Rumah Bercat Putih episode 1

Chapter 1

“ jadi kita pindah lagi…?”

Sebuah pertanyaan kini terucap di antara wajah wajah yang masih terdiam dalam ketidak percayaan, yaa..ini adalah untuk ketiga kalinya kami harus kembali berpindah rumah dikarenakan tuntutan pekerjaan yang bapak jalani

“ sampai kapan sih pak kita akan punya rumah yang enggak berpindah pindah lagi…” tanya dina sambil memainkan remote televisi di tangannya

Bapak hanya tersenyum kecil begitu medengar perkataan dina, sejujurnya mungkin apa yang telah dikatakan oleh dina tersebut adalah sebuah perwakilan dari rasa jenuh kami dalam menyikapi perpindahan yang selama ini telah beberapa kali kami alami.

Berbagai alasan kepindahan yang pernah bapak utarakan, sepertinya tidak bisa menepiskan keyakinan gue yang meyakini bahwa alasan perpindahan keluarga kami ini semata mata dilandasi oleh satu alasan utama yaitu bapak tidak bisa untuk hidup berjauhan dengan keluarganya terutama dengan mamah, iman bapak mungkin terlalu lemah jika tinggal berjauhan dengan mamah

“ ya seperti itulah….” gumam bapak yang seakan akan mengetahui dengan apa yang ada di dalam pikiran gue saat ini

“ lantas bagaimana dengan kuliah udin dan sekolah dina, sepertinya udin udah mulai merasa bosan pak..kalau harus beradaptasi lagi …” ucap gue sambil memainkan jari jemari kecil anin yang tengan berada di pangkuan mamah

“ jangan banyak mengeluh…bapak yang banting tulang cari uang saja enggak mengeluh..”

“ sudah…sudah…kalian ini seperti baru pertama kali pindah aja…” ucap mamah mencoba melerai perdebatan yang selalu saja terjadi disaat bapak harus kembali mengutarakan rencana perpindahan ini

Perkenalkan…gue samsudin..kalian boleh memanggil gue dengan panggilan sam ataupun udin.., seorang anak lelaki yang terlahir dari keluarga nomaden, dan disaat proses perpindahan keluarga gue ini, gue telah memasuki masa perkuliahan tingkat dua di salah satu universitas yang berada di kota malang, profesi bapak gue yang bekerja sebagai pengawas perkebunan, telah mengantarkan keluarga gue ini selalu berpindah pindah tempat tinggal mengikuti dimana bapak gue ditugaskan untuk bekerja, sedangkan mamah…mamah hanyalah seorang ibu rumah tangga yang pekerjaan sehari harinya selalu disibukan dengan tingkah laku unik dari anak anaknya. Gue mempunyai satu orang adik perempuan, tapi lebih tepatnya dua orang adik perempuan, yaitu dina dan anin, dina adalah adik perempuan gue yang berselisih usia empat tahun dengan gue, dan saat ini dina tengah menempuh pendidikan di salah satu sma yang berada di kota malang, sedangkan anin…anin adalah adik gue yang paling kecil, usianya baru memasuki tiga tahun, walaupun anin bukanlah adik kandung gue, tapi semuanya itu tidaklah mengurangi rasa kasih sayang gue kepada anin, kecelakaan yang telah merenggut kedua orang tua anin kini telah meninggalkan kelumpuhan pada kedua kaki anin, kebetulan ibu anin adalah adik kandung dari mamah

“ din…..”

“ sam mah….” jawab gue mencoba meralat panggilan mamah

“ udinnnnn…. !” panggil mamah kembali dengan suaranya yang meninggi, sepertinya mamah lebih menyukai memanggil nama gue dengan panggilan udin daripada harus memanggil gue dengan panggilan sam, mendapati panggilan mamah tersebut, kini gue mendapati keberadaan mamah yang tengah berdiri di dalam kamar gue dengan tatapan matanya yang tengah memperhatikan keberadaan pakaian gue yang masih berserakan di atas tempat tidur, dan sepertinya hal itulah yang menjadi alasan mamah untuk memanggil gue saat ini, dan benar saja begitu kini mamah melihat kehadiran gue di dalam kamar, mamah segera menumpahkan rasa kekesalannya atas kelalaian gue yang belum memasukan pakaian ke dalam tas

“ tinggal satu jam lagi kita berangkat din…cepat bereskan semuanya ke dalam tas…” perintah mamah lalu bergegas pergi meninggalkan gue yang masih terpaku dalam menatap pakaian yang berserakan diatas tempat tidur

“ ini nih…yang membuat gue malas kalau harus berpindah pindah lagi…” gerutu gue sambil membereskan pakaian lalu menyimpannya ke dalam tas besar, hingga akhirnya diantara keberadaan pakain yang semuanya telah gue masukan ke dalam tas, suara sapaan dina yang terdengar dari arah pintu kamar, kini telah membuat gue menolehkan pandangan mata ini ke arah dina

“ ehh lu kenapa na…kok wajah lu terlihat enggak bersemangat begitu sih…., ohh iya ngomong ngomong pakaian lu udah dimasukin ke dalam tas belum….?”

“ udah bang….”

Selepas dari jawaban dina tersebut, dina menghampiri gue lalu menghempaskan tubuhnya duduk di tepian tempat tidur

“ bang….”

“ apa na….?” tanya gue seraya mengarahkan pandangan ke wajah dina

“ gue bingung deh bang, setelah beberapa tahun yang lalu gue sakit hingga mengalami kejadian dimana sukma gue ini terasa keluar dari tubuh, gue sering banget merasa adanya sesuatu yang menyeramkan di sekitar gue, bahkan dalam beberapa bulan belakangan ini, mimpi mimpi yang gue alami juga terasa menyeramkan….” jawab dina seraya menghela nafas panjangnya

“ kok lu merasa bingung sih na..lu harus ingat dengan perkataan dokter yang mengatakan itu hanyalah bentuk dari rasa trauma lu akibat dari kejadian yang lu alami itu….”

“ lantas bang…mengenai perkataan orang pintar yang mengatakan bahwa kejadian yang telah gue alami itu akan membuat gue merasa peka dengan sesuatu yang bersifat ghaib…bagaimana…?”

“ duh na…masa iya lu harus percaya dengan perkataan orang pintar dibanding dengan perkataan dokter, udahlah…intinya lu harus menghilangkan sugesti dari orang pintar itu, yang membuat lu mempercayai bahwa lu merasa peka dengan sesuatu yang bersifat ghaib, karena hal itu hanya akan merugikan lu sendiri…buktinya sekarang ini lu sering bermimpi sesuatu yang menyeramkan….”

Mendengar jawaban gue tersebut, dina mengembangkan senyumnya, lalu beranjak pergi meninggalkan kamar

Hari ini adalah tepat tiga bulan setelah perdebatan akan rencana perpindahan itu, dimana pada hari ini keluarga gue harus meninggalkan kota malang untuk menuju ke sebuah tempat yang berada di wilayah jawa barat, yaa..sebuah tempat yang terkenal dengan hawanya yang dingin, sebuah tempat yang selalu hijau dengan pemandangan kebun teh nya dan sebuah tempat yang masih jauh dari kesan modern seperti layaknya kota kota besar di wilayah jawa barat lainnya

“ perasaan gue kok enggak enak ya bang…” selepas dari perkataanya itu, tatapan mata dina terlihat memandang lepas ke arah gugusan awan putih yang menggumpal laksana kapas

“ jangan mulai lagi deh na…lu merasa enggak enak bagaimana ? apa lu merasa ada yang aneh dengan pesawat ini…?” tanya gue dengan perasaan cemas, karena gue takut, apa yang tengah dina rasakan itu terhubung dengan keadaan pesawat dan gue tidak merasakannya

“ bukan itu bang…maksud gue pada lokasi yang akan kita tuju…”

“ maksud lu apa sih na…gue jadi enggak mengerti..”

“ maksud gue…gue merasa enggak enak aja bang…perpindahan kita kali ini terasa beda dengan perpindahan kita sebelumnya, udah ahh lupain aja….gue ngantuk…” ucap dina mengakhiri perkataannya lalu memejamkan matanya, dan kini diantara keberadaan dina yang telah memejamkan matanya, gue hanya bisa terdiam dalam sebuah lamunan guna memaknai akan maksud dari perkataan dina tadi, hingga akhirnya diantara rentang waktu yang terus berjalan, tanpa terasa pesawat yang kami naiki ini akhirnya mendarat secara mulus di bandara yang berada di wilayah jakarta

Setelah dua tahun lebih meninggalkan jakarta, gue sama sekali tidak melihat adanya perubahan pada kota besar ini, kota ini masih saja terbelit dalam permasalahan yang sama yaitu kemacetan lalu lintas, rumah rumah kumuh serta masih banyak lagi permasalahan yang sepertinya sangat sulit untuk diatasi.

“ untung bapak enggak dipindahkan ke jakarta ya…” gumam gue diantara kemacetan yang kini menjebak mobil yang kami naiki ini di sebuah antrian panjang lampu merah, hingga akhirnya setelah mobil yang kami naiki ini kembali melewati beberapa kemacetan yang ada, secara perlahan mobil perusahaan yang kami naiki ini mulai berjalan jauh meninggalkan kota jakarta

“ indahnya…” gumam gue kembali begitu mendapati pemandangan alam yang indah yang mengiringi perjalanan panjang gue ini, keberadaan dari sinar matahari yang terlihat mulai meredupkan cahayanya kini seperti memberikan efek hipnotis pada kedua kelopak mata gue ini untuk terpejam, hingga akhirnya secara perlahan gue mulai terbuai dalam sebuah mimpi indah akan adanya keberadaan sebuah desa di jawa barat yang akan menyambut kedatangan keluarga gue ini dengan segala pesona keindahan alamnya

“ ihhh bangun lu bang….coba lu lihat tuh…” tegur dina seraya berupaya untuk menyingkirkan kepala gue ini dari bahunya, entah sudah berapa lama gue tertidur dalam perjalanan panjang ini, tapi yang pasti disaat gue kini telah membuka pejaman mata ini, gue mendapati keberadaan hari telah beranjak malam, pemandangan dari kebun teh yang terhampar luas di sisi kanan dan kiri jalan, bagaikan sebuah lapangan luas yang berhiaskan gelombang ilalang hitam yang bergoyang mengikuti hembusan angin malam

“ tolong tutup jendelanya din….” pinta mamah diantara pergerakannya yang tengah mengenakan baju hangat ke tubuh anin

“ sudah sampai yaaa mah..?” tanya gue kepada mamah begitu telah menutup jendela mobil, terlihat mamah menganggukan kepalanya sebagai tanda bahwa kami memang telah memasuki kawasan desa yang menjadi tujuan utama dari perpindahan kami ini

“ malam ini pak dirja bermalam di mess dulu, besok pagi baru saya antarkan ke rumah yang bapak maksud…” ucap pak sujana yang merupakan supir dari mobil milik perusahaan yang tengah kami naiki ini, dan kini seraya melemparkan senyumnya melalui kaca spion yang berada di dalam mobil, pak sujana mulai mengarahkan mobil yang dikendarainya ke arah pintu gerbang utama yang terlihat di jaga oleh seorang penjaga keamanan

“ malam pak…saya mau antar pak dirja ke mess….” seiring dengan jawaban dari penjaga keamanan yang mempersilahkan mobil untuk kembali berjalan, pak sujana mulai menjalankan mobil memasuki jalan yang berukuran tidak terlalu lebar dan sepertinya hanya cukup dilalui oleh dua buah mobil secara bersamaan, andai saja malam ini adalah pagi hari tentu saat ini mata gue sudah di manjakan oleh pemandangan indah dari perkebunan teh yang ada di lokasi ini

“ ini messnya pak…” ucap pak sujana begitu telah memarkirkan mobil di halaman mess, dan kini dengan begitu cekatannya, pak sujana mulai mengeluarkan beberapa tas besar yang tersimpan di dalam bagasi lalu membawanya ke dalam mess, untuk sekedar gambaran, mess yang akan menjadi tempat kami menginap malam ini adalah sebuah mess perusahaan yang biasa dipergunakan oleh perusahaan untuk menampung tamu dari perusahaan

“ besok..kira kira jam berapa saya harus menjemput pak dirja…?” tanya pak sujana diantara kesungkanannya dalam menerima uang tanda terima kasih yang di berikan oleh bapak

“ mungkin sekitar jam delapan pagi, tapi mungkin sebelumnya saya harus mampir ke kantor dulu untuk bersilaturahmi sekaligus sebagai tanda hadir…” jawab bapak, hingga akhirnya setelah kembali berbincang bincang dalam beberapa topik pembicaraan yang lain, pak sujana berpamitan lalu beranjak pergi meninggalkan kami

“ enak ya pak…messnya bersih dan rapih..” ucap mamah sambil melihat keberadaan dua buah kamar yang ada di dalam mess

“ din…untuk malam ini…kamu tidur dengan bapak dulu, biar mamah kamu, dina dan anin tidur di kamar yang satu lagi….”

“ jangan jangan rumah yang akan kita beli nanti…kamarnya hanya dua seperti ini..kacau deh..” gerutu gue pelan seraya merebahkan tubuh di tempat tidur

“ enggaklah din…di rumah yang baru nanti ada satu kamar utama dan tiga kamar tambahan…bapak sudah pernah di kasih lihat sketsa rumahnya kok…nanti kita tinggal menempatinya…semua proses pembayaran sudah bapak selesaikan…” terang bapak sambil mengeluarkan handuk dari dalam tas, mendadak gue teringat akan perkataan bapak beberapa hari yang lalu yang menerangkan akan membeli rumah yang tidak terlalu jauh dari perkebunan tempatnya bekerja…sebuah rumah yang di tawarkan oleh rekan kerja bapak yang berada di jakarta

“ sudah hampir pukul satu pagi pak…jangan mandi…” terdengar suara mamah yang diiringi dengan kemunculan kepalanya dari balik pintu

“ hanya mau cuci muka aja….cepat kamu sholat dulu din…baru tidur…” perintah bapak lalu berlalu menuju kamar mandi

“ udin…wudhu dulu pak…” teriak gue begitu melihat bapak yang baru saja hendak menutup pintu kamar mandi, mendapati perkataan gue tersebut, bapak mengurungkan keinginannya untuk menutup pintu kamar mandi, dan membiarkan gue untuk mengambil air wudhu, rasa segar yang gue rasakan begitu air yang terasa dingin menyentuh wajah gue, kini telah membuat rasa letih dan mengantuk yang gue rasakan selama perjalanan panjang tadi perlahan mulai sedikit berkurang

“ udin sholat duluan ya pak…” ucap gue yang berbalas dengan anggukan kepala bapak, hingga akhirnya diantara keberadaan bapak yang masih berada di dalam kamar mandi, gue mulai melaksanakan sholat lalu melanjutkannya dengan merebahkan tubuh ini di tempat tidur, rasa dingin yang gue rasakan pada kasur dari tempat tidur ini, kini telah membuat gue menggeliatkan tubuh ini guna mengurangi rasa dingin pada tubuh gue ini

“ bapak kira kamu sudah tidur din….” tegur bapak sesaat setelah memasuki kamar, sebuah sajadah yang berada di atas kursi segera di gelarnya

“ pak…” tegur gue begitu melihat bapak yang telah menyelesaikan sholatnya

“ apa din…”

“ bagaimana dengan kuliah udin…?” entah mengapa firasat gue mengatakan bahwa tidak ada sebuah universitas yang berada di sekitar wilayah desa ini

“ kamu bisa kost di dekat tempat kuliah kamu nanti din…” jawab bapak yang berbalas dengan keterdiaman gue

“ kenapa din…” tanya bapak begitu melihat gue yang terdiam, perlahan bapak mulai merebahkan tubuhnya di samping gue

“ kalau boleh…udin mau istirahat dulu untuk sementara waktu pak..tapi nanti pasti udin lanjutkan kembali kuliahnya….” ucap gue dengan perasaan khawatir akan kemarahan bapak begitu mendengar perkataan gue ini

“ kamu sudah dewasa din….kamu tau yang terbaik untuk hidup kamu…” jawab bapak dengan bijaknya yang berlanjut dengan keterdiaman kami dalam menyambut buaian mimpi

Tepat pukul delapan pagi sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat oleh bapak dan pak sujana, pak sujana kini telah tiba di mess, dan diantara keberadaan barang barang bawaan yang telah kembali dimasukan ke dalam mobil, kami akhirnya menuju ke kantor bapak guna bersilaturhami dengan beberapa staf kantor, hingga akhirnya setelah kurang lebih satu jam lamanya kami bersilaturahmi, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ini menuju ke sebuah rumah yang akan menjadi tempat tinggal kami selama bapak bekerja di desa ini

“ sebentar lagi kita akan sampai…” ucap pak sujana diantara pandangan gue yang tengah memperhatikan suasana perkampungan di desa ini, nampak terlihat beberapa warga kampung yang tengah berjalan menuju ke tempat aktifitasnya, dari pakaian yang dikenakan serta adanya beberapa warga kampung yang yang tidak mengenakan alas kaki, sepertinya beberapa warga kampung itu adalah pekerja lepas di perkebunan teh atau bisa juga pekerja dari ladang dan peternakan yang ada di desa ini

“ itu rumahnya pak….” ucap pak sujana kembali begitu telah menghentikan mobil di depan sebuah rumah yang berukuran cukup besar dengan cat berwarna putih yang melapisi dindingnya, walaupun berukuran cukup besar, rumah tersebut terlihat sederhana, namun jika dibandingkan dengan rumah rumah yang berada disekitarnya, rumah ini bisa dikatakan adalah sebuah rumah mewah

“ enggak salah nih bang….” gumam dina dengan rasa tidak percaya atas apa yang tengah dilihatnya, dan kini diantara keberadaan gue dan dina yang tengah terpaku dalam memandangi rumah tersebut, terlihat bapak berjalan menuju ke pintu pagar guna membuka gembok besar yang mengunci pintu pagar tersebut, beberapa warga kampung yang kebetulan berjalan melintasi kami, nampak memperhatikan keberadaan kami ini

“ bukan cuma lu yang enggak percaya na…gue juga enggak percaya bapak bisa membeli rumah yang agak besar ini…”

Selepas dari perkataan gue itu, mendapati bahwa pintu pagar kini telah dibuka oleh bapak, gue segera berjalan memasuki halaman rumah diikuti oleh dina, dan diantara rasa keingintahuan gue dan dina yang begitu besar atas rumah baru kami ini, gue dan dina memutuskan untuk berjalan mengelilingi rumah yang akan kami tinggali ini

“ kita enggak sedang bermimpi kan bang…” teriak dina dengan agak histeris begitu melihat sebuah kolam renang yang berukuran tidak terlalu besar ada dihadapannya, nampak terlihat keberadaan kolam renang tersebut sudah mengering dan terkotori oleh ilalang dan juga sampah dari dedaunan kering, sebuah gajebo tua nampak terlihat berada tidak jauh dari lokasi kolam renang, keberadaan dari rerumputan yang liar yang terlihat sudah meninggi serta lebatnya tanaman rambat yang menghiasi tembok pembatas dengan lingkungan luar, seperti memberikan gambaran bahwa rumah ini sudah terlalu lama di tinggalkan dan tidak terurus

“ bapak benar benar hebat….kalau seperti ini gue pasti betah bang…” ucap dina dengan gembira

“ yakin lu…?” tanya gue menyangsikan ucapan dina yang terkadang berubah ubah mengikuti suasana hatinya

“ bapak harus segera merapihkan rumah ini….yess..yess…” teriak dina lalu berlari kecil meninggalkan gue, dan kini tinggalah gue seorang diri dalam menyaksikan semua pemandangan ini, masih dalam rasa tidak percaya

“ kok bisa yah …..bapak membeli rumah sebesar ini…pasti harganya mahal…” gumam gue dalam hati lalu beranjak pergi meninggalkan halaman belakang


cerbung.net

Rumah Bercat Putih

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Mempunyai rumah yang indah dan nyaman adalah idaman bagi semua orang, tapi bagaimana jadinya jika rumah yang kita tempati itu, rupanya tidak seindah dan senyaman seperti apa yang kita bayangkan
Berangkat dari sebuah kisah yang menceritakan tentang sebuah keluarga yang pindah dan menetap di sebuah desa di jawa barat, yaa..sebut saja keluarga tersebut dengan nama keluarga dirja, sebuah keluarga yang telah dikarunia dengan tiga orang anak, pekerjaan pak dirja yang bertugas sebagai pengawas perkebunan telah mengantarkannya singgah ke berbagai daerah dalam rangka mengawasi perkebunan dan salah satunya adalah desa yang berada di jawa barat ini
“ jadi rumah sebesar ini bapak beli dengan harga yang murah…?”

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset