Reinkarnasi Dewi Keabadian Episode 12

Chapter 12

Li Quan tersentak saat mendengar kalau istrinya tengah mengandung. Hatinya mulai goyah hingga membuatnya menghentikan langkah.

“Li Quan, jangan dengarkan mereka! Mereka hanya ingin membuatmu ragu. Ayo, kita kembali ke Istana Langit!” Lelaki paruh baya itu berusaha mengajak Li Quan untuk tetap pergi, tapi melihat Zhi Ruo yang tampak ketakutan, dia mulai merasa khawatir.

“Apa kamu tidak percaya dengan ucapan kami? Baiklah, pergilah dan kami akan mengoyak tubuh istri dan juga anakmu hingga lumat. Apa kamu pikir siluman rubah yang lemah itu sanggup untuk melindunginya?” Ucapan salah satu makhluk hitam terdengar begitu berat dengan tatapan tajam yang mengarah pada Zhi Ruo.

“Suamiku, pergilah! Jangan hiraukan aku. Mereka hanya berdusta. Jangan percaya apa yang mereka katakan!”

Walau takut, Zhi Ruo berusaha tenang agar suaminya tidak berubah pikiran. Begitu pun dengan lelaki berjubah putih yang terus memaksa untuk segera meninggalkan tempat itu. “Ayo, kita tinggalkan tempat ini!”

“Tidak, Ayah! Maafkan aku!”

Li Quan lantas melayang di atas udara dan mendekati istrinya. Di saat bersamaan, dua makhluk hitam mendadak maju dan mendekat ke arah Zhi Ruo. “Mati kamu!” teriak dua makhluk yang mengarahkan serangan pada gadis itu.

Melihat Zhi Ruo akan diserang, Ling dengan sigap berdiri di depannya dan menghalang serangan dari dua makhluk itu. Seketika, tubuhnya terpental dengan darah segar yang keluar dari mulutnya.

“Ling!” seru Zhi Ruo yang berlari ke arah gadis yang kini merintih kesakitan sambil memegang perutnya.

“Nyonya.” Gadis itu merintih kesakitan, tapi dia berusaha untuk bangkit karena dua makhluk itu kembali mengarahkan serangan pada Zhi Ruo.

“Nyonya, awas!” pekik Ling saat sebuah sinar hitam mengarah pada tubuh Zhi Ruo, tapi Li Quan dengan sigap meraih tubuh istrinya dan melayang ke atas udara. Li Quan lantas membawa istrinya menjauh dari tempat itu

“Istriku, kamu baik-baik saja?” Li Quan terlihat khawatir dan menatap wajah istrinya yang kini tersenyum padanya.

“Jangan khawatirkan aku. Pergi dan bantu ayahmu! Makhluk itu sangat banyak dan jangan biarkan mereka mendapatkan kekuatan itu.”

“Istriku, apa benar kamu tengah mengandung?”

“Maafkan aku, tapi aku janji akan menjaganya hingga nanti kamu kembali. Jangan biarkan kami menjadi penyebab kemarahan semesta kepadamu. Aku ikhlas dan akan menunggumu kembali.” Zhi Ruo lantas memeluknya “Pergilah!” Zhi Ruo melepaskan pelukannya dan mengikhlaskan Li Quan untuk pergi.

“Tuan, pergilah! Kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka menyakiti Nyonya.” Ling yang baru saja datang kemudian membawa Zhi Ruo ke tempat persembunyiannya.

“Tunggu!” Li Quan lantas mendekati Zhi Ruo dan memeluknya erat. “Tunggu aku dan jaga anak kita. Istriku, aku mencintaimu.”

Zhi Ruo mengangguk. Li Quan lantas meninggalkan tempat itu dan menuju ke tempat di mana ayahnya sedang bertarung dengan makhluk hitam yang jumlahnya semakin bertambah.

Dengan leluasa, mereka bisa menembus hutan larangan karena butir mutiara yang menjadi wujud dari kekuatan maha dahsyat yang tertancap di dasar bumi telah tercabut dan itu membuat penangkal di hutan larangan ikut menghilang.

Walau lelaki berjubah itu adalah sosok seorang dewa, nyatanya dia cukup kewalahan menghadapi ratusan makhluk hitam yang semakin bertambah. Dia tidak menyangka, makhluk-makhluk hitam yang telah dikutuk di masa lalu mempunyai kekuatan yang cukup hebat.

Sebelum dikutuk, makhluk-makhluk hitam itu dulu adalah sepasang dewa dewi yang melakukan perbuatan terlarang di Istana Langit. Mereka adalah kakak beradik yang menjalin cinta terlarang. Karena perbuatan itu dianggap dosa besar dan tidak dapat diampuni, maka mereka dikutuk menjadi makhluk hitam menyeramkan dan dibuang ke bumi, hingga mereka mulai beranak pinak dan menjadi kumpulan yang sangat banyak. Belum lama ini, Li Quan telah membunuh ketua mereka karena berusaha menerobos masuk hutan larangan dan berniat mengambil kekuatan darinya.

Kekuatan yang dijaga oleh Li Quan, nyatanya membuat mereka bertekad untuk merebutnya. Mereka ingin menjadi kuat agar bisa membalaskan dendam ke Istana Langit atas pengusiran dan kutukan terhadap leluhur mereka.

Ratusan makhluk hitam tampak beringas melayangkan pukulan dan sinar hitam ke arah Li Quan yang baru saja datang membantu ayahnya. Kekuatannya yang kini telah pulih, membuat Li Quan dengan mudah membunuh makhluk hitam itu, hingga terdengar suara erangan dan rintihan kesakitan.

Walau seribu tahun dalam masa hukuman, nyatanya kekuatan Li Quan masih sehebat dulu. Lelaki dengan julukan Dewa Bulan itu terlihat tenang. Walau begitu, dalam ketenangannya tersimpan kekuatan yang sangat dahsyat.

“Li Quan, pergilah! Bawa mutiara itu dan serahkan pada ibumu. Jangan biarkan mutiara itu jatuh di tangan mereka!”

Lelaki paruh baya itu lantas merangsek maju dan melayangkan sebuah pedang yang tiba-tiba muncul dari tangannya. Lelaki itu cukup tangguh, hingga dengan mudah tebasan pedangnya menghantam makhluk-makhluk itu hingga berubah menjadi kepulan abu berwarna hitam yang beterbangan di udara.

Li Quan melayangkan pandangannya ke arah hutan di mana dia meninggalkan istrinya dan kembali memandangi ayahnya yang kini bertarung sendirian. “Maafkan aku, istriku. Aku pasti akan kembali padamu.” Seketika, dia menghilang dengan diiringi embusan angin yang sangat kencang, hingga membuat beberapa makhluk hitam yang mengarah padanya terpental.

Dalam sekejap, Li Quan sudah berada di depan pintu Istana Langit. Istana yang terlihat megah dengan pemandangan yang sangat indah kini terpampang di depan matanya.

Melihat kedatangannya, beberapa orang prajurit yang berdiri di depan pintu istana menunduk dan memberi hormat padanya. “Selamat datang, Tuan Li Quan.” Hormat mereka serempak. Tanpa peduli dengan mereka, Li Quan lantas masuk dan bergegas bertemu dengan ibunya.

Seorang wanita yang terlihat cantik tampak berjalan mendekatinya. Wajahnya menyunggingkan senyum dengan air mata yang perlahan membasahi pipinya. “Putraku!” Wanita itu memeluk Li Quan dan menangis dalam pelukannya.

“Putraku, kamu jangan meninggalkan ibumu lagi. Ibu sangat merindukanmu.”

Wanita itu memiliki kecantikan abadi dengan wajah yang tak pernah menua dengan rambut yang mulai memutih. Walau telah menua, tapi wajahnya tidak berubah sedikit pun. Dia adalah Dewi Bulan yang terkenal dengan kecantikan wajah yang abadi. Itulah mengapa, Li Quan memiliki wajah yang sangat tampan dan tak pernah berubah. Ketampanan wajahnya telah membuat penghuni Istana Langit menjadi iri.

“Ibu, maafkan aku, tapi aku harus kembali. Aku tidak bisa berada di sini terlalu lama. Ada hal penting yang harus aku kerjakan.”

“Putraku, apakah ibumu ini tidak penting bagimu? Urusan penting apa yang membuatmu tergesa-gesa dan ingin pergi meninggalkan Ibu?”

Ibunya terlihat kecewa karena Li Quan ingin segera kembali ke bumi. Wanita itu terlihat menghapus air matanya karena kerinduannya pada putra semata wayang yang baru saja ditemuinya.

“Maafkan aku, Ibu. Aku harus kembali karena aku harus menjaga …. ”

“Kakak!” Seorang gadis cantik tampak berlari ke Li Quan. “Kakak Li, aku sangat merindukanmu.” Gadis itu lantas memeluknya dengan erat. Wajahnya yang cantik tampak tersenyum bahagia saat memeluk lelaki yang sudah lama dia rindukan.

“Putraku, lihat Putri Mu Rong. Dia sangat merindukanmu. Apa kamu tega meninggalkannya setelah seribu tahun kalian tidak bertemu?”

Putri Mu Rong, anak dari Dewa Perang yang juga merupakan sahabat ayahnya. Gadis yang menjadi temannya sejak dia masih kecil. Gadis yang sudah disiapkan untuk menjadi pendamping hidupnya kelak.

“Kakak, kenapa Kakak hanya diam saja? Apakah Kakak tidak merindukanku?” tanya gadis itu yang terlihat manja.

“Mu Rong, maafkan aku, tapi setelah menyelesaikan urusan di sini, aku akan kembali ke bumi. Aku harus menemui istriku.”

Mendengar ucapan Li Quan, gadis itu terkejut. Begitu pun dengan ibunya yang kini menatap Li Quan dengan kecewa. “Putraku, apa yang kamu katakan? Istrimu? Bagaimana bisa seorang dewa menikah dengan manusia? Jika itu benar, itu berarti kamu sudah melakukan kesalahan yang fatal!”

Wanita itu terlihat panik karena jika diketahui oleh penghuni Istana Langit, maka Li Quan akan kembali dihukum.

“Kakak, jangan buat aku cemburu dengan candaanmu itu. Bukankah, kita akan menikah setelah masa hukumanmu berakhir? Tidakkah kamu ingat dengan perjanjian orang tua kita?” Gadis yang berparas cantik dengan rambut panjang yang disanggul untaian bunga di rambutnya itu menatap Li Quan yang berusaha menghindar darinya.

“Maafkan aku! Biarkan aku meletakkan mutiara ini di tempatnya. Setelah itu, aku akan pergi.”

“Kamu tidak akan pergi kemana-mana!” Li Quan terkejut dan menatap ayahnya yang kini berjalan ke arahnya. “Li Quan, dulu ataupun sekarang, kalian tidak akan pernah bisa bersama. Kamu tahu kalau manusia tidak akan pernah bisa menjadi bagian dari kita, tapi kenapa kamu bersikeras untuk tetap bersamanya?” Lelaki itu terlihat marah. Wajahnya yang teduh terlihat memerah karena menahan amarahnya.

“Itu karena aku mencintainya, Ayah! Apa Ayah tahu apa yang dilakukannya selama seribu tahun? Dia mencariku dalam setiap kelahirannya dan berharap bertemu denganku. Walau dia tahu aku adalah seorang dewa, dia tidak mundur dan mencintaiku tulus.”

“Li Quan!” Sebuah tamparan menghantam wajahnya. Lelaki itu menampar wajah Li Quan yang bergeming. “Jangan pernah membayangkan untuk kembali padanya! Sampai kapan pun kalian akan kami pisahkan. Tak hanya seribu tahun, bahkan sampai dunia hancur kami tidak akan membiarkan kalian bersatu!”

Li Quan terkejut mendengar ucapan ayahnya, seakan perpisahannya dulu dengan Zhi Ruo adalah suatu kesengajaan. “Apa maksud, Ayah? Jangan katakan kalau kalian sengaja memisahkan kami di masa lalu. Aku tidak akan memaafkan kalian jika itu benar-benar kalian lakukan! Li Quan menatap ayahnya dalam-dalam dan berharap apa yang dipikirkannya itu tidaklah benar.

“Putraku, maafkan Ibu. Itu semua memang sengaja kami lakukan demi kebaikanmu. Wanita itu hanya akan membawa bencana bagimu. Dia tidak pantas menjadi bagian dari kita.” Ibunya turut menambahkan hingga membuat Li Quan menjadi kecewa.

“Jadi, manusia-manusia laknat itu adalah perantara kalian untuk melukainya? Aku tidak menyangka kedua orang tuaku begitu tega padaku. Ayah, Ibu, apa karena itu juga kalian sengaja mengurungku di hutan larangan selama seribu tahun?” Li Quan melontarkan pertanyaan yang membuat hatinya kecewa.

“Li Quan, Ayah tahu kamu marah, tapi hanya itu yang bisa kami lakukan. Melihatmu dekat dengan wanita itu membuat kami sangat khawatir. Kamu terlahir bukan untuk hidup bersamanya karena kamu sudah ditakdirkan menjadi pemimpin para dewa. Itu sebabnya Ayah mengurungmu di hutan larangan karena hanya dirimu yang bisa mengendalikan kekuatan itu. Andai saja ada yang mampu mengendalikannya selain dirimu, Ayah tidak akan sekejam ini padamu. Bahkan, Ayah hampir mati karena berusaha mengendalikan kekuatan itu. Jika kekuatan itu jatuh di tangan yang salah, maka Istana Langit akan hancur. Itulah sebabnya Ayah memisahkan kalian.”

Penjelasan ayahnya membuat Li Quan diam tanpa bisa berkata apa-apa. Dia seakan dipaksa untuk menerima alasan yang diucapkan ayahnya. Alasan yang tak bisa diterima oleh perasaannya. Perasaan yang tidak ingin kehilangan cintanya. Namun, dia tidak bisa egois karena kelangsungan Istana Langit kini ada di tangannya.

Li Quan dibuat bimbang dengan keputusan yang harus diambilnya. Janji untuk segera kembali pada kekasih hati kini terhalang dengan kewajibannya sebagai penerus Istana Langit. Hatinya terikat antara dua pilihan, yaitu cinta dan tahta.

“Putraku, lupakanlah dia dan jalanilah kewajibanmu di Istana Langit. Putri Mu Rong akan setia menemanimu memimpin istana ini. Ibu mohon padamu, sekali ini saja turuti permintaan Ibu.” Wanita itu berusaha untuk membujuk Li Quan yang kini merenung di dalam kamarnya.

Li Quan menatap ibunya dan menggenggam tangannya dengan air mata yang menggantung di pelupuk matanya. “Ibu, apa Ibu sanggup untuk melupakan aku?”

“Putraku, apa yang kamu katakan? Bagaimana mungkin orang tua bisa melupakan anaknya.”

“Itu yang kini aku rasakan, Ibu. Istriku tengah mengandung anakku dan apa pantas aku melupakan mereka?” Air mata yang menggantung kini jatuh membasahi pipinya. Li Quan terlihat sedih hingga membuat ibunya menangis.

“Apakah Ibu tidak kasihan pada cucu Ibu sendiri? Anak itu adalah darah dagingku, cucu Ibu dan aku malah meninggalkan mereka. Apa aku pantas disebut sebagai seorang ayah?”

Mendengar tangisan anaknya, wanita itu turut menangis. Dia tahu bagaimana perasaan anaknya kini. Sebagai orang tua, dia tahu bagaimana sakitnya kehilangan seorang anak. Dia tahu bagaimana kerinduan yang dia rasakan saat perasaan rindu muncul pada anaknya itu.

“Maafkan Ibu, Nak! Kami terlalu egois hingga mengorbankan perasaanmu, tapi tidak ada jalan lain selain memisahkan kalian. Putraku, jika dia adalah anakmu, dia juga cucu kami dan kamu tidak perlu khawatir karena dia memiliki darah seorang dewa. Dia akan menjadi anak yang kuat dan tidak akan bisa dibunuh oleh manusia atau pun makhluk jahat sekalipun. Ibu akan membantumu melindunginya asalkan kamu tetap ada di sini. Ibu juga tidak akan membiarkan cucu Ibu terluka. Ibu janji akan menjaganya.”

Dengan berat hati, Li Quan menerima syarat yang diberikan oleh ibunya. Asalkan istri dan anaknya selamat, dia rela jika mereka harus berpisah. Dia rela melepaskan kekasih hati yang sangat dicintainya demi menjaga keutuhan Istana Langit.

Dengan perasaan bersalah, Li Quan menyerahkan selembar surat pada ibunya untuk diberikan pada Zhi Ruo. Air matanya jatuh melepas kepergian ibunya yang pergi menemui istrinya itu secara diam-diam tanpa sepengetahuan siapa pun selain dirinya.

Kini, Li Quan hanya bisa menyesali diri karena takdir cintanya akan berakhir tragis. Walau dia sanggup untuk melawan takdir, tapi itu hanya akan membuat banyak pihak yang akan terluka. Biarlah dia yang menanggung perasaan bersalah dan berharap suatu saat nanti, takdir cinta akan berpihak padanya dan mempertemukannya dengan kekasihnya.


cerbung.net

Reinkarnasi Dewi Keabadian

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.   Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan....Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera dibaca ceritanya...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset