Rumah Bercat Putih episode 10

Chapter 10

“ udinn !!” teriak mamah diantara guyuran air yang membasahi tubuh ini, sepertinya saat ini gue sudah dapat mengetahui akan alasan mamah memanggil gue, dan benar saja, begitu kini gue keluar dari dalam kamar mandi, terlihat mamah tengah duduk di kursi meja makan dengan ekspresi wajahnya yang terlihat kesal

“ kamu tuh yaa din, sekalinya keluar seharian…pulang seperti orang habis berkubang aja…”

Seiring dengan perkataan mamah tersebut, bapak kini terlihat ikut bergabung dalam pembicaraan ini, keberadaan bapak yang kini duduk di sisi mamah, nampak mengembangkan senyumnya seperti mengisyaratkan bahwa bapak merasa senang melihat gue yang tengah di marahi oleh mamah

“ tadi habis main bola mah…” ucap gue beralasan

“ memangnya kamu udah ada teman di kampung ini din…?” tanya bapak yang merasa ragu dengan alasan gue itu, dan kini tanpa berkeinginan untuk menjawab pertanyaan bapak, gue segera berjalan menuju kamar guna mengenakan pakaian sekaligus melaksanakan sholat magrib

Lega rasanya mendapati diri ini yang sudah kembali lagi di rumah ini, sepertinya acara pengenalan kampung yang sudah gue jalani hari ini, melebihi keinginan gue yang hanya ingin sekedar bermain ke rumah agus dan menikmati suasana perkampungan ini, andaikan saja di saat gue belum memutuskan untuk bermain ke rumah agus, dan gue sudah mendengar akan kisah yang tadi telah di ceritakan oleh agus, mungkin gue akan berpikir ulang untuk berkunjung ke rumah agus

“ bang…di suruh makan dulu sama mamah ”

Terdengar suara dina yang beriringan dengan kemunculan wajahnya dari balik pintu

“ tunggu sebentar na…” selepas dari perkataan gue itu, gue segera beranjak bangun dari posisi gue yang tengah terbaring di tempat tidur, lalu berjalan menghampiri dina, dan kini diantara tarikan tangan gue yang mengajak dina masuk ke dalam kamar, terlihat dina merasa agak bingung dengan perlakuan gue itu

“ ada apa bang…?” tanya dina sambil memperhatikan keberadaan laptop yang tergeletak di atas tempat tidur

“ lu masih ingat dengan cerita lu di halaman belakang itu…?”

Mendengar pertanyaan gue ini, dina kembali teringat dengan ceritanya yang saat itu belum terselesaikan

“ gue udah malas untuk menceritakannya bang….” ujar dina seraya hendak keluar dari dalam kamar

“ sampai kapan lu mau bersembunyi dari semua ketakutan lu itu na, apa lu enggak malu, kalau sampai dengan hari ini, lu masih tidur dengan mamah…”

Sepertinya kalimat sindiran yang terucap dari mulut gue, kini telah membuat dina mengurungkan keinginannya untuk keluar dari dalam kamar, dan memilih untuk duduk di atas tempat tidur seraya menatap ke arah layar laptop

“ bagaimana na…apa sebenarnya yang telah lu alami…?” tanya gue yang berbalas dengan pandangan mata dina yang terarah ke wajah gue

“ dari dulu lu mengenal gue sebagai orang yang bukan penakut bang….tapi setelah apa yang gue alami malam itu, haru gue akui, gue benar benar depresi bang, gue lebih baik di bilang sebagai seorang penakut dari pada gue harus mengalami kejadian itu lagi…”

“ gue mengerti na, gue hanya penasaran aja, sebenarnya lu itu telah mengalami kejadian apa ?” tanya gue yang semakin merasa penasaran begitu mendengar intonasi suara dina yang penuh dengan tekanan

“ di malam itu bang, di saat gue sudah berhasil membuka jendela kamar dan merasakan sejuknya udara malam yang masuk ke dalam kamar, saat itu gue sempat nyaris tertidur, tapi belum sempat mata gue ini terpejam, gue mendengar deritan dari suara ayunan seperti apa yang pernah kita dengar waktu itu, pada awalnya gue berpikir, suara ayunan itu timbul karena efek dari hembusan angin, tapi begitu gue mendengar suara gelak tawa anak kecil yang sepertinya tengah bermain di halaman samping…di saat itu insting gue mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah dengan apa yang gue dengar itu, hingga akhirnya gue memutuskan untuk menyingkap tirai jendela…dan di saat itu lah…”

“ di saat itu kenapa…?” tanya gue kembali begitu melihat dina yang menghentikan perkataannya

“ di saat gue menyingkap tirai jendela kamar, gue melihat keberadaan papan ayunan nampak bergoyang goyang tanpa ada seorangpun yang memainkannya, untuk sejenak gue merasa lega bang karena gue enggak mendapati sosok anak kecil itu….tapi begitu gue hendak menutup tirai jendela kamar, tiba tiba saja gue melihat sebuah kepala yang berada dalam posisi membelakangi gue, menyembul naik secara perlahan dari arah bawah jendela, hingga memperlihatkan rambutnya yang terurai panjang….”

Untuk sejenak dina kembali terdiam, dari ekspresi ketakutan yang di perlihatkan oleh dina, sepertinya saat ini dina tengah membayangkan kejadian malam itu

“ gue benar benar shock bang, di saat itu gue langsung memutuskan untuk berlari ke tempat tidur dan menutupi wajah ini dengan bantal, keberadaan dari tirai jendela kamar yang gue biarkan terbuka, akhirnya baru bisa gue tutup begitu gue mendengar kumandang azan subuh…..” ucap dina mengakhiri ceritanya

“ berarti….”

“ berarti apa bang….?” tanya dina diantara keteringatan gue atas kejadian aneh yang telah gue alami, pada saat dina mengalami kejadian menyeramkan itu

“ enggak berarti apa apa na, gue hanya lagi mencoba untuk membayangkan kejadian menyeramkan yang telah lu alami itu…” jawab gue beralasan

“ ohh iya na…ada yang ingin gue perlihatkan sama lu….”

Selepas dari perkataan gue itu, gue segera naik ke atas tempat tidur, lalu memperlihatkan isi file dari file catatan D, hingga akhirnya di saat dina telah selesai membaca isi file dari file catatan D, dina terlihat mengernyitkan dahinya

“ siapa D itu bang…?”

“ mungkin dina…”

“ ehh songong lu bang…amit amit jabang bayi deh…” ujar dina yang merasa kesal begitu mendengar jawaban gue yang terkesan menyeramkan dan tidak lucu

“ dina..udinnn !!”

Dengan terdengarnya suara panggilan mamah dari arah luar kamar, sepertinya kini kesabaran mamah dalam menanti kehadiran gue dan dina di ruang makan telah habis, mendapati hal tersebut, gue meminta dina untuk menemui mamah dan mengabarkan kepada mamah bahwa saat ini gue masih belum merasa lapar, hingga akhirnya selepas dina meninggalkan kamar gue, gue sama sekali tidak berniat untuk melanjutkan kembali membaca rangkaian kata kata di dalam file catatan D, hal ini di karenakan, gue masih merasa trauma dengan kejadian menyeramkan yang gue alami sore tadi, di tambah lagi, bumbu cerita menyeramkan yang gue dapatkan dari agus

Tanpa terasa waktu mulai beranjak menunjukan pukul setengah sebelas malam, dan entah mengapa kini, keinginan gue untuk makan malam seperti lenyap begitu saja, mungkin saat ini, andai saja gue tidak teringat akan sholat isya yang belum gue kerjakan, gue akan enggan untuk beranjak keluar dari dalam kamar

“ sepertinya bapak belum tidur…” gumam gue begitu mendengar suara siaran televisi yang terdengar sacara samar, mendapati hal tersebut gue segera beranjak bangun dari tempat tidur lalu melangkah keluar dari dalam kamar, dan kini setibanya gue di ruang tengah, terlihat bapak yang tengah duduk di kursi santainya sambil menyaksikan siaran televisi yang tengah menyiarkan acara lagu nostalgia

“ tumben belum tidur pak….” tegur gue kepada bapak, tanpa menunggu jawaban yang terucap dari mulut bapak, gue kembali melangkahkan kaki ini menuju ke kamar mandi

“ dasar bapak….seperti enggak ada tempat lain aja untuk meletakan nih cermin….” gerutu gue begitu tiba di kamar mandi dan mendapati keberadaan cermin besar di dalam kamar mandi, sejujurnya gue merasa sangat tidak nyaman dengan keberadaan cermin besar itu, entah mengapa gue merasa, setiap gue mengarahkan pandangan mata ini ke arah cermin, gue seperti merasa ada sesuatu yang ikut memandang gue dari dalam cermin, dan kini diantara keberadaan gue yang tengah mengambil air wudhu, untuk sesekali, gue kembali mengarahkan pandangan mata ini ke arah cermin, hingga akhirnya selepas gue menyelesaikan mengambil wudhu, gue terdiam sejenak seraya memandang wajah gue ini di dalam cermin

“ andai saja cermin ini bisa merekam dan memperlihatkan kejadian yang terjadi di masa lalu, mungkin gue enggak akan sepenasaran ini dengan rangkaian kata kata yang tertulis di file catatan D….” ucap gue pada bayangan gue sendiri di cermin, lama kini gue terdiam dalam menatap wajah gue di dalam cermin, dan entah mengapa, semakin lama gue memandang wajah gue itu, gue seperti merasa, ekspresi wajah gue terlihat begitu kosong, tapi diantara kekosongannya itu, kedua bola mata gue seperti mendelik, dan mengarahkan sorot matanya yang tajam ke arah gue

“ ini enggak mungkin……” sangkal gue dalam hati seraya mengalihkan pandangan mata ini dari arah cermin, hingga akhirnya seiring dengan pandangan mata gue yang kembali menatap ke arah cermin, gambaran menyeramkan yang tadi sempat terpampang di dalam cermin, kini sudah tidak terlihat lagi, mendapati hal tersebut, dengan perasaan lega, gue memutuskan untuk segera meninggalkan kamar mandi guna menghindari munculnya sesuatu yang menyeramkan dikarenakan pemikiran gue ini kini telah terkontaminasi oleh rasa takut, tapi…baru saja kini gue hendak melangkahkan kaki ini keluar dari dalam kamar mandi, gue kembali mengalami sensasi aneh yang lain berupa hembusan dingin yang menerpa tengkuk gue, disertai dengan terdengarnya suara geraman seorang wanita, yang terdengar begitu jelas di telinga gue ini

Untuk sesaat lamanya, gue hanya bisa terdiam seraya mencoba untuk meredakan rasa takut dan juga rasa keterkejutan gue atas fenomena aneh yang kembali gue alami saat ini, bagi gue, apa yang tengah gue alami saat ini, mungkin adalah sebuah momen menakutkan yang melebihi perjumpaan gue dengan sosok lelaki paruh baya di jalan setapak yang di payungi oleh rerimbunan pohon bambu, hingga akhirnya seiring dengan butiran air wudhu yang mengalir di wajah gue ini, sentuhannya pada kelopak mata gue ini, kini menyadarkan gue untuk melawan rasa ketakutan gue ini dengan cara kembali melanjutkan berjalan keluar dari dalam kamar mandi walaupun dengan langkah yang gemetar

“ ya tuhan…kenapa gue jadi sering mengalami sesuatu yang aneh seperti ini…” gumam gue diantara keberadaan gue yang kini telah berada di depan pintu kamar, nampak kini terlihat keberadaan bapak yang masih terduduk di kursi santainya sambil menyaksikan siaran televisi

“ sudah sholat pak…?” tanya gue hanya untuk sekedar berbasa basi, mendapati pertanyaan gue itu, bapak hanya terdiam diantara keberadaan tubuhnya yang membelakangi keberadaan gue saat ini, dan sepertinya dari keterdiamannya itu, gue bisa menarik kesimpulan, bahwa saat ini bapak tengah tertidur dalam rasa lelahnya

“ kasihan bapak…”

Selepas dari perkataan gue itu, gue segera berjalan menghampiri bapak guna membangunkan bapak agar pindah ke kamar, hal itu gue lakukan karena gue bisa membayangkan akan rasa sakit yang gue rasakan di saat gue bangun tidur dari posisi tidur yang tidak senyaman itu

“ pak…pak…” tegur gue pelan diantara keberadaan gue yang mulai mendekati bapak, tapi baru saja gue kini hendak menyentuh bahu bapak guna mempertegas suara teguran gue itu, tiba tiba saja gue melihat, keberadaan televisi yang semula dalam posisi menyala, terlihat mati dengan sendirinya, mendapati hal tersebut, gue segera mengurungkan niat gue untuk menyentuh bahu bapak, dan sepertinya apa yang tengah gue alami saat ini, kini telah membuat rasa gemetar di tubuh gue akibat dari peristiwa menyeramkan yang gue alami di kamar mandi, terasa semakin menguat getarannya

“ ya tuhan…jangan terjadi lagi….jangan….” doa gue dalam hati seraya menarik mundur tangan gue, tapi bukannya sebuah jawaban baik atas doa yang telah gue panjatkan ini, kini gue melihat keberadaan kursi malas yang semula berada dalam posisi diam, perlahan mulai bergoyang, bahkan ritme goyangannya tersebut semakin lama terlihat semakin cepat hingga menimbulkan suara deritan dari kursi malas tersebut, hingga akhirnya seiring dengan lonjakan adrenalin gue yang mulai bergerak menuju puncaknya, gue mendapati keberadaan pintu kamar mamah terlihat bergerak terbuka, disertai dengan kehadiran seorang wanita yang menyerupai mamah tengah berdiri tepat di pintu kamar seraya mengarahkan pandangannya ke arah gue

“ kamu lagi ngapain din….?” tanya mamah diantara tatapan mata gue yang masih terpaku dalam menatap mamah, rambut mamah yang dibiarkan tergerai serta pakaian tidur mamah yang berwarna putih dan terlihat kusut, kini semakin menambah keyakinan gue bahwa sosok wanita yang tengah berada di hadapan gue ini bukanlah mamah, tapi keyakinan gue itu tidaklah berlangsung lama, kini setelah mamah kembali melontarkan pertanyaannya atas alasan keberadaan gue di ruangan tengah ini, gue mulai tersadar bahwa sosok wanita yang ada di hadapan gue ini adalah mamah

“ kamu kenapa din…?” tanya mamah kembali dengan pandangan menatap ke arah kursi malas yang terlihat masih bergoyang, mendapati pertanyaan mamah tersebut, gue hanya terdiam, dan diantara keterdiaman gue itu, terlihat kehadiran dina yang telah berdiri di sisi mamah dengan menampakan wajahnya yang terlihat masih mengantuk, sepertinya keributan yang ditimbulkan oleh perkataan mamah tadi, kini telah membangunkan dina dari tidur pulasnya

“ din…?” tegur mamah kembali, diantara keterpakuan gue yang masih belum percaya atas peristiwa aneh yang telah gue alami ini

“ duduk sini din…” perintah mamah seraya berjalan ke kursi panjang yang berada di samping kursi santai, dan seakan tidak mau tertinggal atas info yang akan terucapkan dari mulut gue ini, dina terlihat mengambil posisi duduk di sisi mamah

“ kamu sedang apa ? malam malam begini kok malah bengong sendirian disini…” tanya mamah begitu gue menghempaskan tubuh ini di sisi mamah

“ tadi itu udin….udinnn….”

Diantara jawaban gue yang kini terhenti, keberadaan kursi malas yang tadi masih terlihat bergoyang, kini sudah tidak bergoyang lagi

“ tadi itu kamu kenapa din…?”

“ tadi itu, udin seperti melihat sesuatu di sini mah….”

Mendengar jawaban gue itu, terlihat dina agak merapatkan posisi duduknya dengan mamah

“ sesuatu apa…?”

“ udin melihat bapak sedang menonton televisi sambil tertidur di kursi malas ini….” jawab gue kembali dengan rasa pasrah akan vonis yang akan diberikan oleh mamah atas jawaban gue itu, dan mungkin vonis mamah atas jawaban gue itu adalah mamah akan menganggap bahwa saat ini gue tengah berkhayal

“ bapak…?” ucap mamah dengan rasa tidak percaya, dan sepertinya perkataan mamah itu, kini telah membuat gue mengambil kesimpulan bahwa saat ini bapak tengah berada di dalam kamarnya

“ bapak kamu itu sedang pergi din…, tadi selepas makan malam, bapak mendapat telepon dari kantor, sepertinya ada urusan perkebunan…” terang mamah seraya meminta gue untuk memeriksa kamar dina, sepertinya saat ini mamah merasa khawatir akan perkataannya yang tidak tepat, karena bisa saja, tanpa sepengetahuan mamah, bapak telah kembali pulang ke rumah ini, dan tengah tertidur di dalam kamarnya, karena sudah menjadi kebiasaan bapak untuk membawa kunci cadangan di saat bapak memutuskan untuk pulang malam


cerbung.net

Rumah Bercat Putih

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Mempunyai rumah yang indah dan nyaman adalah idaman bagi semua orang, tapi bagaimana jadinya jika rumah yang kita tempati itu, rupanya tidak seindah dan senyaman seperti apa yang kita bayangkan
Berangkat dari sebuah kisah yang menceritakan tentang sebuah keluarga yang pindah dan menetap di sebuah desa di jawa barat, yaa..sebut saja keluarga tersebut dengan nama keluarga dirja, sebuah keluarga yang telah dikarunia dengan tiga orang anak, pekerjaan pak dirja yang bertugas sebagai pengawas perkebunan telah mengantarkannya singgah ke berbagai daerah dalam rangka mengawasi perkebunan dan salah satunya adalah desa yang berada di jawa barat ini
“ jadi rumah sebesar ini bapak beli dengan harga yang murah…?”

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset