Petualang Masa Lalu episode 4

Chapter 4 : Pendekar Ghaib Gunung Sumbing

Aku sungguh bersyukur, sehari di alam yang asing ini, aku sudah mendapat tempat berteduh, dan makan dengan enak.
Aku beruntung bertemu Menur dan Melati, sehingga bisa berkenalan dengan Ki Gede Pamungkas dan diajak tinggal di sini.

Teringat Menur dan Melati, jadi mengingatkanku dengan Zulaikha dan Menik. Di mana mereka sekarang ya? Kapan kami akan bertemu lagi? Yah walaupun Zulaikha galaknya minta ampun, serta Menik usilnya ga ada ampun, tapi kok ya bikin kangen ya?

Desi sedang apa sekarang ya? Bapak dan Anin lagi ngapain ya?
Pikiranku melayang-layang mengingat orang-orang yang aku sayang, hingga tak terasa aku terlelap di balai-balai tanpa kasur ini.

Suara Bedug di Langgar membangunkanku. Pasti sudah subuh nih. Kudengar kokok ayam jantan bersahutan.
Ah…seakan dah lama banget ga dengar kokok ayam jantan di pagi hari.
Aku segera bangun dan menuju ke Pakiwan (tempat mandi, kalau sekarang kamar mandi), segera mandi dan berwudhu. Air sumur yang sejuk menyegarkan tubuhku.
Selesai mandi dan berwudhu, aku bergegas menuju Langgar untuk sholat subuh berjamaah. Dah lama ga sholat berjamaah… Sejak tinggal di kost, lebih sering sholat sendiri di kamar
Banyak juga yang sholat subuh berjamaah…
Ternyata, iman orang jaman dulu masih sangat kuat, sehingga rela berdingin-dingin menuju Langgar untuk subuhan berjamaah.
Usai sholat, dilanjutkan dengan mengaji…kalau sekarang disebut kuliah subuh.
Saat selesai kuliah subuh, mataharu sudah tampak di ufuk Timur.
Aku berjalan bersama Ki Gede menuju pendopo.
Kami duduk di kursi yang ada di pendopo.
Tak lama Nyai Gede Pamungkas datang membawa minuman hangat. Bukan kopi atau teh…tapi wedang serai/sereh. Serta sepiring ubi rebus dan gula merah yang dipotong kecil-kecil.
Ki Gede mempersilahkan aku untuk minum. Wah ..ternyata wedang sereh itu enak banget… Menghangatkan badan.. Apalagi dengan rasa manis gula jawa…wow..
Aku memperhatikan bagaimana Ki Gede makan ubi rebus itu..
Ah…ternyata, satu gigitan ubi rebus, lalu beliau menggigit gula merah.
Aku ikut mencobanya…dan uenak sangat ternyata.
Benar-benar suatu pengalaman baru untukku.

“Nak Aji..sementara engkau mencari pintu untuk kembali ke alammu, tinggallah di sini.’ kata Ki Gede membuka obrolan.
‘Terima kasih banyak Ki Gede… Saya merasa sangat bersyukur bisa mengenal Ki Gede yang sudah begitu baik kepada saya.”
“Sudahlah… Bukankah sesama muslim adalah saudara? Jadi sudah selayaknya aku membantumu!”
“Terima kasih banyak Ki Gede, tapi saya takut kehadiran saya di rumah Ki Gede bisa mengganggu dan merepotkan Ki Gede!”
“Sudahlah… Jangan kau pikirkan. Aku malah senang dengan kehadiranmu di sini. Sudah lama aku menginginkan seorang anak lelaki, tapi aku hanya punya anak perempuan. Dengan kehadiranmu, seolah kamu dikirim oleh Allah sebagai jawaban atas doaku. Walaupun mungkin hanya sementara, tapi aku sudah sangat senang!’

Aku hanya mengangguk-angguk mendengar pembicaraan beliau.

‘Nanti akan kusuruh istriku untuk membuatkan baju untukmu, agar kau mempunyai baju untuk ganti.”,
” Terima kasih Ki Gede, malah merepotkan Nyai nanti!”
“Tidak apa-apa, aku senang kok!”

Pagi itu aku diajak Ki Gede berkeliling tanah perdikan dengan naik kuda. Naik kuda bre…pengalaman pertama seumur hidup….

Mulanya aku bingung cara naik ke punggung kuda. Kuperhatikan cara Ki Gede naik, lalu aku menirunya.
Untunglah aku bisa.
Sekarang cara mengendalikan kudanya gimana?
Aku juga meniru cara Ki Gede.. Awalnya kikuk dan takut..tapi lama-lama terbiasa juga. Karena niatnya keliling tanah perdikan, maka kuda kami dijalankan dengan berlari kecil.
Aku terhentak-hentak di punggung kuda. Untungnya pelan..coba kalau cepat, mungkin aku bisa terlempar dari punggung kuda.

Setiap berpapasan dengan orang, selalu saja mereka menyapa kami.
Ki Gede kadang berhenti dan bercakap-cakap sebentar dengan mereka.

Sepanjang jalan, Ki Gede menerangkan tentang tanah perdikan ini padaku.
Jadi seperti wisata didampingi oleh guide..haha.

Lama-lama ternyata enak.juga lho naik kuda.. Walaupun pantat sakit karena terhentak-hentak di pelana kuda.

Aku sedang menikmati keindahan tanah perdikan ini, ketika ada seorang bapak berlari-lari mengejar kami.
Ki Gede menghentikan.kudanya dan aku mengikutinya.

“Assalamu’alaikum Ki Gede…!”
“Wa’alaikum salam Ki Marto… Ada apa Ki Marto mengejar kami?”
“Katiwasan Ki Gede… Anak dan istri hamba menderita sakit yang aneh!”
“Aneh bagaimana Ki Marto?”
“Begini Ki Gede, anak dan istri saya suka ketawa-ketawa, kemudian menangis. Sehabis menangis, lalu ngamuk-ngamuk Ki Gede!”
“Baiklah.. Coba kami tengok ke rumahmu. Silahkan Ki Marto naik.kuda bersama Nak Aji ini!”
“Terima kasih Ki Gede…saya jalan kaki saja. Wong cuma dekat kok… Saya duluan Ki Gede…!”

Ki Marto segera saja berlari kembali ke rumahnya. Kami menyusul di belakangnya. Kasihan juga melihatnya berlari sampai ngos-ngosan gitu.
Tak lama, sampailah kami di rumah Ki Marto, dan dari luar rumah sudah kurasakan aura gelap di dalam rumah itu.
Ketika kami masuk ke dalam rumah, kami melihat dua wanita yang seorang sudah agak berumur, dan kukira dia istri Ki Marto. Seorang lagi, seorang gadis usia 15-an. Keduanya sedang tertawa, lalu menangis meraung-raung.
Banyak orang berkerumun melihat kejadian itu.

“Wah..kesurupan kalo ini!” kudengar seseorang berkata.
“Iya mungkin…!” jawab yang lain.

Ki Gede menghampiri dua wanita itu, dan melihat matanya. Tatapan.keduanya kosong saja..
Ki Gede menggelengkan kepalanya…

“Sudah memanggil Ki Santiko?” tanya Ki Gede pada Ki Marto.
“Sudah Ki Gede, tapi beliau tidak ada di rumah. Kata isterinya, beliau sedang ke kota kerajaan.”
“Ah ..susah kalau begini. Aku sama sekali tidak tahu kalau urusan ghaib begini!” keluh Ki Gede.
“Mohon maaf Ki Gede… Boleh saya coba mengobatinya?’ tanyaku.
“Apakah kamu bisa?”
“Insya Allah… Biar saya coba dulu!”

Aku mendekati kedua wanita yang saat ini sedang marah-marah ga karuan.
‘Bismillah…!” ucapku.
Aku segera memegang pundak istri Ki Marto dan dengan energi batin, kutangkap makhluk yang merasuki beliau. Aku tarik dari dalam tubuh beliau, dan aku lemparkan ke atas, lalu kuberi sebuah pukulan.
BLANG… Makhluk sejenis kunti itu segera terlempar keluar rumah.

Aku menghampiri si gadis dan menatapnya.

“Temanmu sudah aku hajar… Kamu mau keluar sendiri atau harus aku paksa untuk keluar?” hardikku.

Gadis itu mundur-mundur sambil menyembah-nyembah seolah minta maaf. Lalu makhluk yang merasuki gadis itu keluar sendiri..
Rupanya dia takut kalau aku hajar…

Kedua tubuh wanita itu langsung merosot ke lantai tanah. Ki Marto dibantu beberapa orang ibu-ibu membawa kedua wanita itu ke balai-balai.
Aku meletakkan tanganku sejengkal di ataz tubuh mereka untuk memastikan bahwa mereka sudah bersih dari aura gelap.

“Maaf Ki Marto… Isteri dan anak panjenengan sudah sembuh sekarang.”
“Terima kasih banyak Raden… Terima kasih banyak Ki Gede!” kata Ki Marto.
‘Syukurlah kalau sudah sembuh. Kami permisi dulu Ki Marto. Kami akan meneruskan melihat lihat keadaan di tempat lain!” Ki Gede berpamitan.
“Silahkan Ki Gede. Sekali lagi terima kasih…!”

Kami segera pergi untuk melanjutkan perjalanan kami.

Kabar dengan cepat berhembus dari mulut ke mulut. Dalam sehari, namaku jadi terkenal.
Dan dengan kepolosan mereka, aku diberi gelar….Pendekar Ghaib Gunung Sumbing….

Aneh-aneh saja…. Aku pengin ngakak sendiri mendengar gelar itu


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset