Rumah Bercat Putih episode 5

Chapter 5

“ enggak ada apa apa nak udin…ibu hanya penasaran aja, soalnya sudah lama juga rumah itu tidak berpenghuni…pernah ada beberapa kali orang dari kota yang mau membeli rumah tersebut tapi entah mengapa selalu saja enggak jadi…” terang ibu penjaga warung, agus yang sedari tadi terlihat begitu serius dalam memperhatikan perbincangan ini, kini sepertinya sudah tidak bisa untuk menahan lagi keinginannya untuk mengucapkan sesuatu

Hampir dua jam lamanya gue menghabiskan waktu di warung kecil ini, entah sudah berapa banyak batangan rokok yang telah gue habiskan, tapi yangh pasti, perbincangan antara gue, agus dan ibu penjaga warung, kini menjadi titik awal bagi gue dalam bersosialisasi dengan warga kampung

“ sebaiknya gue pulang dulu gus…” ucap gue seiring dengan terdengarnya suara pengajian yang menandakan bahwa waktu magrib akan segera tiba

“ baiklah din…oh iya din kalau ada waktu dan lu enggak sibuk, ada baiknya lu mengikuti pengajian atau kegiatan kegiatan lainnya yang ada di kampung ini….”

“ kegiatan lainnya..?”

“ iya..kegiatan lainnya…disini ada kegiatan bela diri juga..contohnya pencak silat..” terang agus yang berbalas dengan anggukan kepala gue sebagai tanda bahwa gue mau mengikuti ajakan agus tersebut, bagi gue, keinginan gue untuk mengikuti kegiatan kegiatan yang ada di kampung ini, tidak lain adalah ingin mengikuti saran bapak yang menyarankan agar gue mengambil kegiatan di kampung ini guna mengisi waktu luang gue disaat gue tidak menjalani perkuliahan, dan kini setelah kembali berbasa basi sebentar dengan agus, akhirnya gue menjanjikan kepada agus untuk menemuinya kembali di warung ini esok hari

“ dari mana saja kamu din…?” tanya mamah begitu mendapati keberadaan gue di rumah, tapi kini bukannya gue menjawab pertanyaan mamah tersebut, pandangan gue kini terpaku pada keberadaan perangkat elektronik yang telah menghiasi beberapa sudut di dalam rumah, nampak terlihat dina yang tengah bermain dengan anin, kini melemparkan senyumannya ke arah gue

“ laptop udin mana mah….?”

“ kamu tuh ya din…ditanya apa malah balik bertanya..ada tuh didalam kamar kamu, sebaiknya kamu sholat magrib dulu..” gerutu mamah yang merasa kesal karena gue tidak menjawab pertanyaannya

Selepas mandi dan melaksanakan sholat magrib, tidak ada hal lain lagi yang gue lakukan selain mulai berkutat dengan laptop baru yang masih terasa nyaman untuk digunakan, untuk beberapa saat lamanya gue melupakan keberadaan komputer tua yang teronggok di sudut kamar, hingga akhirnya seiring dengan terdengarnya suara bapak yang menandakan bahwa bapak telah pulang dari tempatnya bekerja, kini keteringatan gue akan media penyimpanan yang telah gue titipkan kepada bapak, telah mengantarkan langkah kaki gue ini untuk beranjak keluar dari dalam kamar

“ din…” panggil bapak diantara pergerakan tangan gue yang telah membuka pintu kamar, nampak terlihat keberadaan bapak yang tengah memegang sebuah kantong pelastik hitam

“ wahh..pasti itu media penyimpanan yang tadi udin titip yah pak…?” tanya gue dengan tersenyum senang

“ iya…tapi ada beberapa yang tidak bisa dipindahkan, kata staf komputer yang ada di tempat kerja bapak, media penyimpanannya itu sudah banyak yang rusak, jadi hanya sebagian datanya saja yang bisa dipindahkan..”

“ enggak apa apa pak…” ucap gue seraya mengambil kantong plastik hitam yang berada ditangan bapak

“ memangnya untuk apa sih din, sepertinya kamu tertarik banget dengan media penyimpanan itu…?” tanya bapak seraya menghempaskan tubuhnya yang terlihat lelah di kursi

“ cuma iseng aja pak, untuk mengisi waktu luang…” jawab gue sambil tertawa kecil lalu bergegas masuk kembali ke dalam kamar, dan kini diantara rasa keingintahuan gue yang besar atas data yang tersimpan di dalam media penyimpanan data tua, gue segera memasukan media penyimpanan duplikat file file tua itu ke dalam laptop, hingga akhirnya beberapa file kini terlihat menghiasi layar laptop

“ sepertinya penghuni lama rumah ini mempunyai bisnis…” gumam gue diantara deretan file file yang berisikan tentang data usaha dan juga data keuangan.

Hampir beberapa jam lamanya gue menghabiskan waktu senggang ini dengan menjelajahi isi dari beberapa file, hingga akhirnya seiring dengan ketidaksadaran gue yang telah tertidur karena di dera oleh rasa penat, gue mulai terbangun begitu merasakan hembusan angin dingin yang masuk melalui jendela kamar yang sepertinya telah terlupakan untuk gue tutup

“ dinginnya…jam berapa ini…” ucap gue pelan sambil menatap ke layar laptop yang masih menyala, nampak waktu sudah menunjukan pukul setengah dua pagi, mendapati hal tersebut, gue segera beranjak bangun dari posisi gue tertidur lalu berjalan menujuk ke arah jendela kamar, dan seiring dengan keberadaan gue yang kini telah berdiri di jendela kamar, hembusan angin dingin yang menerpa wajah gue, seakan akan menyambut pandangan gue dalam memandang keberadaan kolam renang dan gajebo tua yang diterangi oleh cahaya temaram

“ semoga akhir pekan ini bapak ada waktu untuk merapihkan halaman belakang..” harap gue dalam hati seraya menutup jendela kamar, dan kini diantara rasa mengantuk yang sudah tidak gue rasakan lagi, gue segera kembali menaiki tempat tidur guna menapaki kembali file file yang belum sempat gue buka, dan disaat itulah diantara deretan dari file file yang hendak gue buka, gue mendapati sebuah file dengan nama yang unik, dan karena keunikannya itulah maka kini tatapan mata gue hanya terpaku pada file tersebut

“ catatan D….?”

Entah apa maksud dari pembuat file ini, tapi yang pasti file ini kini telah berhasil membuat gue untuk menjentikan jari tangan ini guna membuka file tersebut, sekilas tidak ada yang aneh dengan semua tulisan yang ada dihalaman awal dan juga beberapa halaman berikutnya dalam file catatan D, hingga akhirnya diantara beberapa halaman dari file catatan D yang telah gue baca, kini muncul sebuah pertanyaan di hati gue akan sosok penulis dari file ini

“ siapa sebenarnya D ini…?” tanya gue dalam hati seraya terus membaca beberapa halaman yang ada, pada awalnya gue menyangka bahwa penulis file ini adalah seorang wanita muda yang tengah berkeluh kesah akan kisah asmaranya tapi setelah gue membaca kembali beberapa halaman yang ada, prasangka gue akan sosok wanita muda yang belum bersuami kini terbantahkan, saat ini gue mendapati sebuah halaman yang menceritakan tentang kebahagiaan wanita tersebut yang telah memasuki tahap pernikahan hingga mempunyai anak yang menjadi pelengkap kebahagiaan dari pernikahannya itu

“ ini menarik…sangat menarik….” gumam gue pelan seraya menyulutkan sebatang rokok guna menemani gue dalam membaca, hingga akhirnya diantara keterfokusan mata gue dalam membaca sebuah halaman yang menceritakan tentang kehadiran seorang wanita yang menjadi pembantu rumah tangga dalam kehidupan keluarganya, secara samar gue mendengar adanya suara langkah kaki yang terdengar dari luar kamar, mendapati hal tersebut, gue segera menatap ke arah jam yang berada di layar monitor, nampak jam sudah menunjukan bahwa waktu subuh akan segera tiba, dan hal ini berarti bahwa suara langkah kaki yang telah gue dengar saat ini adalah suara langkah kaki dari mamah dan bapak, yang memang sudah menjadi kebiasaan mereka untuk bangun disaat menjelang azan subuh berkumandang, tapi kini baru saja gue memutuskan untuk melanjutkan membaca kembali, gue kembali mendengar adanya suara langkah kaki yang terdengar dari arah luar kamar, tapi kali ini diikuti dengan terdengarnya suara yang menyerupai dengan suara dari benda berat yang diseret di lantai, dan bagi gue, apa yang tengah gue dengar saat ini adalah sesuatu yang aneh, karena sangatlah tidak mungkin bapak dan mamah telah menjalankan aktifitas beratnya di pagi buta seperti ini

“ pak….!!…mah…!!” panggil gue mencoba meyakinkan diri gue bahwa suara yang telah gue dengar adalah suara langkah kaki dari bapak dan mamah, tapi kini bukannya sebuah jawaban dari bapak dan mamah guna merespon suara panggilan gue itu, kini gue mendengar keberadaan dari suara langkah kaki serta suara benda yang diseret di lantai berada tepat di depan pintu kamar gue

“ sial..jangan…jangan….”

Prasangka buruk gue akan kehadiran orang asing yang tengah bermaksud jahat di rumah gue ini, kini seperti memenuhi pikiran gue, dan diantara kekalutan gue dalam merespon situasi ini, gue memutuskan untuk berjalan ke arah pintu kamar, hingga akhirnya diantara genggaman jari jemari tangan gue pada gagang pintu kamar, gue seperti terbelenggu oleh keraguan gue dalam membuka pintu kamar

“ pak…mah…!” panggil gue kembali seraya memberanikan diri untuk memutar gagang pintu kamar lalu membukanya secara perlahan, dan kini diantara keberadaan pintu kamar yang telah terbuka dan memperlihatkan keberadaan ruang tengah yang terselimuti oleh kegelapan, gue tidak mendapati keberadaan dari bapak dan mamah di ruang tengah, mendapati hal tersebut, kini tanpa menghiraukan lagi adanya ancaman bahaya jika ada seseorang asing yang tengah berada di dalam rumah ini dan tengah berniat jahat kepada keluarga gue ini, gue segera melangkahkan kaki ini keluar dari dalam kamar sambil mengulangi kembali memanggil bapak dan mamah

Terpaku dan terdiam dalam menatap keheningan….ya…sepertinya hanya itulah yang bisa gue lakukan saat ini, keterdiaman gue dalam memandang irama ayunan bandul jam kuno yang bergerak layaknya sebuah bandul hipnotis, kini seperti menempatkan diri gue ini pada sebuah dimensi waktu yang berbeda

“ sadar…sadar…” ujar gue dalam hati, seraya berusaha untuk menetralisir imajinasi gue yang mulai terasa liar

“ suara apa yang sebenarnya yang telah gue dengar tadi…”

Seiring dengan pertanyaan yang terucap di hati gue ini, gue memutuskan untuk menyalakan lampu di ruangan tengah, tapi baru saja tangan gue hendak menyentuh saklar lampu ruangan tengah, gue kembali mendengar suara yang tadi sempat menghilang, dan untuk kali ini suara seretan tersebut diiringi dengan suara pukulan telapak tangan pada lantai rumah, mendapati hal tersebut, kini mau tidak mau, rasa takut yang tadi sempat menghilang dari pemikiran gue, perlahan mulai hadir kembali di pemikiran gue ini

“ sialll…” umpat gue karena merasakan bahwa rasa takut yang tengah gue rasakan ini perlahan mulai membuat tubuh gue ini terasa berat untuk digerakan, dan kini diantara sinar terang dari lampu di ruangan tengah yang telah gue nyalakan, gue memutuskan untuk melawan rasa ketakutan gue ini dengan cara memeriksa ke arah sumber suara, dan untuk kali ini, gue sangat yakin bahwa suara yang telah gue dengar bersumber dari arah ruangan makan

“ gue harus berani…harus berani…”

Dan kini diantara gumaman gue yang mengiringi langkah kaki gue menuju ke ruangan makan, keberadaan gue yang telah berada di ruang makan, kini dihadapkan dengan sebuah pemandangan yang semakin memacu lonjakan adrenalin gue ini menuju ke titik puncaknya, nampak terlihat dihadapan gue, keberadaan dari pintu kamar yang berada di dekat ruang makan, kini dalam posisi terbuka lebar, yang seakan akan memberikan penawaran bagi gue untuk memasukinya

“ bagaimana mungkin pintu kamar ini bisa terbuka lebar seperti ini, dan apa mungkin suara yang telah gue dengar tadi ada hubungannya dengan terbukanya pintu kamar ini…?” tanya gue dalam hati tanpa berpikir untuk beranjak dari tempat gue berdiri saat ini

Lama kini gue terdiam dalam keraguan untuk memenuhi hasrat keingintahuan gue ini, dan sepertinya, seiring dengan perputaran waktu yang terus berjalan, rasa keingintahuan gue yang terasa begitu besar, kini telah dapat mengalahkan rasa ketakutan gue atas situasi ini, hingga akhirnya seiring dengan ucapan doa yang terucap dari mulut gue, gue segera berjalan menuju ke arah pintu kamar, tapi kini baru saja sebagian dari langkah kaki gue ini memasuki kamar, gue terpaksa mengurungkan keinginan gue untuk memasuki kamar begitu mendapati adanya bau amis yang tercium dari dalam kamar

“ ya tuhan…ini bau amis apa…” tanya gue dalam hati tanpa berani untuk meneruskan langkah kaki ini, bahkan saat ini gue lebih memilih untuk mengambil langkah mundur menjauhi pintu kamar

“ kamu sedang apa din…?”

Sebuah kalimat pertanyaan yang terdengar secara tiba tiba, kini menyadarkan gue atas keterpakuan gue dalam menatap pintu kamar, nampak terlihat kehadiran bapak yang tengah berdiri seraya mengarahkan pandangannya ke arah gue, dan sepertinya dari ekspresi wajah yang kini tengah diperlihatkan oleh bapak, sepertinya bapak merasa bingung melihat keberadaan gue yang tengah berdiri di depan pintu kamar yang terbuka dengan lebar

“ din…kamu kenapa…” tanya bapak kembali begitu mendapati bahwa gue tidak menjawab pertanyaannya, dan kini diantara ketiadaan jawaban yang terucap dari mulut gue untuk menjawab pertanyaannya tersebut, bapak terlihat berjalan menghampiri gue lalu mengarahkan pandangannya ke dalam kamar yang terselimuti oleh kegelapan

“ kamu ini aneh banget sih din..apa yang kamu lihat di kamar yang gelap seperti ini…” ucap bapak seraya berjalan memasuki kamar lalu menyalakan lampu kamar, nampak kini terlihat keadaan di dalam kamar yang sama sekali tidak memperlihatkan adanya sesuatu yang aneh di dalam kamar,

“ jawab pertanyaan bapak din….kamu ini sebenarnya sedang apa…?”

Untuk pertanyaan bapak kali ini, gue bisa merasakan adanya luapan kekesalan yang mengiringi pertanyaannya itu, mendapati hal tersebut, kini tidak ada pilihan lain bagi gue, selain gue harus berbohong guna mengurangi kemarahan bapak saat ini


cerbung.net

Rumah Bercat Putih

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Mempunyai rumah yang indah dan nyaman adalah idaman bagi semua orang, tapi bagaimana jadinya jika rumah yang kita tempati itu, rupanya tidak seindah dan senyaman seperti apa yang kita bayangkan
Berangkat dari sebuah kisah yang menceritakan tentang sebuah keluarga yang pindah dan menetap di sebuah desa di jawa barat, yaa..sebut saja keluarga tersebut dengan nama keluarga dirja, sebuah keluarga yang telah dikarunia dengan tiga orang anak, pekerjaan pak dirja yang bertugas sebagai pengawas perkebunan telah mengantarkannya singgah ke berbagai daerah dalam rangka mengawasi perkebunan dan salah satunya adalah desa yang berada di jawa barat ini
“ jadi rumah sebesar ini bapak beli dengan harga yang murah…?”

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset