Raisa dan Raina episode 3

Part 3
Jam menunjukkan pukul 07.30 WITA, semua perlengkapan Raisa telah kumasukkan di ranselnya tak lupa kusiapkan amplop untuk pedagang yang menjadi target wawancara Raisa. Bukan menjadi bagian tugas sekoah, tetapi hitung – hitung sebagai ucapan terima kasih karena bersedia untuk membantu tugas sekolah Raisa.

Tiba – tiba handphoneku berdering, panggilan dari Widya sekretaris dikantorku.

“Assalamu’alaikum Ibu Neta” Ujar suara diseberang sana

“Wa’alaikumussalam, ada apa Wid” Tanyaku

“Ibu, ada masalah di kantor, ibu bisa kekantor sekarang” Tanyanya

Akhir – akhir ini memang beberapa karyawanku lembur dan menginap di kantor karena lonjakan pelanggan di seluruh outlet kami. Mengingat ini adalah akhir bulan aku meminta sekretarisku untuk menyelesaikan segala administrasi kantor. Kadang merasa iba dengan sekretarisku yang harus kerja diwaktu libur, tapi tugasku sebagai seorang single parent juga tidak bisa kukesampingkan sehingga aku meminta Widya untuk lebih memahami kondisiku.

Gimana ya wid, aku terlanjur janji Raisa dampingi tugas sekolahnya, bisa nunggu agak siang nggak?” Tanyaku penuh harap

Pak Rendra relasi bisnis Ibu meminta untuk ditemui sekarang bu’, dan katanya tidak bisa ditunda, Pak Rendra tidak bisa menunggu lama karena penerbangannya ke Korea 3 jam lagi” Jawabnya

Ok, tunggu sebentar, 5 menit lagi saya hubungi kamu, saya berusaha bujuk Raisa dulu, semoga dia bisa memahami kondisi sekarang dan temui Pak Rendra, jelaskan padanya kalau aku memohon untuk ditunggu sebentar saja” Ujarku dengan nada cemas dan segera menutup percakapnku dengan Widya

 

Di Garasi nampak Om Wiwin (supir pribadi Raisa) sudah siap mengantar kami ketempat tujuan, tetapi Raisa masih berbenah – benah di lantai 2 kamarnya. Rasa cemas mulai kurasakan tetapi aku masih bisa menarik nafas lega karena percakapanku tidak didengar oleh Raisa.

 

Raisa tampil sangat cantik dengan balutan serba pink ditambah dengan aksessoris topi bulu panda berwarna biru muda menutupi kepalanya yang dibalut dengan jilbab warna pink menambah kesan imut diwajahnya. Sembari bernyanyi kecil menuruni tangga dari lantai 2 dengan wajah yang sangat berseri, Raisa menghampiriku yang sedang menunggu di ruang tengah lantai 1. Meski aku berusaha bersikap tenang namun raut wajahku tidak bisa membohongi kalutnya pikiranku dan Raisa pun sangat menyadari hal itu.

“Bunda baik baik aja kan”? Tanyanya sambil memegangi keningku

“Kepala bunda tiba – tiba pening nih” Jawabku

“Yaaaah, bunda” Ucapnya sambil menghempaskan tubuhnya disofa sambil memelukku

“Raisa, sayang bunda nggak?” Tanyaku berusaha berfikir mencari cara untuk membujuk Raisa

“Sayang bunda, sangaaaaaaaat sayang” Ujarnya sambil memandangiku

“Jadi boleh dong, bunda minta sesuatu ke Raisa” Ujarku

Boleh bunda, bunda minta apaan?, minta dibeliin tas?, cincin?, Handphone baru? Raisa punya banyak tabungan bunda, entar Raisa beliin yang paling bagus?” Jawabnya dengan nada yang sangat polos

Bunda nggak minta semua itu sayang, bunda hanya minta Raisa memahami posisi bunda saat ini” Ujarku sambil memegangi kedua tangannya sembari menatap bola matanya yang sangat indah

“Bunda kenapa sih, aneh deh” Jawabnya

“Boleh nggak, kalau Raisa perginya dengan Om Wiwin saja” Ucapku perlahan dan dengan sangat lembut

Tiba – tiba Raisa melepaskan genggaman tanganku dan nampak bulir – bulir air matanya dikelopak matanya. Raisa terdiam dan segera membelakangiku, nampak tangan mungilnya menghapus air matanya yang mulai terjatuh. Entah menggambarkan seperti apa perasaanku saat itu, dan aku bingung mau berbuat apa.

 

Selama ini Raisa adalah anak yang sangat penurut dan tak pernah menuntut apapun dari aku. Raisa anak yang sangat hebat dengan berbagai prestasi disekolahnya terutama di bidang seni dan akademik sangatlah menonjol. Permintaan ini adalah permintaan pertamanya padaku, barangkali dia merasa kesulitan melakukannya sendiri sehingga terpaksa meminta bantuanku.

Ada sedikit masalah dikantor, mohon pahami posisi bunda, sayang” ujarku sambil membalikkan tubuhnya kearahku dan dia hanya menundukkan wajahnya. Nampak masih tersisa bulir air mata di sudut kelopak matanya.

 

“Nggak apa – apa kok bunda, kalau memang itu terbaik buat bunda, Raisa nggak apa – apa kok” Jawabnya

 

Lagi – lagi aku mengecewakan perasaannya, aku sangat memahami jawaban yang keluar dari mulutya bukanlah jawaban yang ada dihatinya, tetapi aku tidak punya pilihan lain.

 

“Maafin bunda, nggak menepati janji ya, sayang! tapi bunda janji bantu Raisa ditugas – tugas skolah yang lain” Jawabku berusaha menghiburnya

Nggak usah janji bunda, Raisa yang salah, terlalu berharap sama bunda sementara Raisa tau kalau bunda itu sangat sibuk, Raisa nggak mungkin paksa bunda kan?, Raisa pamit bunda” Jawabnya sambil mencium keningku dan segera berlalu.

 

Aku hanya bengong, jawabannya itu sangat menohok peraaanku, tetapi aku tidak ingin menambah beban pikirannya. Kurangkul tubuh mungilnya, dan mengantarkan ia masuk kemobil. Kukecup keningnya dan aku berusaha tersenyum padanya meski tak kutemui senyum manis diwajahnya namun aku berusaha untuk memahaminya. Berlahan Om Wiwin mulai meninggalkan garasi rumah, tanpa lambaian tangan seperti biasanya mereka pun berlalu dari hadapanku dan aku sangat memahami kekecewaan yang dirasakan Raisa. Disisi lain aku sangat bersyukur memiliki Raisa yang berhati sangat lapang dengan apapun keputusan yang kuambil.

************************

Sejenak kulirik jam yang melingkar dipergelangan tanganku waktu menunjukan pukul 07. 45 WITA saat ku parkir mobil dihalaman kantor. Nampak suasana kantor sepi, aku segera menuju lantai 2 dimana Pak Rendra menungguku. Di ruang tunggu terlihat Pak Rendra sedang memainkan ponselnya. Segera kumenghampiri dan menyapanya, dan Pak Rendra pun berdiri menyambutku

“Maaf telah membuat Pak Rendra menunggu lama” Ujarku sambil menjulurkan tanganku

“Tidak apa – apa, kebetulan penerbangan ke Korea 3 jam lagi terpaksa saya suruh Widya menghubungi Ibu Neta” Jawabnya sambil menjabat tanganku

“Oh, iyya silahkan duduk pak” Jawabku

“Iyya, terima kasih, dan maaf telah mengganggu waktu kebersamaan ibu dengan putrinya. Kebetulan kepergian saya ke Korea dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga saya memutuskan untuk menemui ibu, untuk membicarakan kelanjutan bisnis kita dan rasanya tidak etis menemui Ibu dirumah karena ini pekerjaan kantor” Jawabnya sembari tersenyum padaku

Tiba – tiba handphoneku berdering dan panggilan masuk dengan nomor yang tidak kukenal

Maaf Pak Rendra, saya angkat telepon dulu” Ujarku, yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Pak Rendra, dan aku segera berdiri menuju jendela kantor sambil memandangi halaman kantor

“Maaf, ini dengan ibu Neta”? Terdengar suara diujung sana

“Iyya, saya sendiri, ini dengan siapa?” tanyaku

Terdengar jawaban diseberang sana, Bagai tersambar petir mendengar jawaban itu, membuat dunia seketika gelap, air mataku tak mampu kubendung. Seluruh persendianku terasa lunglai dan tak mampu lagi menopang tubuhku.

cerbung.net

Raisa dan Raina

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2019 Native Language: Indonesia
Raisa dan Raina dilahirkan dikota sama, namun karena konflik keluarga mengharuskan Raisa meninggalkan kota kelahirannya. Namun siapa sangka masa kembali dipertemukan namun, melewati berbagai konflik. Sanggupakah Bunda Raisa dan Raisa melewati masa-masa sulitnya?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset