Reinkarnasi Dewi Keabadian Episode 5

Chapter 5

Zhi Ruo terkejut saat wanita itu menatapnya. Wajah wanita itu terlihat cantik, tapi tatapan matanya begitu tajam.

Seorang pelayan yang sering membawa semua kebutuhan Zhi Ruo selama ini hanya berdiri di samping wanita itu sambil menunduk ketakutan.

“Jadi, dia wanita simpanan suamiku?” Zhi Ruo terkejut saat mendengar pertanyaan wanita itu.

“Maafkan saya, Nyonya. Tuan muda …. ” Pelayan itu terdiam saat sebuah tamparan keras menghantam wajahnya.

“Penjaga, penjarakan pelayan ini dan jangan beri dia makan dan minum selama 3 hari!” Wanita itu dengan tegas memberi perintah. Tanpa menunggu lama, dua orang penjaga lantas membawa pelayan itu pergi. Sambil menangis dan berontak, pelayan itu memohon pengampunan, tapi sama sekali tidak digubris olehnya.

Kini, tatapannya kembali tertuju pada Zhi Ruo. Ditatapnya wajah cantik yang nyatanya begitu membuatnya cemburu. “Apa karena gadis ini kamu tega mengkhianatiku?” Wanita itu membatin dengan kedua tangannya yang mengepal. Perlahan, dia melangkah masuk dan berjalan mendekati Zhi Ruo yang mulai melangkah mundur, hingga dia tersudut karena terhalang meja di tengah ruangan.

“Maaf, Nyonya. Sungguh aku tidak bermaksud untuk ada di sini. Aku dibawa paksa oleh tuan muda. Jika Nyonya mengizinkan, biarkan aku pergi dan kembali pada ibuku. Aku mohon, Nyonya!” Zhi Ruo berusaha untuk menjelaskan dan berharap wanita itu akan membebaskannya.

Tanpa berkata apa pun, wanita itu hanya tersenyum. Entah apa maksud dari senyumannya itu. Tiba-tiba, dua orang lelaki datang dan berdiri di depannya. “Maaf, Nyonya. Wanita ini tidak akan pergi ke mana-mana. Dia adalah tanggung jawab kami selama tuan muda pergi. Jadi, saya mohon agar Nyonya meninggalkan tempat ini.”

Mendengar ucapan lelaki itu seketika emosinya memuncak. Dengan geramnya, dia lantas menampar lelaki itu. “Penjaga, seret wanita ini dari sini!” Seketika empat orang penjaga menghampiri Zhi Ruo dan menariknya keluar dari dalam ruangan. Dua orang anak buah Zu Min tidak bisa melakukan apa pun karena beberapa orang penjaga telah mengepung mereka.

“Tuan, tolong aku! Jangan biarkan mereka membawaku, Tuan. Tuan!” Zhi Ruo mengiba di depan anak buah Zu Min sambil berontak dan berusaha melepaskan diri, tapi lagi-lagi dia tidak berdaya dan mereka hanya bisa menundukkan wajah tanpa bisa berbuat apa-apa.

“Bawa dia pergi dari sini dan bersenang-senanglah kalian dengannya. Setelah puas, bunuh dia dan buang mayatnya ke tengah hutan biar dimakan binatang buas! Aku tidak ingin suamiku bertemu dengannya lagi. Kalian paham?”

“Baik, Nyonya. Kami paham!”

Kedua matanya ditutup saat Zhi Ruo dibawa ke suatu tempat. Lima orang lelaki dengan wajah beringas tampak tertawa puas saat melihatnya menangis meminta pengampunan. Di atas kuda, dia dibaringkan seperti karung tak berharga. Walau menangis dan berontak mereka tak peduli, hingga mereka berhenti di hutan dan menurunkan tubuhnya. Penutup matanya lantas dibuka.

“Sekarang kami akan melepaskanmu, tapi sebelum itu ikutlah bermain dengan kami. Lari dan bersembunyilah dan kami akan mencarimu. Jika kami menemukanmu, maka jangan salahkan kami karena tubuhmu yang indah ini akan menjadi pemuas hasrat kami dan setelah itu beristirahatlah dengan damai di hutan ini. Jadi, berusahalah dengan keras agar kami tidak menemukanmu. Ayo, lari dan sembunyilah!” Kelima orang itu lantas tertawa saat menatap Zhi Ruo yang mulai berlari meninggalkan tempat itu.

Walau sudah berlari dan berusaha menghindar dari kejaran mereka, tapi Zhi Ruo tidak berdaya karena kelima lelaki itu masih berada di belakangnya. Bahkan, dengan mudah mereka bisa melihatnya dan tertawa saat dia jatuh berkali-kali. Zhi Ruo pasrah karena dia terlalu lelah untuk terus melarikan diri.

Kelima lelaki itu lantas turun dari atas kuda dan berjalan mendekati Zhi Ruo yang kini terduduk pasrah dengan keringat yang mangalir deras. Napasnya turun naik karena lelah berlari, hingga tiba-tiba tubuhnya diraih oleh seorang lelaki ke dalam dekapan. Wajah lelaki itu menyeringai sambil mendekatkan wajahnya ke arah wajah Zhi Ruo. Zhi Ruo berusaha berontak dengan memukul wajah lelaki itu, tapi lelaki itu hanya tertawa dan mendorong tubuh Zhi Ruo ke arah temannya. Zhi Ruo diperlakukan seperti mainan yang diperebutkan anak kecil.

“Ah, sebentar lagi hari akan gelap. Jadi, kita sudahi saja permaianan ini. Sebagai orang yang lebih senior dari kalain, aku berhak untuk menikmati tubuhnya terlebih dulu, setelah itu baru kalian.” Zhi Ruo kini ada dalam dekapan lelaki itu dengan tubuh yang mulai melemah.

“Ayo, sayang. Kita akan mulai bersenang-senang.” Lelaki itu lantas membawa Zhi Ruo menjauh dari keempat temannya dan meletakkan tubuh Zhi Ruo di atas semak. Wajahnya tampak bernafsu saat melihat keelokan tubuh Zhi Ruo yang kini tak berdaya. Tangan kasar lelaki itu lantas merobek paksa baju bagian atas Zhi Ruo hingga setengah tubuhnya hampir polos.

Terlihat wajahnya menyeringai dengan senyuman penuh nafsu, hingga dia kembali ingin melucuti baju yang dikenakan Zhi Ruo. Di saat tangan kasarnya ingin meraih baju Zhi Ruo, tiba-tiba saja lelaki itu tersungkur dengan luka tebasan di punggungnya hingga percikan darahnya terciprat ke semak-semak.

Melihat lelaki itu tersungkur tak berdaya, Zhi Ruo terkejut dan melihat seorang pemuda yang sangat dikenalnya perlahan mendekat ke arahnya. “Yuen!” Zhi Ruo menangis dan segera memeluk sahabatnya itu.

“Ayo, kita pergi dari sini!” Yuen lantas memapah Zhi Ruo yang melemah dan beranjak pergi dari tempat itu.

“Yuen, kenapa kamu bisa ada di sini? Kenapa kamu tidak menjaga ibuku?”

Langkah pemuda itu tiba-tiba terhenti. Wajahnya terlihat sedih. Walau begitu dia kembali melanjutkan langkahnya, tapi Zhi Ruo tidak ikut melangkah.

“Yuen, jujurlah padaku. Apakah ibuku sudah …. ” Zhi Ruo berucap dengan air mata yang tiba-tiba jatuh.

“Sudahlah, ibumu sudah tenang dan bahagia bersama ayahmu. Sekarang, kita pergi dari sini sebelum mereka menemukan kita.” Yuen lantas meraih tubuh Zhi Ruo ke atas punggungnya dan berjalan meninggalkan tempat itu.

Suara tangis Zhi Ruo begitu memilukan hingga membuat Yuen ikut menangis. Perlahan, kedua tangan Zhi Ruo mendekap erat di leher pemuda itu, hingga membuatnya bisa merasakan embusan napas Zhi Ruo di telinganya. “Bertahanlah, kita akan tinggalkan tempat ini. Aku janji akan menjagamu dan tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu.” Zhi Ruo mengangguk dan menyandarkan kepalanya di pundak pemuda itu.

Sementara keempat orang itu tampak naik darah saat melihat teman mereka telah tewas dengan luka menganga. “Cepat, cari perempuan itu dan bunuh dia!”

Mereka lantas naik ke atas kuda dan menyusuri hutan. Sementara Yuen tampak kelelahan, tapi dia terus memaksa untuk berjalan. “Yuen, turunkan aku. Biar aku berjalan sendiri. Kamu sudah terlalu lelah karena dari tadi menggendongku.” Zhi Ruo lantas turun dari punggung pemuda itu. Melihatnya, Zhi Ruo tersenyum dan meraih tangannya. “Ayo, kita pergi. Aku tahu hutan ini dan untuk sementara kita akan sembunyi di sini.”

Mereka terus melangkah hingga awan senja mulai tertutup langit malam. Senja di hutan itu terlihat sangat memukau. Warna jingga memenuhi langit dengan gurat keemasan yang perlahan tertutup awan hitam.

Sejenak, Zhi Ruo menghentikan langkahnya dan melihat ke arah hutan yang biasa dilaluinya. Seketika dia tersenyum dan meraih tangan Yuen untuk masuk ke dalam hutan yang bagi penduduk desa adalah hutan terlarang. Namun, baru saja dia melangkah, tiba-tiba Yuen tersungkur dengan anak panah yang menancap tepat di punggungnya. Seketika Zhi Ruo menatap sahabatnya itu yang kini tersungkur tak berdaya.

“Yuen!” seru Zhi Ruo sambil duduk di samping sahabatnya itu. Zhi Ruo meraih tubuh Yuen dan memeluknya erat. Sekilas, Yuen menatapnya dengan air mata yang jatuh di sudut matanya.

“Zhi Ruo, maafkan aku karena tidak bisa melindungimu. Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu. Aku akan menunggumu di kehidupan yang lain dan aku berjanji aku akan menjaga dan melindungimu dengan nyawaku. Aku mencintaimu, Zhi Ruo.” Tubuh Yuen yang sudah tidak berdaya lantas terjatuh ke tanah saat Zhi Ruo ditarik paksa oleh salah seorang lelaki yang mengejar mereka.

“Yuen! Yuen!” Zhi Ruo berteriak memanggil nama sahabatnya itu. Tangisannya begitu memilukan. Zhi Ruo berusaha berontak dan memandangi Yuen yang kini menatapnya nanar dan perlahan menutup mata untuk selamanya.

Zhi Ruo terus berontak dan menangis sejadinya. Dengan sekuat tenaga, dia akhirnya bisa melepaskan diri dan berlari menuju jasad Yuen yang kini telah kaku. Zhi Ruo menangis sambil menggenggam tangan sahabatnya itu, tapi sekali lagi dia ditarik paksa dan sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya hingga membuatnya terjatuh. Bukan hanya sekali, bahkan lelaki itu menamparnya untuk kedua kali hingga membuatnya terbaring tak berdaya.

Di samping jasad Yuen, Zhi Ruo terbaring dengan luka di sudut bibirnya. Tatapan matanya tak lepas dari wajah sahabatnya itu. Sambil merangkak, dia berusaha meraih tangan Yuen hingga dia menangis saat tangannya berhasil menyentuh tangan sahabatnya itu. “Yuen, aku akan menemanimu. Tunggu aku, kita akan pergi menemui ibuku.” Zhi Ruo lantas mencabut anak panah di punggung Yuen dan siap melesatkan anak panah itu ke arah dadanya, tapi niatnya itu terhenti saat lelaki berwajah beringas tiba-tiba menarik anak panah itu dari tangannya.

“Apa kamu pikir semudah itu kamu akan mati? Aku tidak akan membuatmu mati dengan mudah. Aku akan menikmati tubuhmu dan mendengarmu berteriak meminta tolong. Di dalam hutan ini tidak ada yang akan mendengar teriakanmu dan aku akan menikmati setiap teriakanmu itu.” Lelaki itu lantas mendekap tubuh Zhi Ruo dan melancarkan kecupan-kecupan liar ke wajahnya.

Zhi Ruo berusaha untuk berontak, tapi lagi-lagi tubuhnya didekap dengan erat hingga dia tak mampu untuk mengelak. Tubuhnya lantas dihempaskan di atas semak dan dengan gagahnya, lelaki itu mulai menggerayangi setiap bagian tubuh Zhi Ruo hingga membuatnya berteriak, “Bajingan kamu, lepaskan aku! Hentikan! Jangan sentuh aku!” Zhi Ruo masih berteriak, namun mereka hanya tertawa.

“Cepat lakukan! Aku sudah tidak sabar untuk merasakan kemarahannya. Aku suka dengan wanita agresif saat sedang bercinta.” Kembali mereka tertawa.

Zhi Ruo menangis dan hanya bisa pasrah saat lelaki itu perlahan merobek pakaiannya dan di saat lelaki itu ingin menikmati tubuhnya, tiba-tiba saja angin bertiup dengan kencang. Suara dahan dan ranting saling bergesek hingga menimbulkan suara yang menyeramkan. Suara gelegar petir menyambar dengan kilatan cahaya putih menghiasi langit hitam. Butiran-butiran air hujan kini turun semakkn deras.

Melihat keanehan itu, seketika mereka terkejut. Lelaki itu lantas bangkit dari atas tubuh Zhi Ruo yang tengah menangis. Dilihatnya sekeliling hutan dan mereka mulai menyadari kalau mereka telah masuk ke dalam hutan terlarang. “Apa kita telah masuk ke dalam hutan larangan?” tanya salah seorang di antara mereka sambil melihat sekeliling.

Tiba-tiba, kabut putih mulai menutupi pandangan mereka. Terlihat sesosok bayangan yang terang dengan cahaya yang menerangi sekujur tubuhnya.

“Siapa kamu?” tanya seorang lelaki sambil menebaskan pedangnya ke arah bayangan itu. “Tunjukan dirimu dan lawan aku!”

Lelaki yang terlihat sombong itu tiba-tiba terseret ke belakang hingga tubuhnya tersandar di batang pohon dengan benturan yang sangat keras. Darah segar seketika mengucur dari mulutnya. Dia terdiam saat melihat sosok bayangan hitam yang berdiri tepat di depannya.

“Siapa kamu?” Wajah lelaki itu memucat saat melihat wajah sosok yang kini berdiri di depannya.

“Pergi kalian dari hutan ini dan jangan pernah menginjakkan kaki kalian di rumahku ini lagi. Pergi!”

Suara itu terdengar menakutkan hingga lelaki itu kencing di celana. Pasalnya, wajah sosok itu terlihat menyeringai dengan tatapan mata yang merah dengan taring tajam yang mencuat keluar dari sudut bibirnya.

Sontak saja, lelaki itu lari meninggalkan teman-temannya yang juga lari meninggalkan tempat itu. Walau jatuh bangun dan kadang menabrak pohon, mereka tak peduli dan terus berlari hingga perlahan kabut mulai menghilang. Begitu pun dengan hujan yang sudah mulai mereda.

Bayangan itu lantas mendekati Zhi Ruo yang kini telah pingsan. “Apa nasib takdirmu seburuk ini?”

Sementara itu, Zu Min terlihat marah saat dia tidak melihat Zhi Ruo di kamarnya. “Cepat, cari Zhi Ruo dan bawa dia padaku! Kalau sampai dia terluka, kalian semua akan aku bunuh!” Zu Min begitu marah hingga membuat semua pelayan menjadi takut.

“Aku tidak akan pernah memaafkanmu dan lihat saja, jika dia tidak kembali padaku, maka aku akan menceraikanmu!” Zu Min berucap lantang tanpa peduli dengan ayahnya yang menatapnya geram.

“Apa karena wanita murahan itu kamu tega menceraikan istrimu? Zu Min, apa kamu ingin membuat ayahmu malu?”

“Aku tidak peduli, Ayah! Aku sudah lelah dengan kekangan dari Ayah. Aku tidak pernah mencintainya dan aku hanya mencintai Zhi Ruo.” Zu Min lantas keluar dari rumah dan mendapati keempat lelaki yang berlari ketakutan.

“Nyonya.” Salah satu dari mereka lantas mendekati istri Zu Min.

“Ada apa dengan kalian? Apa yang terjadi?”

“Wanita itu …. ”

“Ada apa dengannya? Apa yang sudah kalian lakukan padanya?” Zu Min tampak geram hingga mencengkeram leher lelaki itu.

“Bayangan hitam itu mungkin telah memakannya. Kami tidak tahu kalau kami sudah masuk ke dalam hutan larangan dan tiba-tiba makhluk mengerikan itu muncul. Mungkin saja wanita itu telah mati!”

Mendengar ucapan lelaki itu, Zu Min tersentak dan mendorong tubuhnya dengan kasar. “Tidak mungkin! Dia tidak boleh mati.”

Zu Min lantas pergi ke hutan larangan dengan menunggangi kudanya. Satu kotak perhiasan yang dibawanya untuk Zhi Ruo, jatuh berhamburan di atas tanah dan dia tidak peduli dengan perhiasan-perhiasan itu karena dia takut tidak akan bertemu lagi dengan wanita yang perlahan mulai membuatnya luluh dan jatuh cinta.

“Zhi Ruo, aku mohon, jangan tinggalkan aku!”


cerbung.net

Reinkarnasi Dewi Keabadian

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.   Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan....Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera dibaca ceritanya...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset