Prenthol episode 22

Doa Tolak Bala'

Pak Marjuki pengurus masjid merasa keadaan kampungnya terasa tak nyaman…karena sejak Sarju dan istrinya Wartinah sakit, bertubi tubi menyusul sakitnya Bu Kimli dan dilanjut pak Kimli malahan opname sekarang sekertaris RT pak Jamal gantian yang sakit.” Astaghfirullah…kok kayak pagebluk ya…. tapi anehnya berlainan penyakitnya ” , Pak Marjuki mengadakan kumpulan masjid membahas situasi kampungnya karena pak Wondo yang sebagai pemadam kebakaran mendapat malapetaka terikat penyemprot air yang lepas dan berputar-putar sampai mengguyur tubuhnya yang pingsan , teman -teman pak Wondo sudah membantunya karena saat itu sedang melakukan pembersihan di sungai banjir kanal timur.Kecelakaan yang tak terduga itu membuat pak Marjuki terhanyut hatinya apalagi istrinya sedang meriang dan semalem badannya panas tapi paginya sudah membaik lagi

Marjuki  : ” Bu Sarju alias bu Wartinah sakit tekanan darah tinggi tapi segera sembuh, demikian juga pak Sarju kena typus sudah membaik, eh Bu Kimli sakit muntaber sampai opname disusul pak Kimli yang terjatuh dari motor sekarang ini pak Jamal tersrempet sepeda motor dan luka-luka…kira-kira siapa lagi ya….astaghfirullah, kampung kita ini banyak yang sakit di tengah pembicaraan  datang pak Subekan yang mengabarkan kalau dia akan pulang ke Jepara karena ibunya sakit karena terjatuh dari tangga dan mengalami retak pada tulang pinggulnya. Meskipun ibunya pak Subekan sudah dibawa dan diatasi dokter tapi pak Subekan tetap akan menengok beliaunya yang sudah tua dan pak Subekan sebagai anak sulungnya harus bertanggung jawab kesehatan ibunya yang sementara ini sudah di urus adiknya atas inisiatif pak Subekan .

Marjuki  : ” Kapan pak Subekan akan berangkat …?”

Subekan  : ” Besok setelah saya mengajukan cuti selama tiga hari.. ”

Marjuki   : ” Jadi selama tiga hari to berarti Jumat sudah berada di rumah kan….”

Subekan  : ” InsyaAllah….benar pak..Jumat saya sudah berada di Semarang

Marjuki : ” Ternyata ada juga orang diluar kampung kita yang masih anggota keluarga kita mendapat musibah…”

Salaman : ” Iya ini pak…sepertinya kampung kita perlu  diruwat atau di bancai karena ada juga saudara yang berhubungan dengan kita terdampak penyakit.,.”

Marjuki  : ” Mari kita berdoa agar menghilangkan balak atau penyakit yang istilahnya sekarang doa tolak balak agar berhenti sampai disini dan jangan sampai mendapat korban sakit lagi cukup sampai disini ”

Sarju        : ” Inggih pak Marjuki saya setuju, dengan membaca doa tolak balak insyaAllah derita di kampung kita akan berhenti dan semuanya bisa beraktifitas normal kembali “.

Pak Marjuki menyuruh istrinya menyiapkan makanan keperluan tolak balak yang akan disantap bersama dibantu Wartinah istrinya Sarju, mereka mempersiapkan untuk besok hari Minggu di tengah-tengah jalan dan jalan akan ditutup setelah shollat Isyak. Bu Marjuki bersama Wartinah membicarakan keperluannya dan memasakkan apa adanya agar kampunya mau mengikuti doa  tolak bala’ bersama.

Marjuki      : ” Soal masakan biar di atasi istri saya dan bu Wartinah atau bu Sarju silahkan bu Marjuki untuk melanjutkan pembicaraan ini ”

Bu Marjuki : ” Terima kasih pak Marjuki telah mengutus saya untuk memasak bersama bu Wartinah dan mungkin ada tambahan ibu-ibu yang  bersedia ”

Wartinah  : ” Masakannya apa ya bu Marjuki…? ”

Marjuki      : ” Itu lo biasa sayur lodeh, tambahin tempe goreng sama kerupuk serta gereh pethek sementara ini jangan membuat sambal atau yang pedas-pedas karena penyakit akan hinggap di tempat yang pedas-pedas boleh bikin tapi sedikit saja dan pedasnya dikurangi karena sayur lodeh kalau tak ada sambalnya rasanya hambar…”

Subekan     : ” Nanti biar istri saya membawakan kerupuk jamur yang lumayan lezat dan tidak pedas yang membuat istri asli Jepara ”

Bu Marjuki : ” Waaah …terima kasih pak Subekan sumbangan kerupuknya….”

Wartinah   : ” Biar nanti yang bikin sambal saya saja bu……yang tidak pedas..”

Marjuki      : ” Bu Kimli yang bikin nasi ya…kira-kira orang tujuhpuluhan lima orang  termasuk anak-anak dan berasnya akan saya ambilkan beras sosial bersama ubo rampenya…”

Wartinah    : ” Biar saya saja yang masak sayur lodehnya bu….”

Marjuki       : ” Baiklah aku akan membuat minuman penghangatnya dengan membuat teh daun sere serta wedang jahe….”

Subekan     : ” Waaah mantap sekali saya suka itu minuman sere…. ataupun wedang jahe…pasti laris manis…”

bu Lukito   : ” Nanti saya buatkan mendoan dan tahu susur biar rame dan guyup …seru sekali bisa makan bersama ”

Wartinah pagi-pagi sudah belanja keperluan tolak bala’ dengan membeli : kacang panjang , kluweh , labu , daun so , terong , serta kulit mlinjo dan tempe . Sayuran  tersebut terkenal dengan nama sayuran tujuh macam sebagai pelengkap sayur lodeh. Harni ikut membantu karena hari libur. Selesai solat maghrib jalan di tutup karena mau dipakai doa tolak bala’  yang meminta kepada Allah agar warga kampung mendapat perlindungan , keselamatan , kesehatan dengan berkumpul berdoa bersama saling sayang menyayangi dan makan bersama.

Sarju dan Kimli sebagai sie perlengkapan menggelar tikar di depan rumahnya serta membantu mengeluarkan makanannya selesai shollat Isyak . Semua warga berkumpul mengitari makanan dan minuman lalu doa pak RT meminta pak Marjuki sebagai sesepuh dan pemangku masjid memberikan pengarahan .  Rombongan orang tua dan anak-anak berkumpul jadi satu para remaja beserta ibu-ibu yang akan membagikan makanan dan minumannya setelah doa selesai, bapak-bapak yang membacakan doa bersama dipimpin pak Marjuki . Banyak kendaraan yang kecelek akan melaluinya meskipun sudah ada tanda sedang melakukan doa bersama tolak bala’, tapi mereka pada penasaran dan ingin menyaksikannya jalannya prosesi pelaksanaannya dan mereka berhenti ikut berdoa.

Makanan di bagikan para ibu dan remaja termasuk orang yang mengikuti dari luar kampung ikut dibagikan juga .

Harni     : ” Bapak mau ikut makan bersama dengan sayur lodeh……? ”

orang lain : ” Boleh-boleh mbak….enak kelihatannya wangi sekali….”

Pak Marjuki : ” Siapa yang mau meminta silahkan saja….agar terhindar dari bala’ insyaAllah…..”

orang lain : ” Terima kasih pak….semoga keluarga saya juga mendapat RahmatNya…Aamiin ”

Beberapa orang yang menyaksikan dan mengikuti doa bersama mendapatkan makanan walaupun dapat sedikit-sedikit yang penting ketenangan hatinya yang menyatu dengan doa bersama tersebut setelah selesai makan Sarju membagikan roti pisang untuk dibawa pulang kerumah masing-masing. Kerukunan kampung Sarju mendapat acungan jempol dengan dilaksanakan doa tolak bala’ kampung sebelahnya serta kampung lainnya ikut mengadakan doa tolak bala’ juga sehingga nampak kerukunan antar umat beragama di kampung Krobokan. Pak Marjukipun ditarik ke beberapa kampung untuk memberikan doa tolak bala’ .

Sarju      :” Waaah pak Marjuki sekarang jadi terkenal berkat tolak bala’ yang di sampaikan bersama-sama warga ”

Kimli      : ” Hla mau nyuruh kamu mereka yo bingung  la wong kamu kalau baca lirih ….. atau mungkin kamu tak hafal doanya…ha…ha…”

Sarju       : ” Yang jelas kurang afdol….karena kurang faseh…he..he… dan memang sudah rezekinya…..” Kimli berguarau dengan Sarju yang sekarang tak banyak orang memanggilnya Prenthol sejak istrinya menjadi juragan roti tapi kalau di kantor masih banyak yang memanggilnya Prenthol karena memang wajahnya pating prenthol tapi sekarang agak bersih karena istrinya selalu membersihkan mukanya ketika hendak tidur.

Berita tentang pelaksanaan doa tolak bala’ ternyata menjadi viral sampai banyak orang yang menanyakan bagaimana mendapatkan sayuran tujuh warna, karena saking viralnya hingga salah sebut macam menjadi warna, ada-ada saja orang Jawa ini begitu kenyataannya dan doa tolak bala’ ternyata mampu mengatasi permasalahan karena kerukunanya dan saling sapa menghentikan segala macam penyakit


Prenthol

Prenthol

Score 8
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2022 Native Language: Indonesian
Prenthol adalah seorang lelaki yang sayang keluarga , walaupun pendidikannya rendah tak jadi masalah karena Prenthol terus selalu berusaha berbuat baik dan menerima apa adanya amat jujur dan lugu orangnya .Prenthol tak bakalan menyerah banyak yang mengasihi Prenthol alias Sarju , cobaan demi cobaan ia lalui dengan tabah. Seperti apa sajakah cobaan tersebut ? Mari kita ikuti kisah ini bersama dan semoga bisa menjadi contoh teladan kita

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset