Petualang Masa Lalu episode 38

Chapter 38 : Perpisahan

Aku kebingungan mencari Menik di luar gua.
Asli penasaran pengin tahu keadaan Melati dan Menur. Manusia pertama yang kutemui di jaman ini.
Bukan apa-apa sih, cuma pengin tahu aja keadaannya.Aku berputar-putar di sekitar goa untuk mencari sosok Menik dengan cara memanggil namanya.
Tapi ga ada reaksi apapun.
Dengan putus asa, aku kembali ke goa.

Saat aku masuk ke goa itu, aku mendengar suara ketawa cekikikan di dalam goa.
Aku hapal itu suara Menik…
Huft…dikerjain lagi dah.. Dia malah udah balik ke goa lagi…

Aku masuk ke ruangan luas di dalam goa itu, dan benar saja, Menik sedang cekikak cekikik dengan mbakyunya.

“Muter-muter di luar nyariin apa Mas?’ tanya Menik dengan wajah tanpa dosa.
” Itu, nyariin Kunyuk Usil…alias kunyil ga ketemu.”
“Wah..mbakyu, aku dikatain kunyuk coba!”adunya pada Zulaikha.
‘Eh..siapa yang ngatain kamu? Aku kan bilang nyari kunyuk usil. Mana ada aku nyebut nama kamu?” kataku ngeles.
“Ah…emang pinter ngeles nih mas Aji…!”
“Udah…udah. Kalian ini lho, bertengkar mulu kerjaannya!” kata Zulaikha menengahi.

“Eh…Nik, tadi kamu mau cerita apa sih?” tanyaku.
“Ga jadi… Dah males….!” sahut Menik sambil membuang muka.
“Ayolah Nik… Cerita donk.. Ya…yaaa??” bujukku.
“Wani piro….???” tanya Menik asal
Hadeehh…susah ngadepin kunyil satu ini…

“Udah dek.. Diceritain aja napa sih? Aku juga pengin dengar nih!!” kata Zulaikha.
“Iya deh.. Gini mbakyu, tadi aku khan jalan-jalam tuh. Nah, timbul niat isengku buat jalan-jalan ke rumah Ki Gede. Pengin lihat perkembangan yang terjadi di sana!”
“Trus…apa yang kamu lihat…?”potongku.
“Jangan motong dulu… Ini baru mau dilanjutin…!” sentak Menik sambil melotot padaku.
Hadeehh…ketularan galak dari kakaknya nih…

“Aku masuk ke kediaman Ki Gede. Tentu saja dengan menerapkan ilmu panglimunan, biar ga ada yang lihat. Kalau kelihatan sama Ki Santiko khan ga enak hati.
Di pendopo ternyata sedang diadakan pertemuan untuk menyerang Anggoro dan kelompoknya, serta membasmi habis mereka agar tidak meresahkan rakyat. Dan Damar dimint bantuannya untuk membantu rencana itu. Hanya itu yang kutahu. Aku malas dengerin orang menyusun rencana perang, jadi aku langsung beranjak menuju kaputren.
Pertama, aku masuk ke kamar Menur. Aku tertarik padanya…merasa cocok dengannya. Dan apa yang kulihat di kamarnya membuatku ikut nelangsa.
Menur menangis seharian nampaknya. Matanya bengkak dan selalu menyebut nama Mas Aji. Tampaknya dia sudah tahu bahwa mas Aji pergi tanpa pamit padanya.
Aku sungguh kasihan melihatnya. Namun apa yang bisa kuperbuat? Menghiburnyapun aku tak mampu.
Daripada ikut nelangsa di situ, aku beralih ke kamar Melati.
Aku berpikir bahwa dengan kedewasaannya, Melati pasti lebih kuat dari Menur.
Tenyata, dugaanku salah. Melati tak ada bedanya dengan Menur…
Air matanya mengalir membasahi pipinya, sambil memandang surat yang Mas Aji berikan. Lalu dipeluknya surat itu sambil merintih memanggil nama Mas Aji, dan berkali-kali mengucap janji bahwa dia akan menitis di kehidupan yang akan datang dan terus mencari mas Aji.
Aku malah jadi sedih dan merinding mendengar janjinya itu. Begitu cintanya dengan Mas Aji, sampai dia akan terus berupaya agar bisa bersatu dengan Mas Aji di kehidupan yang berikutnya. Tak kuat menahan iba, aku pergi dari tempat itu. Saat melewati pendopo, aku melihat pertemuan sudah selesai. Ki Gede duduk sendiri, sambil menghela nafas panjang. Sesekali tangannya meremas sebuah surat. Lalu kepalanya menggeleng…
Aku mendengar beliau berkata:

“Selamat jalan anak lanang. Aku akan selalu mengingatmu. Walau kehadiranmu hanya sebentar, tapi aku sudah sayang padamu seperti sayangku pada anakku sendiri. Begitu besar sumbang sihmu pada tanah ini, akan selalu aku ingat sepanjang hidupku. Semoga kehidupanmu di masa depan semakin baik dan bahagia. Amin!”

Aku terharu mendengar doa tulus beliau untuk Mas Aji. Tak sadar, akupun mendoakannya agar sehat selalu, dan dipermudah segala urusannya.

Setelah puas melihat semua itu, aku balik ke goa ini lagi. Itulah kabar yang kudapatkan dari rumah Ki Gede.” kata Menik mengakhiri ceritanya.

Mendengar cerita Menik itu, tak terasa aku menitikkan air mata. Hatiku terasa teriris sembilu.
Betapa mereka, orang yang baru aku kenal beberapa hari, sudah begitu menyayangiku.

Aku jadi terharu akan rasa sayang mereka. Apalagi saat teringat Menur, aku jadi teringat pada Anin adikku. Mungkin rasa sayang mereka padaku sama besarnya.

“Mereka orang-orang yang sangat baik!” kataku.
“Benar… Mereka menyayangimu dengan tulus. Lebih baik kau doakan mereka semua!” kata Zulaikha.
“Benar… Aku akan selalu mendoakan mereka!” ujarku.

Lalu suasana menjadi hening. Kami larut dalam pikiran kami masing-masing.
Aku berpikir untuk berpamitan langsung pada Ki Gede. Tentunya aku menemui beliau dengan diam-diam.
Kalau bisa, aku juga ingin menemui Menur dan berpamitan langsung dengannya. Semoga tidak bertemu Melati, karena akan repot kalau bertemu dengannya….

Skip ke malam harinya.
Aku meminta bantuan Zulaikha dan Menik untuk membawaku ke rumah Ki Gede.
Waktu sudah sangat larut… Mungkin kalau ada jam, sudah pukul 10 malam.
Dalam sekejap saja, aku sudah sampai.di pendopo Rumah Ki Gede.
Tampak Ki Gede sedang duduk sendirian di pendopo sambil menikmati minuman hangat dan singkong rebus.
Bikin ngiler aja….hehe

Aku menghampiri beliau dan mengucap salam.
Melihatku, beliau nampak terkejut.
Setelah membalas salam, beliau beranjak menghampiriku dan memelukku dengan erat.

“Anak lanang…kemana saja kamu?” tanya beliau.
“Saya masih di sekitar tanah perdikan ini Ki Gede!” sahutku.

Ki Gede mengajakku duduk, dan menuangkan minuman hangat untukku.

“Bagaimana kabarmu Nak?”
“Alhamdulillah baik-baik saja Ki Gede!” sahutku.
“Syukurlah… Kapan kau akan kembali ke jamanmu Nak?”
“2 hari lagi Ki Gede .. Maka dari itu, saya dengan sembrono menghadap Ki Gede untuk mohon pamit pada Ki Gede. Sekaligus, meminta maaf apabila banyak kesalahan yang kulakukan selama saya ada di sini!”
“Ah…rasanya waktu berlalu begitu cepat. Kehadiranmu yang cuma sebentar ini sangat menyenangkan hatiku, namun sekaligus membuatku sedih karena harus segera berpisah lagi. Tapi.ingatlah nak, aku dan semua keluargaku, bahkan seluruh warga tanah perdikan ini sangat menyayangimu!”
“Saya merasa sangat bersyukur bisa bertemu dengan Ki Gede dan keluarga, serta seluruh warga tanah perdikan ini yang begitu menyayangiku dengan tulus. Berat sebsnarnya hendak meninggalkan tanah ini, namun bagaimanapun juga saya punya kewajiban yang harus saya laksanakan di jaman saya!”
“Aku mengerti akan hal itu. Dan aku hanya dapat mendoakanmu dari sini!” jawab Ki Gede.
“Terima kasih Ki Gede…!”

Saat itulah tiba-tiba ada suara yang mengagetkanku…

“Kangmas Aji…..!”

Aku menoleh ke arah datangnya suara. Tampak Menur sambil mengucek mata memandang padaku. Setelah yakin bahwa benar aku yang berada di situ, dengan cepat Menur menghambur ke arahku dan menubrukku sambil menangis.
Aku bingung harus bersikap bagaimana, apalagi di depan ki Gede.
Aku melihat ke arah Ki Gedr yang hanya mengangguk dan tersenyum padaku.
Aku mengelus rambut Menur dengan penuh kasih sayang.

“Ssttt…jangan menangis Nimas ..!” bujukku.
“Kangmas jahat, pergi ga pamit!” katanya di tengah sedu sedannya.
‘Iya ..maaf. Ini kangmas datang mau pamitan pada Nimas…!”

Menur melepaskan pelukannya dan mundur selangkah. Dia memandangku dengan matanya yang penuh air mata.

“Kangmas mau pergi lagi?”tanyanya.
Lalu dia berpaling pada ayahnya…
” kanjeng romo, jangan boleh kangmas Aji peegi dari sini!”
“Tenanglah ndhuk… Duduklah dulu…!” ujar Ki Gede dengan lembut.
Aku menggamit lengan Menur dan mengajaknya duduk.

“Ndhuk, ketahuilah, bahwa kangmasmu ini bukan berasal dari jaman kita ini. Dia berasal dari masa depan beratus tahun yang akan datang. Dan dia juga punya orangtua di sana. Punya tugas juga di sana. Jadi, kita tidak bisa menahan kangmasmu di sini, karena orang-orang yang ada di jamannya pasti akan merasa kehilangan dirinya!” kata Ki Gede memberi pengertian pada Menur.
“Kalau begitu, ijinkan aku ikut kangmas kanjeng romo!” desak Menur.
“Tidak bisa ndhuk, apa kamu tega melihat ibumu bersedih jika engkau meninggalkannya?”

Menur tertunduk… Air matanya mengalir deras, namun tak ada isak yang terfengar.

“Maafkan kangmas, Nimas. Berat.buat kangmas meninggalkan jaman ini, namun kangmas harus kembali. Karena kangmas juga punya kewajiban di jaman kangmas!”
Menur menatapku…

‘Iya kangmas… Tapi berjanjilah, bahwa kangmas tak akan melupakan aku!” kata Menur.
“Insya Allah tidak Nimas. Aku tak akan melupakan semua orang yang begitu baik padaku selama di sini!” sahutku.

Menur bangkit dan memelukku…

“Kangmas…aku berjanji, akan mengikuti mbakyu menitis untuk memcari kangmas. Aku sayang dengan kangmas.”
“Aku juga sayang padamu adikku…!” jawabku.

“Selamat jalan kangmas… Aku akan merindukanmu…!” katanya, lalu dia langsung berlari masuk ke dalam rumah.
Aku hanya tertegun memandangnya…


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset