Petualang Masa Lalu episode 6

Chapter 6 : Di Rumah Ki Santiko

Setelah berjalan 15 menit kira-kira, sampailah kami di rumah Ki Santiko. Dari jarak dekat, baru kulihat ada lapisan pagar ghaib yang menyelubungi rumah itu.
Ki Santiko mengetuk pintu dan mengucap salam. Dari dalam rumah terdengar jawaban salam dari seorang wanita.
Tak lama pintu terbuka dan tampak seorang wanita berusia sekitar 45 tahunan. Beliau menyalami Ki Santiko dan mencium tangannya.
Lalu memandang padaku dan tangannya berposisi 🙏 dan akupun membalasnya dengan posisi yang sama.
Nyai Santiko ini berperawakan kecil dan tingginya hanya sepundakku.
Dan boleh kubilang bahwa beliau awet muda. Belum ada guratan halus di wajahnya.
Ki Santiko beranjak masuk sambil mempersilahkan aku untuk masuk.
DEGH….
Aku melihat banyak makhluk astral di dalam rumah Ki Santiko. Ada yang beraura gelap dan ada yang beraura terang.
Tapi tidak ada ancaman yang kurasakan.
Semua makhluk itu meletakkan tangan kanannya di dada dan membungkuk hormat pada Ki Santiko.
Aku mengira ada sekitar 12 makhluk astral di rumah ini. Jumlah yang fantastis menurutku. Karena mereka semua adalah makhluk penjaga rumah…, bukan makhluk yang menunggu rumah kosong atau semacamnya.
Ki Santiko mengangguk dan tersenyum pada mereka. Lalu Ki Santiko melambaikan tangannya, dan semua makhluk itu menghilang dari situ.
Ki Santiko mengajakku duduk di balai-balai besar di ruang tamu rumahnya.
Rupanya semua rumah di tanah perdikan ini mempunyai balai-balai besar seperti ini.
Setelah kami duduk berhadapan, Ki Santiko berucap:

‘Selamat datang di rumahku, Pendekar Ghaib Gunung Sumbing…!” katanya sambil tersenyum.
“Ah…Ki Santiko, jangan bergurau Ki…!” sahutku malu-malu. Wajahku pasti merah saat itu..
“Hahaha…aku mendengar julukan itu saat dalam perjalanan pulang dari kotaraja. Aku mulanya penasaran, siapa orang yang mempunyai gelar hebat seperti itu. Ternyata kaulah orangnya..hahaha!”
“Ah..itu hanya guyonan dari orang-orang saja Ki. Lha wong saya belum pernah melakukan apa-apa kok!”
“Jangan merendah anak muda. Orang kampung seperti kami tak akan sembarangan memberikan julukan pads seseorang, kalau belum melihat sepak terjangnya.”

Aku malah malu..baru perbuatan sepele saja kok malah dibesar-besarkan…

“Itu khan sesuatu yang sepele saja Ki, bukan peebuatan yang besar.”
“Bagimu sepele nak Aji, tapi bagi orang awam, itu adalah hal yang menakjubkan…!”
“Dan satu lagi Ki, saya bukan berasal dari gunung Sumbing!”
“Haha…aku sudah tahu. Ki Gede tadi telah menceritakannya. Oh iya… Tadi aku merasakan getaran aura dua benda yang ada di tubuhmu…ah tidak…3 benda. Iya…3 benda. Bolehkah aku tahu, benda apa saja itu? Satu diantaranya seperti tidak asing bagiku!”
“Saat ini yang ada padaku hanya 2 benda Ki. Sedang yang satu lagi tidak saya bawa!”
“Oh..begitu, tapi.aku masih merasakan aura benda ke-3 itu walaupun samar!”

Saat aku berniat mengeluarkan senjataku untuk kuperlihatkan pada Ki Santiko, saat itulah Nyai Santiko keluar membawa minuman panas dan pisang rebus.
Beliau meletakkan keduanya di hadapan kami.
“Silahkan Kakang, silahkan Nak…!” beliau menawarkan pada suaminya dan padaku.
Ki Santiko mengangguk sambil tersenyum.
“Terima kasih Nyai.. Maaf merepotkan..!”
“Tidak ada yang direpotkan Nak.. Monggo, silahkan. Saya tinggal ke dapur dulu!”
“Silahkan Nyai…!”

Setelah nyai Santiko kembali ke dalan, Ki Santiko mempersilahkan aku untuk minum dan mencicipi pisang rebus itu.
Makanan sederhana, tapi terasa nikmat..haha. Rasanya dah lamaa banget ga makan pisang rebus.

Setelah menikmati minuman dan makanan itu, aku memanggil kyai Cemeng dan Kyai Naga Emas. Segera saja kedua senjata itu muncul di kedua tanganku.

“Inilah senjata-senjata itu Ki. Sedang yang satunya adalah cincin, yang saat ini tidak saya bawa.”
“Subhanallah… Tombak dan keris dengan energi yang sangat kuat.. Hmm…rupanya keris ini yang tidak asing bagiku. Apakah kau mendapatkannya dari Naga Wiru?”
“Betul Ki.. Bagaimana Ki Santiko bisa tahu?”
“Aku pernah melihatnya saat Naga Wiru dalam bentuknya sebagai manusia bertempur menggunakan keris ini. Kau benar-benar manusia pilihan, sampai Naga Wiru rela menyerahkan senjata andalannya padamu!”
‘Ah..saya ini cuma manusia biasa saja kok Ki!”
“Bagus, teruslah rendah hati. Jangan sampai kelebihanmu membuatmu menjadi orang sombong. Baiklah, simpan kembali senjatamu itu.”
Aku segera melakukan perintah Ki Santiko, dan kedua senjata itu langsung raib.

“Sekarang ulurkan tanganmu…pegang telapak tanganku!”

Dengan heran, aku melakukan perintah Ki Santiko. Kami bersalaman…

Kurasakan sebuah energi tenaga dalam mendesak masuk ke telapak tanganku.

“Lawan tenaga itu dengan tenaga dalammu…!”

Apalagi ini? Tapi aku melakukan apa yang disuruh oleh Ki Santiko. Kuhimpun tenaga dalamku, dan kusalurkan ke tangan kananku untuk menggempur tenaga dalam Ki Santiko.

“Perlahan, tingkatkan sampai tingkat tertinggi…!”

Aku memusatkan seluruh indra untuk menghimpun tenaga dalam hingga ke puncak penguasaanku. Kurasakan sebuah gelombang energi mengalir menuju ke tangan kananku, dan menggempur tenaga dalam pria di depanku.ini.
Tapi seolah tak merasakan apapun, beliau hanya tersenyum saja menatapku.

“Cukup…!” kata beliau.

Perlahan kuhentikan aliran tenaga dalamku. Begitupun Ki Santiko.

“Aku merasakan energi batinmu sangat tinggi. Sayang, tenaga dalammu masih sangat kurang. Nanti akan aku jelaskan, tapi sekarang sudah masuk waktu dzuhur.. Kita sholat dulu!”

Sayup-sayup kudengar suara bedug di Langgar sana. Kamipun sholat dzuhur berjamaah.
Selesai sholat, Ki Santiko mengajakku makan siang bersana keluarganya. Ternyata, Ki Santiko mempunyai dua putra yang masih berusia 15 dan 12 tahun. Keduanya sangat sopan dan tutur katanya halus.
Pasti didikan kedua orang tuanya membuat mereka menjadi anak-anak yang sopan.

Selesai makan, Ki Santiko mengajakku ke sebuah ruangan yang terletak di bagian belakang rumah beliau.
Sebuah rumah kecil, berdiri terpisah dari rumah utama. Begitu masuk, kulihat banyak makhluk astral, dan senjata-senjata yang menurutku sangat kuno, terpajang di dinding ruangan.
Setelah melakukan hormat, makhluk2 itu menghilang dari ruangan itu.
Kulihat ruang dalam rumah kecil itu hanya berukuran 4X5 meter persegj.
Kok tahu? Kan aku anak Teknik Sipil…hehe.

Ada tikar pandan di lantai ruangan itu, serta 4 buah bantal duduk yang terletak di empat penjuru.
Ki Santiko mempersilahkan aku duduk di bantal duduk yang berhadapan dengan beliau.

“Kembali pada masalah tenaga dalammu yang masih belum mencapai tingkatan yang semestinya, saat ini aku akan membantumu untuk meningkatkannya. Tapi aku harus memeriksa dulu jalur tenaga dalammu, di mana saja yang masih tersumbat.” kata beliau.
‘Baik Ki… Silahkan!”
“Sekarang berbaliklah, dan duduk memunggungiku.’

Aku berbalik dan sekarang memunggungi beliau.

“Lemaskan dan santaikan seluruh tubuhmu. Jika ada sesuatu yang memasuki tubuhmu, jangan dilawan. Mengerti?”

Aku mengangguk. Lalu kurasakan dua telapak tangan menempel di punggungku. Kemudian kurasakan sebuah aliran yang hangat menelusup memasuki tubuhku dan beredar perlahan mengelilingi tubuhku.
Setiap ada pergerakan energi itu, aku merasakan kesemutan di tempat yang dilewatinya. Kadang.ada rasa seperti ditusuk oleh jarum. Tapi aku mencoba tetap rileks dan santai.
Hanya sekitar 5 menit saja, namun terasa sangat lama dan lumayan menyiksa.

“Sekarang berbaliklah…!” kata Ki Santiko sambil melepaskan kedua telapak tangannya dari punggungku.
Akupun berbalik menghadap beliau lagi.
Pandangan tajam Ki Santiko menembus mataku.


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset