Petualang Masa Lalu episode 36

Chapter 36 : Solved

“Matik aku ….!!!!” batinku.
Gimana tidak, secara tiba-tiba ada gadis pendekar memaksaku untuk menikahinya, atau duel sampai mati.
Keduanya bukan pilihan yang baik buatku.
Cuman gara-gara aku melihat tubuh telanjangnya saat mandi di pancuran belakang gua.
Sebenarnya bukan kejadian yang kusengaja, walaupun akhirnya jadi sengaja ngintip…heuheu.Sekarang aku blingsatan sendiri karena kebingungan. Tadi sudah bertarung dan aku menang.
Si gadis lalu ingin bunuh diri dan kucegah.
Sekarang tinggal pilihan terakhir….MENIKAHINYA….
Jian**k…kok ya ada masalah kek gini.
Gadis itu sebenarnya cantik sih, boleh dibilang cantik sekali. Bodynya juga body impian. Namanya juga pendekar, banyak berlatih fisik dan akhirnya membentuk tubuh tanpa lemak.
(Kecuali di bagian tertentu yang berlemak….)

Ngaohaha…reader cowo pasti imajinasinya langsung liar…..
Abaikan….te es lagi ngaco nih..

Sekarang gadis itu sedang menangis sesengukan di depanku. Memintaku menikahinya agar terhindar dari aib, katanya.
Kalau aku ga mau menikahinya, dia akan bunuh diri.
Jaman kuno emang aneh aneh aja deh adatnya…

Duh..mesti gimana nih? Zulaikha sudah ga mau bantu, malah ngambek. Harapan satu-satunya cuma Menik.
Dimana lagi bocah itu sekarang? Kalo dibutuhkan malah ngilang tu anak…

“Menik….!” panggilku dengan suara batin.

Kutunggu sekian lama ga nungul-nungul.juga dia.
Kupanggil lagi, ga nungul juga.
Aku makin panik sekarang….

“Nimas….berikan aku waktu 8 hari untuk berpikir. Karena aku berasal dari tempat yang sangat jauh. Jika ingin menikahimu, bukankah harus melamar pada orang tuamu? Jadi biarkan aku polang ke rumahku dan berbicara dengan orang tuaku!” kataku pada akhirnya.
“Dari mana asalmu…?” tanyanya.
“Walaupun aku sebutkan, kau tidak akan tahu tempat itu. Karena sangat jauh dari sini!” kataku.
“Baiklah… Aku akan menunggumu di rimahku. Ingat cuma 8 hari saja waktumu. Lewat dari itu, aku akan mencarimu biarpun ke ujung jagad sekalipun!” sahutnya.
“Baiklah… Jika aku tidak datang dalam 8 hari, kau dapat datang ke goa itu dan mencariku!” sahutku.
“Setuju… Aku bernama Wening, rumahku di tanah perdikan Munggangsari. Kau cari saja rumah Ki Gede Munggangsari…!” katanya.
“Hah…tanah perdikan Munggangsari? Jauh sekali dari sini!” kataku kaget. Hampir aku keceplosan mengatakan bahwa aku kenal dengan Damar.
Mungkin Wening ini adiknya Damar.
Bukankah dia menyuruhku ke rumah Ki Gede Munggangsari?
Argh…kenapa jadi ruwet gini sih?

“Sekarang aku permisi untuk menyusul kakakku dan pulang ke Munggangsari. Ingat, jangan menggoda gadis lain atau mengintip mereka mandi. Kau adalah calon suamiku!” katanya sambil melotot.
Busyet…tambah cantik aja kalau melotot…

“Baik Nimas Wening… Tunggulah aku di rumahmu. Namaku adalah Bayu.”
“Baik kangmas Bayu, aku pamit. Assalamu’alaikum…!”
“Wa’alaikum salam…!”

Wening tersenyum dan berbalik membelakamgiku, lalu dengan cepat ia melesat pergi dari hadapanku.

Huhu… Mau aja kutipu dia. Bukankah 8 hari lagi aku bakal kembali ke jamanku. Biar dia cari sampai manapun, pasti ga akan ketemu…..
Kejam? Penipu?
Iya ..karena terpaksa. Aku ga bisa tinggal di jaman ini terus. Semoga saja dia nanti segera melupakanku begitu tak menemukanku.
Sesuatu keputusan yang akan kusesali nantinya….
Maafkan aku Wening…!!

Setelah kepergian Wening, aku segera memuju ke sumber air dan mandi. Telanjang bulat…
Siapa tahu ada cewe yang ngintip, trus nanti aku minta buat nikahin aku……

Selesai mandi, aku masuk ke goa dan mendapati Zulaikha sedang ngobrol dengan Menik.
Melihatku masuk, Menik ketawa cekikikan. Mungkin dia tahu masalahku dari si Zul…

“Tega kamu Zul, ga mau nolongin aku!” kataku pada Zulaikha.
“Biarin… Jadi laki-laki harus berani bertanggung jawab atas segala peebuatannya! Dan jangan panggil aku dengan Zul saja!” katanya.

Aku berpaling kepada Menik.

“Kenapa kamu tak panggil ga nongol?”
“Hihi…ga boleh sama mbakyu!” katanya.

Benar-benar deh mereka, malah ngerjain aku. Ga mau nolongin.

“Tapi mas Aji jahat banget lho, bohongin si Wening. Kasihan khan? Dia pasti bakalan nungguin mas Aji!” kata Menik.
“Mau bagaimana lagi, Nik? Terpaksa aku beebohong. Aku ga mau tinggal di jaman ini terus. Kalau aku punya istri si jaman ini, aku ga bisa pulang ke masa depan dong!”
“Tapi caranya jangan begitu Mas. Ginana kalau dia nungguin mas terus? Atau berkelana mencari mas Aji? Apa ga kasihan?” kata Menik lagi.
“Aku bingung tadi, Nik… Makanya cuman cara itu yang aku dapatkan!”
“Ah ..dia memang kejam kok Nik!” kata Zulaikha dengan ketus.

Mendengar kata-kata Menik dan Zulaikha, membuatku jadi menyesal telah membohongi Wening.
Tapi nasi sudah menjadi bubur..
Mau nyusul Wening dan menjelaskan semuanya, pasti bakal ketemu Damar.
Apalagi jika menyusul ke rumah Ki Gede Pamungkas, bakal tambah ruwet lagi urusannya.

ARGGHHHH…..aku jambak rambutku sendiri.
Aku segera keluar dari goa dan berjalan tak tentu arah untuk menenangkan diri.

Hingga tak sadar aku hampir sampai di rumahku yang kemarin kutinggalkan.
Aku terkejut sendiri… Bagaimana bisa aku malah balik ke rumah itu?

Aku menatap rumah itu dari kejauhan. Kulihat Damar sedang duduk di balai-balai di depan rumah sambil menimang-nimang sebuah kain yang kujadikan surat.
Aku berniat menemuinya untuk menjelaskan segala sesuatunya…

Tapi langkahku kuurungkan saat kulihat Wening keluar dari rumah itu.
Ah…rupanya mereka telah bertemu muka. Aku jadi bingung, bagaimana menghubungi Damar agar dapat menyelesaikan berbagai persoalan yang memenuhi otakku

Tiba-tiba aku teringat pada Ki Sardulo Seto.
Kenapa nggak minta tolong dia buat menyampaikan pesanku pada Damar agar mau menemuiku di suatu tempat.
Agar kami dapat berbicara empat mata.

Segera kupanggil Ki Sardulo Seto. Dan dalam sekejap, dia muncul di hadapanku.

“Ada apa kau memanggilku tuan?”tanyanya tanpa basa-basi.
” Begini ki, aku ingin minta bantuan Ki Sardulo untuk menyampaikan pesanku pada Damar, agar menemuiku malam nanti di sana!” kataku sambil menyebutkan suatu tempat dekat goa itu.
“Baik…akan aku sampaikan. Itu saja?”
“Benar, dan terima kasih. Tolong sampaikan juga agar dia sendiri saja. Ada hal penting yang akan aku bicarakan berdua saja dengan Damar!”
“Baik .nanti aku sampaikan! Aku pamit!” katanya dan langsung menghilang begitu saja.

Ki Sardulo jaman muda kaku banget deh.. Tapi satu masalah sudah teratasi. Tinggal menunggu nanti malam untuk bertemu dengan Damar.
Aku segera meninggalkan tempat itu agar ga dicari oleh Damar.

Dengan ilmu meringankan tubuh yang masih mentah, aku melesat meninggalkN tempat itu, kembali ke goa.

Malam harinya aku menunggu Damar di sebuah tempat yang agak jauh dari goa itu.
Bulan yang hampir purnama menerangi malam itu. Cuaca cerah, dan bintang bertaburan di langit.
Namun aku tak bisa menikmati keindahan alam tersebut.
Pikiranku yang ruwet, membuatku tegang

Cukup lama aku menunggu kedatangan Damar di tempat itu, sampai sekujur tubuhku bentol2 digigit nyamuk.

“Ada apa kau memanggilku ke sini Aji?” sebuah suara menyapaku.

Aku berjingkat kaget… Sejak kapan Damar sudah ada di sini?

“Eh..kamu Mar. Duduk dulu sini!” ujarku.

Damar duduk di sampingku, di akar pohon yang menonjol.

“Kau sudah bertemu adikmu?” tanyaku.
“Sudah, siang tadi…! Kok kamu tahu kalo adikku mencariku?”

Maka aku menceritakan kejadian tadi pagi dengan Wening yang berujung pada kebohonganku.

“Aku menyesal sekali sudah membohongi adikmu itu. Kau tahu sendiri keadaanku… Aku tak mau tetjebak di jaman ini selamanya. Aku minta maaf padamu sudah membohongi adikmu. Dan aku mau minta tolong padamu untuk menjelaskan semuanya pada Wening!” kataku menutup penuturanku.

Damar menepuk-nepuk bahuku.

“Aku tahu peemasalahanmu. Dan aku akan membantumu. Aku senang bahwa kau mau berterus terang padaku, sehingga kita dapat mencegah kejadian yang sama-sama tidak kita inginkan.”
“Terima kasih, kau mau mengerti keadaanku.”
“Tapi kenapa kau memperkenalkan dirimu sebagai Bayu pada adikku?”
“Memang itu namaku. Nama lengkapku adalah Bayu Satriaji!”
“Oh… Pasti kau tidak ingin aku tahu bahwa pemuda yang diceritakan Wening adalah dirimu!”
“Ya…begitulah…!”
“Satu hal yang masih mengganjal di pikiranku. Kenapa kau pergi begitu saja dari rumahmi dan meninggalkan 2 surat?”
“Maaf, untuk yang satu itu aku tidak bisa menjelaskannya padamu. Aku pergi demi kebaikan semuanya. Apalagi, seminggu lagi aku akan kembali ke jamanku. Insya Allah!” kataku.
“Baiklah…aku percaya padamu. Aku akan memberikan pengertian pada adikku agar dia dapat menerimanya. Yah…walaupun mungkin dia akan sangat sedih, tapi mau bagaimana lagi? Dan aku juga mengucapkan selamat jalan untukmu. Semoga hidupmu bahagia di jamanmu itu!”
“Terima kasih banyak. Sampaikan juga permintaan maafku yang sebesarnya pada adikmu. Aku benar-benar menyesal!”

Selesai sudah… Lega rasanya sudah jujur dan meminta maaf. Semoga Wening dapat menerima semuanya dan memaafkanku.


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset