Pulang episode 6

Chapter 6 : Bingung

Sebuah pukulan telak mendarat tepat di hidung iwan. Tampak cairan merah kental keluar dari hidung iwan. Iwan pun nampak sempoyongan, tak lama kemudian dia jatuh terduduk. Aku hanya melihat, hanya itu yang bisa ku lakukan. Aku terlalu takut untuk mengambil keputusan saat itu. Ini dunia yang sangat baru untuk ku. Aku sendiri tak pernah mengharapkan dunia seperti ini.

Aku sangat bingung, sangat kalut. Aku ingin membela iwan seperti dia membela ku tapi, tak ada sedikitpun keberanian muncul dari ku. Aku saat itu benar benar pengecut. Mata cuplis kali ini berpindah ke arah ku, telunjuknya diacungkan di hidung ku.

“heh anjing!!! Gara gara lu gue berantem sama temen gue!!! Puas lo!!! Sekarang lu angkat kaki dari sini atau gue habisin sekarang” kali ini cuplis mengancam ku

aku hanya duduk mematung, masih syok dengan kejadian barusan. Tiba tiba dari arah warung ku lihat kipli berdiri dan berjalan kearah kami.

“bajingan kamu plis!!!”kali ini gantian iwan menendang perut cuplis sambil memakinya. Cuplis jatuh terjengkang.
Sebelum cuplis bangkit, tiba tiba kipli berteriak…

“STOP!!! Kalian mau berhenti gak”kali ini kipli terlihat sangar dengan memegang botol ditangan kanannya.

“gue hajar semua kalo kalian masih mau ribut!!! Ayo maju kalian semua!!!” kipli nampak menantang mereka dan aku masih kagum dengan adegan yang terjadi saat ini.

“lu gak usah ikutan pli!!!”kali ini cuplis sudah berdiri

“gue gak belain siapapun dan malah memusuhi kalian semua!!! Tiap kali mabok kalian pasti berantem, emang kalian gak bisa mabok dengan tenang” kali ini kipli terlihat serius

“oke gue ngalah, kalo emang tempat ini gak mau nerima orang baru, mending gue pergi dari sini” kali ini iwan membalikan badan seperti mau meninggalkan kami. Saat itu aku benar benar bimbang, iwan satu satunya orang yang mau membela ku. Kalau iwan pergi, gimana nasib ku? Akhirnya entah keberanian dari mana, tiba tiba keluar kata kata dari mulut ku.

“jangan wan…aku aja yang pergi…”kata ku

Iwan hanya menoleh sambil tersenyum ke arah ku…

“lu mau kemana malem malem gini?” kali ini kipli bertanya

“pulang, jakarta”kata iwan menimpali

Cuplis tampak kaget dengan keputusan iwan. Dia coba mengejar iwan tapi tangan nya dipegang kipli.

“lepasin pli…”iwan coba berontak, tapi buru buru tubuhnya di peluk kipli.

“diem…lu masih mabok. Kalo lu kejar dia, yang ada kalian bakal berantem lagi. Biarin dia pergi, gak ada kendaraan yang bisa nganterin dia balik jakarta malem malem gini. Lu bar, jangan Cuma bengong bego. Pergi susulin iwan, dia butuh temen”kali ini kipli menyuruhku.

Kali ini segera berdiri dan berlari menyusul iwan. Kepala masih agak berat efek dari air kedamaian tadi.lari ku pun tidak maksimal. Setelah tiba di pinggir perempatan gondomanan, aku clingak clinguk mencari keberadaan iwan. Tapi, dia sudah gak kelihatan. Lah aku harus nyusulin kemana nih? Nyari malioboro aja gak ketemu, sekarang di suruh nyariin iwan yang mau pulang ke jakarta. Karena bingung, ku putuskan buat balik dan tanya pada kipli.

Melihat aku berjalan kembali, kipli malah tertawa…

“hahahahahaha…ngapain lu balik bar? Cari aja dia di stasiun, makanya jangan ngeloyor aja…”kali ini kipli puas menertawakan ku. Disudut mata ku sepertinya cuplis ikut menahan tawa.

“oh makasih pli, saya susul ke stasiun dulu”jawab ku, sambil membalikan badan. Baru berjalan dua langkah aku kembali berbalik…

“stasiun nya dimana yah pli?”tanya ku polos.

“hadah lupa gue, lu kan belum tahu jogja. Di deket malioboro, sana buruan lu susulin”kali ini kipli menyuruhku cepat cepat.

Aku belum beranjak, mau tanya lagi tapi ragu campur malu…

“apalagi bar….”kali ini sepertinya kipli terlihat jengkel melihat ku diam saja.

“anu pli…tadi saya seharian nyariin malioboro gak ketemu”jawab ku polos

“emang malioboro main kemana? Hedeh nih anak”kali ini dia kelihatan bener bener dongkol

“gak tahu pli, saya kan baru dateng”jawab ku polos

“arrrggghhh…lu dari perempatan ke barat, nanti ada perempatan lagi,nah sebrang jalan itu udah malioboro. Dari maliboro lu lurus ke utara ntar ketemu stasiun, buruan lu susul”kali ini kipli seperti kehilangan kesabaran.

“oke saya susul, tapi barat itu mana yah?”tanya ku agak ragu…

“noh…cepet” kata caplin sambil tangannya menunjuk ke arah barat. Cuplis meledak tawanya mendengar percakapan kami. Benar sepertinya dia emosinya hanya karena terpengaruh minuman keras.

Saya langsung menuju kearah yang ditunjuk kipli, sampai perempatan saya sebenarnya agak bingung. Ini perempatan loh pli, ini malioboro sebrang sana atau situ? Haduh, masak balik lagi sih, yang ada entar dia makin marah. Saya coba ingat ingat lagi petunjuk cuplis, dari malioboro lurus ke utara, jadi kalau saya menuju sebelah barat utara ada di kanan sana. Jadi, malioboro ada dikanan saya, daerah yang ada monumen dengan patung patung pahlawan diatasnya. Lalu aku menuju kearah itu, sambil berbisik
“yah kalau malioboro disini tadi siang saya udah nglewatin” bisik ku…

Mungkin karena sudah sangat larut malioboro tidak begitu ramai. Hanya terlihat beberapa orang yang masih ada disana. Beberapa anak muda yang entah sedang melakukan apa dan beberapa orang berpakaian lusuh yang tertidur dibangku bangku sepanjang malioboro. Toko toko dikanan kiri jalan pun sudah tutup, lesehan lesehan tinggal beberapa yang buka. Malah sudah terlihat orang orang yang bekerja di lesehan mulai mengemasi dagangan mereka.

Ku pacu langkah ku lebih cepat mencari keberadaan iwan atau tepatnya stasiun. Tapi kaki ku rasanya sudah tidak kuat lag. Seharian penuh tadi aku berputar putar dikota jogja, belum lagi efek dari air kedamaian belum juga hilang, kepala ku rasanya seperti berputar putar. Ku putuskan untuk istirahat sebentar, sekedar melepas lelah dan menunggu pusing di kepala ku agak reda. Aku duduk di depan emperan sebuah toko. Karena punggung ku pun terasa sakit, akhirnya aku berbaring di lantai toko tersebut. Ku letakan gitar ku diatas ku dan memeluknya, dan tas ransel yang ku bawa ku jadikan bantal. Baru sebentar aku beristirahat, ada yang menepuk pundak ku. Seorang lelaki, berbadan tegap dengan rambut di belah tengah. Penampilan cukup bersih, terlalu bersih untuk di bilang anak jalanan.

“heh…kowe ngamen nang kene (heh kamu ngamen disini?) “ tanyanya


cerbung.net

Pulang

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Moment yang tidak ingin ku ingat kembali...moment dimana emosiku masih labil...moment dimana ego kesetiakawanan lebih tinggi dari apapun hingga rela mengubur masa depanku.Semua kehidupan yang aku jalanin akan kutumpahkan dalam tulisan ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset