Rumah Bercat Putih episode 7

Chapter 7

“ semalam itu bang….gue merasa sulit untuk tidur, hal ini dikarenakan gue merasa suhu udara semalam itu terasa begitu panas, dan dikarenakan hal tersebut, gue memutuskan untuk membuka jendela kamar…”

Diantara keberadaan dina yang kini kembali menghentikan perkataannya, bayangan menyeramkan atas sesuatu yang telah dina alami, kini bermain main di dalam pikiran gue

“ lu masih mendengarkan cerita gue kan bang….?” tegur dina begitu menyadari gue yang tengah terhanyut dalam lamunan menyeramkan itu

“ maaf na…” ucap gue seraya mencoba untuk kembali fokus dalam mendengarkan cerita dina

“ lantas apa yang terjadi na, di saat lu membuka jendela kamar …?” tanya gue dengan rasa penasaran

“ pada awalnya tidak terjadi apa-apa bang, semuanya terasa begitu menyegarkan, udara panas yang semula gue rasakan perlahan-lahan mulai menghilang, tergantikan oleh dinginnya udara malam…hingga akhirnya…”

Kembali dina terdiam dan tidak meneruskan perkataannya, pandangannya matanya kini terlihat menatap ke arah sudut halaman yang mulai terselimuti oleh kegelapan, dan sepertinya saat ini gue merasakan adanya rasa kekhawatiran di dalam diri dina yang mungkin tengah merasa, kalau setiap perkataannya itu kini tengah diperhatikan oleh sesuatu yang tersembunyi di dalam selimut kegelapan

“ na…?” tegur gue yang mulai merasa khawatir atas tingkah laku dina saat ini

“ gue takutttt bang…..” ucap dina lirih diantara keberadaan pandangan matanya yang menatap ke arah salah satu sudut halaman belakang yang tidak terjamah oleh penerangan lampu taman

“ na…!, lu kenapa sih…sebenarnya apa yang telah lu lihat…?” tanya gue yang kini mulai terpengaruh oleh rasa takut akibat tingkah laku dina yang seolah olah tengah memperhatikan sesuatu

“ naaa….!!” hardik gue begitu mendapati dina yang tidak merespon pertanyaan gue itu, hingga akhirnya diantara keterdiaman dina yang masih terpaku di dalam memandang ke arah salah satu sudut halaman belakang, pandangan mata gue kini terarah ke sudut halaman yang tengah di pandangi oleh dina

“ apa sebenarnya yang tengah dina lihat…?” tanya gue dalam hati begitu mendapati bahwa gue tidak melihat adanya sesuatu yang aneh pada sudut halaman belakang, tapi entah mengapa di saat ini, kata hati gue mengatakan bahwa ada sesuatu yang tersembunyi di dalam selimut kegelapan yang menyelimuti sudut halaman belakang tersebut

“ bangggg…itu siapa bang….dina takuttt….”

Seiring dengan perkataan yang terucap dari mulut dina, jari jemari tangan dina terasa begitu erat dalam menggenggam telapak tangan gue, dan sepertinya genggaman jari jemari dina pada telapak tangan gue kini telah membuat energi rasa ketakutan yang tengah dina rasakan, mulai mempengaruhi pengelihatan gue dalam memandang sudut halaman belakang, di saat ini gue seperti melihat adanya sesuatu yang tersamar dalam selimut kegelapan

“ ya tuhan….” gumam gue dalam rasa tidak percaya atas pengelihatan gue saat ini yang telah melihat keberadaan sebuah bayangan yang membentuk wajah dari seorang wanita, nampak dari wajah wanita tersebut memperlihatkan keberadaan dari mulutnya yang terbuka lebar serta kedua bola matanya yang menatap tajam ke arah gue dan dina

“ ini enggak nyata na…enggak nyata….”

Sulit rasanya gue melepaskan diri dari rasa ketakutan yang kini telah membelenggu pemikiran gue, dan kini diantara perkataan yang telah terucap dari mulut gue ini, gue merasakan genggaman jari jemari tangan dina pada telapak tangan gue ini terasa semakin erat, hal ini semakin membuktikan bahwa apa yang tengah gue lihat saat ini, mungkin juga tengah dilihat oleh dina

“ dinaaaaa…..udinnn……! loh kok kalian masih disitu…” teriak mamah dari kejauhan, nampak kini terlihat keberadaan mamah yang tengah berdiri di depan pintu yang menuju ke halaman belang, dan entah mengapa seiring dengan suara teriakan mamah tersebut, sosok bayangan yang berada di sudut halaman belakang, kini terlihat mulai menyatu dengan kegelapan yang menyelimuti sudut halaman belakang

“ cepatt masuk…waktu magrib sudah mau habis…” teriak mamah kembali yang berbalas dengan keputusan gue untuk mengajak dina pergi meninggalkan halaman belakang

“ na….innnaa….sadar hehh..ayo kedalam…” ucap gue dengan setengah membentak, mendapati hal tersebut, dina terlihat terkejut, dan kini tanpa menunggu lagi perkataan lanjutan yang akan terucap dari mulut gue, dina segera berlari menuju ke arah mamah

“ hehhhh…kalian ini kenapa sih….seperti habis di kejar hantu aja…” ujar mamah begitu mendapati pelukan dina pada tubuhnya

“ enggak ada apa-apa kok mah…” jawab gue seraya mencuri pandang ke arah dina, dan sepertinya dina memahami akan maksud dari pandangan gue itu, yang menginginkan agar dina tidak menceritakan kejadian yang baru saja di alaminya

“ iya mah…enggak ada apa-apa…”

Rona wajah dina yang terlihat pucat sepertinya tidak bisa untuk menipu pengelihatan mamah, nampak kini mamah meletakan telapak tangannya pada dahi dina, guna mencari tau atas penyebab wajah dina yang terlihat pucat

“ dina, badan kamu kok dingin sekali, sebaiknya sekarang kamu cepat mandi dengan air hangat..lalu sholat magrib…” perintah mamah dalam rasa khawatirnya terhadap kondisi dina saat ini

“ iya mah…” jawab dina lalu berlalu pergi meninggalkan keberadaan gue dan mamah

“ apa yang telah kamu lakukan dengan adik kamu din…?” tanya mamah dengan penuh kecurigaan, yang berbalas dengan keterdiaman gue

“ kamu jangan bercerita yang tidak tidak mengenai rumah ini din, karena di saat ini, kita semua membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan dan juga dengan rumah baru kita ini….”

“ ahhh…rupanya mamah curiga kalau gue telah menceritakan sesuatu yang menyeramkan tentang rumah ini…” gumam gue dalam hati, andai saja saat ini gue menceritakan kepada mamah tenatang apa yang baru saja gue dan dina alami, mungkin saat ini mamah tidak akan mengakatan perkataan seperti itu

“ udin mau mandi dulu mah..takut waktu magrib sudah habis…” ujar gue lalu berlalu pergi meninggakan mamah

Guyuran dari air yang terasa dingin, yang membasuh tubuh gue, kini seperti menghadirkan kembali berbagai macam pertanyaan yang tadi sempat menghilang begitu gue mengalami kejadian menyeramkan di halaman belakang

“ ini gila….!, apa yang sebenarnya telah dina alami, dan apakah yang telah gue lihat tadi telah dilihat juga oleh dina….lantas siapa sebenarnya pemilik pertama dari rumah ini, apakah file catatan D yang gue temukan itu ada hubungannya dengan pemilik rumah ini…?” tanya gue dalam hati diantara ketidaan jawaban atas pertanyaan pertanyaan gue itu, hingga akhirnya seiring dengan aktifitas mandi yang telah gue selesaikan, gue segera melaksanakan sholat magrib, guna menenangkan kegundahan hati gue ini

“ assalamualaikum..” ucap gue begitu mengakhiri ibadah sholat magrib, dan kini diantara rasa tenang yang telah gue dapatkan, terdengar suara kesibukan dari arah luar kamar, mendapati hal tersebut, gue memutuskan untuk keluar dari dalam kamar, tapi baru saja kini gue merapihkan sajadah yang telah gue pergunakan untuk melaksanan sholat, terdengar suara panggilan bapak yang memanggil nama gue dari arah luar kamar

“ ada apa pak….?”

“ kalau kamu lagi enggak ada kesibukan, sebaiknya kamu bantu bapak…” ucap bapak yang terlihat tengah sibuk dalam menyingkirkan kursi kursi yang berada di ruang tengah, lalu menggantikannya dengan hamparan tikar, keberadaan dari beberpa pekerja lepas perkebunan yang membantu bapak dalam menyingkirkan kursi kursi tersebut, kini seperti mempertegas akan adanya sebuah acara yang akan dilaksanakan di rumah ini

“ loh kok malah bengong….cepat bantu sini…” tegur bapak begitu melihat gue yang terdiam di depan pintu kamar

“ memangnya ada acara apa pak….?” tanya gue seraya mulai membantu bapak menggelar tikar di lantai

“ acara selamatan rumah din…” jawab mamah mewakili jawaban yang belum terucap dari mulut bapak

“ loh…bukannya rencananya akhir pekan ini…?” tanya gue kembali

“ acaranya tidak harus akhir pekan din…karena hampir sebagian besar warga di kampung ini bekerja sebagai pekerja perkebunan dan juga peternak, jadi bisa dikatakan mereka mempunyai waktu luang yang lebih dibandingkan dengan warga yang tinggal di perkotaan…” ucap bapak mencoba menerangkan

“ ohhh begitu…” ujar gue seraya mengarahkan pandangan mata ini ke arah dina, terlihat dina memberikan kode yang mengisyaratkan bahwa dina akan menceritakan atas apa yang telah dialaminya kepada gue setelaha acara selamatan rumah ini telah selesai dilaksanakan

Tepat pada pukul setengah delapan malam, hamparan tikar yang tergelar di dalam dan juga di teras depan rumah, kini telah di penuhi oleh warga kampung yang sebagian besar bekerja lepas di perkebunan dan juga teman sejawat bapak

“ duduk sini din….” perintah bapak begitu melihat gue yang masih berdiri dalam memperhatikan aktifitas dari beberapa ibu ibu yang tengah mempersiapkan makanan di dapur, keberadaan dina yang terlihat bergabung dalam aktifitas tersebut, kini seperti menunjukan bahwa dina saat ini telah bisa untuk melupakan sejenak atas kejadian menyeramkan yang telah dialaminya di halaman belakang

Hampir setengah jam lamanya kegiatan acara selamatan ini di isi dengan lantunan doa bersama yang di tujukan bagi keselamatan dan kemanan rumah yang kami tinggali ini, hingga akhirnya seiring dengan ceramah agama yang dibawakan oleh pak tisna, seorang tokoh agama yang biasa beraktifitas di masjid yang berada tidak jauh dari rumah kami ini, gue mendengar adanya keributan kecil yang bersumber dari arah dapur, mendapati hal tersebut, nampak pak tisna segera mengakhiri ceramahnya, lalu bergegas berjalan ke arah dapur, dengan diikuti oleh bapak dan juga beberapa warga kampung

“ astagfirullah….ada apa ini…” ucap pak tisna diantara keberadaan gue yang kini telah berada di samping bapak, terlihat mamah yang tengah menggendong anin mencoba untuk meraih tangan dina yang tengah terduduk di lantai

“ dina kenapa…?” tanya gue di dalam hati begitu melihat jari telunjuk dina yang menunjuk ke arah sebuah karung beras, dimana di atas karung beras tersebut terlihat seorang ibu yang merupakan warga kampung ini, tengah terduduk seraya mengeluarkan gelak tawanya yang lepas, dan kini diantara kebingungan gue di dalam menyikapi situasi ini, bapak terlihat berjalan ke arah dina, lalu mencoba untuk mengajak dina berkomunikasi

“ dina sadar nak…istigfar……” ucap bapak dalam kepanikannya, keberadaan dari tangan dina yang masih menunjuk ke arah karung beras, kini coba diturunkannya, sedangkan di sisi yang lain, saat ini gue melihat keberadaan pak tisna yang masih berdiri dalam ketenangannya, nampak seperti tengah memanjatkan doa, keberadaan dari tatapan matanya terlihat memandang ke arah karung beras

“ ayo bantu saya….” ajak seorang warga yang bersambut dengan kebersediaan beberapa warga untuk menenangkan ibu yang tengah terduduk di atas karung beras, tapi kini bukannya ketenangan yang diperlihatkan oleh ibu tersebut di dalam menyikapi tindakan para warga yang mencoba untuk menenangkannya, ibu tersebut kini terlihat mencoba untuk meronta seraya melontarkan kalimat makiannya, mendapati hal tersebut, kini diantara aroma mistis yang menyelimuti kejadian ini, gue segera menghampiri bapak dan dina guna membantu bapak untuk memindahkan dina ke ruang tengah

“ na…ada apa na…?” tanya gue seraya berkerjasama dengan bapak untuk membangunkan dina dari posisinya yang tengah terduduk di lantai, tapi kini diantara usaha gue dan bapak yang menemui kegagalan dalam membangunkan dina, beberapa warga kampung kini membantu kami dalam mengangkat tubuh dina dan membawanya ke ruangan tengah

“ ambil air putih…” perintah pak tisna yang kini lebih mengutamakan untuk menyadarkan dina terlebih dahulu dari ketidaksadarannya

“ apa yang sebenarnya telah terjadi bu…” tanya bapak, diantara keberadaan seorang warga kampung yang berjalan ke arah dapur guna mengambil segelas air putih yang diminta oleh pak tisna

“ ibu juga heran pak…tapi tadi di dapur….”

Diantara ketergagapan ibu dalam menceritakan atas apa yang telah terjadi di dapur, kini ibu menghentikan perkataannya

“ di dapur…apa yang telah terjadi di dapur….” tanya bapak kembali kepada ibu


cerbung.net

Rumah Bercat Putih

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Mempunyai rumah yang indah dan nyaman adalah idaman bagi semua orang, tapi bagaimana jadinya jika rumah yang kita tempati itu, rupanya tidak seindah dan senyaman seperti apa yang kita bayangkan
Berangkat dari sebuah kisah yang menceritakan tentang sebuah keluarga yang pindah dan menetap di sebuah desa di jawa barat, yaa..sebut saja keluarga tersebut dengan nama keluarga dirja, sebuah keluarga yang telah dikarunia dengan tiga orang anak, pekerjaan pak dirja yang bertugas sebagai pengawas perkebunan telah mengantarkannya singgah ke berbagai daerah dalam rangka mengawasi perkebunan dan salah satunya adalah desa yang berada di jawa barat ini
“ jadi rumah sebesar ini bapak beli dengan harga yang murah…?”

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset