Petualang Masa Lalu episode 7

Chapter 7 : Pertemuan

Ki Santiko menatapku dengan pandangan tajam.

“Aku menemukan sedikit hambatan namun agak.fatal di jalur tenaga dalammu. Apakah kau pernah melakukan pertarungan hidup dan mati? Dan kau terkena pukulan yang mematikan?”

Aku terdiam sebentar mengingat-ingat.

“Iya Ki… Saya pernah hampir mati karena bertempur dengan Jin pesugihan, demi menyelamatkan teman saya yang akan dijadikan tumbal. Saya bahkan sampai koma beberapa hari!”
“Koma..?? Apa itu koma..?”

… Ga inget kalo lagi di masa lampau…

“Emm…mati suri Ki…!”
“Dan…..!”
“Setelah sadar, tenaga dalam saya macet. Tersumbat di beberapa tempat. Saya coba menembusnya perlahan-lahan. Sebagian besar berhasil saya tembus, tapi sebagian lagi gagal Ki!”

Ki Santiko mengangguk-angguk.. Lalu diam agak lama…

“Aku akan membantumu menembus halangan itu, namun kita mulai besok saja. Karena hari ini waktu kita terbatas. Nanti malam aku harus menghadap Ki Gede.”
‘Baik Ki… Saya menurut saja…!” jawabku pada Ki Santiko.
“Nah…sekarang, mari kuantar kau kembali ke rumah Ki Gede Pamungkas.’
” Tak perlu repot repot Ki. Saya bisa pulang sendiri kok.’
‘Baiklah kalau begitu. Nanti aku akan memberitahukan kepada Ki Gede bahwa besok dan beberapa hari ke depan, kau akan tinggal di rumahku!”
“Baik Ki. Saya mohon pamit,”
‘Ayo aku antar ke depan…!” kata Ki Santiko sambil beranjak dari duduknya.
Ki Santiko lalu mengantarku ke depan rumahnya, dan aku pamit lalu meninggalkan rumah itu.

Saat di tengah perjalanan, aku berpikir..mumpung masih siang, lebih baik aku berjalan-jalan fi sekitaran tanah perdikan ini. Siapa tahu aku bisa menemukan petunjuk tentang portal yang membawaku ke alam ratusan tahun lampau ini.

Dengan santai aku berjalan menuju arah lain..bukan kembali ke rumah Ki Gede. Aku terus berjalan ke arah selatan. Kemarin, dengan Ki Gede, baru batas utara yang kutahu. Sekarang saatnya menjelajah…
Beberapa orang yang berpapasan denganku menyapaku dan aku balas dengan sopan.
Ah…keramahan khas orang Jawa di pedesaan.
Aku terus berjalan hingga memasuki daerah ladang penduduk. Ternyata di Selatan, penuh dengan ladang. Sementara di arah utara, penuh persawahan.
Pengaturan yang unik menurutku. Mungkin karena di utara pengairan lebih mudah, jadi lebih cocok untuk sawah.

Aku menyusuri ladang itu hingga berakhir di sebuah hutan kecil. Tumbuhan tidak terlalu rapat. Dan ada jalan setapak kecil yang mungkin sering dilewati penduduk yang mencari kayu bakar di hutan ini.
Aku meneruskan langkahku…memasuki hutan itu semakin ke dalam. Ketika sampai di tengah hutan itu, jalan setapak itu bercabang. Ke kanan dan ke kiri.
Entah mengapa, seolah ada yang mendorongku untuk menjelajah terus ke depan. Tidak berbelok ke kanan ataupun ke kiri.
Aku melangkah maju terus, tentunya dengan sangat berhati-hati. Takut jika ada ular atau hewan berbisa lainnya.
Semakin ke dalam, semakin gelap. Cahaya matahari hanya sedikit yang mampu menembus ke tanah hutan karena tertahan oleh kanopi dedaunan yang rimbun.
Hal itu menjadikan udara dan tanah menjadi lembab. Aku termangu-mangu. Hendak meneruskan langkah, namun ragu-ragu. Kegelapan hutan tampak menyeramkan. Aku takut jka ada hewan buas di hutan itu.
Saat sedang termangu, aku dikejutkan oleh sebuah kelebat bayangan yang mencurigakan. Melesat melewatiku, masuk ke dalam hutan.
Penuh rasa penasaran, aku melanjutkan langkahku, mengejar bayangan itu.
Tak terpikir olehku, apakah itu orang sakti yang jahat atau makhluk alam lain,. Rasa penasaranku lebih kuat dari kekhawatiranku.
Tanpa terasa aku berlari dengan cepat..makin cepat, dan ilmu lari cepatku keluar dengan sendirinya.
Ah..aku belum bisa menguasai ilmu ini..pikirku.
Selalu keluar tanpa kusadari.
Dan aku lupa satu hal…
Aku tidak mengenal daerah ini..jadi menggunakan ilmu lari cepat adalah sebuah kesalahan.
Dan aku terlambat menyadarinya…saat ada pohon tumbang yang melintang, aku melompatinya dan…

“HUWWAAAAAA………!” aku berteriak keras karena kaget dan takut.
Ternyata, di balik pohon tumbang itu adalah sebuah jurang yang dalam.

“Tamat sudah riwayatku…!” begitu pikirku.

Merasa tidak bisa berbuat apapun, aku hanya pasrah dan memejamkan mata.
Selamat tinggal semua….

WUSH….aku merasakan sesuatu, entah apa menyambar tubuhku dan membawaku turun dengan lambat hingga sampai di bawah jurang.
Fyuh…selamat deh.. Alhamdulillah…

Aku celingukan mencari siapa penolongku itu untuk berterima kasih.
“Hei…kamu….???”
Aku terbelalak memandangnya..
Dia tersenyum manis memandangku..
Tunggu…ada satu lagi di sampingnya..
Dia meleletkan lidahnya, memasang wajah sok seram padaku…
Padahal ga ada seram-seramnya…

“Bagaimana bisa kalian ada di sini?” tanyaku pada mereka.
“Entah…saat itu kami bingung karena tak melihatmu. Kami terpisah darimu.. Dan kami mencoba melacak auramu, tapi tak menemukannya. Akhirnya kami berkelana mencarimu kemana-mana. Dan kami baru saja sampai di sini saat kau jatuh tadi…!”
“Syukurlah.. Alhamdulillah.. Kita akhitnya bisa berkumpul lagi. Dan terima kasih sudah menyelamatkan aku!”
‘Hihihik… Udah tahu jurang kok malah nyebur…!” kata si tengil.

Hahaha…terserah deh mau diusilin gimana. Aku sedang senang bisa bertemu dengan mereka. Zul dan Menik… Akhirnya, kami bisa bertemu di situasi yang tak terduga.

“Bagaimana kau bisa jatuh ke jurang ini? Dan pakaianmu berubah gitu!’
” Ah..panjang ceritanya. Nanti aku ceritakan sambil jalan. Sekarang gimana caranya aku pulang ke rumah Ki Gede!”
“Ki Gede…siapa pula itu? Dukun?” tanya Zulaikha.
“Bukan… Dia adalah penguasa di tempat ini. Dan aku sekarang tinggal di rumahnya.”
‘Oh… Soal mudah itu. Sini mendekatlah…!”
Aku mendekati Zulaikha dan Menik. Mereka memegang kedua lenganku.
“Bayangkan saja rumah Ki Gede itu. Aku akan membawamu ke sana.”
“Kami akan membawamu ke sana!” ralat Menik sambil melotot pada kakaknya.
“Iya..iya.. Kami…!” kata Zulaikha mengalah.

Aku mencoba membayangkan rumah Ki Gede dan…Zaappp…. Aku sudah di depan regol rumah Ki Gede. Dua penjaga yang melihatku tiba-tiba muncul kaget dan jatuh terduduk.
Aku ingin ketawa, tapi ga enak…jadi ya cuma kutahan saja.

“Maaf mengagetkan… !” kataku sambil membantu mereka berdiri.
“Eh…raden, kenapa bisa muncul tiba-tiba?”
“Ah…aku tadi melompat dari dahan pohon itu. Maaf, sudah mengagetkan kalian!”
“Tidak apa-apa raden… Silahkan masuk…!’
” Baik… Terima kasih. Tadi aku sedang berlatih ilmu meringankan tubuh, tapi belum sempurna.” kataku mengibul.
Ilmu meringankan tubuh apa coba…
Terpaksa ngibul, takutnya mereka menyangka aku bisa menghilang, malah tambah repot nantinya.

Aku segera masuk ke halaman rumah dan langsung menuju pakiwan. Saatnya mandi… Sudah hampir waktu Ashar ini.
Selesai mandi, sekalian wudhu, bedug di Langgar berbunyi. Aku segera berangkat ke langgar.
Aku bertemu dengan Ki Gede di jalan menuju Langgar.

‘Lho, kamu sudah pulang Nak Aji?”
“Iya Ki Gede, maaf tidak sowan (menghadap) lebih dulu!”
“Tidak apa-apa. Nanti ceritakan saja apa yang kau bicarakan dengan Ki Santiko. Pasti menarik!” kata Ki Gede.
“Baik Ki Gede..!”

Percakapan kami terputus karena kami sudah sampai di Langgar.
Usai sholat, aku berhadapan dengan Ki Gede di pendopo, sambil menikmati minuman jahe panas dan ubi goreng.
“Bagaimana pembicaraanmu dengan Ki Santiko?” Ki Gede membuka percakapan.
Maka kuceritakan semua hasil percakapan kami, dan maksud Ki Santiko untuk membantuku menembus rintangan di jalur tenaga dalamku.

“Wah…bagus itu. Sebenarnya, akupun sanggup untuk membantumu menembus rintangan yang menghalangi pengerahan tenaga dalammu. Tapi, Ki Santiko yang lebih tahu secara pasti tentang pengobatan dan tenaga dalam. Karena dia memang khusus mempelajari hal itu!”
“Iya Ki Gede…!”

Lalu aku menceritakan tentang pengalamanku di hutan tadi. Tapi tak kuceritakan tentang aku jatuh ke jurang dan bertemu duo cantik di sana.

“Mungkin itu bayangan burung rajawali atau apa? Semoga bukan sesuatu yang dapat mengganggu ketentraman Tanah Perdikan ini!”
“Semoga Ki Gede…!”

Kami bercakap-cakap hingga masuk waktu maghrib.
Ba’da Isya, Ki Santiko datang bertamu. Saat melihatku, dia terkejut melihat Zulaikha dan Menik. Namun serta merta beliau mengangguk pada dua gadis alam ghaib itu. Zulaikha dan Menik balas mengangguk dengan hormat.

Setelah berbasa-basi sejenak, aku mengundurkan diri masuk ke kamarku.
Di kamar, aku menceritakan semua pengalamanku sejak aku tersedot oleh portal itu ke alam ini kepada Zulaikha dan Menik. Mereka mendengarkan dengan seksama.

“Wah..berarti kita mesti mencari portal itu jika ingin kembali ke masamu?” tanya Zulaikha.
“Betul…!” jawabku.
“Ah…itu bisa nanti aja. Kita main-main dulu di jaman ini ya mbakyu?”
“Huss…kamu itu yang dipikirkan cuma main saja…!” tegur Zulaikha
“Biarin…wekz. !”
Aku cuma tertawa mendengar pertengkaran mereka.
Senangnya bertemu lagi dengan mereka.


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset