bujangan. Terakhir kami bertemi kira-kira 16 tahun yang lalu. Kau masih kecil saat itu.”
“Benar Ki Gede, saya juga masih sedikit ingat waktu itu diajak kanjeng romo ke sini.” jawab Damar.
“Tahukah kau isi nawala yang diserahkan ayahmu padaku?” tanya Ki Gede.
“Saya tidak tahu Ki Gede. Tapi pastinya sesuatu yang sangat penting!”
“Hahaha…memang sangat penting…sangat penting. Ayahmu bermaksud menjodohkan dirimu dengan putri sulungku!” kata Ki Gede sambil tersenyum.
Kulihat Damar tampak terkejut…

“Nah, sekarang aku bertanya padamu Nak Damar, apakah kau setuju dengan perjodohan ini?” tanya Ki Gede.
“Saya sebagai seorang anak, hanya patuh pada perintah orang tua saya Ki Gede. Jika beliau menganggap itu adalah yang terbaik untuk saya, maka saya akan menurut!”
“Bagus… Anak yang berbakti. Tapi kalau anakku berwajah buruk bagaimana?” kembali Ki Gede bertanya.
“Maaf ki Gede, saya tidak mencari isteri yang cantik. Cukuplah isteri yang mau berbakti pada suami. Kalaupun akhirnya mendapat yang cantik, itu adalah bonus buat saya…!” jawab Damar sambil tersenyum.
“Bagaimana menurutmu nak Aji?” tanya Ki Gede padaku.
Lah…kok aku sih…? Batinku dengan kaget.

“Kok saya Ki Gede? Saya disini hanya orang luar, tidak berhak.untuk ikut campur masalah ini!” jawabku.
“Aku minta pendapatmu, bagaimana tentang peejodohan ini?” desak Ki Gede.

Aku garuk-garuk kepala yang nggak gatal…. Bingung….

“Menurut saya, dari segi bibit, bobot, dan bebet, mereka berdua adalah pasangan yang serasi.” jawabku asal.
“Hmm…begitu ya?”
“Maaf Ki Gede!” potong Damar.. “Menurut kepercayaan jawa, jika anak mbarep (sulung) menikah dengan anak mbarep, katanya kurang baik pada akhirnya! Bagaimana pendapat Ki Gede?”

“Kau mengajukan alasan tersebut untuk menolak perjodohan ini atau bagaimana?” tanya Ki Gede dengan tajam.
“Mohon maaf Ki Gede, bukan saya hendak menolak peejodohan ini, namun bagi saya, menikah itu cukup sekali seumur hidup. Jadi, demi kelanggengan pernikahan, saya mengajukan pertanyaan itu!”

“Hmm… Jangan kau risaukan masalah itu. Walaupun anakku boleh dibilang sulung, namun dia sebenarnya bukan anak pertama. Karena sebelum dia dikandung, ibunya sudah mengandung anak pertama yang akhirnya keguguran!”
“Ah…syukurlah kalo begitu!”

Suasana hening beberapa saat. Lalu ki Gede memecah keheningan itu.

“Baiklah, aku terima perjodohan ini, namun kita tetap menunggu jawaban dari anakku, apakah dia bersedia untuk menjalani perjodohan ini. Aku tidak ingin memaksa anakku.”
“Baiklah Ki Gede, saya menurut pada kehendak Ki Gede!” jawab Damar.
“Selama menunggu, silahkan kau menginap di sini!” kata Ki Gede.
“Maaf Ki Gede, jika diperkenankan, saya hendak menginap di rumah Aji saja Ki Gede! Saya merasa cocok dengan Aji!” ujar Darma.
“Baiklah kalau begitu, hanya saja rumahnya sangat sederhana. Apakah tidak menurunkan derajatmu sebagai putra kepala tanah perdikan?” tanya Ki Gede.
“Saya malah merasa bebas jika menginap di rumah Aji, Ki Gede…!”
“Baik… Silahkan saja. Nanti jika putriku sudah memberi jawaban, aku akan mengabarimu!” kata Ki Gede.
“Terima kasih banyak Ki Gede. Karena keperluan saya di sini sudah selesai, maka ijinkanlah saya amit mundur Ki Gede!”kata Damar.
“Sayapun demikian juga Ki Gede!” kataku.
“Baik… Silahkan…!” kata Ki Gede.

Kami berdua pulang menuju rumahku.
Tebakan reader sebagian benar ternyata. Itu adalah surat lamaran untuk Melati.
Apakah aku akan menangis meraung-raung?
Ga akan… Secara, aku ga menaruh hati pada Melati. Kalau tertarik sih iya…. Siapa sih yang ga tertarik sama cewe cantik body bohai?
Tapi itu hanya ketertarikan fisik semata.
Lagipula aku menyadari posisiku yang ga ingin tinggal di situ selamanya. Makanya ga kubiarkan hatiku nempel di mana-mana…..

Sesampai di rumah, kami beristirahat. Untunglah di rumah kecil ini ada 2 kamar walaupun ukurannya kecil. Jadi kami bisa punya privasi.
Apalagi, aku agak susah jika harus tidur dengan orang lain kecuali cewe…..(catat).
Rasanya susah tidur aja kalo ada orang lain di kamarku.
Untung Damar ga menolak tidur di kamar satunya.
Setelah istirahat sejenak, waktu maghrib menjelang. Kami sholat berjamaah. Aku sebagai tuan rumah menjadi imam.
Selesai sholat dan berdzikir, kami duduk di teras sambil menikmati minuman panas buatan Zulaikha.

‘Jin pendampingmu itu pintar juga membuat minuman!” ujar Damar.
“Hei…kau bisa melihatnya juga?”
“Waduh…aku pikir kamu sudah tahu kalau aku punya kemampuan yang sama denganmu!” ujarnya.
“Aku ga ngerti… Kau ga punya jin pendamping?” tanyaku.
“Banyak… Tapi ga selalu ikut aku. Mereka menyebar di sekitarku, tapi dari jarak yang jauh. Aku risih diikutin kemana-mana…!”
“Wah sama… Aku juga risih diikuti kemana-mana…!” kataku.

BLETHAAKKKK…..

Kembali kepalaku jadi sasaran pukulan Zulaikha. Damar yang melihatnya tertawa lepas.
“Dasar galak….!” gumamku.
“Ngomong apaa??” tanya Zulaikha ssmbil melotot.
“Eh…ga papa. Kamu cantik…!” kataku mencoba ngeles.
“Tapi galak khan…khan…?” ujarnya..
“Hehe. …!”

Damar memegang perutnya saking gelinya melihat pertengkaran kami.

“Hahaha…kalian ini lho. Sukanya berantem, tapi saling menjaga dan memperhatikan. Baru kulihat hubungan manusia dan jin yang begini kompleks….hahaha!” ujar Damar.

“Ah..masa sih? Menurutku biasa aja deh…!”
“Ini ga biasa Ji… Ini hanya berarti bahwa di antara kalian bertiga sudah tercipta ikatan batin yang kuat. Jadi antara manusia dan jin pendampingnya seolah ga ada jarak lagi. Sudah seperti teman atau saudara!” jelas Damar.
“Fyuh…untung ga seperti pacar…!” gumamku.
“Pacar…? Apa itu pacar…?” tanya Damar.
“Emm…kekasih .. Iya…. Kekasih!” jawabku.
“Oh…kekasih. Pacar itu bahasa apa?”
“Emm…bahasa daerah asalku sana…!” jawabku ngasal.

Aku mengutuk diriku sendiri yang keceplosan pakai bahasa di jamanku.
Khan jadi kelihatan aneh di pendengaran orang di jaman ini..

Saat itulah datang 2 orang prajurit membawakan kami makan malam. Ga mungkin nyuruh Menur, karena cuaca sudah gelap.
Kamipun menikmati makanan bersama sambil ngobrol kesana kemari.

“Aku dapat laporan dari Ki Sardulo Seto, bahwa dia mengabdi padamu di masa yang akan datang. Makanya waktu dia minta ijin untuk membantumu, aku mengijinkannya. Namun aku jadi penasaran ingin melihat dirimu. Baru sekarang kesampaian.”
“Hei…jadi kau yang jadi tuannya ki Sardulo Seto saat ini?”
“Betul…!”
“Tunggu… Apakah kau kenal.dengan Ki Patih yang tinggal di tanah Pasundan?”
“Tidak… Memang kenapa? Dan tanah pasundan itu dimana?”
“Hanya ingin tahu saja. Tanah Pasundan itu terletak di sebelah Barat tanah jawa ini.”
“Hmm…spertinya, suatu saat aku akan sampai juga di sana. Tapi mungkin setelah umurku agak tua!” katanya.
“Eh…apakah kau punya pukulan andalan seperti ini?” tanyaku sambil memperagakan sebuah pukulan yang diajarkan Ki Patih padaku.

“Hei…darimana kau mempelajari ilmu itu?” tanyanya heran.
“Dari ki patih di tanah pasundan itulah…!” jawabku.
“Lalu darimana Ki Patih itu bisa menguasai ilmu itu? Hanya 2 orang yang bisa ilmu pukulan Tapak Karang itu. Yaitu guruku dan aku sendiri!”
“Ki Patih mendapat titipan dari kakek moyangku yang bernama Ki Panembahan, untuk diwariskan kepada anak keturunannya. Dan itu adalah aku.” jawabku.
“Ah … Siapa pula Ki Panembahan itu? Guruku sudah meninggal dan namanya bukan Ki Panembahan. Ah ..pusing aku memikirkannya…!” sahutnya sambil mencuci tangan di kobokan. Lalu mengelap mulutnya.

Aku melakukan hal yang sama, ritual wajib setelah bersantap jaman dulu…haha.
Aku mulai berpikir bahwa Damar ini adalah Ki Panembahan, kakek moyangku sendiri.
Tapi, entahlah… Apakah itu betul atau tidak.
Mungkin Ki Panembahan itu anaknya atau muridnya nanti, tak ada yang tahu.

“Aji…kau tentu kenal dengan putri Ki Gede bukan?” tanya Damar.
Degh… Mau apa dia?

“Bagaimana wajah putri sulung Ki Gede itu?” tanya Damar.
“Cantik….!” jawabku singkat.
“Benarkah…? Kau tidak tertarik padanya?” tanyanya lagi.

Waduh…gimana mesti menjawabnya ya?


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset