Rumah Bercat Putih episode 6

Chapter 6

“ enggak ada apa apa pak…udin hanya lagi enggak bisa tidur aja…” jawab gue yang berbalas dengan ketidakpuasan bapak atas jawaban gue tersebut, dan kini tanpa ingin untuk memperpanjang lagi pembicaraan ini, gue segera meninggalkan bapak yang masih terpaku dalam ekspresi ketidakpuasannya

Hampir tiga puluh menit lamanya gue terdiam di dalam kamar, bayangan akan kejadian aneh yang baru saja gue alami, kini seperti membekas di dalama ingatan gue ini

“ apakah kejadian aneh yang mulai gue alami di rumah ini, ada hubungannya dengan sosok yang berinisial D ini…..dan kalau memang ada hubungannya, siapakah sebenarnya sosok berinisial D ini…apakah sosok ini adalah pemilik dari rumah ini…” tanya gue dalam hati seraya mencoba untuk menerka nerka akan kepanjangan dari nama yang mempunyai inisial D, hingga akhirnya seiring dengan otak gue yang mulai berpikir keras akan kepanjangan dari inisial D tersebut, jari jemari tangan gue mulai kembali bermain main dengan barisan kata kata yang berada di dalam layar monitor, dan entah mengapa kini semua rangkaian kata kata yang membentuk kisah ini, mulai menjelma menjadi sebuah misteri yang menantang gue untuk menemukan jawabannya

“ din…sholat shubuh dulu……”

Seiring dengan terdengarnya suara mamah yang memanggil gue dari arah luar kamar, gue mulai tersadar, bahwa suara kumandang adzan subuh sudah mulai terdengar

“ iya mah…sebentar lagi…” jawab gue tanpa memalingkan pandangan mata ini dari layar laptop, karena saat ini gue mendapati adanya beberapa bagian kalimat di dalam kisah catatan D, yang membuat gue harus sedikit mengernyitkan dahi ini

“ apa maksud dari semua kalimat ini….” gumam gue pelan sambil mencoba untuk mencerna rangkaian dari kalimat yang tengah gue baca saat ini

12.30…. kehadirannya begitu membuat semuanya terasa menjadi indah…mungkin inilah sebuah karunia hidup…tapi…entah mengapa aku merasa ada yang salah dengan kehadirannya…semua kenyataan ini sungguh terasa pahit walaupun aku belum mengetahui kebenarannya…haruskah aku menelan semua itu secara bulat bulat…ataukah aku harus membuktikannya walaupun itu akan terasa pahit….sungguh kehadiranmu sangatlah teramat aku harapkan….tapi…..ini bukanlah jalan cerita yang aku inginkan….

“ sial…kenapa kisah ini jadi mulai terasa membingungkan seperti ini…!!” gumam gue yang hampir menyerupai sebuah racauan

“ kehadirannya…?..kehadiran siapa…?, dan mengapa sosok wanita ini enggak menginginkan kehadirannya seperti ini…?”

Berbagai macam pertanyaan yang kini muncul di pemikiran gue ini, sepertinya telah membuat gue merasa enggan untuk beranjak dari posisi gue yang tengah berada di atas tempat tidur, hingga akhirnya seiring dengan terdengarnya kembali suara panggilan mamah yang mengingatkan gue untuk melaksanakan sholat subuh, gue memutuskan untuk segera keluar dari dalam kamar, karena jika sampai mamah memanggil gue untuk yang ketiga kalinya, hal ini akan menjadi sebuah bencana bagi gue yang akan menerima kemarahan dari mamah di pagi hari yang masih sedingin ini

“ duduk sini din…bapak mau bicara..” pinta bapak begitu melihat gue telah melaksanakan sholat, nampak terlihat bapak tengah memainkan jari jemari tangannya pada sendok yang berada di dalam cangkir teh manis hangatnya

“ ada apa pak…?” tanya gue sambil memposisikan duduk di samping bapak, mendapati pertanyaan gue tersebut, untuk sejenak bapak hanya terdiam, dan sepertinya keterdiaman bapak ini disebabkan oleh sesuatu yang mungkin saat ini tengah mengganjal pikirannya

“ bapak perhatikan semenjak kita tinggal dirumah ini…ada sesuatu yang berubah pada diri kamu din…”

“ berubah gimana pak..?”

Jujur saja begitu gue mendengar perkataan bapak saat ini, gue sudah bisa memperkirakan akan arah dari pembicaraan ini

“ tingkah laku kamu…cerita cerita kamu…dulu bapak tidak melihat kamu seperti ini…” ucap bapak kembali seraya menatap ke arah wajah gue

“ rasanya percuma udin mejelaskannya pak…bapak selalu tidak percaya…”

“ percaya…? apa yang harus bapak percayai dari cerita cerita konyol kamu itu din…”

Mendengar perkataan bapak yang seperti itu, kini gue merasa enggan untuk melanjutkan pembicaraan ini, karena gue merasa, apapun yang akan gue katakan kepada bapak, pasti akan dianggap oleh bapak sebagai khayalan gue semata, dan dikarenakan oleh kenyataan itu, kini gue memutuskan untuk memilih meninggalkan bapak, dibandingkan gue harus kembali terlibat di dalam perdebatan yang tidak akan menemui ujung akhirnya

“ din….” panggil bapak begitu gue baru saja berjalan beberapa langkah meninggalkan bapak

“ kebetulan hari ini bapak sedang izin untuk tidak ke kantor…sebaiknya kita merapihkan halaman belakang yang sama sekali belum kita rapihkan…” ucap bapak yang sepertinya ucapan bapak kali ini kini telah menjelma menjadi sebuah mantra pencair kekesalan gue terhadap bapak pagi ini

“ hari ini pak…?” bapak menganggukan kepalanya begitu mendapati pertanyaan gue ini

“ siappp pak, kalau begitu sekarang udin ke kamar dulu….” ucap gue dengan penuh semangat lalu beranjak pergi menuju ke kamar, dan setibanya gue di dalam kamar, gue segera mematikan laptop, dikarenakan gue tidak ingin kalau hari ini gue akan semakin dalam terbawa dalam rasa penasaran gue akan kisah yang tertulis dalam file catatan D itu

Lama kini gue terdiam di dalam lamunan akan kisah yang tertulis di dalam file catatan D, dan kini diantara berbagai macam pertanyaan yang muncul di pemikiran gue atas file catatan D tersebut, tanpa terasa rasa mengantuk yang gue rasakan akibat dari gue yang belum tertidur semalam, kini telah membuat gue mulai terlelap dalam selimut dingin udara pagi hari ini, hingga akhirnya seiring dengan terdengarnya suara kebisingan yang terdengar dari arah luar rumah, gue mulai terjaga dan mulai menyadari bahwa gue telah melupakan ajakan bapak yang mengajak gue untuk merapihkan halaman belakang

“ astagaaa…gue lupa…” ucap gue dengan setengah berteriak, dan kini tanpa memperhatikan lagi akan bentuk wajah dan rambut gue yang masih berantakan, gue segera berlari keluar kamar menuju ke halaman belakang, dan setibanya gue di halaman belakang, terlihat bapak yang tengah sibuk memotong rerumputan liar yang nampak mulai meninggi

“ makanya kalau tidur jangan setelah subuh…bantu bapak sana…” tegur mamah diantara aktifitasnya yang tengah menyuapi anin, mendengar teguran mamah tersebut, bapak hanya tersenyum kecil seraya menggelengkan kepalanya

“ sini biar gue saja na…”

Selepas dari perkataan gue tersebut, gue segera menjulurkan tangan ini guna meminta gunting rumput yang tengah di pegang oleh dina, dan tanpa berkata sesuatu apapun guna merespon permintaan gue itu, dina menyerahkan gunting rumput yang tengah di pegangnya kepada gue, dan entah mengapa di saat ini gue merasakan adanya sesuatu yang berbeda pada diri dina, dina yang biasanya terlihat ceria dan bawel, kini menjadi sosok gadis yang pendiam

“ lu kenapa na…?” tanya gue seraya memegang kening dina, karena saat ini gue menduga dina sedang sakit

“ gue enggak sakit bang…” jawab dina diantara pergerakan tangannya yang menyingkirkan telapak tangan gue dari keningnya, tapi walapun saat ini dina berusaha untuk menyembunyikan alasan keterdiamannya itu dengan sebuah kalimat penyangkalan, gue masih bisa melihat ekspresi wajah dina yang terlihat murung

“ na…sebaiknya lu jujur sama gue, lu ini sedang kenapa sih…?” tanya gue kembali yang berbalas dengan keterdiaman dina, keberadaan dari tangan dina yang kini sudah tidak memegang lagi gunting rumput, terlihat memainkan rerumputan liar yang bergerak gerak mengikuti hembusan angin

“ din…bantu bapak disini…” teriak bapak yang pada akhirnya mengantarkan langkah kaki gue meninggalkan dina dalam kesendirian, hingga akhirnya setelah hampir seharian penuh kami sekeluarga membersihkan halaman belakang, keberadaan rerumputan liar yang tadinya telah membuat pemandangan di halaman belakang terlihat berantakan, kini sudah tidak terlihat lagi, dan sepertinya dari keindahan yang kini telah diperlihatkan oleh halaman belakang, saat ini gue menjadikan halaman belakang ini sebagai tempat favorit kedua gue setelah kamar gue sendiri

“ din…sepertinya untuk kolam renang itu kita memerlukan tenaga ahli untuk membereskannya…” ucap bapak yang berbalas dengan keterdiaman gue dalam menatap ke arah gajebo tua, nampak terlihat keberadaan dari kayu kayu yang membentuk gajebo tua tersebut, tidak memperlihatkan adanya tanda tanda sudah mengeropos karena termakan oleh waktu

“ din….!”
Seiring dengan terdengarnya kembali suara teguran yang terucap dari mulut bapak, keterpakuan gue dalam menatap ke arah gajebo tua kini tersadarkan

“ ada apa pak…?”

“ kamu itu sedang melihat apa sih…kok bapak ajak bicara malah diam aja…”

“ udin hanya lagi melihat bentuk gajebo tua itu aja pak, walaupun usianya terlihat sudah tua, tapi bentuknya masih terlihat bagus….” ujar gue yang berbalas dengan pandangan bapak yang menatap ke arah gajebo tua

“ memangnya tadi bapak bicara apa…?”

“ mengenai kolam renang itu din, sepertinya untuk perbaikan kolam renang itu, kita memerlukan tenaga ahli untuk memperbaikinya…” jawab bapak diantara ekspresi rasa lelahnya, tatapan mata bapak terlihat menatap ke arah kolam renang yang terlihat kotor dengan dengan beberapa lantainya yang sudah mengalami kerusakan

“ sepertinya memang harus begitu pak…” ujar mamah menyetujui perkataan bapak

“ menurut kamu bagaimana din….?”

“ yaa kalau memang menurut bapak itu adalah ide terbaik, udin sih setuju aja…” jawab gue yang berbalas dengan anggukan kepala bapak

“ oh iya din…mengenai file tua yang sudah kamu baca baca itu, apakah kamu telah mengetahui isinya…?” tanya bapak dengan penuh keingintahuannya

“ isinya hanya catatan usaha dan juga catatan keuangan pak…mungkin file file itu adalah milik dari dari pemilik rumah sebelumnya..” jawab gue tanpa menceritakan tentang penemuan gue atas file catatan D

“ tapi pak…”

“tapi apa din…?”

“ sebenarnya ada yang ingin udin tanyakan…tapi…udin takut bapak akan marah lagi..” terlihat bapak mengernyitkan dahinya begitu mendengar perkataan gue itu, sepertinya saat ini bapak sudah bisa menebak akan arah dari pembicaraan ini, tapi walaupun begitu, nampaknya bapak memberikan gue kesempatan

“ hayooo…jangan mulai lagi deh, nanti pasti ujung ujungnya akan ada perdebatan…” tegur mamah sambil tersenyum, keberadaan anin yang tengah berada di pangkuan mamah, kini telah menunjukan tanda tanda bahwa anin sudah mulai mengantuk

“ enggak akan ada perdebatan kok mah, ini hanya pertanyaan penasaran udin aja…” ucap gue sambil membalas senyuman mamah, keberadaan dina yang tengah berada di samping mamah, nampak belum menunjukan tanda tanda bahwa dina telah terlepas dari keterdiamannya, saat ini dina hanya terdiam dalam mengikuti pembicaraan kami ini

“ sebenarnya udin masih penasaran dengan siapa sebenarnya pemilik rumah ini pak…”

“ loh…kan dulu pernah bapak jelaskan din…rumah ini…”

“ tapi menurut udin…teman bapak itu pasti bukanlah pemilik asli rumah ini….” ucap gue memotong keterangan yang terucap dari mulut bapak

“ mungkin bisa aja begitu din….karena di saat bapak membeli rumah ini, bapak hanya melihat rumah ini dari sisi legalitasnya aja tanpa pernah berkeinginan untuk mencari tau akan pemilik awal dari rumah ini…”

Diantara perkataan bapak yang kini terhenti, terlihat bapak melemparkan senyumannya ke arah gue

“ kenapa din…pasti pertanyaan kamu ini ada hubungannya dengan apa yang kamu baca di media penyimpanan itu ya..” tebak bapak sekenanya

“ enggak kok pak..udin hanya penasaran aja…..”

“ sudahlah…nanti di lanjut lagi obrolannya di dalam rumah, karena sebentar lagi waktu magrib akan tiba…” ucap mamah yang pada akhirnya menyudahi pembicaraan antara gue dan bapak, dan selepas dari perkataannya tersebut, mamah segera berjalan masuk ke dalam rumah, diikuti oleh bapak, keberadaan dina yang sedari tadi hanya terdiam, kini masih terpaku dalam lamunannya

“ ayo masuk na…” ajak gue kepada dina sambil mulai melangkahkan kaki menuju ke arah pintu rumah

“ bang…” panggil dina yang dengan serta merta menghentikan langkah kaki gue ini

“ kenapa na…?”

Mendapati bahwa kini dina kembali terdiam begitu mendengar pertanyaan gue itu, gue segera berjalan menghampiri dina, lalu mengulangi pertanyaan yang sama, guna mencari tahu akan alasan dina memanggil gue

“ gue takut bang…sumpah…baru kali ini gue merasakan rasa takut seperti ini…”

Seiring dengan perkataan yang kini terucap dari mulut dina, bisa gue lihat ekspresi ketakutan yang terpancar di wajah dina

“ takut…?, apa yang lu takutkan…sebenarnya lu kenapa sih na….?” tanya gue yang kini mulai merasa khawatir akan sesuatu yang buruk telah dialami dina, dan kini diantara keberadaan tangan gue yang telah menggenggam tangan dina, bisa gue rasakan rasa dingin pada telapak tangan dina

“ semua yang lu katakan itu benar bang, gue memang merasa ada sesuatu yang aneh dengan rumah ini…….”

“ aneh bagaimana na…?”

“ semalam itu bang…gue merasakan dan mengalami apa yang belum pernah gue alami bang…ini benar benar gila…sungguh gila…!!” ucap dina dengan suaranya yang bergetar dan agak meninggi, kedua kelopak matanya yang terlihat basah, kini seperti menandakan bahwa dina tengah berusaha untuk menahan isak tangisnya, mendapati hal tersebut, gue segera memeluk tubuh dina guna meredakan atas apa yang tengah dirasakannya

“ ceritakan apa yang sudah terjadi na..siapa tau abang bisa membantu…” ucap gue pelan diantara isak tangis dina yang kini mulai terdengar

“ semalam itu bang…”

Untuk sejenak dina kembali menghentikan perkataanya, sepertinya saat ini dina tengah berusaha untuk menghimpun keberaniannya guna menceritakan atas apa yang telah dialaminya


cerbung.net

Rumah Bercat Putih

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Mempunyai rumah yang indah dan nyaman adalah idaman bagi semua orang, tapi bagaimana jadinya jika rumah yang kita tempati itu, rupanya tidak seindah dan senyaman seperti apa yang kita bayangkan
Berangkat dari sebuah kisah yang menceritakan tentang sebuah keluarga yang pindah dan menetap di sebuah desa di jawa barat, yaa..sebut saja keluarga tersebut dengan nama keluarga dirja, sebuah keluarga yang telah dikarunia dengan tiga orang anak, pekerjaan pak dirja yang bertugas sebagai pengawas perkebunan telah mengantarkannya singgah ke berbagai daerah dalam rangka mengawasi perkebunan dan salah satunya adalah desa yang berada di jawa barat ini
“ jadi rumah sebesar ini bapak beli dengan harga yang murah…?”

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset