Rumah Bercat Putih episode 8

Chapter 8

“ tadi itu dina…dina mencoba untuk melarang seorang ibu yang hendak duduk di atas karung beras…”

“ dina melarang seorang ibu untuk duduk di atas karung beras, melarang karena apa…?” tanya bapak kembali dalam ekspresi wajahnya yang terlihat penuh dengan rasa keingintahuannya, tapi kini, bukannya menjawab pertanyaan bapak tersebut, mamah terlihat bingung untuk menceritakan atas apa yang telah terjadi pada diri dina, keberadaan anin yang masih berada di dalam pelukan mamah kini perlahan mulai mengeluarkan suara tangisnya

“ Sebaiknya ibu istirahat dulu…kasihan si kecil..” pinta pak tisna diantara pergerakan tangannya yang tengah menerima segelas air putih dari seorang warga kampung, mendapati permintaan pak tisna tersebut, mamah segera beranjak menjauh guna menenangkan anin, dan kini diantara keberadaan mamah yang telah berjalan menjauhi kami, pak tisna menyerahkan gelas air putih kepada bapak, dan hal tersebut dilakukan oleh pak tisna setelah pak tisna terlebih dahulu mendoakan air putih yang ada di dalam gelas

“ pak dirja, tolong air putih itu di minumkan kepada dina…”

Mendapati permintaan pak tisna tersebut, kini dengan tangannya yang terlihat bergetar, bapak mulai meminumkan air putih kepada dina, hingga akhirnya selepas beberapa saat setelah dina meminum air putih tersebut, keberadaan dari jari telunjuk tangan dina yang semula masih berada dalam posisi kaku menunjuk, kini perlahan mulai bisa di lemaskan oleh dina, dan sepertinya hal tersebut kini menjadi awal dari terdengarnya suara tangisan dina

“ istigfar na….” ucap bapak sambil memeluk tubuh dina

“ dina takut pak…takutttt…” gumam dina diantara suara isak tangisnya, dan sepertinya saat ini dina tengah berada dalam posisi ketakutan akibat dari apa yang telah dialaminya

“ bapak mengerti na..kamu tenang…coba kamu jelaskan kepada bapak, apa yang sebenarnya telah kamu alami…”

Seiring dengan perkataan yang terucap dari mulut bapak, suara jeritan dari ibu yang menduduki karung beras kini kembali terdengar dari arah dapur, mendapati hal tersebut, dina terlihat begitu ketakutan, keberadaan pak tisna yang semula masih berada dalam posisi duduk bersila di sisi dina, perlahan mulai beranjak bangun dari duduknya lalu berjalan menuju ke arah dapur

“ pak…” ucap gue pelan seraya memberikan isyarat mata kepada bapak akan keberadaan dari beberapa warga kampung yang tengah berbisik bisk dalam menyikapi situasi yang terkesan aneh ini, dan entah mengapa, saat ini kata hati gue mengatakan bahwa ada sesuatu yang telah diketahui oleh warga kampung dan sesuatu itu terhubung dengan kejadian aneh yang terjadi malam ini

“ sebaiknya kita berbicara di luar aja na…”

Dengan irama langkah kaki yang berjalan secara perlahan, bapak memapah dina menuju ke teras depan, dan seakan tidak mau tertinggal dengan kisah yang akan di ceritakan oleh dina, gue memutuskan untuk mengikuti langkah kaki dina dan bapak yang tengah berjalan menuju ke teras depan

“ sekarang kamu bisa menceritakan semuanya di sini, dan sebaiknya kamu tenangkan dulu pikiran kamu itu agar kamu bisa menceritakan semuanya..”

Ekspresi wajah bapak yang menampakan ketenangannya seperti di sengajakan oleh bapak guna memberikan sugesti kepada dina bahwa kejadian aneh yang telah terjadi malam ini akan berakhir dengan sebuah situasi dimana semuanya akan baik baik saja, dan kini begitu dina mendapati perkataan bapak tersebut, dina mengarahkan pandangan matanya ke arah wajah gue

“ sebenarnya apa yang telah kamu alami di dapur tadi…?” tanya bapak dengan rasa keingintahuan yang tinggi

“ dina enggak tau bagaimana harus menjelaskannya pak..”

Kembali dina terdiam sambil memainkan jari jemari tangannya

“ apa yang telah dina alami ini, benar benar sebuah kejadian yang sukar untuk dipercaya…bahkan mungkin bapak akan menganggap omongan dina ini hanya bualan belaka…”

“ coba kamu ceritakan dulu na..jangan kamu berpikir seperti itu..” ucap bapak memberikan dina keyakinan bahwa bapak akan mendengarkan cerita dina tanpa menganggap dina telah membual

“ tadi itu sewaktu di dapur, dina sama sekali enggak punya perasaan yang aneh aneh, semuanya terlihat normal, hingga akhirnya kenormalan itu berubah menjadi sebuah suasana yang menyeramkan begitu dina melihat keberadaan seorang wanita yang tengah duduk di atas karung beras…” tatapan mata dina terlihat kosong menerawang ke arah langit yang terlihat gelap, dan sepertinya gelapnya langit malam ini adalah sebuah pertanda bahwa hujan akan segera turun malam ini

“ ahh mungkin….”

Perkataan bapak kini terhenti begitu melihat tatapan mata dina yang memberikan peringatan bahwa dina tidak akan melanjutkan ceritanya apabila ada kalimat penyangkalan yang terucap dari mulut bapak

“ pada awalnya dina menyangka bahwa sosok wanita yang tengah duduk di atas karung beras itu adalah warga kampung sini yang kebetulan belum pernah dina lihat sebelumnya…”

“ terus…” ucap gue memotong perkataan dina

“ saat itu entah mengapa dina merasa sangat penasaran dengan sosok wanita itu, dan dikarenakan oleh hal itu, dina terus memperhatikan sosok wanita itu walaupun dina harus memandangnya dari arah samping wajahnya, tapi yang pasti, di saat itu wajah wanita itu tidak terlihat begitu jelas karena tertutupi oleh selendang hijau yang dikenakannya, tapi dina bisa memperkirakan akan usia dari wanita itu, yang mungkin berusia sekitar 30 atau 35 tahun, hingga akhirnya……”

“ hingga akhirnya apa….?” tanya gue yang berbarengan dengan perkataan yang sama dari mulut bapak

“ hingga akhirnya….di saat dina melihat seorang ibu warga kampung yang berjalan menuju ke arah karung beras dan hendak duduk di atas karung beras, dina mendapati adanya keanehan karena ibu tersebut seperti enggak memperdulikan keberadaan wanita muda yang tengah duduk di atas karung beras, hingga akhirnya disaat ibu warga kampung mulai menggerakan tubuhnya untuk duduk di atas karung beras, dina mencoba memberikan peringatan kepada ibu warga kampung untuk enggak duduk di atas karung beras karena akan menduduki sosok wanita itu, tapi lagi lagi dina mengalami hal yang aneh karena dina merasakan seperti ada sesuatu yang membuat dina merasa sulit untuk mengucapkan kalimat peringatan itu….”

Diantara perkataan dina yang kini terhenti, bisa gue lihat ekspresi rasa tidak percaya di wajah bapak

“ jadi…ibu warga kampung itu menduduki sosok wanita itu…?”

“ iya bang…ibu warga kampung itu menduduki sosok wanita itu, dan di saat itulah dina kembali melihat adanya keanehan yang lain begitu melihat tubuh dari ibu warga kampung yang menembus tubuh dari wanita yang tengah menduduki karung beras…dan seiring dengan keberadaan tubuh mereka yang seperti menyatu…..”

Untuk sesaat dina kembali menghentikan perkataannya, kedua telapak tangannya nampak menutupi wajahnya, sepertinya saat ini dina masih merasa trauma atas kejadian menyeramkan yang telah dialaminya

“ na…lu enggak kenapa napa kan….?” tanya gue yang berbalas dengan anggukan kepala dina

“ seiring dengan keberadaan tubuh mereka yang terlihat menyatu, sosok wanita itu mengarahkan pandangannya ke arah dina, dan di saat itulah dina melihat adanya perubahan wajah dari sosok wanita itu, wajah yang pada awalnya terlihat normal, telah berganti dengan wajah yang terlihat pucat serta berekspresi wajah yang datar, selain itu dina juga melihat adanya luka sayatan di bagian lehernya yang masih menampakan rembesan darah segarnya, dan yang lebih menakutkan lagi bang, ketika sosok wanita itu menyingkap kerudung yang di kenakannya, terlihat luka yang sudah membusuk pada bagian kepalanya….” jawab dina dengan suaranya yang bergetar hebat, hingga akhirnya kini dina memberikan isyarat bahwa dirinya sudah tidak mau lagi untuk meneruskan ceritanya itu

“ na…” gumam gue dengan rasa iba atas kondisi dina saat ini yang begitu tertekan akibat berbagai macam kejadian menyeramkan yang telah dialaminya

“ sebaiknya malam ini kamu beristirahat dengan mamah kamu…” perintah bapak seraya mengajak dina berjalan meninggalkan teras depan dan menuju ke arah kamar yang biasa ditempati oleh bapak dan mamah

“ semua ini gara gara kamu din….” ucap bapak begitu telah keluar dari dalam kamar dan berjalan melintasi gue, bagi gue, apa yang telah bapak katakan saat ini, adalah sebuah vonis yang terkesan tidak adil karena gue tidak mengetahui akan alasan bapak yang telah mengatakan hal seperti itu kepada gue

“ oh iya…bagaimana dengan nasib ibu itu….” tanya gue dalam hati seraya hendak berjalan menuju ke arah dapur, tapi kini baru saja gue hendak melangkahkan kaki ini ke arah dapur, terlihat keberadaan pak tisna serta beberapa warga kampung lainnya, telah membawa tubuh ibu yang mengalami kejadian aneh di dapur ke ruang tengah, dan saat ini gue melihat ibu tersebut telah dalam keadaan sadar

“ sebenarnya apa yang telah terjadi pak….?” tanya bapak kepada pak tisna, mendapati pertanyaan tersebut, ekspresi wajah pak tisna seketika itu juga berubah seperti layaknya seseorang yang tengah menyembunyikan sesuatu

“ sebaiknya kita sudahi saja acara selamatan rumah ini dengan membaca sebuah doa keselamatan agar tidak terjadi lagi kejadian seperti ini…”

Bapak hanya bisa terdiam begitu mendengar anjuran dari pak tisna tersebut, hingga akhirnya seiring dengan lantunan doa yang kini di ucapkan oleh pak tisna, para warga kampung yang hadir pada acara selamatan ini, secara serentak mengaminkan doa tersebut

“ pak darman…ibu ijah…tolong semua makanan yang ada, sebaiknya di bungkus aja dan di berikan kepada para warga kampung yang hadir…” bisik bapak kepada pak darman dan juga ibu ijah yang merupakan orang orang kepercayaan bapak di perkebunan

“ siap pak…”

Dengan sigap kini pak darman dan ibu ijah segera membagikan makanan yang memang telah sedari tadi di persiapkan untuk disuguhkan dan dibagikan kepada warga yang hadir dalam acara selamatan ini, tapi berhubung adanya kejadian aneh yang terjadi malam ini, makanan makanan itu kini dimasukan ke dalam kantong pelastik untuk dibagikan kepada warga kampung yang hadir

” maaf pak tisna…sepertinya tadi bapak belum menjawab pertanyaan saya….” ucap bapak ketika pak tisna hendak berpamitan pulang

“ sebenarnya kejadian ini hanya kejadian biasa pak dirja…enggak ada yang perlu di khawatirkan….” terang pak tisna sambil menyalami beberapa warga kampung yang ikut berpamitan pulang, termasuk ibu yang mengalami kejadian aneh di dapur

“ tapi buat saya, ini bukan hal yang biasa pak, ditambah lagi, tadi itu saya mendengarkan keterangan dari dina yang menceritakan kejadian menyeramkan yang telah dialaminya di dapur, walaupun sejujurnya saya meragukan kebenaran dari cerita anak saya itu…” ujar bapak yang berbalas dengan senyuman pak tisna

“ pak dirja… mungkin semuanya ini terjadi hanya karena faktor kelelahan aja, jadi pak dirja enggak usah merasa khawatir dengan kejadian ini…” terang pak tisna yang berbalas dengan keterdiaman bapak

“ baiklah pak dirja… kalau begitu saya permisi pulang dulu, semoga bapak sekeluarga bisa betah dan kerasan tinggal di kampung ini….” seiring dengan permohonan pamit yang terucap dari mulut pak tisna, nampak tatapan mata pak tisna sempat mencuri pandang ke arah ruangan tengah dan juga dapur, lalu kini pak tisna terlihat beranjak pergi meninggalkan rumah

“ bapak tidak mau lagi mendengar kamu bercerita yang aneh aneh lagi din…sudah cukup..!” bentak bapak begitu tidak lagi warga kampung yang tersisa di rumah ini

“ tapi pak…udin memang enggak bercerita apa apa kepada dina ataupun mamah…”

Untuk kali ini gue mencoba untuk membela diri dari tuduhan bapak yang telah menempatkan gue dalam posisi sebagai biang permasalah dari kejadian aneh yang telah terjadi malam ini, hingga akhirnya diantara perdebatan yang terjadi antara gue dan bapak, mamah keluar dari dalam kamar, lalu berusaha untuk melerai perdebatan ini

“ dari pada semuanya saling menyalahkan, lebih baik kita bereskan ruangan ini….” usul mamah seraya mengarahkan pandangannya ke arah jam dinding, nampak terlihat waktu sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam, mendapati usulan mamah tersebut, kini setelah merapihkan rumah ini dan menempatkan kembali kursi kursi pada tempatnya semula, kami menyepakati bahwa dina untuk sementara waktu, tidur bersama dengan mamah di kamar utama, sedangkan kamar dina akan di tempati oleh bapak

“ selalu saja gue yang salah….” gerutu gue begitu berada di dalam kamar, keberadaan sebatang yang telah tersulutkan dan terselip di bibir gue, kini mengantarkan pandangan mata gue menatap ke arah laptop yang gue letakan di atas meja

“ entah kisah apa lagi yang akan gue dapatkan malam ini…” gumam gue seraya berjalan menuju ke arah meja guna menyalakan laptop, dan kini diantara posisi laptop yang telah gue nyalakan, kembali gue terdiam dalam pandangan memandangi kumpulan file file tua yang gue letakan di dalam satu folder, hingga akhirnya seiring dengan file catatan D yang kembali gue buka, gue kembali mendapatkan sebuah catatan menarik di dalam file tersebut

“ apa ini…”

…Keyakinan ini semakin menguat seiring dengan berjalannya waktu……firasatku sungguh mengatakan bahwa ada yang tidak wajar dengan semua kejadian ini…..hanya melalui kata kata ini aku bisa menceritakan semuanya…entah apa yang akan terjadi selanjutnya…aaaakuuuu hanya bisa berserah diri pada sang waktu….”

“ apa sebenarnya maksud dari kalimat ini…?” tanya gue di dalam hati begitu telah membaca rangkaian kata kata itu, dan entah mengapa, di saat gue membaca rangkaian kata kata itu, gue bisa merasakan adanya kegetiran yang tersirat dari rangkaian kata kata itu, tapi selain gue merasakan adanya kegetiran dari rangkaian kata kata itu, gue juga merasakan bahwa rangkaian kata kata itu seperti menebarkan rasa tidak nyaman yang membuat bulu kuduk gue ini terasa begitu menebal

Dan kini setelah terdiam beberapa saat, guna menghilangkan rasa tidak nyaman yang gue rasakan saat ini, gue kembali melanjutkan membaca rangkaian kata kata yang belum sempat untuk gue baca

Mei 1986….

….Malam ini terasa begitu dingin…sedingin jentikan jari tanganku ini pada tombol keyboard…kesedihan yang aku rasakan ini seperti sebuah luka yang tak akan pernah bisa terobati…..maafkan ibu…maafkan ibu….yang tak pernah bisa mendekapmu dari semua kejahatan ini…..kalian boleh berkata semua ini hanyalah sebuah prasangka dari semua ketakutanku…..tapi aku meyakini semua keyakinanku ini…..maafkan ibu….maafkannn…..02.30…aku menatap dan melepaskanmu dalam ketidakberdayaan….

Entah sudah berapa lama gue terbuai dalam lamunan panjang guna memaknai akan maksud dan arti dari semua rangkaian kata kata itu, hingga akhirnya seiring dengan terdengarnya kumandang azan subuh dan juga suara langkah kaki dari mamah dan bapak yang sepertinya sudah terbangun begitu azan subuh terdengar, gue memutuskan untuk menyudahi membaca file catatan D guna melaksanakan ibadah sholat subuh

Dua minggu sudah waktu berlalu dari kejadian menyeramkan yang dialami oleh dina, dan diantara rentang waktu yang berjalan itu, rangkaian kata kata yang tercatat di dalam file catatan D, kini telah membuat gue menjadi terobsesi untuk memecahkan misteri yang ada di dalamnya, dan kini diantara rasa mengantuk yang gue rasakan akibat gue yang hanya tertidur sebentar semalam, kini telah membuat putaran sendok yang gue lakukan untuk melarutkan gula yang telah tercampur di dalam teh hangat menjadi terhenti

“ sebaiknya kamu mulai mencari kesibukan lain din….masa iya sih, setiap hari kamu begadang seperti ini….”

Perkataan yang terucap dari mulut mamah kini membuyarkan lamunan gue di pagi ini, mendapati hal tersebut, gue segera melanjutkan putaran sendok yang tadi sempat terhenti akibat lamunan gue itu

“ iya mah…” jawab gue sekenanya yang berbalas dengan tatapan mata mamah yang memandang ke arah gue

“ iya apanya…kamu tuh ya din, kalau mamah ngomong tolong di dengarkan…jangan cuma iya iya aja….”

Seiring dengan perkataan mamah yang kembali terucap, terlihat mamah tengah mempersiapkan sarapan pagi untuk anin, keberadaan anin yang tengah terduduk di kursi meja makan, nampak tengah memainkan sebuah gelas pelastik yang berada di dalam genggaman tangan kecilnya

“ dina sudah jalan mah…?” tanya gue kepada mamah, mencoba untuk mengalihkan arah topik pembicaraan ini, kebetulan hari ini adalah hari pertama dina melanjutkan sekolahnya di tempat yang baru

“ sudah din…enggak kayak kamu tuh yang baru bangun tidur….coba deh din, selagi kamu masih belum ada niatan untuk melanjutkan kuliah, kamu bisa menyambi dengan usaha atau kegiatan yang lain yang ada didesa ini….” terlihat ekspresi keseriusan di wajah mamah

“ dari pada kamu enggak jelas seperti sekarang ini…tidur selepas shubuh..siang baru bangun..” gerutu mamah diantara kesibukannya yang kini telah mulai menyuapi anin

“ kalau untuk usaha sepertinya tidak dulu mah, nanti bisa bisa udin enggak mau kuliah lagi kalau usahanya lancar…” ucap gue seraya melakukan tegukan terakhir yang menghabiskan air teh manis hangat di dalam gelas

“ udin pergi keluar dulu mah…”

Tanpa menunggu jawaban yang terucap dari mulut mamah, gue bergegas melangkahkan kaki ini keluar dari dalam rumah, entah akan kemana langkah kaki ini akan menuju, tapi yang pasti gue harus menemukan aktifitas yang lain untuk mengisi hari hari gue ke depannya


cerbung.net

Rumah Bercat Putih

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Mempunyai rumah yang indah dan nyaman adalah idaman bagi semua orang, tapi bagaimana jadinya jika rumah yang kita tempati itu, rupanya tidak seindah dan senyaman seperti apa yang kita bayangkan
Berangkat dari sebuah kisah yang menceritakan tentang sebuah keluarga yang pindah dan menetap di sebuah desa di jawa barat, yaa..sebut saja keluarga tersebut dengan nama keluarga dirja, sebuah keluarga yang telah dikarunia dengan tiga orang anak, pekerjaan pak dirja yang bertugas sebagai pengawas perkebunan telah mengantarkannya singgah ke berbagai daerah dalam rangka mengawasi perkebunan dan salah satunya adalah desa yang berada di jawa barat ini
“ jadi rumah sebesar ini bapak beli dengan harga yang murah…?”

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset