Petualangan Trio Dukun episode 13

Chapter 13 : The Last Battle

Di beberapa bulan sebelum bubar nya Trio Dukun kami menghadapi sebuah kasus yang terberat. Kasus yang membuat kami berfikir tentang eksistensi kami.

Salah seorang kerabat Renita membawa kasus ini, kasus nya adalah sebuah pabrik yang terpaksa menghentikan produksi karena gangguan gaib yang tak tertahan. Pabrik ini ada di penghujung kota Bandung.

Kami menganggap kasus ini tidak lebih berat dari Castle of doom. Dan kami pun di antar menuju pabrik ini, dari pelataran pabrik hawa jahat sudah sangat terasa. Christin terlihat sangat tegang.

” kenapa tin.. ” bisik beni.
” ini.. Parah… Pasang tahanan…” bisik Christin.

Ane dan beni tau ini bukan main main, bukan waktu nya cengengesan. Akses ilmu segera di pakai.

” jangan ada yang bertindak sebelum ada aba2.. Gue lagi cari pusat nya. ” ujar Christin.

Kami pun menelusuri pabrik, hingga tiba kami pada sebuah ruangan yang luas berisi mesin produksi dan beberapa besi tua.

” Siap-siap.. Ini nggak bakalan gampang..” bisik Christin.

Dan benar saja belum 2 menit kami disini, mereka sudah mulai mengintimidasi mesin mulai bergerak, angin berhembus kencang. Kami mulai bersiap, ane mengakses golok emas si tangan kanan sementara tangan kiri meng akses ilmu badai api. Bagi ane dan beni yang tidak bisa melihat bentukan musuh, kami hanya bisa merasakan dan mendeteksi melalui pergerakan mereka. Ane fokus pada mesin yang berjalan sendiri.
Tangan kiri terarah ke mesin sementara tangan kanan mengintimidasi dengan golok emas. Hawa serangan mereka pun sangat kuat. Beberapa barang kecil mulai berterbangan ke arah kami.

” Sial…nggak berkurang.. Kuat.. ”
Walau tak terlihat tapi ane dan beni bisa merasakan dengan jelas kehadiran mereka. Ane mencoba berkonsentrasi dengan memejamkan mata. Dan saat itu dalam benak ane, ane bisa melihat sosok mereka semua. Mereka terdiri dari jin berbagai ukuran dan macam nya, bahkan ada yang berukuran sangat besar berdiri di bagian belakang. Ane bisa melihat pergerakan mereka, walau harus memejamkan mata.

” gue bisa liat… Ben tutup mata lu, mereka bakal terasa..” bisik ane
” iya.. Gue juga bisa liat..,”
Jawab beni.

Saking besar nya mereka sehingga ane dan beni yang tidak punya mata spesial pun bisa melihat melalui batin kami.

Ane bisa melihat mereka berusaha menjebol ilmu tahanan di sekitar kami.

Pertarungan semakin menarik, ane dan beni bukan seperti orang buta yang tidak tau arah, kita semua kini bisa bertarung dengan lebih leluasa.

Bahkan ane bisa melihat golok di tangan ane, dan pusaran api di telapak kiri ane.

Kami bertarung seperti kue yang di kerubuti semut. Mereka ada di sekitar kami. Satu persatu ane pukul mundur dengan badai api dan bila ada yang nekat mendekat ane akan tebas dengan golok.

Mereka tidak berkurang, terus berdatangan dari segala arah. Akses ilmu terus berganti, segala cara kami coba untuk menghalau mereka.

Tiba2 dari arah depan muncul sebuah serangan yang menekan kencang, dan berita buruk nya adalah tahanan kami jebol.. Ane merasakan hantaman yang kuat menghantam dada.

” ughhkk..uhukk..”
Serangan itu membuat dada ane sakit dan panas.

Ane coba mengatur nafas. Dan mengakses jenis tahanan yang lebih kuat dengan tahapan energy terkuat.
Pertarungan sudah berjalan 1 jam, dan belum ada tanda bakal berakhir.

Rupanya mereka pun punya taktik yang hebat. Mereka tau kelemahan dan kesalahan ane yaitu mata terpejam.

Ane tidak bisa melihat bahwa mereka melemparkan sebuah besi tua seukuran lengan dan mengarah ke ane. Christin terlambat memperingatkan..

” bletakk.. ” besi itu sukses menghantam kepala ane…

Darah segar mengalir di atas telinga ane, dan seketika ane kehilangan keseimbangan.

” je.. Lu gak apa apa..” teriak Christin mendekat. Beni pun terpecah konsentrasi nya dan menghampiri ane. .

” gak apa-apa.. Pusing dikit.. Hayu.. Jangan pecah konsentrasi.. ” jawab ane sambil mencoba berdiri.
Trio Kwek Kwek saling memunggungi, menjaga satu sama lain.

Mereka terus mengikis tahanan kami. Ilmu pasukan jin ini sangat kuat, dan rasa sakit di kepala juga darah yang mengalir ini menumbuhkan sebuah perasaan takut..
Tiba2 di tengah pertarungan yang sengit ini, ane teringat sebuah ayat dalam kitab suci ane.
“Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! ”

Ane bukan seorang Kristen yang taat, ke Gereja hanya seminggu sekali, hidup penuh lumpur dosa. Dan bertahun-tahun ini hampir tidak pernah berdoa atau membaca kitab suci. Tapi saat itu ayat itu terus terngiang di kepala ane.

Tapi ane terus bertarung, terus terang demi harga diri di depan Christin dan Beni ane terus bertarung walau dengan badan yang lemas dan kepala pusing, darah sudah mencapai baju dan menetes disisi mata.

Ane melihat Christin dan beni pun sudah kepayahan, keringat sudah seperti air yang mengalir.

Ane merasa lemas, badan sudah susah di gerakan, tangan bergetar hebat… Dalam keadaan ini ane sudah pasrah… Ane sudah nggak sanggup lagi..

Ane berdoa dalam hati..
” ya Tuhan, ampuni saya yang tidak mengandalkan Engkau.. Saya ini milik kepunyaan MU.. Saya menyerah Tuhan.. Saya menyerah.. ”
Ane pun merasa gelap, berputar…
Ane pingsan…

Saat ane membuka mata, ane sudah di UGD. Christin dan Beni berdiri di sebelah ane.

” gimana… ” tanya ane yang masih merasa pusing.
” dah nanti aja cerita nya.. Lu masih lemes.. ” ujar beni.

Ane ngotot untuk pulang, ane merasa sudah cukup kuat untuk jalan. Jam 3 pagi ane pun keluar dari UGD dengan kepala di perban.

Di mobil Christin bercerita bahwa saat ane pingsan dia pun sudah hampir nyerah, tapi dari belakang tiba-tiba datang 3 orang berbaju tentara menghalau jin yang di dekat ane lalu 3 orang ini seperti bicara dengan pasukan jin ini…. Lalu pasukan jin ini tiba-tiba pergi..bukan hanya yang di dalam ruangan tapi semua jin di area itu pergi dan 3 orang itu pun pergi…

Ane nggak tau apa yang terjadi, tapi ane yakin itu adalah pertolongan Tuhan..
………………….


cerbung.net

Petualangan Trio Dukun

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
Nama ane Jeje dan ane berteman dengan Beni sejak umur 9 tahun. Ane dan Beni teman segereja karena kami berdua adalah pemeluk agama KristenTapi sejak usia remaja kami berdua punya hobi yang sama yaitu mempelajari ilmu beladiri. Hobi ini sangat aneh karena jarang sekali pemeluk agama Kristen tertarik untuk belajar beladiri...hingga dimana akhirnya kami memutuskan untuk mendedikasikan diri kami untuk mempelajari "pengetahuan" dalam hidup.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset