Prenthol episode 24

Mas Yaenuri

Pagi-pagi Sarju berangkat ke kantor karena mau mengantar dokter Maya untuk sosialisasi donor darah. Di rumah Wartinah sedang mencuci pakaian,seseorang datang hendak mengambil pesanan rot kemarin . Wartinahpun mencatatnya dan memberikan bukti bon yang ditrerimakan pak Zainal dari Ngablak Semarang Utara. Wartinah berdiri untuk mengambilkan pesanannya dan meninggalkan cucian yang tinggal di keringkan di samping rumah. Wartinah tiba-tiba kepalanya pusing dia segera memberikan pesanannya selanjutnya menutup penjualannya roti dengan tulisan tutup. Wartinah segera menguncinya dan membuka pintu belakang rumahnya agar nanti kalau pulang si Parjo bisa lewat belakang. Wartinah tidur karena amat pusing kepalanya dan mendengar Parjo pulang sekolah menuju pintu samping melalui kandang kalkunnya yang kaget dan bersuara ” Kuluk…kuluk…kuluk…..” .Kalkun tersebut mengembangkan badannya sambil lehernya di goyang-goyangkan membuat Parjo jadi gemes memandangnya. Pintu belakang dibukanya terasa sunyi, ” Bu….ibuk…..Jojok dah pulang…. ” Parjo masuk kamar dan melihat ibuknya sedang rebahan. Wartinah ingin bangun tapi badannya tak bisa digerakkan sebelah kanan, Parjo membangunkannya dan menarik tangan ibuknya, Wartinah sulit bersuara dan diapun menangis. Jojok   : ” Buk….ibuk….ibuk kenapa……..” Wartinah hanya bisa merintih dan menggeserkan tubuh secara perlahan. Parjo menangis dan berlari ke rumah pak Marjuki untuk meminta tolong.

Marjuki   : ” Kenapa lee…kok tiba-tiba menangis datang ke kakek……”

Jojok        : ” Ibuk….ibuk kek….dia tak bisa bangun….dan cuma bisa mengeluarkan air mata….” Pak Marjuki segera mengajak istrinya mengikuti Parjo yang lari pulang ke rumah kembali. Pak Marjuki dan istrinya menuju ke rumah Wartinah, untuk melihat keadaannya. Wartinah bisa menangis dan bersuara cidal. Pak Marjuki melihat ini semua membantu Wartinah untuk berdiri, tapi Wartinah menolaknya dan berdiri sendiri mengatasi keadaan tubuhnya.

Wartinah  : ” Biar…saa..ya sen…diri pak….” Rupanya Wartinah sudah terbiasa seperti ini…dan harus di lakukan sendiri agar bisa berjalan dengan baik….”

Bu Marjuki  : ” Mbak Wartinah kenapa……..?? ”

Wartinah      : ” Saya …kena sera..ngan stroke ringan….!?” suara Wartinah lirih tapi terkesan tertahan dan kaku, bu Marjuki memegangi tubuh Wartinah dan melihat Wartinah berjalan tertatih-tatih sambil berpegangan tangan bu Marjuki dan meminta menelpon suaminya karena di rumah tak ada hape. Pak Marjuki menelepon Sarju memberitahukan kalau istrinya sakit dan segera pulang. Sarju yang masih tugas luar akan kembali segera kalau sudah menyelesaikan tugasnya. Dokter Maya yang sedang sosialisasi mendengarkan pembicaraan Sarju dan pak Marjuki tapi cuma sekilas saja, dan setelah selesai penyuluhan segera menghampiri Sarju yang kelihatannya gusar.

dr Maya   : Kenapa pak…kok kelihatannya gusar……? ”

Sarju        : ” Iya dokter…Wartinaistri saya sakit….dadakan ini…”

dr Maya  : ” Kalau begitu kita lihat kerumah saja pak Sarju…..”

Sarju       : ” Boleh dokter…terima kasih bisa menengok sekarang….” Sarju melajukan ambulan yang ia bawa menuju rumahnya di Krobokan, dokter Maya tertegun melihat istrinya yang ternyata mengalami stroke ringan. Harni pulang sekolah merasa heran karena bopaknya sudah berada di rumah dan bersama dokter Maya. Parjo memeluk kakaknya sambil bibirnya mewek arena ibuknya sakit. ” Ibuk kenapa Jok…” ,tanya Harni.

Parjo     : ” Kata dokter Mya ibuk kena stoke ringan…apa itu kak….? ”

Harni   : ” Ibuk kok suaranya pelo…..ibuuuuk….” tangis Harni seraya mencium ibuknya dan dokter Maya mengelus kepala Harni…seraya berkata : ” Pelan-pelan ibuk pasti kembali normal….ibuk cuma kecapekan …dan kurang tidur….” . Sarju diberi resep agar segera meminumnya.

Sarju     : ” Dokter kita ambil di kantor saja…sekalian antar dokter ke kantor dan saya mohon izin sama dokter Rini untuk merawat istri saya bagaimana dokter..? ”

dr Maya : ” Ya gak apa tentu boleh…ayok kita pulang untung Harni sudah pulang ” Sarju bilang sama Harni kalau Sarju akan ke kantor dulu sedangkan pak Marjuki dan bu Marjuki sudah pulang .

Harni    : ” Pak cepat pulang yaaa….”

Sarju     : ” Iya…bapak cuma mengantar dokter Maya kembali ke kantor dan bapak akan segera membawakan obat untuk ibu….” .Sarju segera beranjak dan mencium Wartinah sebentar agar tenangsambil berkata, ” aku segera kembali….ibuk istirahat dulu ya….” . Dokter Maya sampai ke kantor mengizinkan Sarju untuk pulang membantu menguruskan obat sebentar dan mendapat izin dua hari.

Sarju     : ” Jadi dua hari ini hari ini dan besok dokter…” Sarju bertanya kepada dokter Gunarto yang mengeluarkan surat izin yang diberikan pada dokter Rini. Amir yang baru pulang dari tugas luar bertanya pada Sarju.

Amir    : ” Loh Thol….kenapa pulang……enaknya…”

Sarju   : ” Wartinah sakit Mir…..jadi aku dapat izin untuk merawat di rumah….”

Amir    : “Tekanan darah tinggi lagi ya……jangan makan asin-asin….?!”

Sarju    : ” Iya Mir….sukanya makan telor asin….kalau orang pergi ke Brebes selalu nitip telor asin…tapi telurnya tak begitu asin kok….?! ”

Amir     : ” Waah ini sudah ketularan asin juga…. mbakyu Wartinah kan disiplin…biasanya selalu makanan disortir sebelum kau makan…ini kok malah dia yang terkena tekanan darah tinggi…?! ”

Sarju     : ” Kata dokter Maya tekanan darah tinggi itu penyakit turunan…mungkin dari bapak ibunya dahulu yang membawa tekanan darah tinggi…”

Amir      : ” Ya….kali…tapi ada juga yang tidak kena darah tinggi….tapi kok yo bisa kena stroke…..?”

Sarju      : ” Wah gak tahu Mir….sing penting jaga kesehatan kata dokter Maya harus setiap bulan periksa tensi agar tekanan darah bisa diatasi secepatnya….” .

*****************

Sehabis shollat isyak Sarju kedatangan tamu pak Marjuki bersama seseorang

Marjuki  : Pak Sarju ini  kenalkan mas Yaenuri…ini adik saya yang kebetulan pulang dari Batam, dia bekerja di kapal untuk ngelas kapal yang dalam perbaikan, tapi karena kapal tersebut milik orang Jepang dia di didik menjadi tenaga urut pasien sebagai pengontrol disaat kembali ke kapal di Batam…dia bisa mengobati stroke…mungkin mbak Wartinah bisa di obati….” Sarju menerima perkenalan mas Yaenuri sebagai tenaga medis dari Jepang untuk mengurut sakitnya Wartinah. Wartinah dipijit tangannya bengok-bengok kesakitan tapi tak boleh ditolong biar dia merasakan sendiri nanti setelah selesai.

Yaenuri  : ” Ini yang sakit yang tak bisa bergerak sebelah kanan ya pak…”

Sarju       : ” Iya mas….kaki dan tangan sebelah kanan lemes…. ” . Mas Yaenuri mengurut tangan dan kakinya serta bagian kepala yang di tekan-tekan serta lengannya diputar-putar tapi Wartinah tak kesakitan dan menurut saja.

Yaenuri  : ” Ini untuk membenarkan pelonya….agar suara jelas ..” Bibir Wartinah yang agak menceng di perbaiki dan diurut. Wartinah kesakitan ” Sakiiiit…sakiiit….aduh….sakit….”

Yaenuri  : ” Ya ini yang bikin sakit…ada benjolan di sini..nah saya urut ya…..lumayan kan …sekarang ngomong…apa saja…terserah untuk mengecek suaranya ” Wartinah bilang ” Laler mlencok pager di dudut mak leeerrrrr….”

Yaenuri  : Nah…kelihatan kan huruf rrrr nya masih pelo….nah terus diperbaiki ,ini pak Sarju cara untuk mengurutnya agar bu Wartinah tidak pelo lagi…” Sarju menuruti gerakan-gerakan yang di praktekkan mas Yaenuri dan mencoba mengurutnya sesuai petunjuk mas Yaenuri.

Yaenuri : ” Untung belum lama langsung di tangani…jadi insyaAllah segera membaik…terus latihan njih buk…ajngan malas memang sakit…tetapi itu demi ibuk sendiri ” Mas Yaenuri minta pamit setelah menyaksikan Sarju mengurut bagian-bagian tubuh yang harus di urut.

Sarju  : ” Mas ini ongkosnya bagaimana….? ”

Yaenuri : ” Gak usah pak …saya iklas cuma memberitahukan cara mengurutnya saja..kalau ada permasalahan minta telponnya pada pak Marjuki saja..semoga tak ada masalah…karena bu Wartinah aktif terus setiap hari dan tak bermalas-malasan…semangat bu Wartinah…Assalamualaikum…” Mas Yaenuri pamit menuju rumah mak Marjuki karena Mas Mas Yaenuri adalah keponakannya yang rindu pada pamannya di Semarang.


Prenthol

Prenthol

Score 8
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2022 Native Language: Indonesian
Prenthol adalah seorang lelaki yang sayang keluarga , walaupun pendidikannya rendah tak jadi masalah karena Prenthol terus selalu berusaha berbuat baik dan menerima apa adanya amat jujur dan lugu orangnya .Prenthol tak bakalan menyerah banyak yang mengasihi Prenthol alias Sarju , cobaan demi cobaan ia lalui dengan tabah. Seperti apa sajakah cobaan tersebut ? Mari kita ikuti kisah ini bersama dan semoga bisa menjadi contoh teladan kita

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset