Petualang Masa Lalu episode 39

Chapter 39 : Ending

Setelah berpamitan dengan Ki Gede dan Menur, aku mengajak Zulaikha dan Menik untuk pergi ke rumah Ki Santiko. Aku harus berpamitan juga pada beliau.Ki Santiko sangat menyayangkan bahwa aku akan kembali ke tempat asalku.
Beliau sudah merasa cocok menjadi partner kerjaku dalam menghadapi masalah2 ghaib di tanah perdikan ini.
Aku juga sedikit sedih meninggalkan beliau, yang sudah berjasa mengembangkan tenaga dalamku ke tingkat yang lebih tinggi.
Tapi kami laki-laki, pantang menangis. Kami hanya saling bersalaman dan saling mendoakan.

Usai dari rumah ki Santiko, kami kembali lagi ke goa itu. Tinggal.2 hari lagi. Aku ga akan pergi terlalu jauh dari gua itu.
Aku enggan terkena masalah lagi…
Tapi aku juga berharap, tak ada gadis yang menyusul ke gua itu, atau aku bakal terlibat masalah lagi.

Selama dua hari itu, aku hanya menghabiskan waktu ngobrol dengan Zulaikha dan Menik. Kadang keluar untuk mencari makanan.
Tapi dengan keberadaan Zulaikha dan Menik, soal makanan bukan hal yang susah.
Entah darimana, mereka selalu bisa mendapatkan makanan untukku.

Akhirnya, hari yang ditunggu tunggu tiba. Sudah 35 hari sejak aku tiba di jaman ini. Saatnya tiba untuk melihat petunjuk selanjutnya.
Malam itu, kami bertiga menghadapi meja bulat di tengah ruangan gua.
Meja sudah dibersihkan dan tampak lekukan di tengah meja yang berbentuk keris.
Segera kupanggil keris kyai naga emas dan kuletakkan di tengah lekukan itu.
Dengan perlahan, keris itu memancarkan sinar kuning emas, dan seperti sebuah proyektor, memunculkan rangkaian tulisan di dinding dalam bentuk aksara jawa kuno.

Zulaikha membaca pesan yang terpancar ke tembok gua itu.

“Sudah genap selapan hari (35 hari).
Semua sudah dijalani dengan baik.
Sudah saatnya untuk pulang..
Kembali ke asal….
Pergi ke tempat pertama kali kau datang…
Tancapkan keris ini di tanah itu, dan akan terbukalah pintu untuk kembali.
Ingatlah, jangan pernah menoleh lagi ke belakang, atau akan terjebak selamanya di masa ini!”

Begitulah kira-kira terjemahan bebas dari pesan dalam bentuk aksara Jawa Kuno itu.
Kami bertiga saling berpandangan…
Ternyata di luar dugaan kami, portalnya bukan di gua ini, tapi ada di tempat di mana aku pertama datang.
Dan kuncinya adalah keris kyai Naga Emas ini….
Kenapa ga kepikiran dari dulu ya?
Ah…sudahlah… Yang penting kami bisa segera pulang ke masa depan.
Masa dari mana aku berasal…

“Kita harus segera menuju ke tempat itu…!” kata Zulaikha.
“Tidak besok saja?” tanyaku. “Hari sudah malam ini!”
“Semakin cepat semakin baik, kita ga tahu apakah petunjuk.ini berlaku sampai besok atau tidak!” kata Zulaikha lagi.
“Ah…mas Aji masih berat.ninggalin cewe-cewenya tuh mbakyu!” kata Menik, menambah keruh suasana.
“Kamu ngomong apa sih Menik? Aku juga pengin secepatnya kembali ke jamanku kali…!!” kataku.
“Hihik…siapa tahu masih pengin ketemu Melati dan ngintip Wening mandi…!” sahut Menik.
“Sudahlah… Ayo kita segera menuju tempat itu.” ajak Zulaikha.

Akhirnya kami bertiga bergegas menuju tempat di mana pertama kali aku datang.
Zulaikha dan Menik menggamit tanganku dan membawaku meluncur secepat kilat

Tak peelu waktu lama, kami sudah tiba di sungai di mana aku bertemu dengan Melati dan Menur.
Lalu padang rumput yang sangat luas, hingga masuk ke dalam hutan.
Saat kami masuk ke dalam hutan itu, cuaca beeubah menjadi remang seperti menjelang maghrib.
Itu tandanya, kami sudah memasuki alam.ghaib.
Kami terus berjalan menuju ke tengah hutan, hingga sampailah.kami di tempat di mana aku terdampar 35 hari yang lalu.

Aku masih ingat tempat itu…dan mungkin ga akan kulupakan.

“Nah…kita sudah sampai!” kataku.
“Benar ini tempatnya?” tanya Zulaikha.
“Benar, aku ga akan lupa dengan tempat ini!” sahutku dengan yakin.
“Nah, tunggu apa lagi? Segera tancapkan keris kyai naga emas ke tanah!” kata Zulaikha lagi.
“Lah ..kerisnya ketinggalan di dalam goa…. Gimana nih?” tanyaku dengan panik.
“Waduh…dasar teledor kamu!” kata Zulaikha.
“Saking swnangnya sih, mau pulang…jadi kelupaan!”
“Udah. .ga usah bingung. Kamu panggil aja, paati dia akan datang sendiri!”
“Eh…iyakah?”
“Coba saja….!”

Aku menuruti kata-kata Zulaikha dan memanggil keris kyai naga emas.
Dan benar saja, keria itu datang dengan cepat
Huft…lega rasanya. Bakal bisa pulang nih..hehe.

Aku lantas duduk bersila di tanah dan mengheningkan cipta.
Lalu kuangkat keris itu dan menghujamkannya ke dalam tanah.
CREBB…..
BYARRR…..

Saat itu tiba-tiba di hadapan kami muncullah sebuah pusaran seperti yang kulihat saat pulang dari rumah Firda dahulu.
Tapi saat ini, pusaran itu tampak tenang. Tixak menyedotku seperti dulu.

“Ayo kita masuk!” ajak Zulaikha.
“Ayo….!” sahutku dan Menik bersamaan.

Setelah mencabut keris kyai naga emas, aku menyusul Menik dan Zulalkha yang sudah masuk terlebih dahulu.

Kali ini, aku tidak merasakan jatuh ke dalam lubang tanpa dasar. Aku seolah sedang beerjalan di goa yang gelap, namun anehnya aku bisa melihat Zulaikha dan Menik yang di depanku. Aku segera menyusul mereka.

“Kangmas Aji…..!!!”
“Kangmas Aji….!!!”
“Kangmas Bayu…!!”

Aku tersentak saat mendengar panggilan dari Melati, Menur dan Wening.
Kok mereka bisa menyusulku kemari?
Secara reflek aku menolehkan kepalaku ke belakang.
Namun, belum sempat kepalaku menengok ke belakang, sebuah tangan halus memegang kepalaku, hingga tak bisa lagi menoleh ke belakang!

“Tidak ingat pesan dalam goa? Jangan menengok ke belakang, atau kau akan terjebak selamanya di jaman ini!” bisik Zulaikha

Aku terkejut dan gemetar… Nyaris…. Nyaris saja aku terjebak di jaman ini selamanya.
Aku mengelus dadaku yang terasa melonjak-lonjak, shock karena kejadian itu.

Akhirnya kami terus berjalan ke depan.

“Kangmas Aji… Jangan tinggalkan aku…!” jerit Melati.
“Kangmas Aji…aku ikut….!” jerit Menur.
“Kangmas Bayu….jangan pergi…!!!”

Suara-suara mereka yang pilu terasa menusuk relung hatiku.
Hampir saja aku menengok kembali. Namun teringat pesan di goa, aku menguatkan diri untuk tidak menoleh.

Setelah berjalan sekian lama, dari arah depan kami, tampaklah setitik cahaya.
Kami mempercepat langkah kami menuji cahaya itu.
Semakin lama semakin dekat, dan….rupanya itulah jalan keluar dari portal ini.

Kami melompat keluar dari portal itu dan……

T A M A T


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset