Project Rangers episode 1

Eps. 1 “Reuni” (part 1)

Gadis itu membaca ulang deretan huruf yang tertulis di secarik kertas yang dibawanya, mencocokkan dengan nomor rumah yang ada dihadapannya. Tidak salah, pikirnya. Dia lalu menarik napas panjang, menembuskannya, dan membetulkan letak kacamatanya yang melorot.
“Baiklah…” sambil menarik ranselnya dan berjalan ke arah penjaga yang berdiri tegak di depan gerbang rumah tersebut.
“Permisi Pak, saya dapat undangan dari Kimi untuk acara syukurannya sore ini. Pintu masuknya benar lewat sini kan Pak?” tangannya menunjuk gerbang kayu yang tertutup rapat itu.
“Bisa tunjukkan undangannya?” balas pak penjaga yang mirip Agung Hercules itu.
“Mmm… sebentar.” Gadis itu mengambil handpone dari saku celananya, lalu tak lama kemudian menyodorkan hp tersebut ke pak penjaga. “undangannya lewat sms broadcast sih Pak…”
“Saya konfirmasi dulu.” Pak penjaga lalu menarik kerah setelannya dan berbisik ke dalamnya, sambil sesekali memegang telinganya yang dipasangi alat komunikasi.
“Maaf, ini dengan siapa?” tanya pak penjaga pada gadis yang ada di depannya tersebut.
Gadis itu tersenyum simpul, lalu menjawab, “bilang saja angry bird.” Lalu memamerkan deretan giginya.
Pak penjaga terlihat kaget, berbisik kedalam setelannya lagi, memegang telinganya, mengangguk, lalu kembali berbicara ke gadis yang ada di hadapannya.
“Anda boleh masuk, tapi tunggu di balik pintu dulu. Nanti akan ada yang menjemput Anda.” Lalu mengeluarkan remote dari dalam sakunya, memencet tombol hijaunya, dan gerbang pun terbuka. “Silahkan…” Penjaga mempersilahkan sambil bergeser sedikit.
Gadis itu melangkah masuk dan gerbang kembali menutup. Dihadapannya terhampar kebun bunga matahari yang sangat luas. Di tengah kebun bunga tersebut terdapat jalan beraspal yang muat dilalui dua mobil.
“Woaaah…” gadis itu takjub.
Tak lama kemudian terdengar suara sepeda listrik dari kejauhan. Makin lama makin jelas dan benar saja kata penjaga tadi, akan ada yang menjemput. Jarak lima meter, sumber suara tersebut makin jelas bentuknya. Bukan sepeda, tapi mobil listrik kecil.
“Silahkan nona angry bird” pengemudi mobil listrik tadi setelah sampai dihadapan gadis tersebut tanpa turun dari mobil, hanya meletakkan tangan kanan di dada dan membungkukkan badan.
Gadis itu terdiam sejenak, heran. Lalu tertawa, “hahaha! Sok – sokan kamu!” sambil berjalan dan menempatkan diri di sebelah pengemudi. Yang dibilang sok – sokan cuma nyengir.
“Apa kabar?” tanya pengemudi sambil putar balik.
“Menurutmu?” gadis itu menjawab nggak santai.
“Oke, tetap galak. Tak ada yang salah berarti.” Si pengemudi mengangguk.
“Hiihh…” si gadis melayangkan cubitan ke lengan pengemudi. Pengemudi berusaha menghindar, rambut bob jamurnya bergoyang mengikuti arah kepalanya namun tetap saja kena. Maklum, tangan gadis tersebut panjang.
“Ssshhh…” pengemudi pura – pura kesakitan, mengelus lengannya.
“Hahaha!” mereka pun tertawa bersama.
“Gimana?” tanya pengemudi kemudian.
“Apanya?”
“Ini…” dengan isyarat kepala menunjuk mobil yang sedang dikemudikannya.
“Ini… buatan kamu?” si gadis tak percaya.
“Hm hm” pengemudi dengan gaya sombongnya.
“Bohong! Tidak mungkin!”
“Cih, gak percaya? Kamu ingat dulu aku pernah keliling dari satu loakan ke loakan yang lain buat berburu komponen?” pengemudi menoleh ke arah si gadis.
Si gadis memandang pengemudi dengan tatapan tak percanya disertai anggukan kecil, melonggo.
Pengemudi tersenyum, matanya berkilat di balik kacamata bundarnya. “Ya ini…”
Si gadis terdiam, masih tak percaya. Dia memalingkan mukanya dari pengemudi, menatap jalan. Beberapa detik kemudian, “Tapi… masa iya sih? Gak mungkin ah. Masa sebagus ini jadinya? Kalau kamu bilang ini adalah mobil golf rusak yang kamu perbaiki sih aku masih percaya…”
“Bhuahahahaha!”
Si gadis menoleh curiga ke arah pengemudi.
“Ini memang mobil golf ayah Kimi, tapi tidak pakai rusak, apalagi aku perbaiki. Hahahaha!”
“Sialan!!!” si gadis melayangkan pukulan bertubi – tubi ke pengemudi yang meminta ampun tapi tidak ikhlas minta ampunnya karena masih saja tertawa itu.
Dan sampailah mereka di depan rumah yang punya acara.
“Ini serius rumah?” si gadis memandang bangunan di hadapannya yang lebih mirip kastil itu.
“Menurutmu?” pengemudi meniru gaya bicara si gadis.
“Hss!” si gadis menatap pengemudi dengan sinis.
“Apa?” balas pengemudi tidak takut. “turun gih, aku parkir ini dulu di belakang.”
Si gadis menurut sambil manyun.
“Pipiiiiiitt…!!!” gadis cantik bak model berlari memeluk gadis manyun yang ditinggal pengemudi tadi.
“Hai Kimi, selamat ya…” gadis manyun yang ternyata bernama Pipit tadi balas memeluk Kimi sambil tersenyum.
“Masuk yuk!” ajak Kimi.
“Sudah ada siapa saja?” Pipit sambil jalan mengikuti Kimi.
“Rio, Andien, Caca, Gusta, Dion, Galih, Ratna, Budi, Fani, Cinta, Rangga, Dita, Ronald, Aming, Epi, Manda…” Kimi terus menyebutkan nama tamu – tamunya sambil berjalan memasuki lift, memencet tombol 6.
“Dan Tomo.” Pintu lift terbuka.
“Ya, aku bertemu dia tadi. Dan dia mengerjaiku.” Pipit menoleh ke arah Kimi sambil melangkah keluar lift.
“Hahaha! Masih sama, tak berubah. Tetap suka bercanda dia.” Kimi menggandeng Pipit menuju booth minuman di sebelah kiri, mengambilkannya minum. Sambil sesekali bersapa ria dengan para tamunya.
“Es kelapa muda kesukaanmu, tanpa gula.” Kimi menyodorkan gelas ke Pipit.
“Terima kasih.” Pipit sambil senyum.
“Buat dirimu nyaman ya, dear.” Kimi menecup pipi Pipit lalu menyapa beralih ke tamu lainnya.
“Fiuhh…” Pipit mengembuskan napas lalu meminum es kelapa mudanya sambil mengamati keramaian di sekitarnya.
Yap, dia tahu Kimi kaya. Tapi dia tidak pernah tahu kalau Kimi itu super duper kaya! Sampai – sampai ada hall di lantai 6 rumahnya! Pipit dan Kimi dulu teman satu kelas waktu SMP. Mereka berpisah di SMA, dan baru bertemu lagi di acara syukuran Kimi ini, yang tidak hanya dihadiri oleh teman – teman sekolah Kimi baik itu dari playgroup sampai SMA, tapi juga kolega bisnis ayah Kimi. Maka tak heran kalau acaranya bisa seramai ini.
Pipit yakin banyak temannya yang juga hadir di acara ini. Tetapi dia malas mencari dan bergabung dengan mereka di tengah keramaian seperti ini. Lagipula, orang yang sangat ingin ditemuinya tidak disebut oleh Kimi tadi.
“Apa Kimi lupa? Bisa jadi. Tapi mungkin juga belum datang. Apa sebaiknya aku bertanya? Eh, gila aja! Paling tepat ya aku tunggu di dekat lift sambil mengawasi kerumunan. Kalau baru datang aku bisa tahu, kalau ada di kerumunan aku juga bisa tahu.” Pipit sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia dikagetkan oleh tatapan aneh anak kecil yang memegang gelas di sampingnya.
“Kakaknya aneh, geleng – geleng sama angguk – angguk sendiri.”
“Heh, anak kecil! Sana ambil makan saja!”
“Orang gila.” Si anak pun lari.
“Haah… dasar!” seperti biasa, Pipit ngedumel.
Ting! Pintu lift terbuka. Sontak Pipit menoleh, mencari tahu siapa yang ada di dalam lift.
Ujung sepatunya terlihat. Pipit mendekat untuk melihat lebih jelas. Lebih dekat, lebih dekat, dan mereka berdua kaget.
Sedetik kemudian, “Pipit?” orang yang keluar dari lift membuyarkan kekagetan Pipit. Pipit berubah kecewa. “Hahaha! Maaf, tapi pangeranmu mungkin tak bisa datang.” Sambil mengacak rambut Pipit yang dikuncir kuda.
“Apaan sih kamu Tom?” Pipit manyun sambil membenahi rambutnya.
“Kamu menunggu Bintang, kan?” goda Tomo, rambut jamurnya bergoyang.
Pipit diam saja, tetap manyun.
“Dia ada race malam ini, jadi gak bisa datang.”
“Tahu dari mana?” Pipit tertarik.
“Instagram, 5 menit yang lalu.” Tomo menunjukkan handphonenya.
Pipit langsung merebut handphone tersebut dan benar saja, Bintang memposting foto mobil sport berwarna kuning – hitam yang tampak habis dicuci disertai kalimat “bumblebee udah ganteng, siap untuk race nanti malam”
Wut! Seketika handphone tersebut sudah kembali ke tangan pemiliknya. “Makanya, kalau kepo jangan setengah – setengah, totalitas dong, setiap saat…” ledek Tomo sambil lalu.
“Sialan!” Pipit mengikuti Tomo sambil manyun.

“Selamat datang para tamu undangan sekalian, terima kasih telah menyisihkan sedikit waktunya untuk hadir di acara Syukuran Kelulusan Mengemudi Helikopter Kimi!” Presenter kocak yang mirip Indra Bekti itu membuka acara.
“Yak, sambil menikmati hidangan yang disajikan, mari kita sambut yang punya acara nih ya, Kimiiiiii…!!!” Kimi maju ke panggung disertai tepukan tangan yang meriah.
“Halo Kimi, duh cantiknya… cerita – cerita dong, gimana akhirnya sampai bisa dapat surat izin mengemudi helikopter ini. Soalnya nih ya, dengar – dengar kamu harus gagal 127 kali dulu baru dapat ini SIM.”
“Hahaha! Sebenarnya gak harus gagal sih ya…” Kimi menjawab.
“Ah, iya. Maksudnya sebelumnya kamu sudah mencoba ikut tes mengemudi helikopter sebanyak 127 itu tapi belum berhasil.” Presenter meralat ucapannya.
“Iya, jadi kenapa aku bisa gagal berkali – kali sampai sebanyak itu sebelumnya itu karena…” Kimi memulai ceritanya, sesekali presenter menanggapi kadang serius, kadang bercanda sehingga tamu undangan sesekali tertawa, bertepuk tangan, atau keduanya.
“Jadi jangan mudah menyerah meskipun itu sulit. Dan acara ini aku buat sebagai wujud syukurku, aku berbagi kebahagiaan dengan teman dan rekan undangan sekalian, sekaligus hitung – hitung reuni lah. Mumpung lagi pada libur kelulusan. Oiya, semoga rencana teman – teman ke depannya dimudahkan. Baik yang mau kuliah atau kerja, semuanya lancar. Yang pasti, jangan mudah menyerah.”
“Yak, makasih Kimi…” disertai tepuk tangan yang meriah. “Oke, acara selanjutnya ada hiburan nih, dari band papan atas yang fenomenal! Legenda hiduplah pokoknya. Kita sambut bersama, Sheila on 7!”
“WAAAAAA!!!!” Hall pun riuh.


cerbung.net

Project Rangers

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
Sebuah cerita bernuasa dorama ala Jepang.Serangkai sahabat yang membentuk sebuah kelompok bernama "Project Ranger"  yang bertujuan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset