Project Rangers episode 4


“Tadaaa…” Tomo menunjukkan temuannya. “Gimana, gimana?” Tomo membanggakan rumah mungil yang tampak berkilauan tersebut.
“Hmm… oke sih Tom… tapi… jangan yang dekat dengan kandang sapi juga, kaliii…” protes Kimi sambil menunjuk kandang sapi di sebelah rumah tersebut.
“Aaahh… jangan khawatir, nanti juga terbiasa.” Tomo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, salah tingkah. “Eh, masuk dulu yuk! Pasti kalian tercengang.” Tomo dengan ceria.
“Yea, saat ini saja kami sudah tercengang.” Kimi mengangguk – angguk sambil melihat sekitar rumah, belum sembuh dari shock akibat kandang sapi.
Mooo… seekor sapi yang sangat besar seolah memberi salam selamat datang pada mereka, khususnya Kimi.
“Welcome!” Tomo setelah membuka pintu rumah tersebut.
“Wuah! Ini serius, Tom?” Bintang setelah melihat isi rumah tersebut.
“Yap, ada dapur, kamar mandi, dan 2 kamar tidur. Tinggal kita atur sedikit biar lebih pas jadi markas kita.” Tomo menjelaskan.
Bintang mengangguk – angguk. “Kok bisa sih kamu dapat rumah lengkap begini dengan harga sewa murah?” tanyanya kemudian.
“Muehehe…” Tomo tertawa bangga.
“Jangan – jangan, rumah ini berhantu??” Potong Kimi ketakutan. Juni terbelalak mendengar ucapan Kimi.
“He?” Tomo menghentikan tawanya. “Tenang – tenang… ini bukan kisah horor, pemirsa.” Tomo memberi isyarat untuk tenang dengan kedua tanggannya.
“Lalu?” Kimi diikuti perubahan ekspresi Juni yang awalnya terbelalak menjadi ingin tahu.
“Pemilik rumah ini hobi memelihara sapi untuk kontes, tetapi terpaksa pindah karena keluarganya tidak tahan dengan baunya. Ketika tahu aku ingin menyewa rumah ini, beliau sangat senang dan memberikan harga sewa murah dengan syarat harus merawat sapi kesayangannya tersebut dengan baik dan penuh cinta.” Tomo mengakhiri penjelasannya dengan kepala mendongak, menerawang dan tangan di dada.
“Jadi… maksudmu… sapi yang di luar itu…” Kimi dengan muka tak percaya sambil menunjuk – nunjuk, entah apa yang dia tunjuk.
“Hem.” Tomo mengangguk. “Bahkan jika sapi tersebut menang kontes bulan depan, kita bisa tinggal dengan gratis sampai kontes berikutnya!” Tomo penuh semangat. “Lalu kalau ternyata menang lagi, bisa gratis sampai kontes selanjutnya. Menang lagi, gratis lagi, menang lagi, gratis lagi, dan begitu seterusnya!” Tomo penuh dengan dirinya sendiri.
Bibir Kimi berkedut, membayangkan dirinya merawat sapi super besar dengan penuh cinta. Juni menyembunyikan muka.
“Jadi, harus mulai dari mana kita?” Bintang tampak tak keberatan.
“Sewa tempat lain saja, aku yang bayar!” Kimi tersadar dari lamunannya.
“Di sekitar sini hanya rumah ini yang disewakan. Selainnya jauh. Mmm… yang paling dekat ya di ujung jalan sana, dekat kuburan. Kamu mau?” Tomo memberi kesempatan Kimi untuk menjawab. “Lagipula, kalau Pipit tahu kita bisa tinggal di rumah ini dengan gratis, pasti dia akan sangat bersemangat.” Tomo tersenyum meyakinkan.
Kimi terdiam sejenak kemudian menjawab, “kamu… ada benarnya juga.”
Mooo…!

“Kita mau kemana sih, Tom?” Pipit dengan sebal.
“Udah, ikut saja…” Tomo tetap menarik tangan Pipit.
Pipit cemberut.
“Ke sini? Untuk apa?” Pipit saat memasuki halaman rumah yang dituju Tomo. “Bau, tahu Tom…” Pipit menutup hidungnya dengan tangannya yang bebas.
“Nanti kamu pasti suka.” Tomo tak melepaskan tangan Pipit.
Pipit melirik kandang sapi di sebelah rumah tersebut.
Mooo…!
“Selamat datang!” Kimi menyambut Pipit dengan ceria.
Bintang tersenyum, Juni menyembunyikan muka.
“Apa – apaan ini?” Pipit yang melihat ketiga temannya tersebut sudah duduk menunggunya.
“Duduk dulu Pit, nanti kami jelaskan.” Tomo mempersilahkan.
Pipit menurut.
Jam di ruang tamu tersebut menunjukkan pukul 14.00 saat Bintang memulai ceritanya tentang keinginan mereka membentuk rangers. Sesekali Kimi menyela dengan semangat dan Juni mengangguk saat dimintai keterangan.
Pukul 14.18, Pipit masih mendengarkan cerita mereka.
Pukul 14.24, Kimi menunjuk Tomo. Yang ditunjuk kemudian bercerita dengan bangga tentang rumah temuannya ini. Pipit mendengarkan.
“Begitulah ceritanya…” akhir cerita Tomo.
“Tunggu dulu.” Pipit kemudian. “Jadi, kita bisa tinggal di sini dengan gratis kalau sapi itu menang kontes?” lanjutnya memastikan.
Tomo mengangguk.
“Hebat!” Pipit bersemangat.
“Jadi kamu mau jadi ranger bersama kami?” Kimi hati – hati bertanya.
“Dan bisa tinggal di sini dengan gratis? Tentu saja!” Pipit bersemangat. “Jadi, apa yang akan kita lakukan pertama?” tanyanya kemudian.
“Begini, kami sudah buat rancangan markas sebelumnya.” Kimi mengeluarkan selembar kertas berisi denah markas yang telah mereka buat sebelumnya. “Ruang tamu ini nantinya akan dibagi dua biar kita punya kantor kecil – kecilan. Kalau kamu setuju, kita bisa langsung menata ulang ruangan ini.” jelas Kimi.
“Oke. Ayo kita lakukan!” Pipit lalu menyingsingkan lengan kemejanya.
Mereka pun mulai bergerak memindahkan lemari TV dan kursi panjang ke area yang nantinya akan dijadikan kantor, menyisakan meja dan 3 kursi perorangan di ruang tamu tersebut.
“Nah, nanti kita beri sekat di sini.” Tomo menunjuk space kosong.
“Hmm… untuk kelengkapan kantornya bagaimana?” Pipit sambil berkacak pinggang selesai memindahkan barang.
“Kelengkapan kantor apa maksudmu?” Kimi tak menangkap maksud Pipit.
“Telepon, komputer, koneksi internet, sudah diurus? Kita gak mungkin kan, pakai telepon pemilik rumah ini sebagai telepon kantor kita?” Pipit masih berkacak pinggang.
“Kita… tidak berpikir sejauh itu, Pit.” Bintang menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal.
“Untung ada kamu, Pit! Tak salah memang kamu bergabung dalam tim ini!” Kimi menggenggam kedua tangan Pipit dengan mata berbinar.
“Jadi… sebaiknya sekarang kita daftar dulu apa saja yang kita perlukan untuk melengkapi markas kita.” Pipit memberi usul.
Maka mereka bertiga berunding. Pipit, Kimi dan Juni duduk di kursi, Bintang duduk di pegangan kursi yang diduduki Kimi, Tomo lesehan sekaligus mencatat.
“Yang kita perlukan adalah sekat, telepon, komputer, koneksi internet, lalu apa lagi?” Tomo bertumpu pada meja sambil mencatat.
“Printer dan meja kursi untuk komputernya.” Usul Bintang.
“Karpet, akuarium serta mejanya dan beberapa tanaman.” Kimi kemudian.
“Untuk apa?” Tomo heran.
“Karpet untuk jaga – jaga saja, siapa tahu butuh. Akuarium dan tanaman untuk mempercantik ruang tamu ini…” Kimi tersenyum.
“Karpet sih oke, tapi untuk akuarium dan tanaman sepertinya…” Tomo menimbang – nimbang.
“Kimi benar, Tom. Ruang tamunya perlu dibuat lebih fresh.” Pipit menyela.
“Baiklah kalau begitu. Ada lagi?” Tomo langsung setuju.
“Alat tulis sudah pasti. Mmm… kita butuh… lemari untuk menyimpan berkas, sama… papan tempel!” tambah Pipit.
“Oke.” Tomo lansung mencatat.
“Tempat sampah dan beberapa bantal kecil!” Kimi dengan semangat.
Tomo langsung menatap Kimi dengan tatapan, “buat apa?”
“Itu perlu, lagi Tom…” Kimi membela diri.
“Catat saja Tom, pasti ada gunanya.” Bintang membela Kimi.
“Oke…” Tomo patuh.
“Ngg… nama.” Juni dengan lirih lalu buru – buru menyembunyikan mukanya lagi.
“Ha? apa Jun? ulangi lagi.” Pinta Tomo.
“Nama!” Juni dengan suara lebih lantang tapi mukanya tak kelihatan.
“Aaahh… iya. Nama.” Tomo menjentikkan jari. “Sampai lupa.” Tambanya kemudian.
“Jadi, ada yang punya usul?” Bintang mengambil alih.
Hening… Tomo garuk – garuk kepala, Juni tetap meringkuk menyembunyikan muka, Pipit mengerutkan kening sambil memegani dagu, Bintang menoleh satu – satu menunggu jawaban, Kimi yang semula diam tiba – tiba bangkit dari duduknya.
“Ah! aku akan pesan makanan. Ada yang mau?” tawar Kimi.
Selainnya kecuali Juni, hanya melongo lalu berkedip melihat Kimi.

Mooo…!
“Sluuurpp… aahh… sudah lama aku tidak makan mi ayam. Masih enak ternyata.” Bintang yang kini ikut duduk di lantai bersama Tomo menyelesaikan makannya.
Tidak ada yang menjawab karena sibuk dengan makanan masing – masing.
“Kamu gak ribet makan begitu, Jun?” Bintang yang melihat Juni makan sambil tetap menyembunyikan muka.
Juni menggeleng.
“Haahh… aku harap setelah kenyang, kita bisa mendapatkan nama yang sesuai untuk proyek kita ini.” Bintang mencondongkan badannya ke belakang, bertumpu pada kedua tangannya, memberi ruang untuk perut gendutnya.
Pipit menghentikan makannya dengan tiba – tiba, lalu menatap Bintang. “Itu dia, Bin!” Pipit menunjuk Bintang denan telunjuk kanannya.
“Hah? Apanya?” Bintang berusaha bangkit dari posisinya semula. Tomo, Kimi dan Juni berhenti makan, menunggu penjelasan Pipit.
“Nama! Nama tim kita!” Pipit bersemangat. “Project Rangers!” tambahnya.
Hening.
“Alasannya sederhana, karena kita punya proyek menjadi ranger untuk membantu orang yang membutuhkan. Dari situlah nama Project Rangers berasal.” Pipit mengakhiri penjelasannya dengan senyum lebar.
“Setuju.” Tomo tersenyum lalu melanjutkan makannya, diikuti Juni tanpa berkata apa – apa.
“Nama yang bagus!” Kimi merapatkan kedua tangan di depan bibirnya dengan mata berbinar. Bintang mengangguk – angguk tersenyum. Cengiran Pipit melebar.
Mooo…!

Pipit mengusap stiker yang baru saja dia tempelkan di pintu kamar. Stiker tersebut merupakan stiker figur wanita seperti yang sering terlihat di pintu toilet. Sedangkan stiker figur pria sudah tertempel di pintu kamar satunya, yang bersebelahan dengan kamar yang pintunya baru saja ditempeli stiker oleh Pipit tersebut.
Kimi menaruh tempat sampah di sebelah meja komputer. “Ini untuk sampah kering saja.” Kimi tanpa ada yang menanggapi.
Kantor kecil mereka cukup lengkap dan nyaman. Karpet yang diusulkan Kimi digelar di depan kursi panjang, lengkap dengan bantal – bantal kecilnya. Di belakang kursi panjang tersebut terdapat sekat yang memisahkan kantor dengan ruang tamu yang dihiasi oleh akuarium dan bunga matahari artifisial.
Tomo dan Bintang menggeser meja TV untuk yang kesekian kali.
“Aneh gak sih, kalau meja TV ini ada di tengah ruangan seperti ini?” Bintang untuk yang kesekian kali.
“Ngg… kurang pas sih, tapi ya… mendinglah daripada di sana.” Tomo menunjuk lokasi meja TV sebelumnya, di sebelah kursi panjang.
“Sudah di situ saja. Lebih enak nonton TVnya.” Pipit yang duduk di kursi panjang, menghadap TV.
“Setuju!” Kimi yang duduk di karpet bersandar pada kursi panjang sambil memangku bantal kecil, mengangkat tangan kanannya.
“Baiklah.” Bintang kemudian menyusul Kimi, Tomo sibuk dengan urusan kabel dan listrik.
Juni tampak sibuk di dapur yang bisa dilihat dari tempat mereka berkumpul, karena memang tidak ada sekatnya.
Tak lama kemudian Juni datang membawa nampan berisikan satu pitcher jus apel dan lima gelas berukuran sedang.
“Asyik..” Sambut Pipit, Kimi dan Bintang.
“Ingat teman, woy!” Protes Tomo yang masih merapikan kabel komputer.
“Hahaha!” mereka tertawa.
Beberapa menit kemudian, Tomo menyelesaikan pekerjaannya. “Fiuh…” Tomo membuang napas, menaikkan kacamatanya yang melorot lalu bangkit menuju kursi panjang tempat teman – temannya berkumpul.
“Ah! Ada yang lupa!” Kimi tiba – tiba mengejutkan mereka, termasuk Tomo yang baru saja menuangkan jus apel ke gelasnya.
“Apaan sih Kim? Mengagetkan saja.” Tomo sambil meletakkan pitcher.
“Ikut aku, Tom!” Kimi menyambar Tomo yang bersiap meminum jusnya.
“Eh, eh, santai Kim. Ini nanti tumpah.” Tomo bangkit mengikuti Kimi sambil berusaha menyeimbangkan gelasnya.
Kimi tetap menarik Tomo. Sambil terseok mengikuti Kimi, Tomo meletakkan gelas di meja komputer yang dilaluinya. Tarikan Kimi menuntun Tomo menuju kamar yang dipasangi stiker figur wanita oleh Pipit tadi.
Blam! Pintu kamar ditutup.
Pipit dan Bintang melongo. Entah apa ekspresi Juni, dia hanya menunduk.
Pipit dan Bintang berpandangan, berkedip, lalu kembali menatap kamar berstiker wanita tersebut, melongo.
Kriet, blam. Kimi keluar dari kamar tersebut lalu nyengir lebar setelah menutup kembali pintunya. “Maaf menunggu lama.” Sambil berjalan kembali ke kursi panjang.
Kimi dengan antusias duduk di karpet, mengambil posisi menghadap ke kamar. “Keluarlah kapanpun kamu siap!” teriaknya kemudian.
Bintang menoleh ke Pipit. Pipit menggeleng. Keduanya lalu melihat ke arah kamar dengan bingung, mengikuti Kimi yang juga melihat ke arah tersebut namun dengan antusias. Sedankan Juni, menunduk seperti biasa.
Beberapa saat kemudian…
Kriet… pintu kamar terbuka. Bintang dan Pipit memincingkan mata. Kimi semakin antusias, dan Juni tetap menunduk.
Tomo melangkah dengan perlahan, Kimi bersiap untuk bersorak. Bintang, Pipit dan Juni tetap pada posisi semula.
“Ta-daaa!” Kimi saat Tomo keluar kamar. “Seragam Project Rangers kita!” Kimi dengan semangat.
Bintang dan Pipit memiringkan kepala, heran. Juni melirik dalam tunduknya.
Tomo ragu – ragu melangkah mendekati mereka.
“Bagaimana?” Kimi kemudian.
Bintang dan Pipit masih shock, Juni menunduk semakin dalam. Tidak ada yang menjawab.
Sepi.
“Ngg… sejujurnya Kim, ini sedikit…” Tomo memecah kesunyian, memiringkan kepalanya mencari kata yang tepat. “Ketat.” Lanjutnya sambil menarik pangkal paha seragam berwarna merah seperti seragam ranger pada umumnya, yang kini dipakainya.
Kimi yang antusias dengan senyuman lebarnya berubah ekspresi 1800. “Kamu benar.” Jawabnya.
Mooo…!
“Aku rasa kita tidak perlu seragam. Dengan baju yang biasa kita pakai saja sepertinya cukup dan lebih nyaman.” Bintang setelah Tomo berganti baju.
“Yea, kamu benar.” Kimi menjawab dengan lesu.
Hening. Aura suram Kimi menyebar, menular.
“Tapi…” Bintang berusaha menghentikan penularan aura Kimi tersebut. “Kita butuh topeng untuk melindungi identitas kita saat beraksi.” Lanjutnya.
“Benarkah?” Aura suram Kimi menghilang.
“He’em, buat yang bagus ya…” Bintang tersenyum.
“Siap!” Kimi bersemangat.
“Dan… seragam yang sudah kamu buat untukku, boleh aku bawa pulang, kan?” lanjut Bintang.
“Tentu saja!” mata Kimi berbinar, bunga matahari menari di sekelilingnya.
Bintang tersenyum menatap Kimi, Pipit yang menyaksikan hal tersebut ikut tersenyum, menunduk getir. Tomo melirik Pipit, sedangkan Juni tetap menyembunyikan mukanya.

Tomo memacu motornya dengan panik, terburu – buru. Terpaksa berhenti karena lampu merah, lalu segera melaju ketika lampu tersebut berubah menjadi hijau. Dia masuk ke halaman sebuah rumah, parkir, mematikan mesin lalu mencabut kuncinya dengan tergesa. Sudah ada bumblebee di sana. Mooo…! Sambut si sapi. Buru – buru dia masuk ke dalam rumah tersebut.
“Ada masalah apa?” Tomo setelah menemukan keempat kawannya yang berkumpul lesehan di karpet.
“Kita harus segera membuat jadwal merawat sapi.” Jawab Pipit enteng.
Zreb! Kaca helm Tomo menutup. Tomo lalu membuka helmnya.
“Jadi kamu tadi menelepon memintaku segera datang dan bilang tidak ada waktu menjelaskan itu untuk masalah ini?” Tomo tak habis pikir.
“Iya. Hee… kan lebih enak kalau ketemu langsung Tom, biar gak miskom…” Pipit cuma nyengir.
Tomo membuang napas, meletakkan helmnya dengan gemas di atas kursi panjang, lalu ikut duduk lesehan.
“Jadi masalahnya di sini adalah, seminggu itu ada 7 hari. Sedangkan kita cuma berlima. Gimana pembagian jadwalnya? Gak mungkin kan, sapinya cuma kita rawat 5 kali dalam seminggu.” Pipit membuka kasus.
“Gak mungkin juga kita bagi jadi 2 kelompok. Jumlah kita kan ganjil, gak adil nanti…” tambah Bintang.
“Kalau aku sih usul bayar orang saja untuk merawat sapi itu.” Kimi yang tak mau berurusan dengan sapi.
“Jangan, nanti identitas kita sebagai ranger bisa terbongkar.” Bintang tenggelam dalam perannya.
“Kalau begitu Tomo saja yang bertanggunjawab mengurus sapi. Kan dia yang membuat perjanjian dengan pemilik rumah. Dia juga bersemangat sekali bisa tinggal di sini dengan gratis.” Usul alternatif dari Kimi.
“Hei, kenapa aku?? Dibanding aku, Pipit jauh lebih bersemangat dengan yang gratisan.” Tomo membela diri.
“Lho, kok aku dibawa – bawa, sih? Apa salahku?” Pipit tidak terima.
“Beruntung aku bisa dapat rumah ini. Daripada rumah di samping kuburan itu?” Tomo tidak mempedulikan protes Pipit.
“Kamu gak bisa gitu, dong Tom. Kasihan Pipit…” Kimi membela Pipit.
“Sudah, sudah…” Bintang berusaha melerai debat kusir yang terjadi.
Di tengah keributan tersebut, Juni yang hanya menunduk diam tiba – tiba bereaksi. Tangannya bergetar, napasnya naik turun. Tidak ada yang memperhatikannya. Tangan yang bergetar tadi lalu mengambil gelas yang ada di depannya.
“AAAA!!!” Juni lalu menuangkan isi gelas tersebut di kepalanya.
Hening. Keributan berhenti, digantikan dengan keterkejutan. Semua menatap Juni.
“Jun?” Kimi menyentuh pundak Juni hati – hati.
Beberapa detik kemudian, Juni mengangkat muka. “Biar aku saja.” Ucapnya mantap.
Semua terdiam.
“Aku akan tinggal di sini dan mengurus sapi.” Lanjutnya. “Tapi kalau aku kesulitan, kalian bantu aku, ya…” Juni mengakhirinya dengan senyuman.
Hanya Pipit yang bengong. Dia tidak tahu sifat Juni bisa berubah bila rambutnya basah.
“Kamu yakin?” Tomo bertanya.
“He’em. Aku tidak punya rumah. Selama ini aku tinggal di panti asuhan. Sudah saatnya aku mandiri. Bisa tinggal di sini dengan gratis adalah keberuntungan buatku.”
“Maaf, aku tidak tahu…” Kimi menanggapi.
“Tidak apa – apa.” Juni tersenyum. “Serahkan padaku. Aku akan mengurus rumah dan sapi dengan baik.” Tambahnya.
“Baiklah kalau begitu. Masalah terselesaikan!” Tomo mengepalkan kedua tangannya di udara.
“Hahahaha!” Mereka tertawa.
Malam harinya…
Juni keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk di leher. Dia lalu berjalan menuju dapur, mengambil gelas, membuka kulkas, menambil kotak susu, membukanya, menuangkan susu ke dalam gelas, menutup lalu mengembalikan kotak susu ke dalam kulkas, dan menutup kembali kulkas tersebut.
Juni berjalan menuju kamar berstiker wanita sambil meminum sedikit susunya. Saat melewati meja komputer, dia melihat sebuah sticky note tertempel di papan tempel yang berhadapan dengan meja komputer. Juni menghampirinya. Ada tulisan Kimi di sana. “Juni, kami pulang dulu. Jangan lupa kunci pintu.” Bacanya, lalu dibuangnya sticky note tersebut ke tempat sampah samping meja komputer. Juni mengunci pintu depan lalu melanjutkan perjalanannya ke kamar.
Di dalam kamar, juni meletakkan gelas susunya di atas meja, bersila di atas tempat tidur lalu menyalakan laptopnya, menulis email.
Dia menceritakan tentang rumah gratis, sapi, nama rangers, seragam dan kebohongannya tentang tinggal di panti asuhan.
Email terkirim, ke alamat yang sama seperti email yang dia kirim sebelumnya.


cerbung.net

Project Rangers

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
Sebuah cerita bernuasa dorama ala Jepang.Serangkai sahabat yang membentuk sebuah kelompok bernama "Project Ranger"  yang bertujuan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset