Rumah Dinas episode 11

BAGIAN 11 - SUSTER

Aku pun menaiki tangga menuju lantai dua dengan ditemani oleh papa dan mamaku saja, sedangkan adikku saat itu masih menunggu dibawah mungkin sepertinya dia takut untuk melihatku khitanan pada waktu itu. Lorong demi lorong pun kami lewati, dan memang di lantai dua ini sangat lah sepi meski ada beberapa ruangan yang terlihat namun ruangan-ruangan tersebut sepertinya sudah tidak terpakai lagi. Karena di dalam ruangan itu tidak ada satupun perawat atau dokter yang bertugas. “Pa, kok lantai dua nya sepi ya? kayak gak ada orang..” tanyaku pada waktu itu, lalu papaku pun menjawab “Mungkin dokternya belum datang..” Aku berpikir “Masa iya, jam segini dokter masih belum datang? memang jadwal kerja dokter itu jam berapa ya?” pikirku dalam hati. Lalu aku pun sampai ke ruangan nomor tujuh tersebut, meski nomornya adalah nomor tujuh tetapi posisi ruangan tersebut berada di sudut paling ujung. “Ini dengan saudara rival?” tanya salah satu dokter yang telah menungguku didepan pintu ruangan tersebut, “Iya dok..” jawabku yang sedikit tersipu malu. Bagaimana tidak? ternyata dokternya masih muda ketika itu.

Walau begitu keteganganku masih belum hilang karena ini adalah hari yang sangat-sangat penting sekaligus menegangkan bagiku, mengapa tidak? begitu banyak pikiran-pikiran negatif yang mengelilingiku saat itu. “Bagaimana jika kemaluanku nanti copot? atau dokternya salah potong? sakit gak ya? duh, pasti sakit banget..” rasanya aku ingin sekali kabur pada saat itu namun aku masih ingat akan apa yang papaku bilang, “Bang.. kalau udah selesai khitanan nanti papa belikan komputer..” ya, disamping itu perkataan papaku selalu terngiang-ngiang dikepalaku sehingga menahanku untuk kabur dari ruangan itu. “Silahkan dek, tidur terlentang disana ya.. dan untuk bapak-ibuknya silahkan mendampingi..” lalu aku pun menuju tempat tidur yang telah disiapkan oleh dokter itu, sedangkan papa dan mamaku duduk dibangku ang berada disamping tempat tidurku. “Tahan ya, ini gak sakit kok..” lalu dokter itu pun menyuntikkan cairan pada kemaluanku ini, sekilas kemaluanku pun rasanya tidak berasa apapun pada saat itu, “Dok.. sakit gak dok.. aku takut..” dokter itu pun mencoba untuk menenangkanku pada saat itu, “Gak sakit kok kan udah disuntik, udah kebal kok..” walau begitu tetap saja ngilu bagiku ketika dokter itu memulai untuk meng-khitankanku, dan aku hanya bisa berdoa dan berdzikir pada waktu itu.

Dan setelah proses khitananku selesai aku pun berjalan ke arah luar ruangan itu sembari memegang celanaku agar tidak mengenai kemaluanku pada saat itu, sedangkan papa dan mamaku masih berkonsultasi dengan dokter. Ketika aku menunggu diluar ruangan dokter itu, sesekali aku menengok ke arah lorong-lorong yang agak menyeramkan itu. Disaat itu aku juga melihat ada tangga menuju lantai atas tepat disamping ruangan khitanku ini, “Wah, lantai dua aja udah sepi begini masa iya ada lagi ruangan dilantai atas? aneh..” pikirku saat itu. Tapi lebih anehnya lagi, ada seorang perawat yang baru saja turun dari lantai atas tersebut, hingga aku pun bertanya kepada perawat itu, “Sus.. di lantai atas ruangan apa ya?” perawat itu hanya berjalan di depanku begitu saja tanpa menggubris pertanyaanku pada waktu itu. “Sombong amat..” kesalku dalam hati. Tidak lama setelah itu, orangtua ku pun keluar dari ruangan tersebut bersamaan dengan dokter itu, aku yang masih penasaran dengan lantai atas itu kembali bertanya kepada dokter itu, “dok dilantai atas itu ruangan apa ya?” dengan santai dokter itu pun menjawab, “masih kosong dek belum diisi, dulu pernah ada tapi udah gak dipakai lagi..” lalu aku pun kembali bertanya, “lah.. terus suster tadi ngapain ke atas ya dok?” ketika itu dokter itu pun langsung berubah mood nya dan menjadi sedikit terkejut, “yuk dek, kita kebawah lagi..” pungkas dokter itu sembari mempercepat langkahnya. Ketika itu aku merasakan kejanggalan dengan ekspresi dokter pada saat itu.

Kami pun sudah berada di lantai dasar, papa mamaku pun mengurus administrasi khitananku itu sedangkan aku menunggu di ruang tunggu dan terlihat dokter yang mengkhitankanku itu mengobrol dengan temannya dengan wajah yang sedikit serius dan terlihat cemas sambil menunjuk-nunjuk ke arah lantai atas. Aku yang sedikit penasaran merubah tempat dudukku sedikit lebih dekat dengan dokter itu agar aku pun bisa mendengarkan apa pembicaraan dari mereka, “Ah masa iya?” tanya salah satu teman dari dokter itu, “Iya bener.. tadi anak itu ngomong kayak gitu.. ih serem..” jelas dokter tersebut. Aku pun berpikir sejenak, “Ah.. jangan-jangan dokter tadi itu..” sekilas aku pun merinding dengan apa yang aku pikirkan ketika itu, “Apa iya perawat yang aku bilang sombong itu adalah hantu? tapi kalau memang hantu tapi kok bulu kudukku tidak merinding ya ketika aku bertanya kepada perawat itu?” aku pun masih menerka-nerka dan masih di antara percaya atau tidak dengan kejadian itu.

Lalu papaku pun memanggilku sehingga aku pun bergegas menuju mobil, ketika aku berada di parkiran mobil aku pun melihat sekilas ke arah jendela atas puskesmas ini, terlihat jendela-jendela ruangan dari lantai dasar terbuka semua yang menandakan bahwa ruangan tersebut tidak lah kosong dan sedangkan di lantai dua nya hanya terlihat satu jendela yang terbuka sedangkan jendela-jendelanya tertutup, “Oh itu pasti tempatku khitan tadi..” lalu aku pun melihat ke lantai tiga nya lagi yaitu lantai paling atas dari puskesmas ini dan aku melihat semua jendela-jendela pada lantai tiga ini tertutup. Lalu aku pun masuk ke dalam mobil dan perlahan papaku menghidupkan mobil tua ini dan berjalan dengan lambat. Aku pun membuka kaca mobil ini sembari melihat terus ke arah lantai tiga pada puskesmas ini, karena aku masih penasaran apa yang dilakukan suster itu dilantai atas yang ruangannya tertutup semua? sembari aku memikirkan hal itu, tiba-tiba aku melihat jendela lantai atas itu terbuka dengan perlahan. Aku pun langsung menutup jendela mobilku dan menghadap ke arah depan, “Kok.. kebuka..?” aku pun tidak berani menengok ke arah belakang lagi, takut sesuatu hal yang tidak ingin aku lihat, malah terlihat nantinya.


cerbung.net

Rumah Dinas

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Waktu ku kecil dulu aku tinggal di rumah dinas oomku , rumah nya sangat besar , mungkin ga bisa disebut "rumah biasa" karena di dalamnya terdapat makhluk lain yang bersemayam didalam rumah itu.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset