Rumah Bercat Putih episode 11

Chapter 11

Untuk sesaat gue merasa agak ragu untuk menjalankan pemintaan mamah, tapi begitu melihat mamah yang hendak beranjak bangun dari duduknya guna memeriksa keadaan kamar dina, gue segera melarang mamah karena gue takut akan terjadi sesuatu yang kurang menyenangkan di kamar itu

“ kamu kenapa sih din…jadi terlihat aneh seperti ini…”

Dengan tanpa merespon perkataan yang terucap dari mulut mamah, gue segera berjalan ke arah pintu kamar dina, dan kini diantara genggaman tangan gue pada gagang pintu kamar, keinginan gue untuk membuka pintu kamar, mulai terbentur oleh rasa ketakutan gue akan kemungkinan, terjadinya kembali kejadian menyeramkan seperti apa yang telah gue alami di kamar mandi, hingga akhirnya seiring dengan tatapan mata mamah yang memandang ke arah gue dengan tatapannya yang aneh, gue memberanikan diri untuk mulai membuka pintu kamar, dan di saat itulah, gue merasakan adanya hembusan angin yang berhembus keluar dari dalam kamar, dan jika gue harus menggambarkan hembusan angin yang gue rasakan itu dengan kata kata, hembusan angin itu seperti menyerupai suara desisan yang terucap dari mulut manusia

“ mamah dengar suara itu….?” tanya gue tanpa berani untuk melangkah masuk ke dalam kamar, nampak kini terlihat keberadaan jendela kamar yang berada dalam posisi terbuka, sepertinya bapak telah lupa untuk menutup jendela kamar

“ suara…suara apa sih din…?” jawab mamah dengan sebuah pertanyaan, dan selepas dari pertanyaannya itu, mamah berjalan menghampiri gue diikuti oleh dina

“ ahh kamu ini din, mungkin suara yang telah kamu dengar tadi itu, adalah hembusan angin dari jendela kamar itu….” ucap mamah seraya berjalan masuk ke dalam kamar lalu menutup jendela kamar, mendapati hal tersebut, gue segera beranjak masuk ke dalam kamar, meninggalkan dina yang hanya bisa terpaku di pintu kamar, sepertinya saat ini dina kembali teringat akan beberapa kejadian menyeramkan yang telah dialaminya di rumah ini

“ benar kan kata mamah…bapak kalian tuh belum pulang…”

“ lantas kalau bapak belum pulang…yang tadi udin lihat itu siapa mah…?” tanya gue yang berbalas dengan ajakan mamah untuk keluar dari dalam kamar, dina yang sedari tadi hanya berdiri terpaku di pintu kamar, kini terlihat seperti merasa lega begitu mendengar ajakan mamah tersebut

“ udahlah din…mungkin itu hanya imajinasi dari perasaan takut kamu aja, kalau mamah boleh sarankan, sebaiknya kamu mulai mencari kesibukan yang lain…dengan begitu, mudah mudahan kamu enggak akan seperti ini terus, selalu membayangkan sesuatu yang bukan bukan……”

“ tapi mah…bukan hanya udin yang mengalami ini…dina juga mengalaminya, buktinya sampai dengan malam ini, dina enggak berani untuk tidur di kamarnya lagi…”

Lama kini mamah terdiam begitu mendengar perkataan gue itu, hingga akhirnya diantara ketiadaan respon yang di berikan oleh mamah atas perkataan gue itu, gue memutuskan untuk menceritakan kepada mamah tentang apa yang telah gue dan dina alami sewaktu kami berada di halaman belakang, dan kini begitu mendengar cerita gue itu, terlihat mamah mengarahkan pandangan matanya ke arah dina, seolah olah mengisyaratkan akan keraguan mamah akan kebenaran dari cerita gue itu

“ benar mah…apa yang di katakan oleh bang udin itu memang benar…”

“ tuh kan benar mah….” ujar gue dengan rasa lega begitu mendengar perkataan dina yang mengakui akan kebenaran dari cerita gue itu

“ sudah…sudahhh…!, lama lama mamah bisa stres mendengar cerita kalian ini…”

Ekspresi wajah mamah terlihat menampakan ketidaksenangannya atas pengakuan gue dan dina saat ini

“ mamah enggak percaya dengan semua itu, kita sudah berapa kali mengalami perpindahan rumah tapi enggak pernah mengalami kejadian aneh seperti apa yang kalian ceritakan tadi…..intinya mamah enggak mau cerita ini sampai ke telinga bapak….kalian kan tau sendiri sifat bapak kalian itu seperti apa…” ucap mamah tegas, dan selepas dari perkataannya itu, mamah terlihat berjalan menuju ke kamar mandi lalu memasukinya, dan kini diantara keberadaan gue dan dina di ruangan tengah, ketidakinginan gue untuk meneruskan perdebatan ini, kini telah mengantarkan langkah kaki dina memasuki kamar mamah, mendapati hal tersebut, tanpa menunggu kehadiran mamah yang belum keluar dari dalam kamar mandi, gue segera masuk ke dalam kamar untuk melaksanakan sholat isya

Tidak seperti malam sebelumnya, malam ini gue merasakan pergerakan dari jarum jam seperti bergerak dengan sangat perlahan, gue yang telah selesai melaksanakan sholat isya, kini memilih untuk merebahkan kembali tubuh ini di atas tempat tidur, hingga akhirnya seiring dengan menit demi menit yang terus berjalan, suara kumandang azan subuh yang mulai terdengar, kini mengantarkan terpejamnya mata gue memasuki alam mimpi

“ din bangun..sholat subuh…”

Keberadaan suara mamah yang terdengar mengiringi ketukan tangannya pada daun pintu, kini telah membuat, gue kembali terjaga dari tidur lelap yang hanya beberapa saat ini, dan kini diantara rasa pusing yang gue rasakan akibat dari tidur yang terasa singkat ini, gue segera berjalan keluar dari dalam kamar untuk mengambil air wudhu, lalu melaksanakan sholat subuh

“ bergadang lagi din ?” tegur bapak begitu melihat kehadiran gue yang telah keluar dari dalam kamar setelah melaksanakan sholat subuh, nampak kini terlihat keberadaan bapak, mamah dan anin yang berada di ruang tengah, tengah menikmati sarapan paginya, dan kini tanpa menjawab pertanyaan bapak tersebut, gue segera mengambil gelas yang berisikan air teh manis hangat dari meja makan, lalu membawanya ke ruang tengah untuk ikut bergabung bersama dengan bapak, mamah dan anin, menikmati sarapan pagi

“ biasa pak…semalam itu, udin merasa sulit tidur lagi…” ucap gue seraya menyeruput air teh manis hangat dari gelasnya, nampak kini terlihat kehadiran dina yang keluar dari dalam kamar dan telah mengenakan seragam sekolahnya, untuk beberapa saat lamanya, gue kini hanya terdiam dalam pandangan menatap ke arah wajah bapak, bayangan gue atas kejadian menyeramkan yang telah gue alami semalam, kini menyeruak kembali di dalam pikiran gue ini, melihat hal tersebut, mamah yang telah sedari tadi memperhatikan gue, memberikan isyarat, agar gue tidak menatap wajah bapak dengan pandangan seperti itu

“ ohh iya din, sepertinya bapak akan menunda dulu rencana memperbaiki kolam renang…” ucap bapak memberi kabar tentang sesuatu yang menurut gue juga tidak terlalu penting untuk dilakukan dalam waktu dekat ini, dan kini selepas bapak meneguk sisa cairan kopi yang tersisa sedikit di gelasnya, bapak berpamitan untuk berangkat ke kebun bersama dengan dina yang menuju ke sekolahnya

“ sebaiknya udin lanjut tidur dulu mah…masih mengantuk nih…”

Samar samar terdengar bunyi suara knalpot motor bapak yang terdengar mulai menjauh, mendapati hal tersebut, gue segera menghabiskan teh manis yang tersisa lalu beranjak masuk ke dalam kamar guna melanjutkan tidur gue yang tadi sempat terganggu
Entah sudah berapa lama gue tertidur di pagi hari ini, aroma wangi dari masakan yang sedang di masak mamah, kini seperti menjelma menjadi sebuah alarm peringatan yang membuat gue mulai terbangun akibat dari rasa lapar yang gue rasakan, nampak kini terlihat, jam dinding telah menunjukan pukul sebelas pagi

“ din…!”

“ ahh tau aja nih mamah kalau gue udah lapar…” gumam gue dalam hati begitu mendengar panggilan mamah dari arah luar kamar, dan kini baru saja gue hendak beranjak dari tempat tidur guna memenuhi panggilan mamah, kembali mamah memberitahukan sebuah kabar, akan kehadiran seseorang yang telah menunggu gue di luar rumah

“ siapa mah…?” belum sempat pertanyaan gue ini di jawab oleh mamah, ingatan gue akan perkataan agus yang menyatakan akan mengunjungi rumah gue hari ini, kini telah membuat gue segera beranjak bangun dari tempat tidur, lalu menuju ke ruang tamu untuk menyambut kehadiran agus

“ wahhh gila…lu masih tidur ya din…” ujar agus begitu melihat gue yang telah membuka pintu rumah, dengan tertawa kecil, gue mempersilahkan agus untuk masuk ke dalam rumah lalu mengajaknya ke kamar, tapi baru saja langkah kaki gue dan agus hendak memasuki kamar, langkah kaki kami ini kini terhenti begitu melihat keberadaan mamah yang tengah berdiri dengan menunjukan ekspresi rasa heran atas kehadiran seseorang yang kini telah menjadi teman gue di kampung ini

“ kenali nih mah teman udin..namanya agus, dia penduduk kampung sini juga…” ucap gue memperkenalkan agus kepada mamah, dengan sopannya, terlihat agus menggenggam tangan mamah lalu menciumnya

“ Ayo gus sebaiknya kita di kamar aja…” ajak gue sambil menepuk punggung agus lalu mengajaknya memasuki kamar, hal ini gue lakukan, karena gue enggak mau kalau mamah sampai mengintrogasi agus, seperti yang biasa mamah lakukan terhadap teman teman gue terdahulu

“ wahhh pantas aja lu betah enggak keluar rumah, rupanya ada teman main di dalam kamar…” ucap agus dengan pandangan matanya yang terarah ke arah laptop yang masih gue letakan di atas tempat tidur

“ sepertinya ini saat yang tepat..” pikir gue dalam hati begitu agus menyinggung tentang keberadaan laptop

“ sebenarnya ada sesuatu yang ingin gue ceritakan dan juga gue perlihatkan kepada lu gus…”

“ memperlihatkan apa…aduh din..gue masih lelaki normal nih…” ucap agus sambil menutupi matanya dengan kedua tangannya

“ ehh sial…dasar brengsek…, lu pikir gue ini enggak normal ya…” maki gue sambil melempar agus dengan kain sarung, terlihat agus tertawa kecil begitu melihat ekpresi rasa jengkel di wajah gue

“ coba lu lihat ini gus…”
Selepas dari perkataan gue itu, agus segera naik ke atas tempat tidur, lalu mengarahkan pandangannya ke arah layar dari laptop yang telah gue nyalakan

“ apa yang mau gue lihat din..?” tanya agus yang terlihat bingung begitu melihat deretan file yang terpampang di layar laptop

“ yaa isi dari file ini gus…masa iya gue mau kasih lihat photo ibu penjaga warung yang di depan sana bugil…” jawab gue sekenanya

“ dihhh beneran enggak normal lu din, sukanya sama yang tua tua…” ucap agus dengan menunjukan ekspresi wajah yang membuat gue tertawa

“ ya makanya lu sabar…jadi orang kok enggak sabaran banget sih…”

Diantara keberadaan pandangan mata agus yang terfokus pada layat laptop, gue membuka sebuah file yang sebelumnya sudah pernah gue buka

“ ini cerita apa din…karangan lu…?” tanya agus begitu agus mulai rangkaian kata kata yang tertulis dalam file catatan D

“ bukanlah gus…file file ini gue temukan di rumah ini….” jawab gue seraya menunjuk ke arah komputer dan juga tabung monitor, yang masih gue letakan di samping lemari, untuk sesaat, nampak pandangan mata agus memperhatikan keberadaan komputer dan juga tabung monitor dengan seksama, hingga akhirnya setelah agus merasa puas dalam memperhatikan kedua benda tersebut, agus kembali mengarahkan pandangan matanya ke layar laptop

12.30…. kehadirannya begitu membuat semuanya terasa menjadi indah…mungkin inilah sebuah karunia hidup…tapi…entah mengapa aku merasa ada yang salah dengan kehadirannya…semua kenyataan ini sungguh terasa pahit walaupun aku belum mengetahui kebenarannya…haruskah aku menelan semua itu secara bulat bulat…ataukah aku harus membuktikannya walaupun itu akan terasa pahit….sungguh kehadiranmu sangatlah teramat aku harapkan….tapi…..ini bukanlah jalan cerita yang aku inginkan….

Keyakinan ini semakin menguat seiring dengan berjalannya waktu……firasatku sungguh mengatakan bahwa ada yang tidak wajar dengan semua kejadian ini…..hanya melalui kata kata ini aku bisa menceritakan semuanya…entah apa yang akan terjadi selanjutnya…aku hanya bisa berserah diri pada sang waktu….

Mei 1986….

Malam ini terasa begitu dingin…sedingin jentikan jari tanganku ini pada tombol keyboard…kesedihan yang aku rasakan ini seperti sebuah luka yang tak akan pernah bisa terobati…..maafkan ibu…maafkan ibu….yang tak pernah bisa mendekapmu dari semua kejahatan ini…..kalian boleh berkata semua ini hanyalah sebuah prasangka dari semua ketakutanku…..tapi aku meyakini semua keyakinanku ini…..maafkan ibu….maafkannn…..02.30…aku menatap dan melepaskanmu dalam ketidakberdayaan….”

Terlihat agus terdiam sejenak begitu telah mengakhiri membaca rangkaian kata kata yang tertulis di dalam file catatan D, keberadaan dari bagian kata kata yang telah gue beri tanda dengan warna merah, kini seperti menarik minat agus untuk kembali membacanya

“ jujur aja gue merasa heran sekaligus tertarik dengan apa yang tertulis di file ini…” ucap gue seraya menunjukan jari tangan ini pada rangkaian kata kata yang telah gue beri tanda dengan warna merah

“ siapa yang dimaksud dengan D ini, apakah dia pemilik dari rumah ini…..tapi menurut keterangan yang gue dapat dari bapak, bapak membeli rumah ini dari seorang teman kantornya yang bernama pak bekti…”

“ pak bekti…” ucap agus mempertegas perkataan gue akan sosok pak bekti

“ kenapa gus…? apa lu kenal dengan orang itu…?”

“ ohhh enggak din…gue enggak kenal dengan orang itu, hanya saja, nama itu terdengar lucu jika di ucapkan.. ” ucap agus yang sepertinya tengah menyembunyikan sesuatu yang mungkin diketahuinya

“ sejujurnya gue masih bingung dengan maksud dari kalimat kalimat yang tertulis dalam kisah ini…sumpah…gue merasa sangat penasaran gus…”

Agus hanya terdiam begitu mendengar perkataan gue itu, hanya ekspresi wajahnya saja yang memperlihatkan kesungguhan agus dalam mendengarkan kata demi kata yang terucap dari mulut gue saat ini

“ menurut lu bagaimana gus…?”

“ haduhh din…lu aja yang udah baca berulang ulang kali masih bingung, apalagi gue yang baru pertama kali ini membacanya…” jawab agus dengan mengernyitkan dahinya

Belum sempat gue dan agus membahas lebih lanjut akan kisah yang tertulis dalam file catatan D, terdengar suara panggilan mamah dari arah luar kamar yang meminta agar gue dan agus makan siang, dan kini tanpa berpikir panjang lagi atas tawaran mamah tersebut, rasa lapar yang telah gue rasakan semenjak gue bangun tidur tadi, kini telah mengantarkan ajakan gue kepada agus untuk makan siang

“ gue mau ke kamar mandi dulu din…” pinta agus begitu tiba di ruang makan

“ tuh kamar mandinya di sana gus…” ucap gue sambil menunjuk ke arah kamar mandi, dan kini seiring dengan langkah kaki agus yang berjalan menuju ke kamar mandi, untuk sesekali pandangan matanya nampak terarah ke beberapa sudut ruangan yang di laluinya


cerbung.net

Rumah Bercat Putih

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Mempunyai rumah yang indah dan nyaman adalah idaman bagi semua orang, tapi bagaimana jadinya jika rumah yang kita tempati itu, rupanya tidak seindah dan senyaman seperti apa yang kita bayangkan
Berangkat dari sebuah kisah yang menceritakan tentang sebuah keluarga yang pindah dan menetap di sebuah desa di jawa barat, yaa..sebut saja keluarga tersebut dengan nama keluarga dirja, sebuah keluarga yang telah dikarunia dengan tiga orang anak, pekerjaan pak dirja yang bertugas sebagai pengawas perkebunan telah mengantarkannya singgah ke berbagai daerah dalam rangka mengawasi perkebunan dan salah satunya adalah desa yang berada di jawa barat ini
“ jadi rumah sebesar ini bapak beli dengan harga yang murah…?”

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset