Petualang Masa Lalu episode 9

Chapter 9 : Menembus Rintangan

Esok harinya, selepas subuh aku ditemani duo alam ghaib, menuju rumah Ki Santiko.
Cuaca masih remang-remang saat aku menyusuri jalan ke rumah beliau. Tapi aku sudah melihat beberapa orang dengan membawa cangkul dan sabit, berangkat ke ladang. Karena mereka berjalan ke arah Selatan… Pusat ladang.
Aku menyapa mereka dan dengan sangat ramah mereka membalas sapaanku. Bertanya, aku mau kemana. Kujawab bahwa aku akan ke rumah ki Santiko, dan mereka mengangguk angguk sambil memuji Ki Santiko yang pandai dan ramah. Suka membantu penduduk yang kesulitan.Tak terasa, aku sudah sampai di depan rumah Ki Santiko.
Aku mengetuk pintu dan mengucap salam.
Dari dalam terdengar sahutan salam, dan pintu terbuka. Ki Santiko sendiri yang membukakan pintu, dan segera menyuruhku masuk.
Lampu sentir masih menyala, karena memang suasana belum terlalu terang.
Kami duduk berhadapan di balai-balai.
Sementara Zulaikha dan Menik sudah asik aja ngerumpi dengan makhluk ghaib yang ada di rumah itu…
Dasar cewe…sukanya ngerumpi…Tak perlu menunggu lama, keluarlah wedang jahe yang panas, serta ubi rebus yang dimasak dengan gula merah. Wow… Sepertinya enak deh…haha.
Ki Santiko mempersilahkan aku untuk minum dan menyantap makanan yang telah disediakan.
Setelah perut kenyang, aku mengeluarkan kelobot dan tembakaunya sekalian. Mulai melinting rokok, dan mulai mengisapnya. Mumpung masih ada sentir. Ki Santiko melakukan hal yang sama.
Sambil ngobrol, kami nikmati asap yang masuk ke paru-paru. Memang ga senikmat rokok di jamanku, tapi tiada rotan, akarpun jadi. Tiada rokok, melintingpun boleh lah….Selesai merokok, Ki Santiko mengajakku ke halaman belakang, ke bangunan kecil yang pernah kami masuki kemarin.
Aku dipersilahkan duduk membelakangi beliau.”Nak Aji, nanti aku akan menyalurkan tenaga dalam kepadamu, dan baurkan dengan tenagamu. Lalu selanjutnya akan kutuntun untuk menembus beberapa hambatan di jalur tenaga dalammu. Lemaskan badan, jangan kaku. Lepaskan pikiran dan konsentrasilah pada pengobatan jalur tenagamu!”
“Baik Ki…!” jawabku.

Kurasakan telapak tangan Ki Santiko menempel di punggungku, dan kurasakan aliran hawa hangat merasuki tubuhku. Kualirkan tenaga yang masuk ke bawah pusarku dan kusatukan dengan tenagaku. Bukan hal mudah untuk melakukan penyatuan dua tenaga yang berbeda.
Tapi tetap kucoba dan kucoba..hingga perlahan-lahan, penolakan dari dua tenaga itu berkurang. Dan sedikit demi sedikit kedua tenaga itu menyatu.

“Sekalian dengan energi Naga Wiru!” desis Ki Santiko.

Aku mengangguk, dan tenaga naga wiru kusatukan sekalian. Kali ini lebih mudah, karena tenagaku sudah menyatu dengan tenaga Ki Santiko, sehingga tenaga Naga Wiru yang sudah bersatu dengan energiku, segera menyatu.
Ada 3 tenaga dalam yang bercampur di tubuhki sekarang. Tubuhku rasanya seperti balon yang penuh dengan angin.

“Sekarang, tuntun tenaga itu mengitari seluruh tubuh..!” bisik Ki Santiko.

Aku menurutinya. Kuputar tenaga gabungan itu ke seluruh bagian tubuhku. Kuputar searah jarum jam.
Saat mencapai bagian dada, terasa ada yang menghambat di situ, aliran tersendat-sendat.

“Jangan dipaksa dengan kekerasan, tapi pelan-pelan.” bisik Ki Santiko lagi.

Dengan perlahan kudorong aliran tenaga mendesak sumbatan yang ada di dada.
Susah sekali… Setelah mencoba 5 kali, barulah sumbatan itu terbuka. Kuputar lagi aliran tenaga itu dan sekarang lancar.
Mulai kualihkan aliran ke daerah punggung sampai kepala. Di punggung terasa ada hambatan. Kali ini lebih besar hambatannya.
Tiba-tiba, Ki Santiko menotok daerah sumbatan di punggungku itu dan..BYARR… Sumbatan itu terasa buyar. Ketika tenaga itu sampai ke bagian kepala, kembali tersumbat dan tak bisa bergerak.

“Hati-hati, daerah ini adalah daerah paling rawan. Jangan terlalu dipaksa. Jika kepalamu terasa pusing, hentikan segera. Ini titik paling penting. Kalau bisa menembus hambatan ini, kemampuanmu akan meningkat beberapa kali lipat.” Ki Santiko menjelaskan.

Aku coba pelan-pelan mengurai hambatan di bagian kepala. Susah sekali.. Kucoba berulang-ulang, tapi belum bisa juga. Ketika sedikit kupaksa, kepalaku menjadi sakit…
Segera kuhentikan.

“Hentikan dulu… Endapkan tenaga dalammu ke bawsh pusar. Aku akan menarik tenagaku.”

Perlahan, terasa arus tenaga yang merembes keluar. Tangan Ki Santiko lepas dari punggungku.
Kuendapkan tenaga dalamku kembali ke bawah pusar. Terasa penuh sekali.tenaga dalamku.
Aku endapkan pelan pelan, hingga seluruhnya bisa tertampung di situ.
Kuhembuskan nafas…
Kubuka mataku dan pandanganku terasa bertambah terang.

Aku berbalik menghadap ke arah Ki Santiko. Tampak beliau sedang duduk bersedekap, tampaknya sedang bermeditasi.
Nafasnya terlihat sedikit memburu..lalu perlahan mulai teratur dan semakin halus.
Beliau membuka matanya dan memandangku dengan tersenyum.

“Alhamdulillah, kita berhasil menembus semua rintangan yang ada, kecuali yang di bagian kepala.”
‘Alhamdulillah, semua berkat bantuan dari Ki Santiko. Saya mengucapkan banyak terima kasih Ki!”
‘Ah..jangan terlalu sungkan. Aku hanya membantu sebisaku. Syukurlah Allah meridhoi kita, sehingga halangan yang ada bisa kita tembus!”

“Tapi mengapa yang di kepala susah sekali untuk ditembus ya Ki?”
“Memang..di situ adalah tempat paling rawan tapi juga tempat terpenting. Jika bisa membuka hambatan di situ, maka kemampuan tenaga dalammu secara langsung akan meningkat berkali lipat. Tapi untuk membuka itu, butuh sebuah usaha keras dan juga keajaiban. Sangat jarang yang jalur tenaga dalam di daerah kepala terbuka.”
“Butuh keajaiban Ki? Keajaiban apa maksudnya Ki?”
“Misalnya, dia menemukan sesuatu benda atau buah mustika yang bisa membantunya menembus rintangan itu. Dan itu sangat susah didapatkan. Kecuali memang nasibnya yang sangat baik. Tapi dengan terbukanya hampir seluruh rintangan, tenaga dalammu sudah tinggi sekarang. Aku bisa melihatnya dari pancaran matamu!” jelas Ki Santiko.

“Alhamdulillah Ki .. Saya sangat bersyukur.”
“Pesanku, walaupun kemampuanmu sudah tinggi, jangan takabur, karena di atas langit masih ada langit!”
“Baik Ki, pesan Ki Santiko akan kuperhatikan!”
‘Satu lagi… Selalu gunakan kemampuanmu di jalan yang diridhoi Allah SWT. Jangan pernah melenceng dari jalannya. Karena kampuanmu itu kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat!”
“Insya Allah Ki…!”

Kami asyik berbincang tentang khazanah keilmuan.
Bahkan aku diajari tentang penyembuhan luka dalam dengan tenaga dalam.

“Apakah kau juga ingin mempelajari ilmu raga sukma?”
“Ah..tidak Ki. Terima kasih…!”

Aku takut jika mempelajari ilmu raga sukma, dan saat menggunakannya ada yang mengganggu jasadku, dari yang aku dengar, sukma ga akan kembali.
Entah benar atau tidak, tapi aku takut untuk mempelajarinya.
Mending gini aja deh…

Saat kami sedang bercakap, masuklah 2 makhluk dengan pakaian serba hitam berkerudung hitam.
Mereka segera berlutut dengan satu kaki di depan Ki Santiko.
Zulaikha dan Menik melesat maauk.dan berdiri di sisi kanan kiriku.

“Bagaimana hasilnya?” tanya Ki Santiko.

Lalu kulihat mereka saling bertatapan. Sesekali kulihat Ki Santiko mengangguk-angguk.
Kadang wajahnya terlihat kaget, geram dan dahinya berkerut.
Wah..mereka mungkin sedang berkomunikasi secara batin nih.
Jadi penasaran juga apa yang mereka bicarakan. Sepertinya sesuatu hal yang sangat penting.
Aku hanya berdiam diri.
Tak lama, kedua makhluk itu menghilang dari ruangan itu.
Ki Santiko tampak berpikir keras, terlihat dari dahinya yang sering berkerut kerut.
Aku tak berani mengusiknya.. Pasti ada masalah yang sangat penting dan sulit.
Akhirnya Ki Santiko kembali menatapku, bibirnya sedikit terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu. Tapi diurungkannya….

Sumpah, aku jadi penasaran sendiri.
Ada apa sebenarnya?


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset