Reinkarnasi Dewi Keabadian Episode 37

Chapter 37

Kilasan peristiwa di masa lalu mulai terkuak. Qiang yang kini duduk di bawah pohon tampak bersandar dengan mata yang terpejam. Kilasan mimpi yang dialaminya sejak beberapa hari yang lalu akhirnya terjawab sudah. Gadis yang selama ini menangis di dalam mimpinya adalah Yi Yuen. Gadis setengah manusia dan setengah dewa itulah yang selalu hadir di dalam setiap mimpinya.

“Jika kamu adalah orang yang sama di dalam mimpiku, aku berharap tidak akan melihatmu menangis seperti itu lagi. Tangisanmu sudah menyiksa batinku hingga membuat hatiku terluka. Yi Yuen, andai ini adalah takdir kita, aku bersumpah akan melindungimu agar kamu tidak akan menangis lagi di depanku.”

Pemuda itu kemudian bangkit dan kembali ke kedai. Wujudnya telah kembali menjadi bocah lelaki yang kini tersenyum saat melihat Yi Yuen tersenyum di depan ibunya. Melihat dia datang, Yi Yuen berjalan ke arahnya dan meraih tangan mungil bocah itu dan membawanya ke halaman belakang.

“Kamu dari mana saja? Lain kali, kalau mau pergi bilang dulu padaku. Apa kamu tidak berpikir kalau kami sangat mengkhawatirkanmu?” Yi Yuen terlihat kesal dan mengucek rambut bocah itu dengan kasar. “Jika kamu pergi lagi tanpa pamit, aku tidak akan peduli lagi padamu, mengerti!”

Yi Yuen berjalan meninggalkan bocah yang kini tersenyum menatap kepergiannya. “Aku tidak akan meninggalkanmu. Apa pun yang terjadi, aku pasti akan selalu ada di sampingmu. Yi Yuen, aku berharap engkau dapat mengingat diriku kembali.”

Saat matahari mulai senja, Wang Wei datang bersama kereta kuda dari istana. Lelaki yang tampak gagah itu kemudian menemui Yi Yuen dan Zhi Ruo yang sudah menyambutnya di depan pintu.

“Bibi, maafkan aku karena kedatanganku yang tiba-tiba. Aku sengaja datang membawa kereta karena ingin menjemput Bibi dan Yi Yuen ke istana. Salah satu pangeran muda mengalami penyakit yang cukup serius.”

“Memangnya, dia menderita penyakit apa?” tanya Yi Yuen penasaran.

“Aku tidak bisa menceritakannya di sini. Sebaiknya, kalian melihatnya sendiri.”

Zhi Ruo dan Yi Yuen akhirnya berkemas dan menyiapkan keperluan mereka. Kedua wanita itu lantas naik ke atas kereta yang sudah disiapkan oleh Wang Wei dan berjalan perlahan meninggalkan kedai.

Di depan gerbang istana, kereta berhenti. Kedua wanita itu kemudian turun dan dituntun menuju sebuah ruangan di mana pangeran muda itu berada. Istana yang megah itu tampak sunyi saat mereka melintasi beberapa ruas jalan. Suasana terlihat mencekam, hingga membuat Yi Yuen menatap ke beberapa sudut di tempat itu, tapi dia tidak menemukan aura jahat yang berkeliaran di sekitar tempat itu.

“Apa kamu merasakan sesuatu?” tanya Wang Wei yang berjalan di samping Yi Yuen. Gadis itu menggelengkan kepalanya. Namun, langkahnya perlahan terhenti saat melintas di pelataran halaman di mana sebuah pohon sakura yang berdiri tegak.

“Ada apa? Apa kamu sudah merasakannya?” tanya Wang Wei yang kembali penasaran.

Yi Yuen melihat ke arah pohon itu. Pohon yang sudah berdiri sejak pangeran muda itu lahir ke dunia. Pohon yang ditanam oleh permaisuri yang merasa bahagia karena telah melahirkan seorang putra.

Yi Yuen melihat aura yang sangat kuat berada di pohon itu, tapi dia tidak melihat sosok dari pemilik aura itu. Tiba-tiba, mereka dikejutkan dengan pintu ruangan yang terbuka. Seorang tabib istana tampak lari keluar dari ruangan dengan wajah ketakutan. Begitu pun dengan dua orang pelayan yang lari, hingga menabrak Yi Yuen yang kini berdiri di depan pintu. Melihat keributan itu,Yi Yuen segera masuk dan disusul oleh Wang Wei yang berdiri di sampingnya.

“Apa yang sudah terjadi di ruangan ini?” Wang Wei terkejut saat melihat kondisi ruangan yang hancur berantakan. Meja dan kursi tergelatak tak beraturan. Ramuan obat yang dibawa oleh tabib berserakan di atas lantai.

“Wang Wei, segera keluar dari ruangan ini dan bawa ibuku pergi dari sini. Setelah aku selesai dengannya, barulah kalian boleh masuk. Cepat pergi!”

Tanpa bertanya, Wang Wei keluar dari ruangan itu dan membawa Zhi Ruo pergi. Sementara Yi Yuen, kini telah berhadapan dengan sesosok wanita yang menyerupai seekor rubah. Wanita siluman rubah yang sudah mendiami pohon sakura sejak dulu.

Wanita yang kini berubah menjadi rubah berekor delapan itu menatap Yi Yuen dengan matanya yang memerah. Kedelapan ekornya itu meliuk-liuk seiring suara desis yang keluar dari mulutnya. “Rupanya, ada juga manusia yang berani menghadapiku. Hei, dukun! Pergi ikuti temanmu itu dan keluarlah dari sini karena aku tidak ingin diganggu!”

Yi Yuen hanya tersenyum mendengar ucapan siluman rubah itu. Dengan santainya, dia berjalan mendekati tubuh pangeran muda yang terbaring tak berdaya. Pemuda yang seumuran dengannya itu tampak membuka matanya dan melihat Yi Yuen yang menyentuh pergelangan tangannya.

“Jangan sentuh dia!” Siluman rubah itu berteriak dan menyerang Yi Yuen saat tangannya menyentuh pergelangan tangan pemuda itu.

Dengan cepat, Yi Yuen menghindar saat siluman rubah itu mendekatinya dengan menghantamkan serangan tenaga dalam ke arahnya. Melihat gadis itu dapat menghindar dari serangannya, siluman itu semakin marah dan beringas. Cahaya kuning berkekuatan dahsyat kembali dilancarkan ke arah Yi Yuen yang berdiri tak jauh darinya, tapi lagi-lagi serangannya itu gagal hingga membuatnya semakin murka.

Cahaya kuning berkuatan cukup dahsyat itu terus diarahkan pada Yi Yuen yang selalu menghindar. Sekuat apa pun siluman itu melancarkan serangan, maka serangan itu selalu dipatahkan oleh Yi Yuen.

“Sebaiknya, kamu tinggalkan pangeran muda dan jangan pernah lagi mengganggunya. Aku tahu kamu bukanlah siluman jahat, karena itu pergilah dan lepaskan pangeran muda,” ucap Yi Yuen saat siluman itu berhenti melancarkan serangan.

“Pergi? Tidak! Sampai kapan pun aku tidak akan pergi meninggalkannya. Dia tidak akan pernah kalian sentuh karena aku tidak akan mengizinkannya. Enyahlah kamu dari sini!” Siluman itu kembali menyerang, kali ini dia mengeluarkan senjata andalannya berupa sebuah cambuk yang menghancurkan apa saja yang ada di depannya.

Melihat siluman itu yang melancarkan serangan membabi buta, Yi Yuen tidak tinggal diam. Tusuk rambut yang menancap di sanggul rambutnya lantas diraih olehnya dan seketika berubah menjadi pedang yang memancarkan warna kebiruan. Siluman itu terkejut saat melihat pedang yang ada di tangan Yi Yuen, hingga membuatnya mundur ke belakang. Cambuk di tangannya tiba-tiba menghilang.

Siluman itu seakan mati langkah saat melihat Yi Yuen yang kini berdiri di depannya. Seketika, siluman itu bersujud di depan Yi Yuen sambil menundukkan wajahnya. “Maafkan aku, Dewi. Aku tidak tahu kalau yang aku hadapi adalah dirimu. Aku sudah mendengar desas-desus yang menyebut tentang kehadiranmu yang terlahir sebagai manusia. Aku mohon hukum aku karena sudah lancang menyerangmu.”

Siluman itu masih menunduk dengan rasa takut yang mulai menyelimuti wajahnya. Siluman yang hidup sejak seribu tahun lalu itu sangat tahu betul dengan kehebatan Dewi Keabadain yang tak kenal ampun jika berurusan dengan kejahatan yang melibatkan roh, siluman, dan penghuni Istana Langit yang melakukan kejahatan mau pun pemberontakan. Gadis muda yang tak termakan usia di masa lalu itu sangat terkenal hingga membuat siapa pun akan berpikir seribu kali jika ingin berurusan dengannya.

“Sekarang bangkitlah dan jelaskan padaku apa yang terjadi padanya.” Yi Yuen berjalan mendekati pangeran muda yang menatap ke arahnya. Pemuda itu mampu melihat dirinya, tapi tubuhnya tak mampu digerakkan, hingga membuatnya seperti seonggok tubuh tak berharga.

“Dia telah diracuni. Tubuhnya kaku dan tak bisa bergerak karena racun itu perlahan menggerogoti tubuhnya,” jelas siluman rubah yang kini telah berubah menjadi seorang wanita.

“Racun?”

Wanita siluman itu mengangguk. “Dewi, pangeran muda adalah salah satu pangeran yang lahir dari seorang permaisuri yang diakui. Dulu, saat pangeran muda lahir, permaisuri menanam pohon sakura di depan ruangan ini. Saat itulah, aku melihatnya menimang pangeran muda di dalam gendongannya. Dan secara tidak sengaja permaisuri melihatku. Tanpa sedikit pun rasa takut, permaisuri mendekatiku dan mengatakan padaku untuk selalu berada di sisi pangeran muda. Saat itu, aku mengangguk dan mengiyakan ucapannya. Hingga suatu hari permaisuri ditemukan tak bernyawa di dalam kamarnya. Aku tahu kematiannya bukan tanpa sebab, dia mati karena dibunuh. Dan kini, mereka mengincar pangeran muda karena dia adalah calon raja selanjutnya. Aku telah bersumpah untuk melindungi pangeran muda, tapi aku tidak mempunyai kemampuan untuk membunuh manusia, karena jika aku melakukannya, aku akan menghilang dan meninggalkan pangeran muda sendirian. Karena itu, yang bisa aku lakukan hanyalah dengan mengusir mereka untuk keluar dari ruangan ini.”

Yi Yuen mendengarkan dengan seksama. Tangannya kemudian meraba denyut nadi dari pangeran muda. Wajah pemuda itu tampak pucat dengan tubuhnya yang melemah.

“Apa kamu tahu sejak kapan dia diracuni?”

Wanita itu menggelang. “Aku tidak tahu pasti karena saat aku kembali dari pertapaanku, aku sudah melihatnya terbaring. Mereka sangat kejam padanya karena hampir setiap hari mereka datang membawakan racun yang aku pikir adalah obat. Awalnya, aku membiarkan mereka meminumkan ramuan itu padanya, tapi setiap hari kondisinya semakin memburuk, hingga akhirnya aku tahu kalau itu bukanlah obat, tapi racun.”

Yi Yuen bangkit dan mendekati cairan hitam yang tumpah di lantai kamar. Cairan berwarna hitam itu diraih dengan telunjuknya dan mendekatkan cairan itu ke hidungnya. Aroma tak biasa bisa dicium olehnya. Aroma racun yang tidak mudah dideteksi oleh sendok pendeteksi racun. Racun yang terkenal mematikan karena membunuh secara perlahan.

Tiba-tiba saja, pintu kamar terbuka. Seorang wanita yang mengenakan jubah permaisuri tampak masuk dan menatap Yi Yuen yang kini menatapnya. Di samping wanita itu, Wang Wei berdiri sambil memberinya isyarat untuk segera menunduk memberi hormat.

“Siapa kamu dan untuk apa kamu ada di kamar pangeran muda?” tanya wanita tersebut yang tidak suka dengan kehadiran Yi Yuen di tempat itu.

“Maafkan saya, Permaisuri. Saya adalah tabib yang dibawa untuk menyembuhkan penyakit Pangeran Muda.” Yi Yuen menundukkan setengah badannya, tapi tak lama dia mengangkat kepalanya dan kembali duduk di depan pangeran muda.

“Untuk apa kamu masih ada di sini? Pengawal, seret gadis itu keluar dari sini, cepat!” perintah wanita itu yang merupakan seorang selir yang diangkat menjadi permaisuri setelah ibu pangeran muda meninggal.

“Tapi, Yang Mulia, gadis itu adalah tabib yang terkenal di negeri ini karena mampu megobati segala macam penyakit. Mungkin saja pangeran muda bisa …. ”

“Diam! Siapa pun jangan ada yang menyentuh Pangeran Muda. Biarkan saja dia seperti itu karena dia memiliki penyakit yang mematikan. Apa kalian tidak mendengar perintahku?”

“Dia tidak menderita penyakit mematikan, tapi dia diracuni.” Yi Yuen bangkit setelah memeriksa pangeran muda.

“Aku dan ibuku bisa mengobatinya dan aku tahu siapa yang sudah meracuninya,” lanjutnya.

Wajah permaisuri memucat dan kembali memerintahkan pengawal mengeluarkan Yi Yuen keluar dari ruangan itu.

“Apa kamu bisa menyembuhkan penyakit anakku?” Seorang pria dengan mengenakan jubah raja tiba-tiba muncul dan berjalan mendekati Yi Yuen. Semua orang yang ada di tempat itu menunduk memberi hormat padanya, tak terkecuali permaisuri yang turut menundukan kepalanya.

“Hormat, hamba Yang Mulia.” Yi Yuen kini berlutut di depan lelaki paruh baya itu.

“Apa bisa kamu menyembuhkan anakku?” tanya lelaki itu kembali.

“Kami akan menyembuhkannya,Yang Mulia.” Zhi Ruo yang menjawab pertanyaan itu.

“Benar, Yang Mulia. Kami yang akan menyembuhkannya. Tak hanya itu, aku juga akan membongkar siapa saja yang telah berusaha membunuh Pangeran Muda dengan cara meracuninya.”

Permaisuri tampak ketakutan saat mendengar ucapan Yi Yuen. Karena dialah, otak dibalik pembunuhan terhadap permaisuri dan percobaan pembunuhan pada pangeran muda. Wanita egois itu menginginkan dirinya menjadi permaisuri dan putranya untuk naik tahta menjadi raja. Karena itulah, dengan berbagai cara yang licik, dia berusaha melenyapkan pangeran muda yang dianggap menghalangi rencananya itu.

Siluman rubah yang tadi menghilang saat permaisuri masuk, kini datang kembali setelah semua orang meninggalakn tempat itu. Di dalam ruangan itu, hanya ada Yi Yuen, Zhi Ruo, dan Wang Wei yang berjalan mendekati pangeran muda. Mereka telah mendapatakan izin dari raja untuk menyembuhkan pangeran muda.

“Putriku, rupanya racun ini sangat kuat. Jika kita salah dalam menanganinya, Pangeran Muda bisa saja mati. Tubuhnya terlalu lemah untuk menerima pengobatan penangkal racun, tapi jika dibiarkan, cepat atau lambat racun itu akan segera membunuhnya,” ucap Zhi Ruo setelah memeriksa pemuda itu.

“Wang Wei, bantu aku.” Yi Yuen meminta pemuda itu untuk mendudukkan pangeran muda. Kini, Yi Yuen sudah duduk di belakang pangeran muda itu sambil menyilangkan kedua kakinya. Kedua tangannya kemudian bergerak perlahan seiring cahaya biru yang keluar dari telapak tangannya. Seketika, tubuh pangeran muda bergetar hebat saat kedua telapak tangan Yi Yuen menyentuh punggungnya.

Saat ini, Yi Yuen sedang mengalirkan tenaga dalamnya untuk membuka aliran darah pangeran muda yang tersumbat akibat racun itu. Peluh membasahi dahinya. Begitu pun dengan pangeran muda yang bermandikan keringat dan tak lama kemudian pemuda itu memuntahkan darah hitam yang cukup banyak.

Yi Yuen segera menarik tangannya dari pundak pemuda itu. Napasnya memburu saat melihat pangeran muda yang sudah tergeletak di atas tempat tidur. Mulut pemuda itu penuh darah hitam, hingga membuat Wang Wei menyeka darah itu dengan kain.

Sementara Yi Yuen, masih bisa mengendalikan diri walau tenaganya cukup terkuras. Gadis itu kembali duduk bersila dengan kedua telapak tangan yang dirapatkan. Tubuhnya perlahan memancarkan cahaya kebiruan yang samar-samar mulai menghilang. Yi Yuen menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.

Sementara pemuda itu, kini menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Tangannya perlahan digerakkan seakan ingin menggapai Yi Yuen yang duduk tak jauh darinya. Hingga senyuman mulai terukir di wajah kaku pangeran muda karena kekagumannya pada sosok gadis cantik dan pemberani yang telah menyentuh hatinya.


cerbung.net

Reinkarnasi Dewi Keabadian

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.   Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan....Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera dibaca ceritanya...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset