Prenthol episode 1

Pulang Umroh

Prenthol adalah pegawai rendahan yang selalu suka berkelakar saat bekerja di  Jawatan Sosial Kesehatan , tapi dia ringan tangan  membantu sesama dan murah senyum entah mereka menganggap Prenthol apa sajalah ada yang manggil Sableng , bokek, atau apalah dia tak bakalan sedih bahkan bersukur  malau hanya seorang sopir diperusahaan swasta dan berpendidikan hanya SMP tapi dia tetap bersahaja dan membuat tertawa sahabat- sahabatnya.

Prenthol mendapat perintah dari ibu pimpinan untuk mengantarnya ke Pedurungan membawa oleh-olehnya sepulang berhaji umroh Prenthol ikut mengangkatinya. Karpet merah dari Pakistan ini bagus sekali pikirnya dan Prenthol mengangkatnya beserta makanan kacang-kacangan dan beberapa air zam zam dalam kemasan botol 200ml. Prenthol tak tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya karena sejak pagi rasanya pingin kentut terus , kejengkelannya diutarakan pada bosnya seorang dokter wanita bernama dr.Rini Astuti.

Prenthol   : ” Buk maaf ya…kenapa saya kentut terus…? ”

dr.Rini      : ” La kamu makan apa Ju..? ( Sarju adalah nama sebenarnya dan Prenthol panggilan akrab saja )

Prenthol   : ” Saya di kasih makan oseng kubis dan tempe goreng tadi buat sarapan…”

dr. Rini     : ” Enak itu..tapi jangan kebanyakan …bisa kentut terus….”

Prenthol   : ” Oh ya buk….? pantas perutku sakit…. tak tertahankan ” Sambil membuang angin Prenthol nyengingis karena malu dan keluarlah sang kentut * thuiiiiiit….*, ” Ma af ya dok…tak tertahankan….” Dokter Rini menutup hidungnya sambil menggerutu…” dasar sableng ”

dr. Rini     : ” Iya …tapi di luar..jangan sembarangan..uuhhh…masak dalam mobil…”  sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

Prenthol meminggirkan mobilnya kekiri

dr. Rini     : ” Kenapa Ju…kok minggir…..”

Sarju         : ” La ini mau buang kentut lagi….maaf ya dok….” terdengar bunyi prat..pret karena kentut yang tertahan dan berulang-ulang , Sarju keburu masuk akhirnya bau kentutpun masuk ke mobil dan dokter Rini pun ngomel …

dr. Rini     : ” Waaaah… kamu keburu masuk…anginnya masih di celana itu…” dengan wajah sedih Sarju turun lagi dan mengeluarkan kentut yang masih berada di bokong Sarju memukul-mukul pantatnya perlahan dan berucap ” legaaaaa” .

dr.Rini      : ” Leganya itu tadi ….pas kentut keluar bukan sekarang…..” .

Sambil tertawa dr.Rini menyempatkan ngomel edisi keduanya dan memandang muka Sarju yang pating prenthol di pipinya itulah makanya banyak yang  memanggilnya prenthol.  Sampai di Pedurungan dr. Rini turun dan bertemu dengan dr Thoyibah seniornya dan menyuruh Sarju menurunkan karpet Turkistan pesanan dr.Thoyibah dan dioleh-olehin kacang-kacangan khas Arab, Sarju meletakkannya di kursi.

dr. Thoyibah  : ” Oh sama pak Sarju to…trima kasik ya pak ..sudah taruh di situ saja….gak usah dimasukkan biar Fatonah saja sambil menata karpet” Lalu memanggil Fatonah dan disuruh menata karpet Tursina di ruang tamunya dibantu Sarju sementara dr Thoyibah dan dr. Rini sedang membicarakan sesuatu diluar. Sarju memuji Fatonah yang menghidangkan kue bolu dari dalam dan dibawa ke teras .

Sarju                : ” La ini yang ku tunggu-tungu… bolu buatan istana berlian yang dipojok Simpang Lima…lapis lekitnya mana Fat….”

Fatonah          : ” Habis pak…tinggal bolu dan selai nanas ”

Sarju               : ” Ya sudah tanya saja….makasih ya Fat…” Fatonah hanya mesam- mesem.

Doter Rini pun pamit karena masih banyak tugas yang harus dikerjakan , dokter Thoyibah memberikan amplop pada Sarju,

dr.Thoyibah  : ” Salamya buat Wartinah istrimu …itu untuk cilikanmu si Parjo , kapan sekolahnya…? ”

Sarju               : ” Parjo belum sekolah…nunggu kakaknya lulus SD dulu dok…”

dr Thoyibah  : ” Jangan kelamaan, kasihan dia tak sekolah-sekolah….kalau perlu apa-apa main ke sini saja…insyaAllah kami bantu ”

Sarju               : ” Inggih…suwun sebelumnya dok….”

Sarju disuruh cepat sedikit nyetirnya karena ada tamu menunggu dari dinkes (Dinas Kesehatan )

Sarju               : ” Sudah jam setengah tiga gini kok masih ada tamu dari Dinas Kesehatan ya Bu….?”

dr.Rini            : ” Ya… yang namanya tamu …yo diterima , lagian sudah selesai urusan sama dr. Thoyibah….omong-omong kamu dapat amplop dari mak Thoyib ( kadang dr. Thoyib dipanggil mak karena sudah pensiun dan amat perhatian sama sejawatnya )

Sarju               : ” iya dok untuk Parjo….”

dr.Rini            : ” Untuk Parjo apa untuk Parti …?”

Sarju                : ” Dokter kok tahu Parti…? ”

dr.Rini             : ” Yo tahu to…gambrik ( perempuan yang mau melayani lelaki dan di bayar seadanya uang yang dimiliki ) yang selalu mengganggumu dan meminta uang sama nangis-nangis ya kan..?”

Sarju                : ” Dia hanya butuh makan kok dok….kasihan….” .

Dokter Rini sebenarnya tahu Parti itu siapa….seorang wanita yang ditinggal suaminya dan tinggal sebagai tuna wisma kadang di pasar Bulu, kadang di Karangayu bahkan dikolong jembatan Banjirkanal, amat memprikatinkan. Sebagai Jawatan Sosial rasa iba itu pasti adalah Sarju juga manusia dan memiliki perasaan tapi dengan cara sendiri ia melakukannya.

Sarju                : ” Parti itu sebenarnya cantik lo dok…., tapi suaminya tak bertanggung jawab dan meninggalkannya karna Parti keguguran dan tak dibiayai sakitnya malah meninggalkannya serta tinggalnya tak pasti sampai setengah gila kadang ia menangis kadang tertawa sendiri.

dr. Rini            : ” Kamu kok tahu riwayatnya, jangan-jangan itu mantan mu……”

Sarju                : ” Enggaklah bu…itu dari cerita orang-orang saja…” .

Mereka turun karna sudah sampai kantor di jalan Soegiyopranoto dan nampak tamu menemui dokter Rini dan mereka saling menyalami.

Sarju                : ” Kamu kok belum pulang Lis…? ”

Elis                   : ” Waaah senengnya diajak bos jalan-jalan, pasti dapat folus nih..” tangan Elis sembari merogoh kantong Sarju kanan dan kiri dan menemukan amplop dari dokter Thoyib dan Elis tertawa dan menepuk pundak Sarju, : ” La…ini apa hayo…..”

Sarju                : ” Jangan Lis… itu buat Parjo…dari mak Thoyib ” Elis dan Sarju berebut amplop yang sebenarnya Elis cuma bergurau saja dan memberikannya lagi, Elis meminta amplop di buka Sarjupun menurut dan nampak uang 200.000 Sarjupun berteriak, ” Rejeki anak sholeh, rejeki anak sholeh…” sambil menari-nari disamping mobilnya Sarju  meletakkan uang itu di keningnya . Elis tertawa lalu meninggalkan Sarju karna angkotmya dah nunggu dipinggir jalan.

Tamu tak kunjung pulang,  Sarju masik menunggu siapa tahu ada perintah dari pimpinan,  Jam 4 sore akhirnya tamu pulang dan Sarju mengantar pulng dr.Rini ke rumah  di  Banyumanik, Sarju amat lelah dan segera pulang sambil membawa mobil kantor untuk menjemput dr. Rini esok hari .

Malam itu Prenthol memberikan amplop pada Wartinah  istrinya dan mengeluarkan oleh-oleh dari dokter Rini .

Sarju                : ” Ini dari mak Thoyib, dan ini oleh-oleh dari bos Rini, apa namanya aku lupa pokoknya enak dari Umroh kemarin sama suaminya mas Catur Pambudi

Wartinah        : ” Kapan pulangnya mas…?”

Sarju                : ” Dua hari yang lalu…coba air zam-zamnya dik.. ” Wartinah memberikan air zam-zam dan  Sarju meminumnya tiga tegukan dan berucap: ” Alhamdulillah semoga bisa nyusul ke Mekah…Aamiin…nih gantian kamu dik..”. Wartinah pun ikutan mengucapkannya. Meskipun dirasa tak mungkin mereka berumroh tapi siapa tahu Gusti Alloh menghendaki pasti akan terjadi Kunfayakun demikian Sarju percaya petunjukNya.

Wartinah        : ” Nduk Harni, diminum nih air zam-zamnya jangan lupa berdoa dan sampaikan keinginanmu lalu minum tiga teguk. Harni yang mau lulusan menginginkan dapat sekolah di SMP Negeri karena orang tuanya tak mampu. Wartinah dan Sarju mengamininya dan mencium putri sulungnya yang jelang akil baligh. Sisa air buat mencuci muka Sarju ,istri dan kedua anaknya yang penurut pada kedua orang tuanya.

Parjo yang berumur 4 tahun nyelethuk : ” Jojo mau sekolah pak, kayak mbak Ni..” Sarju memeluknya dan mengiyakan keinginan putranya yang masih pencolotan bicaranya.

Sarju                : ” Parjo ingin jadi apa besok kalau sudah besar…”

Parjo                : ” Jadi Polisi ..menembak door..door.. bapak matiii….”

Sarju tertawa dan pura – pura mati agar Parjo senang.  Begitulah keluarga Sarju yang menerima apa yang ada dan demi kedua anaknya Parjo bekerja dan melarang istrinya ikut bekerja karena dia kawatir istrinya jadi pemberani seperti tetangga lainnya . Wartinah yang penurut akan selalu menjaga anak-anaknya menyayangi putra putrinya dengan tulus dan iklas walau pendapatan Sarju sangatlah pas-pasan Wartinah masih bisa membaginya.

 


cerbung.net

Prenthol

Score 8
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2022 Native Language: Indonesian
Prenthol adalah seorang lelaki yang sayang keluarga , walaupun pendidikannya rendah tak jadi masalah karena Prenthol terus selalu berusaha berbuat baik dan menerima apa adanya amat jujur dan lugu orangnya .Prenthol tak bakalan menyerah banyak yang mengasihi Prenthol alias Sarju , cobaan demi cobaan ia lalui dengan tabah. Seperti apa sajakah cobaan tersebut ? Mari kita ikuti kisah ini bersama dan semoga bisa menjadi contoh teladan kita

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset