Rumah Bercat Putih episode 9

Chapter 9

Dan sepertinya warung kecil tempat dulu gue membeli rokok, bisa menjadi titik awal bagi gue dalam menjalani aktifitas gue hari ini, keberadaan gue yang kini telah memasuki warung tersebut, telah memancing pandangan mata dari beberapa ibu ibu warga kampung yang tengah asik mengobrol sambil membeli keperluan hariannya, senyuman ramah yang terpancar dari wajah ibu ibu warga kampung tersebut, seperti mempertegas bahwa saat ini warga kampung telah mengenal gue sebagai bagian dari penduduk kampung ini

“ ehh ada nak udin…kemana aja..kok baru kelihatan lagi…?” tanya ibu penjaga warung yang berbalas dengan jawaban gue yang memberikan alasan bahwa saat ini gue tengah sibuk dengan aktifitas merapihkan rumah, dan kini seiring dengan permintaan gue yang meminta segelas kopi panas, ibu penjaga warung mulai membuatkan segelas kopi panas lalu menyuguhkannya berdampingan dengan gorengan pisang yang terlihat masih hangat

“ nikmatnya ” ucap gue setelah menyeruput kopi yang masih terasa panas, sebatang rokok kini gue sulutkan

“ bagaimana nak udin…apa nak udin kerasan tinggal di kampung ini…?” tanya ibu penjaga warung kembali sambil melayani pembelinya

“ sepertinya kerasan bu, udara di kampung ini segar, beda dengan udara jika tinggal di kota…” jawab gue yang beriringan dengan keteringatan gue akan janji gue yang akan menemui agus di warung ini, tapi di karenakan adanya kejadian aneh yang terjadi di rumah gue, janji tersebut terpaksa gue ingkari

“ ohh iya bu…ngomong ngomong kang agus kemana yaa…udah lama juga saya enggak melihat kang agus…”

“ nak agus udah beberapa hari ini enggak mampir ke warung ini, tapi kalau nak udin mau menemuinya, coba aja nak udin mampir ke rumahnya…” jawab ibu penjaga warung seraya memberikan gambaran akan jalan yang harus gue lalui untuk menuju ke rumah agus

Setelah merasa cukup jelas atas gambaran yang diberikan oleh ibu penjaga warung, gue memutuskan untuk bermain ke rumah agus, sekaligus gue juga ingin mengetahui lebih jauh lagi akan kondisi dan situasi di kampung ini, karena selama ini tempat yang paling jauh yang pernah gue kunjungi di kampung ini, hanyalah warung kecil ini

Dengan berbekal gambaran yang di berikan oleh ibu penjaga warung, gue mulai melangkahkan kaki ini menelusuri jalan setapak kampung, dan di sepanjang perjalanan ke rumah agus, gue jarang sekali menemui keberadaan warga kampung yang menjalankan aktifitasnya di rumah, hal ini dikarenakan mungkin, sebagian besar warga kampung ini bekerja lepas di perkebunan teh, jadi sangat wajar jika gue tidak menemui keberadaan mereka pada pagi hari seperti ini, hingga akhirnya kini diantara langkah kaki gue yang telah berjalan menjauh meninggalkan warung, sebuah jalan dengan rerimbunan tanaman bambu yang berada di sisi jalan, kini sepertinya menjadi patokan gue untuk mencari keberadaan rumah agus, karena sesuai dengan apa yang telah dikatakan oleh ibu penjaga warung, keberadaan rumah agus akan gue temui begitu gue telah melalui sebuah jalan dengan rerimbunan pohon bambu serta sebuah jembatan bambu yang melintasi anak sungai kecil

“ sepertinya itu jembatannya….” gumam gue diantara keberadaan gue yang belum melalui jalan setapak yang di payungi oleh rerimbunan pohon bambu, nampak terlihat di kejauhan, keberadaan dari jembatan bambu yang di maksud oleh ibu penjaga warung

“ akhirnya sebentar lagi gue sampai ” gumam gue kembali dengan rasa lega, dan kini diantara langkah kaki gue yang mulai berjalan menapaki jalan setapak yang di payungi oleh rerimbunan pohon bambu, gue merasakan rasa sejuk begitu melalui jalan tersebut, hal ini dikarenakan hampir sebagian besar cahaya matahari yang menyinari jalan ini, terhalang oleh keberadaan rerimbunan daun bambu, hingga akhirnya seiring dengan keberadaan gue yang kini telah berada di tengah jalan setapak, gue mendapati adanya keberadaan jalan setapak kecil di sisi jalan yang tertutupi oleh rerimbunan pohon bambu

“ sepertinya ada jalan lagi, tapi…jalan itu menuju kemana ya…?” tanya gue dalam hati seraya menatap kondisi jalan setapak, nampak terlihat di jalan setapak tanah tersebut, terdapat banyak kubangan air yang membuat jalan setapak tanah tersebut terlihat basah dan licin, sedangkan di sisi yang lain, gue juga melihat keberadaan jalan setapak tanah itu terlihat begitu gelap, hal ini dikarenakan oleh keberadaan rerimbunan pohon bambu dan juga pohon pohon liar yang membuat sinar matahari terhalang masuk untuk menyinari jalan setapak itu, hingga akhirnya di saat pandangan mata gue masih terarah ke jalan setapak itu, tiba tiba saja gue mendapati adanya suara teguran yang membuat irama jantung gue ini berdegup kencang, kini terlihat keberadaan seorang lelaki berusia separuh baya dengan rambut yang sudah memutih tengah berdiri di belakang tubuh gue

“ ya ampun pak, ngagetin saya aja ” gerutu gue sambil memegang dada ini, terlihat lelaki separuh baya itu hanya tertawa kecil dalam merespon keterkejutan gue ini

“ memangnya adik lagi cari apa…?” tanya lelaki separuh baya itu tanpa menghilangkan senyum yang mengembang di wajahnya

“ enggak sedang cari apa apa pak, ohh iya kalau jalan ini sebenarnya mengarah kemana ya pak…?” tanya gue sambil menunjuk ke jalan setapak kecil yang terselimuti oleh kegelapan

“ ohh itu cuma jalan alternatif aja dik, tapi kalau adik lewat situ, nanti adik bisa menemui tempat yang menurut bapak agak nyaman untuk beristirahat….” terang lelaki separuh baya itu sambil menyibak rerimbunan daun yang menutupi keberadaan jalan setapak

“ apa kamu mau bapak temenin untuk melihat lihat jalan setapak ini…?”

Ini adalah sebuah bentuk penawaran yang ramah dari seorang lelaki separuh baya yang baru gue kenal, tapi menurut gue memang tidak ada yang aneh dengan penawaran ini, karena sudah menjadi hal yang biasa di negara kita ini, kalau penduduk kampung itu terkenal dengan keramah tamahannya

“ ehhh boleh pak…tapi…”

“ woii din…!!”

Belum sempat gue melanjutkan perkataan gue itu, kini sebuah suara panggilan yang memanggil nama gue dari kejauhan, telah membuat gue memalingkan pandangan ini ke arah suara panggilan tersebut, nampak kini terlihat keberadaan agus yang tengah berlari kecil menghampiri gue, mendapati hal tersebut, gue kembali mengarahkan pandangan ini ke arah sosok lelaki separuh baya yang tadi tengah berdiri di depan gue, tapi di saat ini gue mendapati adanya keanehan dengan tidak terlihatnya lagi keberadaan dari sosok lelaki separuh baya itu

“ kemana perginya bapak bapak itu….?” tanya gue dalam hati seraya menatap ke arah jalan setapak, dan saat ini keberadaan agus sudah berada di sisi gue

“ lu lagi lihat apa sih din….?” tanya agus diantara irama nafasnya yang terlihat memburu, mendapati pertanyaan tersebut, untuk sejenak gue mengarahkan pandangan ke arah agus lalu kembali menatap ke arah jalan setapak

“ dinnn..ehh nih orang kok di tanya malah diam aja…” ujar agus seraya menepuk bahu gue, dan kini diantara keterdiaman gue yang masih terpaku dalam memandang ke arah jalan setapak, agus segera menarik tangan gue untuk berjalan ke arah jembatan bambu

“ jangan bohong sama gue din, tadi itu lu sebenarnya kenapa…?” tanya agus kembali begitu gue dan agus telah berjalan melintasi jembatan bambu, dan kini belum sempat gue menjawab pertanyaan agus tersebut, agus menunjukan jari tangannya ke arah sebuah rumah yang berada tidak jauh dari tempat kami berdiri saat ini

“ itu rumah gue…” ucap agus diantara tatapan mata gue yang tengah memandang ke arah rumah yang ditunjukan oleh agus, nampak kini terlihat sebuah rumah yang cukup sederhana, dengan keberadaan susunan pagar bambu di sekitarnya

“ din…tadi itu….”

“ tadi itu gus, sewaktu gue melintasi jalan setapak yang dipayungi oleh rerimbunan bambu itu, gue berjumpa dengan seorang lelaki paruh baya yang mungkin berusia sekitar empat puluh tahun ke atas, tapi tadi di saat lu memanggil gue dan gue menoleh ke arah lu, tiba tiba saja lelaki paruh baya itu menghilang entah kemana….” ujar gue memotong perkataan agus

“ apakah lelaki paru baya yang lu jumpai itu mempunyai rambut yang putih ?” tanya agus diantara keberadaan kami yang kini telah tiba di teras depan rumah agus, sejujurnya saat ini gue merasa terkejut dengan pertanyaan agus itu, karena bagaimana mungkin agus bisa mengetahui secara pasti akan ciri ciri dari lelaki paruh baya yang telah gue jumpai tadi

“ masuk din….” ajak agus mengajak gue untuk memasuki rumahnya, dan kini diantara ekspresi kebingungan gue di dalam menyikapi pertanyaan agus tersebut, agus terlihat mengembangkan senyum kecilnya seraya mempersilahkan gue untuk duduk

“ lu enggak usah heran din…udah banyak penduduk sini dan warga dari kampung lain yang berjumpa dengan sosok lelaki paruh baya itu, tapi kalau gue pribadi sih…gue sama sekali belum pernah berjumpa dengan sosok lelaki itu, hanya saja orang tua gue pernah bertemu dengan sosok lelaki itu di saat dia masih hidup…”

“ ahh…jangan gila lu gus…lu pasti lagi mau nakut nakutin gue ya…” ujar gue seraya memancing agus untuk tertawa, tapi kini begitu melihat ekspresi wajah agus yang menunjukan keseriusannya, gue merasa perkataan agus saat ini bukanlah sebuah candaan untuk menakut nakuti gue, hingga akhirnya kini mengalirlah sebuah cerita dari mulut agus yang mengisahkan bahwa dulu di kampung ini pernah di temukan sebuah makam kuno, bahkan bisa dikatakan sudah teramat kuno, dan dikarenakan warga kampung tidak mengetahui akan sejarah dari makam kuno itu, berkembanglah cerita dari mulut ke mulut bahwa makam kuno itu ditemukan oleh warga kampung melalui sebuah mimpi, selain itu, pada saat makam kuno itu belum ditemukan oleh warga kampung, banyak terjadi kejadian aneh yang terjadi di sekitar area makam kuno itu

“ lantas hubungannya dengan lelaki paruh baya yang tadi gue temui itu apa…?” tanya gue dengan rasa penasaran

“ lelaki paruh baya itu adalah warga kampung sini, dia mempunyai kebiasaan mempelajari hal hal yang cenderung berhubungan dengan sesuatu yang bersifat ghaib, bahkan pada saat itu warga kampung mencurigai lelaki paruh baya itu sebagai dalang atas hilangnya kafan mayat dan juga dugaan adanya beberapa mayat wanita yang di setubuhi…”

Diantara perkataan agus yang kini terhenti, nampak agus menyulutkan sebatang rokok, lalu menyerahkan kotak rokok yang berada di genggaman tangannya kepada gue

“ dan menurut cerita yang pernah gue dengar, lelaki paruh baya itu sering menyepi ke berbagai tempat angker di kampung ini dan juga di kampung kampung lainnya, hingga akhirnya di saat warga kampung menemukan makam kuno itu, lelaki paruh baya itu menjadi pengunjung setia dari makam kuno itu, bahkan bisa dikatakan lelaki paruh baya itu telah menjelma menjadi kuncen dari makam kuno itu hingga ajal menjemput nyawanya….”

“ hahh…ajal menjemput nyawanya…?”

“ iya din, warga kampung menemukan lelaki paruh baya itu sudah dalam keadaan meninggal di pemakaman kuno itu, entah apa yang melatarbelakangi lelaki paruh baya baya itu melakukan tindakan bunuh diri dengan cara memotong urat nadinya, tapi menurut cerita yang berkembang dari mulut ke mulut, darah dari lelaki paruh baya yang membasahi makam kuno itu, adalah sebuah bentuk pengorbanan dari lelaki paruh baya agar bisa menjadi bagian dari penghuni ghaib yang menempati makam kuno itu…”

Menebal rasanya bulu kuduk gue ini begitu mendengar cerita agus tersebut, sungguh…gue sama sekali tidak menyangka bahwa di kampung yang setenang dan seindah ini, ternyata menyimpan sebuah kisah masa lalu yang teramat kelam

“ setelah kematian lelaki paruh baya itu, mulai terjadi kejadian kejadian aneh yang menimpa warga pendatang, dan pada umumnya warga pendatang itu tidak mengetahui akan peristiwa kelam yang terjadi di makam kuno itu…..”

“ jadi banyak warga pendatang yang berkunjung ke makam kuno itu…?” tanya gue memotong perkataan yang belum selesai terucap dari mulut agus

“ iya din…dari apa yang gue ketahui, beberapa warga pendatang mengatakan bahwa mereka menjumpai sosok lelaki paruh baya itu, dan disaat mereka melakukan tirakat di makam kuno itu, bukannya keberuntungan yang mereka dapat tapi justru mereka mendapati rangkaian kejadian mengerikan yang membuat kehidupan mereka menjadi hancur….dan salah satunya…”

Mendadak agus menghentikan ceritanya, dan sepertinya saat ini agus berusaha untuk menutupi sesuatu yang diketahuinya

“ haduhh…gue sampai lupa untuk menawarkan lu minum din….” ujar agus seraya beranjak dari duduknya lalu berjalan memasuki sebuah ruangan, dan kini tinggalah gue sendiri yang masih merasa bingung atas cerita agus yang tidak terselesaikan

Tanpa terasa waktu kini telah menunjukan pukul empat sore, berbagai macam cerita agus yang menceritakan tentang tentang keadaan kampung dan juga berbagai macam aktifitas yang biasa di lakukan di kampung ini, kini telah membuat gue melupakan akan pergerakan jarum jam yang terus bergerak, dan sepertinya saat ini agus memang sudah tidak berkeinginan lagi untuk melanjutkan ceritanya yang tadi sempat terputus

“ sebaiknya gue pulang dulu gus, ohh iya..besok kalau lu ada waktu, lu boleh main ke rumah gue…ada yang mau gue ceritakan sekaligus ada yang mau gue perlihatkan juga kepada lu…”

Ekspresi wajah agus seperti menunjukan ketidakpercayaannya atas penawaran gue itu, dan kini seiring dengan anggukan kepala agus yang menandakan bahwa agus menerima tawaran gue itu, gue segera beranjak pulang dikarenakan hari mulai beranjak gelap, dan kini diantara langkah kaki gue yang telah melintasi jembatan bambu dan hendak memasuki kawasan jalan setapak dimana gue telah berjumpa dengan sosok lelaki paruh baya, entah mengapa saat ini gue merasakan langkah kaki gue ini terasa begitu berat, dan gue merasa apa yang tengah gue rasakan ini adalah efek dari cerita agus yang telah menyentuh dinding rasa ketakutan gue

“ sialan…tau begini lebih baik gue enggak dengerin cerita si agus…” maki gue dalam hati dengan pandangan menatap ke arah jalan setapak yang di payungi oleh rerimbunan pohon bambu, keberadaan hari yang kini beranjak semakin gelap, kini telah membuat jalan setapak itu terlihat bagaikan sebuah lorong panjang yang berbalut dalam kegelapan sebuah misteri. ingin rasanya saat ini gue berbalik arah dan meminta agus untuk menemani gue melalui jalan setapak itu, tapi rasa gengsi gue yang begitu tinggi telah membuat gue mengurungkan keinginan gue itu

“ ahh masa bodooo…bisa mati kaku gue kalau hanya terus berdiri di sini…” gerutu gue seraya mulai melangkahkan kaki memasuki jalan setapak, hingga akhirnya di saat keberadaan gue kini telah berada di posisi dimana gue telah berjumpa dengan sosok lelaki paruh baya, pandangan mata gue ini seperti tertarik oleh sebuah kekuatan yang membuat gue mengarahkan pandangan mata ini ke arah jalan setapak kecil yang di selimuti oleh kegelapan

“ sialan…sialan…sialannnnn…!!” maki gue atas ketidakmampuan gue untuk memalingkan pandangan mata ini dari arah jalan setapak kecil, hingga akhirnya diantara keinginan gue untuk membebaskan diri ini dari belenggu keterpakuan ini, gue seperti mendengar adanya suara patahan ranting kayu yang diiringi dengan terdengarnya suara hembusan nafas yang begitu berat dan terdengar tepat di telinga gue ini, mendapati hal tersebut, gue memutuskan untuk segera berlari tanpa berusaha untuk mencari tahu akan sumber suara yang telah gue dengar itu, dan kini diantara kepanikan yang gue rasakan akibat mendengar suara itu, untuk beberapa kali gue terjerambab jatuh karena tergelincir oleh keberadaan dari beberapa kubangan air yang menghiasi jalan setapak tanah

“ brengsek…tadi itu sebenarnya gue mendengar suara apa…?” tanya gue diantara keberadaan gue yang telah menjauhi jalan setapak yang berpayungkan rerimbunan daun pohon bambu, hingga akhirnya seiring dengan langkah kaki gue yang telah melintasi beberapa rumah warga kampung, keadaan baju dan celana gue yang terkotori oleh tanah basah, kini telah membuat diri gue ini menjadi bahan perhatian dari beberapa warga kampung yang kebetulan berpapasan dengan gue


cerbung.net

Rumah Bercat Putih

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Mempunyai rumah yang indah dan nyaman adalah idaman bagi semua orang, tapi bagaimana jadinya jika rumah yang kita tempati itu, rupanya tidak seindah dan senyaman seperti apa yang kita bayangkan
Berangkat dari sebuah kisah yang menceritakan tentang sebuah keluarga yang pindah dan menetap di sebuah desa di jawa barat, yaa..sebut saja keluarga tersebut dengan nama keluarga dirja, sebuah keluarga yang telah dikarunia dengan tiga orang anak, pekerjaan pak dirja yang bertugas sebagai pengawas perkebunan telah mengantarkannya singgah ke berbagai daerah dalam rangka mengawasi perkebunan dan salah satunya adalah desa yang berada di jawa barat ini
“ jadi rumah sebesar ini bapak beli dengan harga yang murah…?”

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset