Project Rangers episode 3

Eps.3 “Bunga matahari”

Pipit berlari di tengah kerumunan menuju halaman belakang rumah Kimi. Tak lama kemudian pengeras suara memainkan lagu bernada ceria. Kerumunan di sekitar Pipit ternyata telah berbaris rapi dan bergerak sesuai irama mengikuti gerakan instruktur di depan sana.
“Sekarang aku tahu dari mana semangat Kimi berasal.” Tomo yang tiba – tiba ada di samping Pipit sambil menatap instruktur di depan yang ternyata adalah kedua orang tua Kimi.
Yap! Selain lupa waktu karena keasyikan mengobrol, Kimi melarang mereka untuk pulang. Maka jadilah Pipit, Tomo, Bintang dan Juni menginap di rumah Kimi. Dan pagi ini mereka dikejutkan oleh ritual pagi penghuni rumah Kimi; senam pagi! Ritual ini diikuti oleh seluruh pekerja di rumah Kimi dan dipimpin langsung oleh kedua orang tua Kimi.
Di meja makan, selesai sarapan…
“Saya kaget sekali Om, dengan alarm senam tadi.” Bintang membuka percakapan setelah mengelap mulutnya.
“Hahahaha! Biar tetap sehat dan semangat! Hahaha!” Jawab ayah Kimi.
“Senam pagi tuh wajib, ritual tak tertulis secara turun temurun dari kakeknya kakek Kimi.” Ibu Kimi ikut menjawab.
Semua mengangguk.
“Dan pasangannya Kimi besok juga harus hafal dan bisa melestarikan senam pagi ini, iya gak Yah?” ibu Kimi menyenggol ayah Kimi.
“Benar – benar! Hahaha!” ayah Kimi dengan semangat.
“Wuah, berarti saya harus sering – sering menginap dong Om, biar cepat hafal.” Sahut Bintang.
“Hahahaha!” semua tertawa kecuali Kimi yang memutar matanya, Juni yang hanya terkikik dan Pipit yang nyengir maksa lalu meminum air putihnya.

“Kamu beda banget, Kim.” Bintang memandang Kimi yang sedang memandang kebun bunga matahari dari teras.
“Please…” Kimi menatap balik Bintang dengan tatapan rayuanmu tak mempan di aku.
“Hahaha! Aku serius!” Bintang yang seolah tahu maksud Kimi.
Kimi menggeleng dan memutar matanya.
“Kamu cantik.” Bintang tersenyum sambil memandang Kimi.
Pipit yang menguping dari balik pintu teras menutup mulutnya, terkejut. Ia lalu buru – buru meninggalkan tempat tersebut sampai menyerempet Tomo yang hendak ke teras.
“Kenapa?” Tomo bertanya pada diri sendiri, melihat Pipit yang berlalu dalam diam kemudian lanjut ke teras tetapi batal karena Tomo tahu alasan sikap aneh Pipit tadi saat melihat Bintang dan Kimi yang sudah lebih dulu ada di teras.
Tomo menyusul Pipit, menarik tangannya hingga Pipit berbalik menghadapnya lalu menahan kedua pundak Pipit dengan tangannya, mendekatkan wajahnya ke wajah Pipit.
“Pit?” Tanya Tomo dengan lembut.
Pipit menghindari tatapan Tomo, membuang muka sambil menggigit bibir bawahnya, menahan tangis.
Tomo menunggu, tak ada gerakan kecuali bibir Pipit yang bergetar mati – matian menahan tangis. Pipit cukup tangguh dalam hal ini.
Beberapa saat kemudian Tomo memecah keheningan dengan ucapan lembutnya, “Kalau memang menyakitkan menangis saja Pit, tak apa…”
Badan Pipit berguncang mendengar ucapan Tomo tadi. Pertahanan Pipit jebol.
“Tomooo…” Pipit menangis memeluk Tomo yang memeluknya dengan lembut.

“Yaahh… bisa dibilang dulu kamu mengerikan. Rambut cepak, plester dimana – mana, dan bisa membanting Ramon dengan mudahnya.”
“Hahaha!” Kimi tertawa mengingat masa SMPnya.
“Tapi sekarang…” Bintang tidak melanjutkan kata – katanya, hanya menunjuk Kimi dengan kedua telapak tanganya yang terbuka.
“Hahaha! Ini terpaksa. Kamu tahu, karena khawatir dengan kelakuan anak semata wayangnya ini, ibu mengirim aku ke sekolah asrama khusus putri selepas SMP. Dan aku harus tampak layaknya seorang wanita untuk bisa lulus. Kalau tidak, tentu saat ini aku tak bisa ada di sini.”
“Ibu kamu melakukan hal yang tepat.” Bintang menatap Kimi seperti sebelumnya, hanya saja kali ini Kimi tidak memutar matanya. Kimi tersipu lalu kembali memandang kebun bunga matahari.
“Oiya, aku dengar kamu pandai menjahit baju dan sering menjadikan Juni sebagai modelmu.”
“Hem.” Kimi mengangguk. “Tapi aku tidak sepandai itu. Juni saja yang memang cocok memakai baju model apa saja. Pertama kali mendapat tugas menjahit, hanya Juni yang mau menjadi modelku. Setelah melihat baju hasil jahitanku cocok sekali dipakai oleh Juni, aku merasa sangat bahagia dan kecanduan membuat baju untuk Juni lagi dan lagi. Aku rasa Juni adalah inspirasiku…” Kimi bercerita dengan mata berbinar.
Bintang tersenyum, mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Kalau begitu, buatkan aku satu. Aku juga ingin jadi inspirasimu.” Masih dengan senyum yang sama.
“Eh?” Kimi kaget lalu menghadap kebun bunga matahari dan menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
“Hahaha!” Bintang yang menyadari perubaan warna pada muka Kimi. “Well, apa kamu masih sering menggunakan ilmu bela dirimu? Bisa – bisa setelah ini aku kena banting…” canda Bintang untuk mencairkan suasana.
Kimi menggeleng sambil tetap menunduk. “Sejak masuk SMA aku tidak pernah memakainya lagi karena yang ada di sana semuanya perempuan. Mereka lembut, tidak ada yang menggangguku. Malah awalnya mereka takut padaku, karena penampilanku…” Kimi tertawa mengingat awal masa SMAnya. “Selain itu kami juga dituntut untuk selalu bersikap lembut. Aku jadi lupa bagaimana caranya berkelahi. Hahaha!” Kimi tertawa, juga Bintang.

“Alasan apa yang akan kamu gunakan nanti?” Tomo menyilangkan tangan di dada, bersandar di pintu kamar tempat Pipit menginap.
“Seperti yang sudah kamu tahu, tanpa alasan yang jelas pun Kimi juga akan mengerti. Seperti saat aku menolak menginap di rumahnya jaman SMP dulu…” Pipit berdiri sambil menyisir dan menguncir rambut panjangnya di depan cermin dalam kamar.
“Kamu yakin?” Tomo dengan posisi yang sama.
“Yakin.” Ekor kuda Pipit selesai dibuat.
“Bukan itu.” Tomo membebaskan tangannya. “Kamu yakin Bintang suka sama Kimi?” Tomo menghampiri Pipit.
Pipit berhenti melihat matanya yang sedikit sembab.
“Bukannya Bintang memang suka menggoda wanita?” Tomo sampai tepat di belakang Pipit. “Apa yang membuatmu yakin kalau Bintang memang suka dengan Kimi?” tambahnya.
Pipit memutar badannya, menghadap Tomo. “Matanya.” Jawab Pipit tegas. “Belum pernah aku lihat mata Bintang seperti itu sebelumnya. Ketika menggoda, mata Bintang berkilat seakan berkata bawa akulah pemenangnya. Tetapi saat di depan Kimi…” Pipit berhenti sejenak, mengigit bibir bawahnya dan mengambil napas. “Di depan Kimi matanya teduh. Seolah berkata kalau aku menyerah…” Penjelasan Pipit terdengar getir.
Kedua alis Tomo terangkat, diikuti anggukan samar. Pipit membalik badan, mengambil kacamatanya dia atas meja rias, memakainya, menambil ranselnya di atas tempat tidur, lalu pergi meninggalkan Tomo.

“Ngg… Kim, aku mau pamit pulang dulu.” Pipit dengan hati – hati menghampiri Kimi.
Kimi dan Bintang berbalik, berhenti tertawa. “Loh, kenapa?” Tanya Kimi kemudian.
“Aku… harus pulang.” Pipit yang grogi karena ada Bintang.
“O… salam buat adik dan nenekmu ya…” Kimi mengelus lengan Pipit. Pipit senyum dan mengangguk.
Mereka lalu berjalan menuju lift. Bintang mengekor di belakang. Kimi menekan tombol 1. Keluar lift, mereka lansung menuju ruang tamu. Sudah ada Tomo yang duduk di sana.
“Tunggu sebentar, aku panggil Pak Leon dulu.” Kimi menyebut nama supirnya. Dia beralih menuju interkom.
“Eh, tidak usah Kim. Aku pulang sendiri saja.” Cegah Pipit.
Kimi kembali lagi. “Hati – hati ya, terima kasih sudah menginap. Kapan – kapan menginap lagi lho…” Kimi memeluk Pipit.
Pipit mengangguk. “Titip pamit untuk om dan tante ya, sekalian makasih.” Pipit setelah melepas pelukan.
“Ya.” Kimi mengangguk. “Kamu mungkin bertemu ayah dan ibu di kebun.” Lanjutnya.
“Pulang dulu, Kim. Semuanya, aku pamit ya…” Pipit melambaikan tangan sambil berjalan mundur. Hanya Kimi dan Bintang yang balas melambai. Pipit mengangguk, lalu balik badan, pulang.
“Hhhh…” Kimi membuang napas.
“Kenapa Pipit tiba – tiba pulang?” Tanya Bintang yang ada di samping belakang Kimi.
“Mungkin dia ingat dengan adik dan neneknya.” Jawab Kimi yang masih memandang punggung Pipit yang semakin menjauh.
Bintang mengangguk – angguk mengerti. Tomo diam saja, memandang meja di depannya.
“Lho, Pipit pulang?” Juni yang datang dengan rambut basah, baru selesai mandi.

“Kalau aku ada di posisi Pipit, aku juga akan melakukan hal yang sama. Keluarga adalah hal yang pantas dan harus diperjuangkan.” Juni mengepalkan kedua tangannya, setelah mendengar cerita Kimi tentang Pipit.
Dua detik kemudian, Bintang yang tampak menyimak bertanya, “Tapi… tumben kamu tidak menyembunyikan mukamu, Jun.”
“Eh?” Juni kaget sekaligus heran. Kimi dan Tomo hampir jatuh dari kursinya.
“Juni itu jadi berani kalau rambutnya basah. Nanti kalau rambutnya kering jadi pemalu lagi…” Kimi setelah kembali ke posisi duduk semula.
Juni nyengir, Bintang mengangguk disertai oh panjang, Tomo melihat Juni dengan kedua alis terangkat. Penyakit jenis baru? Pikirnya.
“Kalau tinggal kamu seorang dan sebatang kara?” lagi – lagi pertanyaan random Tomo keluar.
“Hahaha! Pertanyaan macam apa itu?” Juni tertawa. “Tidak mungkin. Masih ada teman untuk diperjuangkan, bukan?” Lanjutnya.
“Yaaah…” Tomo memegani lehernya, salah tingkah menyadari pertanyaan bodohnya.
“Tapi kalau itu benar terjadi, aku akan memperjuangkan apa yang memang pantas untuk diperjuangkan.” Jawaban Juni yang belum selesai.
“Apa itu?” Bintang menyuarakan pikiran miliknya, Tomo dan Kimi.
“Impianku.” Jawab Juni dengan mantap.
Kimi tersenyum. “Power Rangers?”
“Hem.” Juni mengiyakan Kimi.
Tinggallah dua lelaki yang dibuat bingung oleh dua wanita tersebut.
“Juni bercita – cita jadi Power Rangers.” Kimi seolah tahu masalah kedua lelaki tersebut.
“Serius?” Tanya dua lelaki tadi bersamaan.
“He’em.” Juni mengangguk.
“Hahaha!” Keduanya tertawa.
Kimi yang sudah tahu lebih dulu hanya tersenyum lebar, “Lucu bukan?” sambungnya di antara tawa Tomo dan Bintang.
“Tapi kenapa?” Bintang sambil memegangi perutnya setelah susah payah berhenti tertawa.
“Sewaktu aku kecil, seseorang yang sangat aku hormati dan sayangi pernah berkata; sebaik – baiknya orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Juni, tolonglah orang sebanyak mungkin. Jadilah orang yang selalu dinanti kehadirannya.” Juni menirukan ucapan yang selalu lekat dalam ingatannya. “Seperti Power Rangers? Tanyaku kemudian. Ya, seperti Power Rangers. Jawabnya sambil tersenyum lembut.” Kenang Juni. “Karena itulah aku ingin menjadi Power Rangers.” Juni mengakhiri ceritanya dengan sebuah senyuman.
Tak ada yang membalas senyuman itu. Selainnya terdiam.
“Jadi… kenapa kita tidak jadi ranger saja mulai dari sekarang?” Bintang memecah keheningan.
“Jelaskan maksudmu.” Juni tertarik.
“Kita bisa membentuk sebuah kelompok seperti Power Rangers tapi tidak perlu melawan monster. Cukup sediakan waktu, tenaga dan pikiran untuk membantu orang yang membuhtukan…” Bintang menunggu reaksi dari pendengarnya. Hanya kebingungan yang tampak. “Simple saja, contonya seperti Pipit yang membantu Kimi belajar.” Bintang berhenti sejenak. “Kalian paham maksudku?” tanyanya penuh harap.
Ketiga pendengarnya berpandangan lalu kompak menggeleng.
“Duh!” Bintang menepuk keningnya. “Mmm… seperti CHIPS! Pada tahu Warkop, kan? Jadi ngerti dong maksudku…” Bintang menyebutkan salah satu judul film Warkop DKI.
“Ooohhh…” mereka bertiga kompak mengangguk. Bintang tersenyum lebar.
“Berarti kita butuh seragam!” Kimi mengangkat tangan kanannya dengan semangat.
“Markas.” Tomo menggerakkan tangannya seolah dapat ide.
“Senjata!” Juni tak mau kalah.
“Eh?” yang lain kompak menoleh ke Juni.
“Hehe… untuk jaga – jaga…” Juni nyengir. Bintang menggeleng.
“Yang paling kita butuhkan saat ini adalah…” Bintang menggantung kalimatnya, sok misterius. “Sebuah nama.” Lalu mengangguk.
“Aaahhh…” Ketiga lainnya kompak mengangguk – angguk.
Mereka berempat mulai memikirkan sebuah nama.
10 menit kemudian…
Bintang menggaruk telinganya.
Menit ke-17…
Juni mulai menyembunyikan wajahnya.
Menit ke-20…
Plok! Tomo menepuk nyamuk yang sedari tadi mengganggunya. Kimi yang kaget terbangun dari tidur dengan posisi tangan menyangga kening, seolah berpikir.
“Sebaiknya… bagian nama kita skip saja.” Usul Bintang yang disetujui lainnya. “Kimi, kamu urus seragam ya…” Bintang pada Kimi yang sedang menguap.
“Siap! Serahkan saja padaku.” Kimi setelah buru – buru membatalkan kuapnya. “Untuk markas, di sini saja…” tawar Kimi dengan semangat.
Bintang mengangguk – angguk mempertimbangkan.
“Bagaimana dengan Pipit?” Tomo menyela dengan pertanyaan randomnya.
“Tentu saja Pipit ikut!” jawab Kimi langsung.
“Nah, kalau begitu bukankah sebaiknya markasnya dekat dengan rumah Pipit?” Tomo menyarankan.
“Hmm… benar juga…” Kimi setuju. “Kalau begitu tolong carikan ya, Tom.” Kimi tanpa minta persetujuan Bintang dan Juni.
“Oke…” Tomo langsung mengiyakan.
“Lalu… kapan dan siapa yang akan memberi tahu Pipit soal ini?” Bintang kemudian.
“Mmm… aku rasa… kita semua setelah dapat markas. Bagaimana?” saran Tomo.
“Oke.” Jawab Bintang diikuti anggukan Kimi.
“Jun?” Tomo menyenggol Juni.
Juni mengangguk sambil menyembunyikan wajahnya.

Malam harinya, Juni asyik bercerita lewat email. Ia mengetik sambil mengapit wajahnya diantara kedua lututnya, menyembunyikan muka. Juni bercerita apapun tentan Kimi dan teman – temannya, mulai dari ciri – ciri sampai rencana mereka untuk menjadi ranger.
Juni berhenti mengetik ketika merasa ada yang lewat di depan kamar tempat dia menginap.
“Juni cepat sekali tidurnya.” Ibu Kimi saat melihat kamar yang ditempati Juni gelap.
“Mungkin dia lelah. Hahaha!” ayah Kimi dengan semangat seperti biasa.
Tawa yang semakin samar menjadi tanda bagi Juni bawa sumber suara telah menjauh. Tangannya mulai mengetikkan kebodohannya mengusulkan senjata sebagai penutup cerita, lalu menirimkan email tersebut.
“Aku bersyukur Kimi punya teman – teman yang baik.” Ibu Kimi yang melihat Kimi, Tomo dan Bintang sedang bermain kartu di teras. “Menyenangkan sekali dapat melihat mereka tumbuh bersama.” Lanjutnya.
“Hahaha! Mereka anak – anak yang penuh semangat! Mereka akan tumbuh dengan cantik dan menularkan semangat untuk sekitarnya, seperti bunga matahari.” Ayah Kimi tersenyum lebar lalu merangkul ibu Kimi yang ada di sebelahnya. “Maka dari itu kita harus tetap sehat dan semangat agar bisa menyaksikan mereka tumbuh.” Lalu menepuk pundak ibu Kimi.
“Hem.” Ibu Kimi mengiyakan. Keduanya pun kembali menatap ketiga muda – mudi yang sedang bermain kartu dengan hebohnya.
Di tempat lain, seseorang yang membaca email dari Juni menyeringai.


cerbung.net

Project Rangers

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
Sebuah cerita bernuasa dorama ala Jepang.Serangkai sahabat yang membentuk sebuah kelompok bernama "Project Ranger"  yang bertujuan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset