Petualang Masa Lalu episode 8

Chapter 8 : Cerita Zulaikha Dan Masalah Baru

Setelah aku selesai bercerita, Zulaikha gantian bercerita tentang pengalamannya.”Bukan hal yang aneh kami tersedot ke jaman ini. Karena kami sudah ada di jaman ini. Akupun paham daerah-daerah di sini. Saat aku sadar bahwa aku terpisah denganmu, aku menjadi kebingungan. Sempat aku berpikir untuk kembali dulu ke rumah, dan memeeintahkan beberapa telik sandi untuk mencarimu.
Tapi tiba-tiba aku tersadar, kalau aku pulang…pasti akan terjadi kehebohan karena ada 2 Zulaikha, dan tentunya itu akan membingungkan orang tuaku.
Jadi aku membatalkan rencana untuk pulang dan berkelana menurut kata hatiku saja.
Gimana mau mencarimu sedangkan auramu tak kurasakan.
Mungkin karena terlalu jauh.
Aku juga bingung waktu itu..Menik terdampar di mana. Untunglah kalau dengan Menik, aura kami terhubung oleh suatu benda pemberian ibu. Jadi, kami mudah saja untuk saling bisa menemukan satu sama lain.”

“Memang Menik ga bareng kamu waktu terdampar ke jaman ini? Trus gimana caranya kalian bertemu?”

“Aku terpisah dengan mbakyu… Jauuhhh banget… Tapi kami punya sesuatu yang bisa melacak satu sama lain, walaupun terpisah sejauh apapun.” kata Menik.

Zulaikha melanjutkan,

“Saat itu, getaran keberadaan Menik sangat lemah. Berarti kita terpisah sangat jauh… Dan mungkin berbeda alam.
Dan benar saja, Menik terdampar di alam nyata, sedang aku di alam ghaib. Aku menvmcoba mencari si Nakal ini ke segala arah. Setiap melesat ke suatu arah, aku rasakan getaran Menik, apakah semakin lemah atau semakin kuat.
Saat aku melesat ke arah utara, aku mersakan getaran semakin menguat.. Maka aku melanjutkan ke arah utara.
Dan saat aku merasakan getaran keberadaan Menik sangat dekat, aku mencari-cari tak ketemu. Maka dari situ aku sadar, kita berada pada dinensi yang berbeda. Maka aku keluar dari alam ghaib dan bertemu Menik di alam nyata.”

“Aku pikir, alam nyata terlihat dari alam ghaib!”
“Memang…jika kita ada pada dimensi yang sama. Kalau dimensinya berbeda, kita harus keluar dulu dari dimensi itu untuk bisa melihat alam dunia.”
“Ah…pusing aku dengarnya…!”
“Hihihik…emang membingungkan kok… !” kata Menik.
“Kalau di jamanmu, mungkin seperti HT ya… Jadi untuk berhubungan, kita mesti ada pada frekuensi yang sama… Gitu lah. !” jelas Zulaikha.

Walah..jin tahu HT, frekuensi, dimensi… Aku aja bingung…

“Oh..begitu rupanya.” jawabku sok paham.
“Jadi, bagaimana setelah kamu bertemu Menik…?”
“Huahaha…gitu aja kok ditanyakan. Ya aku pelukan lah sama mbakyu…!” kata Menik.

Ya Allah..apa salah dan dosaku punya teman alam ghaib tengilnya minta ampun….

“Maksudku, setelah kalian selesai kangen-kangenan..Menniikkkk…!” ujarku gemas.

“Hehe.. Ya kita terus nyari mas Aji yang ganteng kayak sekuteng ini.. Ya khan mbakyu?”

“Benar, kami memutuskan untuk mencarimu. Setelah bertemu Menik, aku memutuskan untuk menggabungkan ilmu cipta rasa kami.., untuk memperkuat kemampuan kami melacak auramu. Dan kami mulai bisa melacak auramu meski masih kurang kuat. Kami menyelusuri arah auramu hingga sampai ke jurang itu.
Dan saat itu auramu semakin menguat dengan cepat…!”
“Ga taunya malah nyemplung jurang…hahaha!” Menik dengan tanpa rasa berdosa ketawa ngakak.

Aku cuman bisa garuk-garuk kepala yang agak gatal, karena 3 hari ga keramas. Lha ga ada shampo di jaman itu…

Saat itulah, pintu kamarku ada yang mengetuk.

“Kangmas Aji… Kangmas ada di dalam?”terdengar suara Melati memanggilku.
“Iya…aku di dalam. Masuk saja Melati!”

Pintu terbuka sedikit, dan muncullah kepala Melati…

“Maaf kangmas, dipanggil kanjeng romo di pendopo!”
“Baiklah… Aku akan segera ke sana. Terima kasih!”
‘Aku permisi dulu kangmas…!” sahutnya sambil tersenyum manis.

Begitu Melati keluar dari kamar, kepalaku ditoyor oleh Zulaikha.

“Mulai genit ya sekarang…? Godain cewe jaman kuno!”
“Siapa yang godain coba?”
“Hahaha…mbakyu cemburu…!” sambar Menik begitu saja.
‘Huh…siapa yang cemburu coba?” elak Zulaikha sambil melengos. Tapi sekilas kulihat pipinya memerah…

Aku segera beranjak keluar.kamar dan menuju pendopo. Tak baik membuat Ki Gede menunggu terlalu lama.

Sesampai di pendopo, tampak Ki Gede dan Ki Santiko sedang bercakap-cakap.

“Sini nak Aji.. Ki Santiko mau berpamitan. Juga mengingatkanmu untuk datang besok ke rumah beliau!”

“Baik Ki Gede…!” jawabku.
“Jangan lupa, besok selepas subuh datanglah ke rumah. Baiklah, sekarang aku mohon pamit Ki Gede, Nak Aji! Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikum salam..!” jawabku dan Ki Gede bersamaan.

Aku mengantarkan Ki Santiko sampai ke regol rumah Ki Gede.
Setelah berbasa-basi sejenak, Ki Santiko segera pulang.
Aku kembali ke pendopo. Tampak Ki Gede sedang melinting rokok.

“Ini kalau mau merokok Nak Aji. Ngelinting sendiri!” tawar Ki Gede.

Aku ingat buntalan berisi tembakau dan klobot yang kusimpan di saku. Aku mengeluarkannya dari saku dan ikut melinting tembakau dan cengkeh. Pavirnya diganti klobot jagung (kulit jagung yang dikeringkan).
Dan karena ada sentir (lampu dian dengan bahan bakar minyak kelapa), aku ga perlu menggunakan batu api.
Kami menikmati rokok bersama. Wah..rokok klobot ternyata nikmat juga. Sementara rokok Ki Gede sangat menyengat baunya karena dicampur kelembak dan menyan.
Wuih..kaya mau ngundang setan aja baunya…
Sambil merokok, Ki Gede mengajakku bercakap-cakap.

“Tadi Ki Santiko bercerita, bahwa sepulangnya beliau dari kotaraja, di perbatasan tanah perdikan ini, beliau merasakan ada aura gelap yang melingkupi tanah perdikan ini. Menurut hasil terawangan Ki Santiko, banyak sekali makhluk ghaib yang terkumpul di luar tanah perdikan ini. Kata Ki Santiko, jumlahnya mencapai ribuan makhluk ghaib.”
“Tapi saya kok tidak merasakan auranya, Ki Gede?”
“Menurut Ki Santiko, keberadaan mereka dilundungi oleh suatu lapisan yang menyembunyikan aura kehadiran mereka!”
“Oh. .pantas saja saya tidak bisa merasakan auranya. Tapi bagaimana Ki Santiko bisa tahu?”
“Ki Santiko mempunyai sejenis ilmu kebatinan yang dapat merasakan getaran makhluk ghaib dan manusia yang berniat.jahat. selemah apapun getarannya. Jadi ketika beliau merasakan getaran itu dalam perjalanannya dari kotaraja, beliau melakukan penerawangan mencoba menembus lapisan yang melingkupi makhluk2 ghaib itu.
Dan ternyata, beliau melihat banyak sekali makhluk yang berkumpul.”
“Tapi apa maksud sebenarnya mereka berkumpul di tapal batas tanah perdikan ini?” tanyaku lebih lanjut.
“Nah..itulah yang masih menjadi pertanyaan bagi kami. Apakah mereka akan masuk ke tanah perdikan ini, atau hanya sekedar beekumpul di situ? Tapi perasaan Ki Santiko mengatakan bahwa mereka mempunyai niat tidak baik. Cuma yang dituju apakah tanah perdikan ini atau bukan, kami masih belum tahu.”
“Apakah mungkin, ada seseorang yang bersekutu dengan makhluk2 itu dan mempunyai niat.buruk pada tanah perdikan ini?”
“Kami masih belum yakin. Jadi kami tak ingin suudzon dulu. Maka kuminta Ki Santiko memeriksa dan memastikan apa maksud dan tujuan mereka berkumpul.di tempat itu. Baru setealah ada keyakinan, barulah kita bisa menentukan langkah-langkah yang harus diambil!”
“Maaf Ki Gede, jika menunggu hasil penyelidikan Ki Santiko, apakah tidak terlalu lama? Sekali lagi maaf, apakah tidak lebih.baik.kita juga berjaga-jaga sejak sekarang untuk menghadapi segala kemungkinan yang mungkin terjadi?” kataku sok tahu.
Ki Gede memandangku dengan tersenyum.

“Hahaha…khas anak muda yang berapi-api. Aku senang mendengar usulmu. Tapi, tak mungkin menggerakkan penduduk.untuk bersiaga dari serangan makhluk ghaib. Karena itu akan membuat gempar dan panik. Maka yang bisa dilakukan adalah mempersiapkan segala sesuatu secara diam-diam, supaya tidak menggemparkan penduduk tanah perdikan. Jangan menciptakan ketakutan pada penduduk. Jadi kami berdua sudah mengatur strategi untuk mempersiapkan segala kemungkinan yang mungkin terjadi, dan sudah memberikan perintah pada orang-orang yang berkepentingan. Besok malam, akan diadakan paseban untuk membahas masalah ini. Tapi hanya untuk kalangan terbatas. Kau boleh ikut, boleh tidak. Karena kau tidak.punya kewajiban untuk ikut mengamankan tanah perdikan ini!” jelas Ki Gede panjang lebar.
“Saya akan ikut mendengarkan saja Ki Gede. Saya yakin, yang akan hadir di paseban pastilah bukan orang-orang yang sembarangan.”
“Terima kasih kalau.kau mau ikut. Karena aku yakin, kamu juga punya kemampuan untuk ikut menanggulangi masalah ini. Tapi sebagai tamu, kami tak mungkin memintamu untuk ikut berjuang di tanah perdikan ini!”
“Saya akan sangat senang kalau bisa membantu tanah perdikan ini Ki Gede!”
“Bagus… Semangat yang membanggakan. Sekarang istirahatlah. Sudah larut malam…!”
“Baik Ki Gede, saya mohon diri!”

Aku segera kembali ke kamarku untuk beristirahat.
Tak lama aku tertidur dengan dijaga oleh Zulaikha dan Menik.


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset