Petualang Masa Lalu episode 34

Chapter 34 : Go Away

Rasa bingung, pusing dan lainnya, terasa jadi satu di kepalaku. Apalagi siang nanti Menur bakal ngambil surat balasannya.
Bagaimana ini…??? Bikin makan ga enak…
Kutengok nasi yang dibawa Menur tadi.. Ah. .sudah habis ternyata…

Akhirnya aku kasak kusuk dengan Menik yang imut itu. Siapa tahu dia punya solusi jitu untuk masalah ini.
Zulaikha cuman diam saja melihatku bisik-bisik dengan si Kunyil…

“Gimana pendpapatmu Nik? Aku harus gimana?”
“Gini mas… Mas buat surat untuk 2 orang saja sekalian.”
“Kok buat 2 orang… Ginana sih?”
“Dengerin dulu makanya… Asal motong aja sih. Kayak TS sfth yang suka motong cerita seenaknya.” gerutu Menik.
Menik berbisik-bisik di telingaku… Hihihi…..geli telingaku kadang kena bibir Menik…
“Yang serius kenapa sih… Malah goyang-goyang gitu kepalanya..!” sentak Menik.
“Iya .. Tapi bisik-bisiknya jangan nempel di kuping… Geli…!!”

Kembali Menik membisikkan sesuatu kepadaku. Tentang idenya untuk menyelesaikan masalah itu. Hmmm….aku mengangguk-angguk mendengarnya.
Beneran encer nih, otak jin centil ini…

“Tapi aku ga bisa nulis aksara jawa kuno Nik!”
“Nanti aku tulisin…!”
“Lha alat tulisnya gimana?”
“Tenang… Pakai kain baju yang dipotong, sedang alat tulisnya adalah arang kayu… Repot amat!”
“Emang bisa? Nanti kalo kena kringat luntur lho.”
“Emangnya mau dikempit di ketiak suratnya? Kita masukin ke tabung bambu lah…!”
“Oke…oke… Jadi…!” sahutku.

Jadilah Menik menulis 2 surat dengan aku yang mendiktekan isinya.
Ga tahu bahasanya benar atau salah, pokoknya lanjuuttt….

Setelah berkutat selama 1 jam, dan 1 bajuku jadi korban untuk dipotong sebagai pengganti kertas, akhirnya surat itu selesai.
Surat pertama untuk balasan dari surat Melati.
Sedang yang kedua, adalah surat untuk Ki Gede.
Lalu aku minta Menik membuat 1 surat lagi untuk Damar.

Nah, setelah semua surat itu jadi, yang menjadi masalah adalah cara mengirimnya.
Hmm…gimana ya? Supaya surat itu sampai ke penerima dengan aman?
Surat untuk Ki Gede biar disampaikan oleh Damar. Aku sudah minta tolong padanya lewat surat yang aku tinggalkan di atas meja.
Lalu yang untuk Melati bagaimana?
Aku kebingungan…lalu tiba-tiba Zulaikha berkata:

“Sini, biar aku yang antar. Nanti kita bertemu di dekat goa itu saja!” kata Zulaikha.
“Ah…terimakasih Zul… Kamu emang baik banget..!” kataku.
“Zulaikha….!!!” ketusnya.
“Iya Zulaikha….. Makasih banget. Menik, ayo kita kemon…!” kataku pada Menik.
“Apa itu kemon?” tanya Menik bingung
“Ayo kita berangkat…!” jawabku.

Sementara Zulaikha sudah melesat pergi membawa surat untuk Melati, aku dan Menik dengan segera meninggalkan rumah itu.

Dalam surat untuk Ki Gede, dengan bahasa kromo inggil sebisaku, aku menghaturkan terima kasih atas segala kebaikan beliau dan seluruh penduduk tanah perdikan. Dan meminta maaf jika aku sudah merepotkan dan banyak berbuat kesalahan.
Sekaligus aku pamit untuk pulang ke jaman asalku, namun tidak bisa menghadap langsung karena sedang terburu-buru.
Yah…itulah intinya.

Sementara, untuk Damar, aku mengucapkan selamat atas perjodohan itu serta mendoakan yang terbaik untuk mereka. Aku juga minta tolong agar surat yang satunya disampaikan kepada Ki Gede Pamungkas
Selain itu, aku juga minta maaf, karena terpaksa harus pergi secara mendadak dan tak sempat berpamitan padanya.
Itu saja sih…

Sedang surat untuk Melati, intinya adalah meminta dia bersabar dan dapat menerima Damar sebagai suaminya. Sekalian aku minta pamit, karena aku harus kembali ke tempat asalku. Disertsi permintaan maaf, tidak dapat membalas perasaannya, karena aku sudah mempunyai seorang calon istri.

Oke…finished ….
Aku dan Menik segera berangkat menuju goa itu. Sebenarnya masih seminggu lebih waktu yang ditentukan sesuai petunjuk di gua itu.
Tapi perkembangan situasi yang tidak enak, membuatku harus segera meninggalkan tanah perdikan Manyaran.
Demi kebaikan semuanya, aku pergi dari Tanah Perdikan yang telah menerimaku dengan baik.

Menjelang tengah hari, sampailah aku dan Menik di dekat goa itu.
Suasananya masih sama seperti dulu.
Zulaikha sudah berada di situ sambil tersenyum memandangku.

“Loh…kok udah sampai di sini aja?” tanyaku.
“Kamu sama Menik tuh yang lelet… Lama banget…!”
“Gimana suratnya…sudah sampai?”
“Sudah… Aku menyamar sebagai seorang pelayan dan menyerahkan surat itu padanya. Aku bilang kau bertemu denganku di jalan dan menitipkan surat itu padaku!”
“Wah ..baguss… Ternyata kamu bisa berubah wujud juga ya? Mbok sekali-kali berubah jadi Desi. Aku kangen nih…!” kataku.
“Ga mau…. Enak aja nyuruh aku berubah jadi pacarmu itu…!” kata Zulaikha ketus.
“Ciee…ciee…mbakyu cemburu…!” ejek Menik pada mbakyunya.
“Kunyil…diam kamu. Siapa juga yang cemburu. Kayak ga ada cowo lain aja!”
“Zul…kamu emang cemburu ya? Berarti kamu suka sama aku dong.” godaku.
“Ih….siapa yang suka sama kamu. Sok kegantengan kamu…!” kata Zulaikha.
“Oh iya…sekali lagi kamu manggil aku Zul aja, bakal aku pindah mulutmu ke dahi!” ancamnya.
“Walah…galak amat sih?”
“Biarin…!”
“Ntar tak cium lho kalo galak-galak…!” godaku lagi.
“Cium… Cium… !” Menik latah mensponsori.
“Berani nyium aku…bakalan aku….!”
Cup…..
Segera kucium pipi Zulaikha sebelum dia menyelesaikan ancamannya.
Zulaikha tampak kaget dan bengong. Mulutnya setengah terbuka …
Kusosor aja sekalian tuh mulut merah merona….
Entah sadar atau tidak, Zulaikha melingkarkan tangannya di leherku.
Aku memeluk pinggangnya…

“Woi..ada anak-anak di sini nih…!” teriak Menik.

Aku dan Zulaikha kaget dan melepas peluk cium kami. Zulaikha tampak tersipu, dan melesat entah kemana.
Aku cuma bengong…
Gimana ceritanya aku malah mencium si Zul itu?
Ada apa denganku hingga melakukan tindakan bodoh itu.
Pasti Zul mengira aku juga suka sama dia, dalam arti cinta.
Ah….nambah masalah lagi ini.
Nantilah aku coba bicara sama dia, kalo pas ga ada si Kunyil.

‘Woi…malah bengong….!” tepuk Menik di pundakku.
“Eh… Ah..enggak kok!”
“Halah…ngeles aja nih kerjanya. Gimana rasanya ciuman sama mbakyu?” tanya Menik.
“Yaaa…gitu deh…!”
“Aku pengin juga dong. Aku khan belum pernah dicium!” kata Menik dengan wajah sok polosnya.
“Hush. Anak kecil ga boleh…!” kataku.
“Halah…pelit … Cuman pengin tahu rasanya kok!” kata Menik bersikeras.
“Besok, kalo udah gede aja…!” sahutku
“Kalo aku dah gedhe, mas Aji mau nyium aku?”
“Ya bukan aku lah. Pacarmu nanti yang nyium kamu…!”

Lah…malah berdebat sama Menik masalah ga jelas kayak gini sih?
Ini juga Zulaikha kemana ya? Apa dia malu, atau marah sudah kucium?

Ah sudahlah… Nanti juga balik sendiri.

Aku duduk di bawah sebatang pohon yang rimbun.
Memikirkan gimana langkahku selanjutnya. Selama seminggu lebih ga punya tempat tinggal dan ga punya makanan.
Harus cari solusinya nih… Jangan sampai jadi kelaparan.
Tidur sih, bisa di dalam goa, lha makannya gimana?
Menik malah mondar-mandir di depanku. Bikin aku ga bisa mikir…

“Kamu ngapain sih mondar-mandir mulu?” tanyaku.
“Lha Mas diem aja, aku kan jadi kesel… Didiemin terus…!”
“Aku lagi mikir, mau tidur di mana malam ini dan mau makan apa?”
“Oalah..kok bingung amat. Di hutan lan banyak makanan. Ada hewan dan buah-buahan to?”
“Iya juga ya? Trus tidurnya di goa gitu?”
“Ya iya lah… Mau dimana lagi?”
“Emang ga papa masuk ke gua, khan belum saatnya?”
“Asal kita ga naruh keris di meja itu sebelum waktunya, aku kira ga papa deh!”
Mungkin benar juga yang dikatakan oleh Menik. Tapi yang jadi masalah berikutnya adalah air minum.
Aku belum berkeliling di sekitar sini, apakah ada sungai atau tidak.
Kalo ada, masalah air minum terselesaikan. Kalo ga ada, harus cari solusi lain.

“Mikirin air minun ya? Di belakang gua ada sumber mata air kok. Waktu itu aku sempat melihatnya!” kata Menik.

Done. Masalah kelar. Saatnya sholat dzuhur dulu.
Diantar Menik, aku menuju ke sumber mata air itu. Ternyata sudah ada pancurannya juga.
Mungkin peninggalan penghuni gua yang dulu.
Setelah sholat, aku dan Menik mencoba survival di alam liar.
Kami mencari buah-buahan, dan juga hewan yang bisa dimakan.
Seekor ayam hutan yang gemuk berhasil aku timpuk dengan batu.
Hahai…makan besar ini sih…pikirku.
Setelah dirasa cukup, kami kembali ke goa.
Aku mengumpulkan kayu bakar untuk membakar ayam hutan itu.
Sementara Menik membantu membersihkan ayam itu.
Setelah semua siap, aku membakar ayam itu.
Hmm..ayam hutan yang gemuk…pasti lezat nih.

Setelah matang, aku makan sendirian ayam hutan bakar itu. Walaupun tanpa bumbu, lumayan juga rasanya.
Menik tak mau makan saat kutawari. Entah apa makanan kaum jin itu..?
Aku tak pernah melihat mereka makan.

Karena tak habis, ayam bakar itu kusimpan untuk esok hari.
Aku masuk ke dalam gua dan mencari-cari barangkali ada yang bisa digunakan.
Akhirnya aku menemukan sebuah periuk kecil yang mulutnya sudah pecah sedikit.
Setelah kucuci di sumber air, aku gunakan untuk memasak air.
Lumayanlah, daripada minum air mentah.

Malam harinya aku tidur di ranjang batu di dalam goa yang tentunya sudah kubersihkan.
Ternyata dingiiinnnn….. Aku sampai gemetaran saking dinginnya…
Sampai tiba-tiba ada yang mendekapku dan menghangatkan tubuhku…
Menyalurkan hawa hangat yang sangat nyaman…


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset