Rumah Dinas episode 10

BAGIAN 10 - PUSKESMAS

Aku pun menuju ruangan dapur yang ada di paling belakang, dan dengan jantung yang sedikit deg-deg-an aku pun perlahan membuka pintu itu, ya pintu yang menghubungkan awal dari semua masalah di rumah ini. Disaat aku membuka pintu itu sekilas hawa yang ada disekitarku menjadi mencekam, bulu kudukku perlahan berdiri, dan langkahku kian mem-berat. Ketika aku telah berada di ruangan tersebut, aku pun melihat tepat didepanku sebuah pohon yang dipagari disekelilingnya, aku pun sejenak terdiam ketika melihat pohon itu. Rasanya aku menjadi tenang disaat aku melihat pohon tersebut, entah apa yang ada didalam pohon itu atau hanya firasatku saja. Lalu aku pun melihat gembok yang ada pada pagar itu telah copot, padahal sebelumnya gembok yang ada pada pagar itu masih terkunci dengan rapi. Dan aku sangat ingat sekali, tidak mungkin bang ewo yang melepaskan kuncinya tersebut, karena semenjak bang ewo menginap disini tidak ada satupun yang ke ruangan ini lagi.

“ssshh..” Tiba-tiba ada hembusan angin yang tidak terlalu kuat namun cepat melewati telingaku, seketika aku pun terkejut dan langsung berlari ke ruang dapur. “Apaan tadi itu?” tanyaku dalam hati. Telingaku langsung berdiri pada saat itu, rasanya seperti dihembus oleh seseorang. Sebenarnya tidak ada hal aneh yang ada pada pohon itu, hanya saja perasaan yang sedikit berbeda ketika aku melihat pohon itu. Perasaan yang tenang, hampa dan dingin. Ya, rasanya diruangan itu lebih sedikit dingin daripada suhu yang ada didalam sini, padahal tidak ada ac disana dan lagi atap nya pun terbuka. Aku pun memutuskan untuk mengunci kembali dengan gembok pintu belakang itu, agar tidak ada maling yang masuk ke dalam rumah ini. “Oh iya, masih ada satu lagi pintu yang belum terkunci..” ingatku pada saat itu. Aku pun langsung bergegas pergi ke halaman samping belakang untuk mengunci pintu yang sudah dibuka bang ewo waktu itu. Ketika aku telah mengunci pintu tersebut, aku pun sekilas melihat gudang berkas yang ada di depan pintu itu. Aku merasakan ada seseorang didalam gudang arsip itu, padahal tidak ada siapa-siapa ketika itu. Aku pun tidak ingin mengeceknya jauh lebih dalam lagi, lantas aku pun langsung berlari menuju ruang tamu ketika itu.

“Sudahlah.. aku tidak ingin lagi mencari tahu hal-hal yang seharusnya tidak aku ketahui..” Gumamku dalam hati. Ya mungkin ada benarnya juga, untuk apa mencari tahu hal-hal yang seharusnya tidak kita ketahui. Kalaupun hantu itu ada, biarlah tetap menjadi hal yang tersembunyi, tak perlu dicari untuk mencari kebenaran bahwa hantu itu ada. Karena pada dasarnya, dunia manusia dan dunia para hantu itu memang sudah berbeda. Ketika kita mencari-cari tahu tentang dunia yang berbeda itu, itu hanya membuat gerbang antara dunia manusia dan dunia hantu itu menjadi tidak seimbang. Itulah argumen yang bisa aku berikan ketika itu untuk diriku, pemikiran seperti itu aku dapatkan ketika aku menonton anime kesukaanku yang berjudul Inuyasha. Dimana sang peran utama, memasuki dunia manusia dan begitu pun sebaliknya yang pada akhirnya pembatas gerbang antar kedua dunia itu hilang. Yang mana, kalau tidak manusia yang terjebak di dunia hantu bisa jadi hantulah yang terjebak di dunia manusia.

Dan setelah hari itu, aku pun menjalankan aktivitas hari-hariku dengan biasanya. Ya, walau para hantu itu masih saja mengangguku disetiap harinya meski kini aku sudah terbiasa dengan hal-hal itu. Jadi aku tidak terlalu takut lagi ketika para hantu itu “bermain” dirumah dinas ini. Dan lagi ketika hari itu hinga kini khalil pun belum masuk ke sekolah, padahal sekarang kami sudah hampir memasuki akhir tahun kedua (akhir tahun 2008) semenjak aku pindah kerumah dinas ini. Dan masalah gambar yang khalil berikan kepadaku, sampai akhir tahun kedua ini aku masih belum bisa menyelesaikannya. Aku pun berharap khalil cepat kembali ke sekolah, karena aku sangat penasaran ada apa sebenarnya dengan gambar ini, dan pesan apa sebenarnya yang ingin khalil sampaikan kepadaku mengenai gambar ini. Tahun kedua pun telah usai, masuk ke awal tahun ketiga (awal tahun 2009), kami pun saat ini sudah memasuki kelas lima. Tapi, aku tidak tahu apakah khalil juga naik kelas pada saat itu karena dari wali kelas pun tidak ada keterangan yang menyatakan bahwa khalil sudah tidak bersekolah lagi ataupun khalil tinggal kelas.

“Bang, sudah kelas lima kan sekarang?” sahut papaku ketika aku sedang asik bermain game dikamarku. “Iya pa.. kenapa pa?” jawabku. “Udah waktunya untuk di khitan nih..” mendengar perkataan papaku itu aku pun sejenak berhenti dari aktifitasku bermain game. “Hah…” jawabku terkejut, maklum pada saat itu aku sangat takut mendengar yang namanya khitan. Bagiku itu hal-hal yang paling menakutkan dihidupku ini, aku belum siap untuk itu. “Udah kelas lima ini harus wajib dikhitan bang..” jelas papaku. Aku pun langsung menolaknya dan mengatakan bahwa aku belum siap. Tapi papaku meyakinkanku untuk dikhitan dengan di iming-imingi komputer. Bagiku itu adalah pilihan berat, karena memang sudah beberapa tahun belakangan ini aku sangat mengidam-ngidamkan komputer, karena beberapa tahun belakangan ini aku juga sering untuk main ke warnet yang letaknya tidak jauh dari rumahku hingga mama dan papaku sering memarahiku karena terlalu sering keluar dan menghabiskan uang untuk itu. Lalu aku pun langsung meng-iyakan apa yang papaku pinta, “Tapi pa.. gak sakit kan?” papaku hanya membalas dengan tawa candaan pada saat itu.

Setelah beberapa minggu kemudian, hari H pun telah tiba. Ya hari penentuanku dimana aku akan menjadi seorang lelaki sejati telah tiba, aku pun beserta papa dan mamaku pergi ke puskesmas yang berada di sekitar perumahan yang letaknya tidak jauh dari rumah dinas ini. Seperti yang aku bilang sebelumnya, lingkungan ini sangatlah sepi meski banyak rumah-rumah bertingkat tapi bagiku ini bukanlah perumahan yang mewah melainkan perumahan yang menyeramkan karena dikelilingi oleh pohon-pohon beringin yang besar-besar. Setelah aku sampai di puskesmas, tepat didepannya aku melihat masjid yang lumayan besar. Dan yang menjadi perhatianku adalah keranda-keranda mayat yang terletak berjejer tepat di halaman depan masjid tersebut. Bulu kudukku agak merinding ketika melihat keranda-keranda mayat tersebut, karena aneh saja bagiku biasanya keranda-keranda mayat diletakkan dibagian belakang atau samping masjid tapi ini malah diletakkan tepat dihalaman depan masjid, seperti tidak ada tempat saja padahal perkarangan masjid itu lumayan luas, “Mungkin ada yang meninggal hari ini..” pikirku dalam hati.

Sebenarnya bukan hanya itu saja yang membuat bulu kudukku merinding, awal kedatanganku ke puskesmas ini saja sudah membuat bulu kudukku tegak satu per satu. Pasalnya suasana yang ada di puskesmas dan lingkungan ini sama sepinya dengan suasana yang ada pada lingkungan rumahku, mungkin karena masih satu daerah kali ya? pikirku saat itu. Dan lagi hanya ada beberapa perawat saja yang ada di puskesmas ini padahal puskesmas ini tergolong besar dan juga bertingkat. “Menurutku suasana disini lebih menyeramkan daripada yang ada dirumahku saat ini..” ketika aku dan keluargaku menunggu diruang tunggu, aku pun tanpa sengaja mendengar percakapan antara kedua perawat yang sedang bertugas ini, “Eh sis, dua hari yang lalu aku kan shift malam sama si yusuf. Tau gak kami dilantai atas kemarin melihat bayangan orang yang lagi lari-lari! Padahal dilantai atas gak ada orang kan..” cerita salah satu perawat sambil berbisik kepada temannya. “Ah, emang kamu gak tau ya kalau dilantai atas itu terkenal angkernya? makanya dikosongin kalau malam hari..” Mendengar hal itu, pikiranku kembali melayang-layang. Dan ketika itu juga, “Nomor 7, silahkan masuk ke ruangan yang berada dilantai dua..” nomorku pun dipanggil, dan ternyata ruangan itu berada dilantai atas yang baru saja diceritakan oleh perawat-perawat itu. Seketika moodku pun berubah, keteganganku pun bertambah dan yang lebih parahnya badanku mendadak dingin pada saat itu.


cerbung.net

Rumah Dinas

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Waktu ku kecil dulu aku tinggal di rumah dinas oomku , rumah nya sangat besar , mungkin ga bisa disebut "rumah biasa" karena di dalamnya terdapat makhluk lain yang bersemayam didalam rumah itu.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset