Prenthol episode 26

Kampoeng Rawa

Wartinah sudah kembali sehat dari serangan strokenya, seperti biasanya Wartinah mengatur sarapan pagi dibantu Harni yang mau ujian SMPN nya . Catatan keuangan sudah dipersiapkan Harni beserta uang setorannya lalu dia segera mandi disusul Sarju yang akan berangkat pagi mengantar dokter Maya di AKPOL.

Wartinah  : ” Pak…bu Rindu libur sepuluh hari..dia segera umroh…gimana kalau aku juga cuti jualan dulu…kita piknik ya…untuk merayakan kesembuhanku….? ” Sarju terdiam sambil berfikir

Sarju          : ” Baik…aku akan ajukan cuti, mumpung Harni dan Parjo tak sekolah karena liburan…bu Rindu berangkat kapan…?”

Wartinah  : ” Senin depan pak…besok sdh tidak kirim roti dan akan aku umumkan sore ini biar mereka siap-siap, siapa tahu mereka juga ingin liburan seperti kita….” Sarju sangat menyetujui karena Wartinah sudah mempersiapkan keuangannya. Tapi ternyata Harni masih ada simpanan karena keuletannya maka dia berencana memberikan makanan dan minuman untuk Jumat berkah dan dia segera menghubungi penjual bakso serta es campur yang berada di sekitaran sekolahan yayasan yatim piatu dan pesantren anak-anak serta remaja di kelurahan mereka. Harni yang sudah selesai ujian sedikit terhibur dengan piknik yang akan mereka lakukan walau tak begitu jauh dari kota Semarang, yah mereka hanya ingin memutari kota Semarang dan melihat-lihat pariwisata yang ada di sana.

Harni  : ” Jadi…nanti bapak yang sewa mobil untuk kita buk….? ”

Wartinah : ” Bapak yang setir mobilnya ….dan kita hanya berkeliling-keliling Semarang saja…” . Tiba saat mereka  akan segera healing di sekitaran Semarang , Sarju sudah menaiki mobil yang di sewanya lewat temen kantornya yaitu Amir…dia senyum-senyum sendiri sambil mengecek mobil sewaannya dengan memanasi mesinnya dan memutar musik lagu yang ada di dashboard. Harni dan Wartinah memasukan makanan dan minuman sebagai bawaan sarana piknik tak lupa roti dari bu Rindu dibawanya semua.

Sarju  : ” Tak usah membawa bekal segala…sudah bapak siapkan untuk makan minumnya…”

Wartinah : ” Ini untuk yang di mobil…maksudnya ngemilnya pak… ”

Sarju  : ” Oh..ya sudah….sini bapak minta rotinya satu biar padat perut ini….” Wartinah memberikan kue roti pisang yang tinggal lima buah,lalu Sarju memakannya diikuti Parjo yang duduk disamping bapaknya.

Parjo : ” Pak Jojo pingin ke Kampoeng Rawa yang berada di Rowopening Ambarawa….”

Sarju  : ” Lo kamu tahu darimana Jok…kalau Kampoeng Rawa di Rawapening Ambarawa…”

Parjo  : ” Yo tahulah pak…kemarin bu Darsi habis ke sana dan Jojok sudah melihat foto-foto bu Darsi piknik bersama-sama bu guru , pak guru, dan kepala sekolah juga penjaga sekolah ”

Sarju  : ” Yo wis kita ke Ambarawa langsung ya bune….sebenernya aku juga pingin ke sana tapi belum sempat cerita…”

Wartinah  : ” Yo wis tancap langsung kita ke Ambarawa pak….lihat kampoeng Rawa juga bisa naik perahu mengitari Rawapening ” Wartinah yang pingin healing sudah lama menyetujui keinginan Parjo sedangkan Harni masih berkutat dengan buku-buku yang akan menolongnya masuk SMA yang terdekat dari rumahnya, sehingga membuat Wartinah jengkel karena melihat Harni yang selalu belajar sambil ngemil roti pisangnya.

Wartinah  : ” Mbok wis to nduk…kok mbaca buku terus ..katanya ingin refresing….” Harni langsung menutup bukunya…dan mengikuti pembicaraan Parjo dan semuanya.

Harni         : ” Jadi ini langsung Rawapening….yo..aku manut saja….karena aku masih mempersiapkan masuk SMA…jadi belum ada ide….”

Parjo          : “Mbak Harni sih ….mbaca terus….pe tak tahu harus ke mana…..? ” jawab Parjo sambil melihat kakaknya memakan roti pisang….. . Sarju memasuki tol menuju Ungaran dan langsung bablas menuju jalan lingkar selatan ke arah Kampoeng Rawa. Pemandangannya sangat asri sekali. Terlihat pemandangan Rawapening yang sangat luas dan terlihat dengan jelas dari kejauhan bangunan-bangunan tempat wisatanya. Sarju memasuki kawasan Kampoeng Rawa yang di kanan kirinya tertanam padi yang masih menghijau.

Wartinah  : ” Seger ya pakne….sawahnya hijau dan sebentar lagi akan menghasilkan padi…seger sekali udaranya ”

Sarju          : ” Yaaah inilah alam pedesaan ….sangat asri dan segar ….” . Sarju membayar tiket yang terpampang di loket.

Wartinah  : ” Ternyata murah ya tanda masuknya….parkirannya juga luas….ayuuu kita turun…dan merupakan legenda kisah Rawapening ini…”

Parjo          : ” Betul buk…kata bu Darsi yang mendongengkan kisah Rawapening…” Harni cuma mesam-mesem saja sambil mulutnya menghafal mata pelajaran yang terdapat di bukunya.

Sarju mengajak semuanya menaiki perahu untuk melihat-lihat rawa yang begitu luasnya, di sekelilingnya terdapat tanaman enceng gondok yang sedan di panen juga beberapa orang mengambil umpannya ternyata banyak juga yang di dapat oleh mereka, Tanaman enceng gondok tersebut dikumpulkan lalu di ikat dan mengurusi ikan-ikan yang tertangkap.

Wartinah   : ” Enak yo pak …mereka mencari rezeki tinggal mengambil tanamannya juga sambil memanen ikannya…”

Sarju           : ” Iya mereka begitu ahlinya memilih tanaman …juga mendapatkan ikan …tapi kita tak tahu bagaimana sulitnya mereka pada awalnya…bahkan tanaman enceng gondok tersebut di budidaya untuk banyak kegunaannya terutama di bidang seni…dan tanaman itu untuk bersembunyi ikan-ikan dari tangan manusia…tapi ikan tersebut tetep ke jaring karena manusia berakal ..”

Parjo            : ” Pak ..Jojok ingin menambil bunga enceng gondok….warnanya ungu..cantik sekali…”

Sarju             : ” Eeeeh jangan..nanti kamu jatuh lo dalam rawa…karena sepertinya dalam dan banyak lendutnya….” Parjo nyengingis sampai terlihat giginya yang ompong…”

Harni            : ” Untuk apa to Jok….kakean polah saja kamu….”

Parjo              : ” Jojok pingin bantu ngambil ikannya….” Tapi orang yang mengantar merahu tersebut melarang Jojok karena takut kecebur dan Wartinah memegangi anak bungsunya. Pembawa perahu tersebut melarangnya dan berkata :” Di sini cukup dalam lo dik…jangan ya…..” Parjo baru menurut setelah pembawa perahu tersebut melarangnya. Parjo dipeluk Wartinah dan terdengar perut Parjo minta diisi.

Wartinah       : ” Kamu lapar yo leee….”

Parjo               : ” Iya buke….laper ini…” sambil perut Parjo di elus-elus sendiri.

Wartinah       : ” Iya…nanti setelah selesai berkeliling di rawa kita makan ya nak….” . Wartinah memeluk Parjo yang lama sekali dia tak dapat memeluknya karena terkena serangan stroke ringan.  Perahu itupun sudah menyandar dan mereka segera menuruninya, Wartinah masih memegangi anak laki-lakinya yang banyak gerak sedangkan Sarju bersama Harni dan mereka menuju warung makan terapung dan sudah di tunggu perahu pengantarnya untuk menyebrang.

Sarju               : ” Dulu tidak seperti ini ..tak ada pengantar perahunya…dan melewati jembatan itu…” Sarju sambil menunjuk jembatan tersebut sedangkan Harni memvideokan keindahan tempat warung makan yang akan di masukinya. Mereka memilih saung tempat makannya dan dibawahnya terdapat kolam ikan yang ikannya besar-besar, Wartinah memandangi kolam yang berada dibawahnya. Perasaan senang dia memperhatikan waroeng makan apung tersebut. Harni mengambil menu makanannya dan mencatat pesanannya.

Harni               : ”  Pesen apa ini pak…..ikan bakar gimana…”  Sarju menyerahkan menu pada Harni putrinya yang bisa menyesuaikan makanan. Minuman datang duluan dan segera di hidangkan.

Parjo                : ” Laaah ini jus apokatku kan mbak…? ” Harni mesem saja dan mengambilkan minuman ibuknya berupa jeruk hangat seperti milik bapaknya . Harni memesan es campur dan Parjo yang pingin meminta es campur tersebut karena pingin dan Harnipun memberikan seteguk untuk adiknya .

Sarju melihat kerukunan anak-anaknya membuat dia bangga pada istrinya karena istrinyalah yang berada selalu disamping mereka…meskipun dia kemarin sakit tapi anak-anaknya selalu membantunya. Jadi inilah keluarga yang sesungguhnya karena mereka mampu merawat keadaan sebenarnya dan berani mengambil keputusan yang sangat urgen. Sarju memfoto anak-anaknya bersama istrinya dan juga bersamanya. Sungguh bahagia sekali rasanya melihat istrinya dapat kembali berjalan dan menikmati piknik bersama. Mereka selesai makan berkeliling menikmati spot-spot foto di sekitarnya…hati mereka begitu bahagia walaupun mereka tak begitu kaya tetapi berkat kesabaranya dan cinta kasih keluarga mendatangkan ketentraman.


Prenthol

Prenthol

Score 8
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2022 Native Language: Indonesian
Prenthol adalah seorang lelaki yang sayang keluarga , walaupun pendidikannya rendah tak jadi masalah karena Prenthol terus selalu berusaha berbuat baik dan menerima apa adanya amat jujur dan lugu orangnya .Prenthol tak bakalan menyerah banyak yang mengasihi Prenthol alias Sarju , cobaan demi cobaan ia lalui dengan tabah. Seperti apa sajakah cobaan tersebut ? Mari kita ikuti kisah ini bersama dan semoga bisa menjadi contoh teladan kita

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset