Rumah Bercat Putih episode 12

Chapter 12

“ ternyata rumah lu besar juga ya din…” ucap agus begitu telah kembali ke meja makan, keberadaan dari menu makanan yang tersaji di meja makan, kini menjadi peneman perbincangan kami saat ini

“ sebenarnya banyak yang ingin gue ceritakan kepada lu gus, yaa siapa tau gue bisa mendapatkan pencerahan dari lu atas masa lalu dari rumah yang gue tinggali ini….”

“ kok lu berharap pencerahan dari gue sih din, memangnya lu telah mengalami apa sih di rumah ini…?” tanya agus dengan menunjukan ekspresi kebingungannya

“ sejujurnya gue masih trauma gus…”

“ trauma…?”

“ iya trauma….ada sesuatu yang selama ini mengganggu pikiran gue…” jawab gue singkat

“ ya udah begini aja din, nanti malam gue menginap di rumah lu, tapi berhubung hari ini gue harus latihan silat, mungkin setelah gue pulang nanti, gue akan kembali ke rumah lu…” ide agus kini berbuah rasa lega di hati gue karena mendapati teman berbicara malam nanti

“ bagaimana din…apa lu setuju…?”

“ gue setuju gus…ya kalau begitu, hari ini gue ikut lu ke tempat latihan silat, siapa tau nanti gue akan tertarik untuk ikut latihan juga…”

Tepat pada pukul tiga sore, akhirnya kami berangkat menuju ke tempat agus biasa berlatih silat, beberapa pemuda kampung nampak sudah hadir di tempat di tempat tersebut, dan sepertinya kehadiran kami saat ini, kini telah memancing pandangan mata dari beberapa pemuda kampung yang mungkin masih merasa asing dengan sosok gue

“ perkenalkan teman baru kita…udin…” terang agus begitu memasuki aula, dan tanpa menunggu perintah lebih lanjut dari agus, gue segera menyalami pemuda kampung tersebut satu persatu, hal ini gue lakukan sebagai tanda hormat gue terhadap warga kampung yang telah lebih lama tinggal di kampung ini, dan sepertinya salam perkenalan gue ini, kini bersambut dengan sikap ramah dari para pemuda kampung

“ kang udin ini bukannya yang tinggal di rumah besar itu ?” tanya ujang yang usianya sepertinya berusia lebih muda dari gue

“ rumah yang bercat putih itu…?” tanya pemuda lainnya yang berupaya untuk mempertegas pertanyaan ujang atas ciri rumah yang gue tinggali saat ini

“ iya…rumah yang bercat putih itu…” jawab ujang yang berbalas dengan anggukan kepala gue

“ wahh beraninya…” gumam seorang pemuda lainnya yang mengikuti pembicaraan ini, mendapati gumaman tersebut, gue kini seperti mendapatkan sebuah titik awal guna melayangkan pertanyaan kepada para pemuda kampung mengenai rumah yang gue tinggali saat ini

“ memangnya apa yang harus gue takutin…?”

“ lohhh memangnya lu enggak tau, kalau rumah yang lu tempatin itu terkenal keangkerannya di kampung ini….” ujar salah satu pemuda kampung, yang berlanjut dengan ceritanya yang menceritakan mengenai beberapa pengalaman mistis yang telah di alami oleh beberapa warga kampung ketika melewati rumah gue itu, diantaranya adalah suara gelak tawa dari anak kecil yang bermain main di halaman rumah, bayangan hitam yang duduk di teras depan, hingga bau amis yang bersumber dari rumah gue itu

Mungkin ini adalah salah satu ciri dari masyarakat negeri ini yang terkadang apa yang mereka ceritakan itu tidak lebih dari pada sebuah cerita yang turun temurun hingga akhirnya melebar kepada sesuatu yang terlihat berlebihan, hal ini terbukti ketika gue menanyakan kepada mereka satu persatu mengenai apakah ada diantara mereka yang mengalami secara langsung kejadian itu, dan jawabannya adalah tidak, sedangkan gue yang sudah secara nyata mengalami bentuk gangguan dari mahluk mahluk tak kasat mata yang mungkin menjadi penghuni lain dari rumah yang sekarang gue tempati, gue lebih memilih untuk diam, karena gue merasa, tanpa adanya sebuah bukti nyata yang mendukung kejadian yang gue alami itu, maka cerita gue itu tidak lebih dari pada sebuah omong kosong belaka

“ ohh jadi gitu ya…kebetulan gue belum pernah tuh mengalami hal hal yang aneh di rumah gue itu…” ucap gue seraya memperhatikan keberadaan agus yang terlihat lebih banyak terdiam dalam pembicaraan ini

Seiring dengan latihan silat yang mulai berjalan, sepertinya sore ini gue hanya bisa menjadi penonton dari latihan silat tersebut, beberapa gerakan yang terlihat begitu seirama antara satu dengan yang lainnya seperti memberikan gue gambaran bahwa para pemuda kampung ini telah begitu lama berlatih silat bersama sama, hingga akhirnya setelah kurang lebih satu jam lamanya mereka berlatih, para pemuda kampung kini menghentikan latihannya

“ ayo kita ke rumah gue dulu din…” ajak agus seraya memasukan baju silatnya ke dalam kantong pelastik yang dibawanya, dan kini seperti tidak mengenal rasa lelah, agus segera mengajak gue untuk berjalan menelusuri jalan setapak kampung, hingga akhirnya setibanya gue di rumah agus, dikarenakan hari sudah beranjak gelap, agus terlihat bergegas memasuki rumahnya untuk berganti pakaian

“ sebaiknya kita berangkat ke rumah lu sekarang din, sebelum hari bertambah semakin gelap…” ucap agus begitu keluar dari dalam rumahnya, nampak kini terlihat agus telah mengganti pakaian yang tadi dikenakannya dengah sehelai kaos santai yang berpadu dengan sehelai kain sarung yang menyelempang di tubuhnya, dan kini setelah gue merespon perkataan agus tersebut dengan anggukan kepala, gue dan agus segera berjalan menjauh meninggalkan rumah

“ apa lu enggak merasa takut gus, setiap hari melewati jalan ini ?”

Agus hanya tertawa kecil begitu mendengar pertanyaan gue itu, diantara keberadaan kami yang kini hanya tinggal menyisakan beberapa langkah lagi dari jalan setapak kampung yang berpayungkan rerimbunan pohon bambu, nampak kini tersaji di hadapan kami, sebuah lorong panjang yang gelap dengan berbagai macam misterinya

“ kalau gue enggak mempunyai rasa takut…itu berarti gue sudah gila din…” jawab agus yang berlanjut dengan penjelasannya bahwa agus memendam rasa takutnya itu dikarenakan agus tidak mau terlihat menjadi sosok yang penakut di hadapan adik adiknya

“ sekarang lu bayangin din….adik gue ada tiga orang dan semuanya perempuan, bagaimana pandangan mereka kalau melihat abangnya ini seorang penakut….” ucap agus diantara langkah kaki kami yang kini telah memasuki jalan setapak kampung yang berpayungkan rerimbunan pohon bambu

Dingin… yaa itulah yang gue rasakan ketika langkah kaki kami ini mulai semakin dalam memasuki jalan setapak kampung yang terselimuti oleh kegelapan, diantara penerangan dari cahaya senter yang telah dinyalakan oleh agus, tatapan mata agus terlihat memandang lurus ke depan, seakan akan agus tidak berkeinginan untuk menolehkan pandangan matanya itu ke sisi kanan dan kiri dari jalan setapak kampung yang dipenuhi oleh rerimbunan pohon bambu

“ permisi….” ucap agus pelan tanpa menghentikan langkah kakinya, keberadaan gue yang telah sedari tadi berjalan di sisi agus, kini baru menyadari, bahwa keberadaan kami ini kini telah berada di posisi dimana gue telah berjumpa dengan sosok lelaki paruh baya

“ kalau makam kuno itu memangnya letaknya dimana gus….” tanya gue yang berbalas dengan sikutan tangan agus yang mengenai pergelangan tangan gue

…ciettt…ciettt…ciettt….

Entah suara apa yang telah gue dan agus dengar saat ini, tapi jika gue harus menggambarkannya dengan kata kata akan situasi yang tengah gue alami saat ini, gue dan agus seperti mendengar adanya suara yang menyerupai suara dari seekor burung, dan suara tersebut terdengar dari arah sisi kanan jalan setapak, di mana di sisi jalan tersebut terdapat sebuah jalan setapak kecil yang terhalangi oleh rerimbunan pohon bambu, dan kini diantara langkah kaki kami yang terhenti akibat mendengar suara tersebut, agus mulai mengarahkan cahaya senternya ke arah sisi kanan jalan setapak, hingga cahaya senter tersebut menembus celah rerimbunan pohon bambu dan memperlihatkan keberadaan dari jalan setapak kecil yang terselimuti oleh kegelapan dan juga oleh kabut tipis

“ jalan terus din…” ucap agus mengajak gue untuk meneruskan langkah kaki ini, tapi baru saja, gue dan agus hendak kembali berjalan, gue dan agus kembali mendengar suara burung yang terdengar dari arah sisi kanan jalan setapak, tapi untuk suara burung yang terdengar kali ini, suara burung itu terdengar begitu riuh dan saling bersahutan, mendapati kenyataan itu…gue dan agus hanya bisa terdiam pasrah seraya menebak nebak akan sosok dari suara burung yang terdengar itu, hingga akhirnya diantara keterdiaman kami ini dalam menanti sosok tersebut, kami mencium adanya aroma bau busuk yang diiringi dengan terdengarnya kembali suara burung dari arah sisi kiri jalan setapak atau lebih tepatnya berpindah ke arah belakang dari keberadaan kami yang saat ini tengah memandang ke arah jalan setapak kecil

“ sial…mati gue….matii dah…”

Kalimat makian yang terucap di hati gue ini kini mengiringi semakin menebalnya bulu kuduk di tubuh gue, dan bagi gue apa yang tengah gue rasakan saat ini bukanlah sebuah pertanda yang bagus, karena semakin gue dan agus terkurung dalam rasa takut ini, bukanlah hal yang tidak mungkin jika sesuatu yang lebih buruk dapat terjadi menimpa gue dan agus saat ini, dan kini diantara pandangan mata gue yang menatap ke arah agus, gue memberikan isyarat kepada agus untuk melarikan diri dari situasi menyeramkan ini, dan sepertinya agus bisa menangkap isyarat gue itu

“ sekarang gus….!” teriak gue seraya mengajak agus untuk berlari, mungkin sudah menjadi nasib gue sebagai orang yang memberikan ide untuk berlari, kini telah tertinggal jauh oleh agus yang berlari layaknya orang yang kesetanan

“ gussss…!” teriak gue kembali seraya memberi tanda agar agus menunggu

“ gila…sintingggg…..” maki gue begitu tiba di sisi agus, agus nampak mencoba untuk mengatur pergerakan nafasnya yang terlihat kembang kembis

“ brengsekk…baru kali ini gue merasakan seperti ini…” terlihat agus meletakan tangannya di dada guna meredakan ketegangannya

“ lu benar benar bawa sial din….” canda agus sambil tertawa diantara kembang kempis nafasnya

“ tadi itu apa ya gus…gila nih..benar benar mau copot jantung gue…” ucap gue tanpa berkeinginan untuk melihat ke arah belakang, terlihat agus menggelengkan kepalanya

“ mana gue tau… lu juga sih din…seharusnya tadi itu kita sholat magrib dulu sebelum jalan…” gerutu agus dengan eskpresi wajah tidak bersalah, sepertinya efek keterkejutannya itu kini telah membuat agus melupakan kalau dirinyalah yang telah mengajak gue meninggalkan rumahnya tanpa terlebih dahulu melaksanakan sholat magrib

Setelah akhirnya kami melaksanakan sholat magrib di salah satu mushola yang terletak tidak jauh dari rumah, tepat pada pukul setengah delapan malam, gue dan agus tiba di rumah, nampak terlihat keberadaan bapak yang tengah memanaskan sepeda motornya di halaman rumah, sepertinya saat ini bapak tengah bersiap siap untuk pergi entah kemana

“ bapak mau lihat perkebunan dulu din, kebetulan lagi ada sedikit masalah….” ucap bapak begitu melihat kehadiran gue dan agus di halaman rumah, mendapati bahwa bapak kini merasa asing dengan sosok agus yang tengah berdiri di sisi gue, gue segera memperkenalkan agus kepada bapak

“ tadi udin habis ke rumah agus, sekalian melihat latihan silat yang ada di kampung ini…”

“ wahh…ternyata anak bapak sudah ada kemajuan….bapak kirain teman kamu itu hanya laptop yang ada di kamar itu….” gurau bapak sambil tertawa kecil

“ ohh iya din…kamu hibur tuh mamah kamu di dalam…sepertinya mamah kamu itu sekarang sudah mirip dengan kamu…” ucap bapak lalu berpamitan pergi, entah apa maksud dari perkataan bapak tersebut, tapi yang pasti ketika gue memasuki rumah, terlihat mamah, dina dan anin tengah berada di ruang tengah, pembicaraan yang terjadi antara dina dan mamah, kini telah mengabaikan keberadaan siaran televisi yang tengah menyiarkan acaranya

“ bang…” tegur dina begitu melihat kehadiran gue dan agus di ruang tengah, anin yang terlihat begitu asik bermain di dalam pangkuan mamah, kini menjulurkan tangannya seolah olah mengajak gue untuk bermain

“ perkenalkan ini agus…teman abang…” ucap gue yang berbalas dengan perkenalan dina dan agus, nampak terlihat mamah hanya terdiam dalam merespon kehadiran gue dan agus saat ini, hal ini jelas sangat terbanding terbalik dengan kebiasaan mamah yang terkenal dengan kecerewetannya

“ mamah kenapa na…?”

“ ya abang tanya sendirilah…” ucap dina seraya mengambil anin dari pangkuan mamah lalu mengajaknya bermain

“ lu tunggu di kamar aja dulu gus…” pinta gue kepada agus, karena gue melihat, agus merasa tidak enak berada di tengah pembicaraan keluarga ini

“ mamah kenapa….?” tanya gue begitu melihat agus yang telah memasuki kamar, untuk sesaat mamah hanya terdiam terpaku menatap layar televisi

“ mah…”

“ mamah malu mengakui omongan kamu dan dina itu benar din….” ujar mamah sambil mengarahkan pandangannya ke wajah gue

“ maksud mamah…?”

“ iya..perkataan kamu dan dina mengenai hal aneh yang terjadi di rumah ini, memang benar…” mendengar perkataan mamah saat ini, gue langsung berpikir mungkin ini adalah maksud dari perkataan bapak sewaktu bapak hendak meninggalkan rumah

Sejenak mamah kembali terdiam, tatapan matanya terlihat memandang ke arah sudut demi sudut ruangan tengah, hingga akhirnya tanpa adanya satu paksaan apapun yang terucap dari mulut gue, mamah mulai menceritakan tentang apa yang telah dialaminya

“ hahh…yang benar mah…?” tanya gue yang merasa terkejut dengan apa yang telah dialami oleh mamah


cerbung.net

Rumah Bercat Putih

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Mempunyai rumah yang indah dan nyaman adalah idaman bagi semua orang, tapi bagaimana jadinya jika rumah yang kita tempati itu, rupanya tidak seindah dan senyaman seperti apa yang kita bayangkan
Berangkat dari sebuah kisah yang menceritakan tentang sebuah keluarga yang pindah dan menetap di sebuah desa di jawa barat, yaa..sebut saja keluarga tersebut dengan nama keluarga dirja, sebuah keluarga yang telah dikarunia dengan tiga orang anak, pekerjaan pak dirja yang bertugas sebagai pengawas perkebunan telah mengantarkannya singgah ke berbagai daerah dalam rangka mengawasi perkebunan dan salah satunya adalah desa yang berada di jawa barat ini
“ jadi rumah sebesar ini bapak beli dengan harga yang murah…?”

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset