Pulang episode 9

Chapter 9 : Flashback 1

Sepertinya tidak adil kalau harus ku potong cerita ku langsung ketika aku hidup dijalan. Tanpa ku ceritakan latar belakang kejadian yang mengantar ku menjadi anak jalanan, cerita ini seperti potongan puzzle yang tidak lengkap. Tapi, jujur setiap aku mengingat kejadian ini aku masih belum bisa berdamai dengan kenyataan. Karena, awal dari kisah ku ini bukan hanya menghancurkan masa depan ku. Tapi, juga menghancurkan keluarga ku. Sebagai anak sulung, aku hampir saja membunuh cita cita adik adik ku. Tapi, seberat apapun itu, aku sudah berniat untuk membuka luka lama yang ku pendam. Semoga ini bisa menjadi pelajaran buat agan dan sista sekalian.

Aku dibesarkan di keluarga yang terpandang di kampung ku. Sebuah desa kecil di ujung timur jawa tengah yang memiliki hamparan pantai pasir putih yang sangat indah. Bapak seorang PNS di dinas pendidikan, karena pengaruh jabatannya aku mendapat ke istimewaan pada masa SMA. Seandainya bukan karena pengaruh bapak, mungkin sejak awal aku sidah dikeluarkan dari sekolah. Bayangkan, selama enam hari jam persekolahan, paling aku berangkat sekolah Cuma dua kali. Saat hari jum’at ketika kegiatan pramuka dan saat hari selasa ketika ekskul seni musik. Selebihnya ku habiskan waktu ku di warung kopi.

Tapi, walaupun aku terbilang bandel dan susah diatur soal prestasi aku bisa menyombongkan diri. Berkali kali aku mengharumkan nama sekolah ku. Kalau boleh pinjam istilah yang lagi ngetrend “nakal boleh, goblok jangan”. Soalnya, walaupun aku tidak masuk kelas untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar, aku selalu menyempatkan membaca lembar buku di warung kopi. Saat itu aku berfikir, sekolah itu sangat membosankan dan tidak efektif. Kita dipaksa duduk dibangku kelas hanya untuk menerima penjelasan dari guru. Kreatifitas kita di kekang dengan keterbatasan pola pikir guru.

Nah, karena kemalasan ku untuk masuk kelas, akhirnya kepala sekolah ku saat itu (yang juga teman bapak ku) akhirnya memberi keistimewaan untuk ku. Aku boleh tidak masuk kelas, tapi aku harus menemui guru yang bersangkutan setelahnya untuk meminta tugas pengganti. Ku terima itu, karena menurut ku itu jalan tengah yang cukup menguntungkan. Oh iya ada satu lagi hak istimewa yang kudapat setelah berhasil mengharumkan nama sekolah di tingkat kabupaten, aku bebas merokok di sekolahan, asal tidak ketahuan murid lain. Setelah itu banyak ku habiskan waktu ku di perpustakaan, kantin, ruang kesenian dan tentu saja, warung kopi depan sekolahan.

Dua tahun ku habiskan hak istimewa ku disekolahan itu. Hingga tiba masa kelulusan dan bisa di prediksi nilai ku diatas rata rata. Aku masuk tiga besar paralel di sekolahan. Saat itu aku berniat melanjutkan kuliah di kampus kesenian di daerah bantul yogyakarta. Tapi, bapak ku menolak habis habisan keinginan ku.

“kamu mau jadi sekolah apa disana? Pengamen!!!” hardik bapak ku saat ku sampaikan maksud ku.
“tapi, minat ku di seni pak. Banyak orang yang tetap bisa survive dengan berkesenian” bela ku
“sekali tidak tetap tidak!!! Besok kamu berangkat ke semarang, nanti kamu sama mas rio, kamu nanti nginep di kost nya buat ikut SPMB di UNDIP”kata bapak ku memaksa.
“tapi pak….”belum aku selesai bicara bapak sudah memotong.
“aku itu anak ku jadi pegawe, hidup mapan dan terpandang di masyarakat. Nanti apa kata orang orang kalau tahu anak bapak Cuma kuliah jadi pengamen. Mau kamu taruh dimana muka bapak mu le…pokoknya besok kamu berangkat ke semarang sama mas rio titik!!!”kata bapak dengan nada tinggi dan meninggalkan ku.
“sudah toh le…benar kata bapak mu. Kamu sekolah yang bener di semarang, soal hobby dan cita cita mu di musik kan tetap bisa dilanjut tanpa harus kuliah. Jadi, bapak lega kamu juga lega”kata ibu ku menenangkan.
“aaarrrrggghhhh….”teriak ku tanpa peduli kata kata ibu ku.

Singkat cerita aku sudah mendaftar di UNDIP semarang tanpa minat sedikit pun. Sampai tiba saat tes tertulis yang memaksa ku kembali menginap di kos mas rio lagi. Aku ingat saat itu aku sama sekali tidak menyentuh buku untuk belajat, padahal besok tes ujian masuk.

“mas bosen nih…jalan jalan yo…”kata ku pada mas rio
“arep jalan jalan nang ngendi?”tanya mas rio pada ku
“aku pengen mabuk mas, pusing aku….”jawab ku
“bocah edan, besok kamu itu ujian malah sekarang ngajak mabok….”kata ku
“sudah mas aku yang bayar…lagipula mas sudah tahu aku gak pengen lolos.
“ya sudah lah, suka suka kamu…” kata mas roy

Saat itu mas rio menyuruh ku menunggu di kost, sedangkan dia pergi beli air kedamaian. Akhirnya kami mabok sampai adzan subuh terdengar. Hasilnya, besoknya kami bangun kesiangan dan aku terlambat satu jam untung nya masih boleh mengikuti ujian. Setelah ku terima lembar jawab dan soal, ku tulis nama ku di lembar jawab dan ku isi tanpa melihat soal sedikit pun. Tidak sampai sepuluh menit, aku keluar dari ruang ujian dan membuat semua orang terheran heran. Kejadian itu terus terulang sampai hari terakhir ujian.

Saya lupa tepatnya, mungkin sebulan kemudian tiba saat pengumuman dan bisa dipastikan aku tidak lolos seleksi. Tapi, bapak tetap memaksa ku untuk kuliah entah bagaimanapun cara nya. Mulai dari lobby sana sini sampai mencoba beli “kursi”. Hingga datang dua teman SMA ku, sebut saja sinyo dan nanda. Mereka membawa brosur kampus swasta di daerah solo. Katanya, kalau aku mau masuk kesana gak usah seleksi tertulis karena, nilai ku diatas rata rata yang bisa langsung masuk. Karena kasihan melihat perjuangan bapak mengusahakan ku tetap kuliah ku terima tawaran mereka.

Hari itu aku berangkat ke solo bareng sinyo dan nanda, mereka tampak bersemangat untuk kuliah disana. Sedangkan aku, tetap malas. Sampailah kami didepan gerbang kampus yang kami tuju. Kami mengambil formulir pendaftaran dan aku bertanya pada petugas yang jaga saat itu.

“bu…saya mau daftar yang gak pake tes tesan bisa?” tanya ku
“coba saya lihat berkas berkasnya mas…”jawabnya ramah
“kalau dilihat dari nilainya bisa mas, mas nya mau masuk fakultas apa?”tanya petugas itu lagi
“sastra indonesia atau sastra inggris”jawab ku singkat
“wah maaf mas untuk jurusan itu kuotanya sudah penuh, mungkin jurusan lain mas?”tanyanya lagi
“apa aja bu yang tersisa”tanya ku lagi.

Seingat ku waktu itu dia menyebutkan nama nama fakultas banyak banget dan yang terakhir psikologi.

“udah itu aja bu…namanya keren”jawab ku
“wah mau kuliah kok dilihat dari namanya yang keren toh mas, ya sudah mas tunggu sebentar. Mas nya tinggal ikut tes kesehatan disana, ini nanti suratnya kasih sama dokter yang jaga disana”katanya menunjukan ruang tes kesehatan.

Tes kesehatan ku lalui dengan lancar tanpa kendala, sampai saat tes mata. Entah dokternya yang aneh atau emang standard operasinya emang gitu, sudah tahu saya pakai kaca mata setebal pantat botol, waktu tes kesehatan aku dipaksa melepas kaca mata ku dan menebak huruf huruf yang dia tunjuk. Karena jengkel akhirnya aku tebak asal asalan tanpa melihat kearah dokter itu. Jadi aku membelakangi dokter yang mengetes ku. Beberapa peserta yang mengantri tes kesehatan tampak menertawakan tindakan ku. Aku sih cuek, terlanjur jengkel.

“kamu itu kalau dites mbok yang serius. Kamu kalau gak lolos gimana…”kata dokter itu menggerutu sambil menulis hasil tes.
“kalau gak lolos ya tes lagi pak sampai lolos”jawab ku

Tiba tiba

Kriiiiiiingggg….kring…..
HP nokia 3100 yang ku kantongi berbunyi, ku lihat nomor pak dhe bejo menelpon. Segera ku angkat telpon dari pak dhe bejo…

“assalamu’alaikum pak dhe”sapa ku
“wa’alaikum salam, kamu gimana ujiannya masuk kuliah bar?”tanya beliau
“kayaknya gak lolos pak dhe, soalnya tes kesehatanya dokternya aneh”kata ku sambil melirik dokter
“loh…aneh gimana? Tes tertulisnya lolos gak?”tanya nya
“saya gak tes tertulis pak dhe, nilai saya langsung lolos. Cuma kayaknya tes kesehatanya gagal”kata ku
“ya sudah, tinggal tes kesehatan saja toh. Kasih hp kamu ke dokternya. Bilang dari pak bejo fakultas *****”kata nya
“ini pak ada yang mau bicara, pak bejo dari fakultas ********”kata ku sambil menyerahkan hp kepada dokter yang menguji ku.
“loh kamu apanya pak bejo”kata nya, sambil ragu ragu menerima hp ku.

Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Yang ku ingat dokteritu Cuma ngomongh, iya, siap, baik pak dan kalimat kalimat persetujuan lainnya.
“wah kamu kok gak ngomong kalo ponakan nya pak bejo…”kata nya sambil meremas kertas hasil ujian yang harusnya berisi hasil nilai ku.
“bapak gak tanya “jawab ku sinis
“ya sudah kamu lolos, segera daftar ulang kamu resmi jadi mahasiswa di sini”katanya sambil menyerahkan hasil tes kesehatan palsu ku.


cerbung.net

Pulang

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Moment yang tidak ingin ku ingat kembali...moment dimana emosiku masih labil...moment dimana ego kesetiakawanan lebih tinggi dari apapun hingga rela mengubur masa depanku.Semua kehidupan yang aku jalanin akan kutumpahkan dalam tulisan ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset