Reinkarnasi Dewi Keabadian Episode 53

Chapter 53

Sejak diangkatnya Putri Anchi menjadi penguasa Istana Khayangan, satu persatu peraturan mulai diubah. Semua itu dilakukan atas dorongan sang kakek yang menginginkan perubahan pada setiap peraturan yang dianggap tidak menguntungkan dirinya. Salah satunya adalah memegang kewenangan atas seluruh pasukan Istana Khayangan. Lelaki paruh baya itu memiliki hak untuk memerintah semua pasukan Istana Khayangan untuk melakukan apa yang diperintah olehnya.

Bahkan, dia mulai mengambil alih jabatan yang dirasa penting di Istana dan menurunkan pejabat yang dirasa tidak berpihak padanya. Lambat laun, satu per satu kursi jabatan mulai diduduki orang-orang kepercayaannya dan menyingkirkan pejabat yang dulu sangat mendukung Li Quan dan ayahnya.

Melihat perubahan itu, ayah Li Quan, yaitu Dewa Kebijaksanaan mulai merasa curiga. Dia tidak menyangka, sahabat sekaligus besan yang dulu sangat dia hargai, kini menjadi sosok yang sangat tamak. Dewa Perang menjadi sangat ambisi hingga tega memperalat cucunya sendiri demi kepuasan pribadinya.

Karena itu, Dewa Kebijaksanaan mencoba menemui Putri Anchi untuk membicarakan tentang beberapa keputusan yang dirasa berlebihan.

“Jadi, apa yang ingin Kakek bicarakan denganku?” tanya Putri Anchi saat Dewa Kebijaksaan menemui dirinya di ruangan pribadinya.

“Cucuku, Kakek hanya ingin menanyakan tentang beberapa perubahan peraturan yang sudah kamu ubah. Apa itu … ”

“Sudahlah, Kakek! Jangan ganggu aku dengan pertanyaan Kakek itu! Apa yang aku putuskan itu sudah terjadi dan aku tidak akan mengubahnya walau Kakek memintaku untuk melakukannya.”

Putri Anchi terlihat kesal hingga Dewa Kebijaksanaan merasa terpukul dengan ucapan cucunya sendiri yang membentaknya. Terlebih, saat Dewa Perang tiba-tiba datang. Sikap Putri Anchi tiba-tiba berubah dan lebih sopan pada lelaki itu. Sementara Dewa Kebijaksanaan hanya bisa terdiam melihat perlakuan Putri Anchi yang sangat berbeda pada Dewa Perang.

Dewa Kebijaksanaan akhirnya meminta undur diri. Wajahnya terlihat tenang tanpa sedikitpun rasa marah. Setidaknya, untuk saat ini dia mulai menyadari bahwa apa yang dikatakan istrinya ternyata benar. Dewa Perang bermaksud menguasai Istana Khayangan melalui tangan Putri Anchi, cucunya sendiri.

Di dalam ruangannya, lelaki berjubah putih itu terlihat duduk sambil menikmati secangkir teh yang disediakan oleh istrinya. Wajahnya tampak tenang, walau saat ini hatinya sedang gundah. Dewi Bulan yang duduk di dekatnya, tampak memehatikan suaminya itu.

“Suamiku, apa yang kamu pikirkan?” tanya Dewi Bulan dengan lembut.

Dewa Kebijaksanaan menyeruput teh melati dan kembali meletakkan cangkir teh itu di atas meja. “Aku sedang memikirkan Istana ini dan juga putra kita.”

Dewi Bulan tiba-tiba terlihat sedih. Walau dia telah mengikhlaskan kepergian Li Quan, tapi dia masih belum bisa melupakan putranya itu. Terlebih, saat dia tidak bisa melakukan apapun untuk mencari tahu perihal penyebab yang membuat dia kehilangan putranya.

“Suamiku, apa ada yang aneh di istana ini?”

Dewa Kebijaksanaan menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. “Apa kita akan membiarkan mereka mengontrol Putri Anchi untuk menguasai Istana Khayangan? Apa kita hanya bisa melihat tanpa melakukan apa-apa?” Kedua tangannya mengepal. Dia begitu marah, tapi dia tidak bisa melakukan apapun karena peristiwa masa lalu telah membuatnya memilih untuk diam.

Di masa lalu, Dewa Kebijaksanaan pernah diselamatkan oleh Dewa Perang. Tak hanya itu, sejak dulu mereka sudah berteman baik karena mereka adalah saudara seperguruan hingga menganggap hubungan mereka layaknya saudara. Karena itulah, Dewa Kebijaksanaan lebih memilih diam dan menerima apapun keputusan Dewa Perang. Namun, dia tidak bisa menerima kematian putranya dan membiarkan siapapun mengganggu keutuhan Istana Khayangan.

“Apa kamu mengkhawatirkan istana ini?” tanya Dewi Bulan. “Suamiku, tidakkah kamu berpikir kalau Yi Yuen lebih pantas menjadi pemimpin Istana Khayangan daripada Putri Anchi yang hanya menjadi boneka Dewa Perang?” lanjut Dewi Bulan antusias.

Dewa Kebijaksanaan hanya terdiam. Mendengar nama Yi Yuen, dia merasa sangat bersalah karena sudah memisahkan gadis itu dengan ayahnya sendiri. Seketika, wajahnya terlihat sedih hingga membuat Dewi Bulan mendekati suaminya itu.

“Apa kamu khawatir pada Yi Yuen?” tanya Dewi Bulan sambil menggenggam tangan suaminya.

“Apakah masih pantas kita bertemu dengannya? Dia pasti sangat membenciku.”

Dewi Bulan tersenyum dan membelai lembut wajah suaminya. “Percayalah padaku, dia tidak akan membenci kita. Aku yakin, dia pasti akan datang dan mengambil apa yang memang menjadi miliknya dan dia pasti akan membuat orang-orang yang memaksa ayah dan kekasihnya mati akan menanggung atas perbuatan mereka. Untuk saat ini, aku akan menunggu hingga saat itu tiba dan aku akan membantunya walau aku harus kehilangan nyawaku.”

Lelaki itu menatap Dewi Bulan dengan heran. “Istriku, apa maksudmu?”

“Selama ini, aku hanya diam melihatnya disakiti. Entah dulu atau kini, aku hanya diam, tapi aku tidak bisa selamanya diam. Karena itu, aku memintanya untuk menemui gurumu di Gunung Taishan.”

Sontak, Dewa Kebijaksanaan terkejut. “Istriku, apa yang kamu rencanakan? Apa kamu pikir, guruku akan menerimanya begitu saja? Jangankan Yi Yuen, aku saja tidak bisa bertemu dengannya apalagi gadis itu?”

Dewi Bulan tersenyum dan berusaha meyakinkan suaminya kalau Yi Yuen pasti bisa melakukannya.

Dan benar saja, saat ini Yi Yuen dan kedua sahabatnya sudah berada di Gunung Taishan. Gunung yang tidak terlalu tinggi itu terlihat subur dengan pepohonan yang menjulang tinggi.

Suasana di tempat itu terlihat asri. Suara gemericik air terdengar begitu merdu. Embusan angin meniup perlahan dan menerpa wajah mereka yang lelah dengan peluh yang membasahi dahi. Ya, saat ini, entah sudah keberapa kali mereka melintasi tempat yang sama. Mereka seakan dibawa berputar-putar mengelilingi tempat itu. Hingga menjelang malam, mereka masih saja tidak menemukan jalan menuju pucak gunung.

“Dewi, apa kita sekarang sedang dipermainkan penunggu gunung ini lagi? Kenapa kita selalu kembali ke tempat yang sama?” tanya Ling yang terlihat heran.

“Entahlah, tapi menurut apa yang tertulis dalam kitab ini, sepertinya kita sudah sampai, tapi … ”

Yi Yuen tiba-tiba terkejut hingga tidak melanjutkan kalimatnya. Di depannya, angin bertiup sangat kencang hingga membuatnya tidak bisa bergerak dari tempatnya berdiri. Dia berusaha meraih tangan Ling yang tiba-tiba ditarik paksa oleh sesuatu. Namun, dia tidak bisa melakukan apa pun saat melihat kedua sahabatnya itu menghilang di balik semak.

“Bibi! Kangjian!” Yi Yuen berteriak memanggil nama kedua sahabatnya itu. Angin yang semula bertiup kencang perlahan menghilang seiring menghilangnya kedua sahabatnya. Yi Yuen lantas berlari menyusuri semak belukar, tapi dia tidak menemukan mereka.

Hari yang mulai gelap membuat Yi Yuen kesulitan mencari keberadaan dua sahabatnya itu. Di bawah pohon, Yi Yuen berteduh sekadar untuk menghela napas sejenak. Dia merasa lelah karena sedari tadi mencari-cari kedua sahabatnya. Sekuat apapun dia mencari, dia tetap tidak bisa menemukan mereka.

“Bibi, Kangjian, kalian ada di mana?” gumam Yi Yuen yang terlihat sedih.

Yi Yuen menyandarkan tubuhnya di batang pohon hingga membuatnya tertidur sesaat. Di alam bawah sadarnya, dia memimpikan kedua sahabatnya itu yang dikurung dalam sebuah kerangkeng besi. Dan dia sempat melihat seorang lelaki tua yang menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam. “Tinggalkan gunung ini jika ingin melihat mereka hidup. Jika tidak, mereka akan menjadi arwah gentayangan di gunung ini!”

Yi Yuen tersentak hingga membuatnya terjaga. Dengan jelas, dia bisa mengingat sosok lelaki berjubah putih yang melihat tajam ke arahnya. Yi Yuen mengitari pandangannya dan dia mendapati hari mulai menjelang pagi. Sinar matahari mulai menyinari dedaunan yang basah.

Yi Yuen lantas bangkit dan melanjutkan perjalanan. Dia tidak peduli dengan mimpinya itu. Dia telah berjanji tidak akan meninggalkan dua sahabatnya walau akhirnya mereka bertiga harus mati. Dia tidak peduli lagi dengan tujuan asal mereka datang ke gunung itu karena tujuannya saat ini hanya untuk menemukan kedua sahabatnya.

Yi Yuen terus berjalan melewati jalanan yang cukup sulit. Dia tidak peduli dengan rintangan yang ada di depannya. Apapun akan dia lakukan, asalkan dia bisa menyelamatkan kedua sahabatnya itu. Dia tidak akan pergi sebelum menemukan mereka. Hingga akhirnya, dia tiba di atas puncak gunung.

Yi Yuen mengitari pandangannya dan dia tidak menemukan siapapun di tempat itu. Karena putus asa, Yi Yuen mulai berteriak memanggil nama kedua sahabatnya. Namun, lagi-lagi tidak ada jawaban. Hanya embusan angin yang meniup menerpa wajahnya seiring suara seorang kakek yang samar-samar terdengar. “Tinggalkan tempat ini, maka aku akan melepaskan mereka. Jika tidak, mereka akan mati di sini!”

Yi Yuen mencari-cari asal suara itu, tapi percuma. “Baik, aku akan pergi dari tempat ini, tapi aku mohon, keluarkan teman-temanku.” Yi Yuen memohon seiring air matanya yang jatuh.

“Baiklah, aku akan melepaskan mereka, tapi berjanjilah kalau kalian akan meninggalkan tempat ini dan tidak akan pernah kembali lagi.”

Sesaat, Yi Yuen terdiam. Namun, dia telah memutuskan untuk mengakhiri perjalanan itu demi keselamatan kedua sahabatnya.

“Baiklah, aku berjanji.” Kembali, air matanya jatuh karena bayangan wajah kedua orang tuanya dan Qiang melintas di pikirannya.

Tiba-tiba, dari balik semak, Kangjian dan Ling muncul bersamaan. Tak hanya mereka, terlihat seorang lelaki tua berjubah putih dengan jenggot dan kening yang telah beruban. Wajah lelaki itu terlihat tenang dan berkharisma. Yi Yuen menatap lelaki tua itu dan mengenali wajah rentanya. Wajah yang hadir di dalam mimpinya.

“Aku sudah bebaskan mereka, sekarang pergilah dari sini!” Lelaki tua itu berucap lantang.

“Tidak, Dewi! Kamu jangan pergi! Kalau kami berdua harus mati, kami rela.” Ling berusaha membujuk Yi Yuen agar tidak pergi meninggalkan tempat itu.

Yi Yuen bergeming. Dia sudah pasrah jika dia tidak bisa lagi membalaskan dendamnya. Dia luluh ketika kedua sahabatnya dihadapkan pada kematian hanya karena keegoisannya. “Maafkan aku. Aku tidak bisa membiarkan kalian mati hanya karena keegoisanku. Maafkan aku.” Yi Yuen menunduk dan berusaha menyembunyikan air matanya.

“Nona, jangan pedulikan kami. Kami rela jika harus mati di tempat ini asal Nona bisa membalaskan dendammu.” Kangjian tak luput untuk membujuk Yi Yuen, tapi tekad gadis itu telah bulat. Dia akan kembali dan melupakan balas dendamnya itu.

Melihat Yi Yuen yang sudah pasrah, Kangjian lantas berlutut di depan lelaki tua yang sedari tadi memerhatikan mereka. “Tuan, aku mohon bunuh kami, tapi biarkan Nona bertemu seseorang di tempat ini. Berikan dia kesempatan untuk menuntut balas atas kematian orang tuanya. Aku mohon, Tuan.” Kangjian berlutut dan menunduk hingga kepalanya menyentuh tanah. Begitupun dengan Ling yang melakukan hal serupa.

“Kalian tidak usah memohon, karena dialah orang yang akan kita temui,” ucap Yi Yuen pada dua sahabatnya itu. “Sebaiknya kita pergi dan lupakan balas dendam. Sudah cukup aku kehilangan Qiang dan kedua orang tuaku dan aku tidak ingin lagi kehilangan kalian. Bangkitlah, kita harus kembali.”

Lelaki tua itu masih memerhatikan mereka. Wajahnya yang tenang dan berkharisma tampak bersahaja. Melihat pengorbanan dan kesetiaan mereka, dia hanya bisa tersenyum di balik wajah yang terlihat datar. Karena itulah yang dia inginkan. Dia ingin melihat sejauh mana pengorbanan yang bisa mereka lakukan.

Yi Yuen, dengan ikhlas merelakan rasa dendam yang selama ini membuncah di dalam dadanya musnah hanya karena kedua sahabatnya itu. Dia tidak ingin mengorbankan kedua sahabatnya demi keegoisan dan balas dendamnya.

Sedangkan, Ling dan Kangjian telah pasrah jika mereka harus mati demi Yi Yuen, asalkan gadis itu bisa membalaskan dendamnya. Mereka rela menjadi tumbal asalkan lelaki tua itu mau menerimanya.

“Dewi, kami mohon urungkan niatmu untuk pergi. Kita sudah melalui segala rintangan selama perjalanan ini. Jika rintangan kali ini menuntut kami untuk mati, maka kami bersedia mati asalkan kamu tetap bertahan di tempat ini.”

Melihat perdebatan mereka, lelaki tua itu tetiba menghentikan dengan suaranya yang terdengar lantang. “Cukup!” Tempat itu bergetar saat suaranya menggema. “Jika kalian tidak akan pergi, maka kalian bertiga akan mati di tempat ini!”

Sontak, lelaki itu menyerang ke arah Ling dan Kangjian dengan gerakan menyerang yang sangat cepat. Melihat kedua temannya diserang, Yi Yuen lantas merangsek maju dan menghalangi serangan lelaki itu.

Kini, keduanya saling bertatapan. Mata tajam milik lelaki tua itu menatap dalam ke arah netra milik Yi Yuen dan disana dia bisa melihat kilasan kejadian yang telah menimpa gadis itu.

“Jika kamu masih ingin membalas dendam, maka pulanglah. Aku tidak akan mengajari seseorang yang memiliki rasa dendam dan kemarahan di dalam hatinya. Aku tidak ingin menciptakan seorang monster yang penuh dengan kebencian.”

Yi Yuen tersentak hingga membuatnya menitikkan air mata. Seketika, dia berbalik dan mendekati kedua sahabatnya itu. “Kita kembali dan lupakan tentang balas dendam.” Kedua sahabatnya terlihat sedih karena mereka tahu bagaimana perasaan Yi Yuen saat ini.

“Maafkan aku, tapi benar apa katanya. Aku terlalu berambisi untuk membalas dendam. Aku tidak ingin menjadi monster karena rasa dendam itu. Lebih baik, aku melupakannya dan mengikhlaskan kepergian mereka.” Yi Yuen tidak sanggup menahan air matanya dan melangkah pergi meninggalkan kedua sahabatnya itu.

Tanpa membantah, Ling dan Kangjian terpaksa mengikuti Yi Yuen dari belakang dan meninggalkan lelaki tua yang masih memerhatikan mereka. Wajah lelaki itu tersenyum dan tiba-tiba saja tubuhnya melesat dan berdiri tepat di depan Yi Yuen. “Aku akan menjadikanmu sebagai muridku.” Sontak, Yi Yuen menatap lelaki tua itu. “Aku akan membantumu, tapi bersihkan dulu hatimu dari kebencian, maka aku akan mengajarkan apa yang aku miliki kepadamu.”


cerbung.net

Reinkarnasi Dewi Keabadian

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.   Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan....Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera dibaca ceritanya...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset