Reinkarnasi Dewi Keabadian Episode 25

Chapter 25

Suara ketukan terdengar di depan pintu kedai Padahal, saat itu hari sudah larut malam. Biasanya, Zhi Ruo tetap melayani pembeli atau orang yang ingin berobat walau mereka datang di tengah malam.

Kangjian segera membuka pintu dan di depannya berdiri seorang wanita setengah baya. Wajahnya terlihat khawatir. “Maaf, Tuan. Aku mohon bantuan Nyonya Zhi untuk memeriksa majikan saya. Maaf, saya datang di malam seperti ini karena majikan saya butuh penanganan dari tabib secepatnya.”

“Baiklah, sebentar biar saya beritahu Nyonya.” Baru saja Kangjian ingin menemuinya, Zhi Ruo dan Yi Yuen sudah terlihat berjalan ke arahnya.

“Ada apa?” tanya Zhi Ruo saat melihat wanita setengah baya yang tampak cemas.

“Nyonya, tolong ikut saya. Majikan saya sakit parah dan sudah berobat ke mana-mana, tapi penyakitnya tidak kunjung sembuh.” Penjelasannya membuat Zhi Ruo dan Yi Yuen segera bergegas. Yi Yuen mulai menyiapkan peralatan dan beberapa tanaman obat yang berhubungan dengan penyakit yang sudah dijelaskan oleh wanita tersebut.

Yi Yuen dan Zhi Ruo kemudian naik ke atas kereta kuda yang sudah disiapkan oleh wanita itu. Sementara Ling dan Kangjian tetap berjaga di kedai.

Setelah melakukan perjalanan hampir setengah jam, kereta kuda berhenti di depan sebuah rumah yang terlihat megah. Yi Yuen dan Zhi Ruo kemudian dipersilakan untuk turun dan dituntun menuju salah satu ruangan yang ada di dalam rumah itu. Yi Yuen memerhatikan sekitar rumah yang terlihat luas. Walau sesekali dia bisa melihat penampakan makhluk halus yang menempati beberapa tempat di rumah itu, tapi dia tidak terlalu peduli karena roh-roh itu tidak memiliki aura jahat di wajah mereka.

Di depan pintu sebuah kamar, mereka berhenti. Wanita setengah baya yang menuntun mereka lantas membuka pintu dan mempersilakan mereka untuk masuk. Zhi Ruo dan Yi Yuen masuk perlahan setelah wanita itu masuk terlebih dulu. Di atas tempat tidur, mereka melihat seorang lelaki berbaring dengan tubuh yang ditutupi selimut.

“Tuan, aku sudah membawa tabib untuk memeriksa Tuan.”

Wanita itu lantas mendekat ke arah lelaki tersebut yang perlahan membuka matanya. Wanita itu lantas mendekatkan telinganya di dekat mulut lelaki itu. Setelah beberapa saat, wanita itu mempersilakan Zhi Ruo dan Yi Yuen untuk memeriksa keadaan majikannya.

“Nyonya, Tuan meminta Anda untuk memeriksa kondisinya.”

Sebelum Zhi Ruo mendekat ke arahnya, dia sempat mendengarkan penjelasan tentang penyakit lelaki itu melalui wanita tersebut dan akhirnya dia tahu kalau lelaki itu telah menderita penyakit aneh selama hampir dua bulan ini. Walau sudah berobat di setiap tabib yang ditemuinya, penyakitnya itu tetap tidak bisa disembuhkan. Dan wanita itu menjelaskan kalau dia mendengar kabar kalau ada seorang tabib wanita yang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Karena itu, dia berusaha mencari tahu tempat tinggal tabib itu dan akhirnya berhasil menemukan tabib tersebut, yaitu Zhi Ruo.

Melalui penjelasan wanita itu, diketahui kalau majikannya telah kehilangan suaranya dan hanya bisa berbisik di telinga agar suaranya bisa terdengar. Tak hanya itu saja, tubuhnya pun sudah tidak mampu untuk digerakkan. Mereka bahkan tidak tahu apa yang menyebabkan majikannya itu kehilangan suara dan pergerakan tubuhnya.

Zhi Ruo kemudian mendekat ke arah tempat tidur dan melihat ke arah lelaki itu. Untuk sesaat, dia terkesiap menatap wajah lelaki itu yang samar-samar dikenalnya. Begitu pun dengan lelaki itu yang juga terkejut, hingga membuat matanya melebar saat menatap Zhi Ruo yang berdiri di depannya. Seketika saja, mulutnya bergerak seakan ingin mengucapkan sesuatu. Begitu pun dengan tangannya yang seakan berusaha meraih tangan Zhi Ruo yang berdiri tak jauh darinya.

“Apa yang terjadi denganmu?” tanya Zhi Ruo sambil duduk di dekat lelaki itu. Zhi Ruo lantas memeriksa denyut nadinya dan dia merasakan nadi yang berdenyut tak beraturan. “Tenanglah, aku akan berusaha mengobati penyakitmu.”

Tiba-tiba saja, entah kekuatan darimana, lelaki itu lantas menggerakkan tangannya dan berusaha meraih tangan Zhi Ruo. “Zhi Ruo,” ucapnya pelan dengan air mata yang jatuh dari kedua sudut matanya.

Wanita setengah baya yang merupakan pelayan dari lelaki itu terkejut saat mendengar majikannya mengucapkan nama wanita yang kini duduk di depannya. Bahkan, tangan lelaki itu kini menggenggam tangan Zhi Ruo dengan erat.

“Nyonya, terima kasih. Ternyata nama yang sering disebut-sebut oleh Tuan adalah nama Nyonya.”

Mendengar ucapan wanita itu, Yi Yuen merasa heran. Selama ini, dia tidak pernah mengetahui kalau ibunya pernah dekat dengan lelaki mana pun. Bahkan, siapa ayahnya dan keberadaan ayahnya saja tidak diketahui olehnya.

Setelah memeriksa, Zhi Ruo lantas meminta Yi Yuen untuk meracik tanaman obat yang sudah dia siapkan. Yi Yuen lantas menuju dapur dan diantar oleh wanita yang menjemput mereka. Suasana di dalam rumah terlihat sepi. Bahkan, di dalam dapur tidak terlihat aktivitas apa pun. Suasana terlihat lengang.

Setelah mengantar Yi Yuen ke dapur, wanita itu buru-buru pergi dan Yi Yuen bisa merasakan ada aura aneh di dalam dapur itu. Tanpa peduli dengan keadaan di dapur, dia lantas merebus tanaman obat. Tak berapa lama, dia selesai dan meletakkan air rebusan obat di dalam sebuah gelas keramik.

Sebelum dia membawa obat itu ke kamar, dia sengaja mengalihkan pandangannya ke tempat lain sambil memeriksa sisa tanaman obat. Itu sengaja dia lakukan karena dia melihat siluman ular yang sedari tadi memerhatikannya. Siluman ular yang berwujud seekor ular berkepala seorang wanita tampak meliuk dan bergerak mendekati seduhan tanaman obat yang ada di dalam gelas.

Yi Yuen berpura-pura tidak melihatnya dan duduk di kursi sambil menyiapkan potongan beberapa buah apel yang sudah dikupasnya. Siluman ular itu semakin mendekat dan dari mulutnya keluar cairan berwarna hitam yang dia muntahkan ke dalam gelas yang berisikan ramuan obat. Begitu pun dengan potongan buah yang sengaja Yi Yuen biarkan begitu saja. Cairan hitam itu kembali dimuntahkan ke dalam potongan buah dan di pandangan Yi Yuen, cairan hitam itu telah mengubah warna buah apel yang semula putih menjadi berwarna hitam.

“Oh, jadi kamu yang selama ini memuntahkan racunmu ke dalam makanannya?” tanya Yi Yuen yang kini menatap ke arah siluman ular yang telah berubah menjadi seorang wanita cantik.

Wajah wanita itu tersenyum sinis dengan sesekali menjulurkan lidahnya layaknya seekor ular. Matanya menatap ke arah Yi Yuen seakan tak menyangka kalau gadis di depannya itu ternyata mampu melihat dirinya.

“Kenapa? Apa kamu pikir aku tidak mengetahui keberadaanmu?”

Tatapan mata Yi Yuen terlihat begitu tajam. Melihat tatapan mata gadis di depannya membuat siluman itu menjadi marah. Tiba-tiba saja, cairan berwarna hitam menyembur dari mulutnya dan mengarah pada Yi Yuen. Dengan cepat, Yi Yuen menghindar dan wanita itu kembali berubah wujud menjadi seekor ular yang sangat besar.

Ukuran ular itu cukup panjang dan besar. Ular yang berkepala seorang wanita itu tampak liar dan mengejar Yi Yuen dengan semburan cairan hitam. Namun, Yi Yuen tidak tinggal diam. Dia terus menghindar dari serangan ular yang tidak tampak di mata manusia biasa. Semua peralatan di dalam dapur hancur berantakan, hingga membuat wanita paruh baya terkejut bukan kepalang saat dia hendak mengambil rebusan obat dari Yi Yuen.

Dia terkejut saat melihat Yi Yuen melompat seakan ingin menghindar dari sesuatu. Bahkan, barang-barang di dalam dapur jatuh berantakan dengan sendirinya seakan ada yang mengenainya.

Karena takut, dia akhirnya lari meninggalkan tempat itu dan menemui Zhi Ruo di dalam kamar. “Nyonya, putri Anda …. ”

“Ada apa dengan putriku?” tanya Zhi Ruo sambil menatapnya.

“Dia … dia sepertinya sedang bertarung, tapi aku tidak melihat dengan siapa dia bertarung. Semua barang di dalam dapur hancur berantakan, padahal tidak ada yang menyentuhnya.”

Mendengar penjelasan wanita itu, Zhi Ruo hanya tersenyum tanpa mengucapkan apa pun. Dia tahu, saat ini putrinya pasti sedang bertarung dengan makhluk yang mengganggu di rumah ini. Dan benar saja, siluman ular itu adalah penyebab lelaki itu sakit dan terbaring hingga kehilangan suara dan tubuh yang tak bisa digerakkan. Dengan racunnya, dia membuat lelaki itu sakit dan tak berdaya.

Sementara Yi Yuen masih bertarung dengan siluman ular yang nyatanya semakin ganas. Wajah wanita setengah ular itu tampak geram karena lawannya hanya menghindar tanpa melakukan perlawanan.

“Kenapa? Apa kamu sudah lelah?” Yi Yuen tersenyum di depannya, hingga membuatnya semakin marah.

“Siapa sebenarnya dirimu? Lebih baik kamu pergi dari sini dan jangan campuri urusanku!” bentaknya sambil menyemburkan kembali cairan hitam ke arah Yi Yuen, tapi gadis itu segera menghindar.

“Aku tidak akan pergi sebelum aku menghabisimu. Namun, sebelum itu katakan padaku apa maksudmu memberikan racunmu itu pada pemilik rumah ini?”

“Aku tidak perlu memberitahumu karena percuma! Sebentar lagi kamu akan menjadi santapanku!” Siluman ular itu kembali meliuk dan menyerang Yi Yuen dengan pukulan ekornya yang terus menghantam ke arah gadis itu.

“Baiklah, sudah cukup aku bermain-main denganmu. Karena kamu tidak ingin memberitahuku, maka aku akan menghabisimu agar tidak ada lagi korban lain karena ulahmu itu!”

Tiba-tiba saja Yi Yuen bergerak sangat cepat. Awalnya, dia berdiri di depan siluman ular itu, tapi kini dia telah berdiri di belakangnya sehingga membuat kepala ular itu berputar dan bergerak ke belakang. Yi Yuen lantas meraih tusuk rambut pemberian ibunya yang berada di sanggul rambutnya. Tusuk rambut itu seketika mengeluarkan warna kebiruan dan berubah menjadi sebuah pedang.

Melihat gadis itu menggenggam sebilah pedang, dia terkejut. Pasalnya, tubuh gadis itu mengeluarkan cahaya kebiruan dan tatapan mata yang tajam mengarah padanya. Seketika saja, siluman ular itu berbalik arah dan ingin menghindar, tapi terlambat karena tebasan pedang di tangan Yi Yuen telah berhasil memisahkan setengah tubuhnya.

Suara erangan kesakitan dan liukan tubuh siluman ular semakin menjadi. Penggalan ekornya bergerak-gerak dengan cepat, tapi tak lama kemudian penggalan ekornya itu terdiam dan berubah menjadi serpihan abu.

“Siapa kamu? Kenapa pedangmu bisa menyentuh tubuhku? Siapa sebenarnya dirimu?” teriak siluman ular sambil berusaha menyerangnya kembali, tapi kekuatannya telah berkurang. Bahkan, dia sudah tidak mampu menggerakan tubuhnya, hingga tiba-tiba dia berteriak saat melihat setengah tubuhnya telah berubah menjadi abu.

“Tidak! Aku tidak boleh mati, tidak! Kamu … siapa sebenarnya dirimu?”

“Bukankah, aku sudah memperingatkanmu? Sekarang, sudah terlambat bagimu karena sebentar lagi kamu akan berubah menjadi abu.”

Yi Yuen tidak peduli dengan erangan wanita setengah ular yang kini meminta pengampunan. Sudah terlambat baginya untuk menyadari tentang siapa gadis yang menjadi lawannya itu. Karena di akhir hidupnya, dia baru menyadari kalau lawannya itu ternyata memiliki cahaya surga yang terpancar dari tubuhnya. “Cahaya itu. Apakah dia adalah Dewi Keabadian yang akan melenyapkan kejahatan dan menggoncang Istana Langit?” Itu adalah ucapan terakhirnya seiring tubuhnya yang berubah menjadi abu.

Perlahan, pedang di tangan Yi Yuen kembali berubah menjadi tusuk rambut dan diselipkan di sanggul rambutnya. Yi Yuen kemudian mengambil tanaman obat yang tersisa dan merebusnya kembali.

Di saat yang sama, dia bisa melihat dua sosok arwah yang menatapnya ketakutan dari balik pintu. “Tenanglah, aku tahu kalian tidak melakukan kejahatan. Sebaiknya, kalian jangan keluar dari rumah ini karena sebentar lagi kalian bisa bereinkarnasi.”

Mendengar ucapan Yi Yuen, keduanya tersenyum. Mereka adalah saksi di mana mereka bisa melihat kehebatan seorang manusia yang membasmi siluman jahat. “Nona, apakah benar Nona adalah …. ” Salah satu arwah mencoba untuk bertanya, tapi dia tidak berani melanjutkan pertanyaannya itu.

“Apa kalian sudah lama mendiami rumah ini?”

Keduanya mengangguk. “Rumah ini sudah lama kosong karena ditinggal mati pemilik lamanya. Pemilik yang baru telah membelinya dari salah satu kerabat pemilik yang lama. Baru dua bulan dia tinggal disini, dia langsung jatuh sakit karena sudah hampir dua bulan makanannya telah diracuni siluman ular itu.”

“Tapi, kenapa siluman ular itu ingin meracuninya? Memangnya, apa yang sudah dia lakukan?”

Kedua arwah itu saling memandang. “Siluman ular itu marah karena pemilik rumah yang baru telah menghancurkan sebuah bangunan kecil yang ada di halaman belakang karena banyak ular yang berkeliaran di sekitar bangunan itu. Dan juga, dia telah membunuh beberapa ekor ular yang ditemukannya. Ular-ular itu adalah anak-anak dari siluman ular tadi. Karena itulah, dia sengaja memberi racun di makanan pemilik rumah ini secara perlahan karena dia ingin melihatnya menderita sebelum akhirnya mati secara mengenaskan.”

“Oh, jadi begitu.”

Kedua arwah itu kemudian pergi setelah memberi penjelasan pada Yi Yuen. Rebusan tanaman obat lantas dibawa olehnya ke dalam kamar di mana ibunya sudah menunggunya. Saat dia membuka pintu, dia melihat lelaki itu sudah duduk dan menatap ibunya. Rupanya, kematian dari siluman ular itu telah membuat semua penyakit yang ada di tubuh lelaki itu seketika menghilang.

“Jadi, dia adalah putrimu?”

Zhi Ruo segera mengambil gelas berisikan air rebusan obat dari Yi Yuen dan memberikannya pada lelaki itu. “Minumlah, setelah itu kami akan pergi karena sepertinya kamu sudah sembuh.”

“Tunggu, aku ingin mendengarkan penjelasan darimu.”

“Maaf, tidak ada yang perlu aku jelaskan. Aku akan meninggalkan beberapa tanaman obat untuk kamu minum.”

Zhi Ruo meraih tangan Yi Yuen dan mengajaknya untuk keluar dari kamar itu. Namun, langkah mereka terhenti saat lelaki itu mengatakan sesuatu yang membuat Yi Yuen terkejut.

“Apa dia adalah anak dari makhluk mengerikan yang sudah menyembunyikanmu di dalam hutan waktu itu?”

cerbung.net

Reinkarnasi Dewi Keabadian

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.   Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan....Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera dibaca ceritanya...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset