Rumah Dinas episode 12

BAGIAN 12 - TASAPO

Setelah tiba dirumah, aku pun mencoba untuk bersikap tenang dan bersikap seolah aku tidak melihat apapun ketika di puskesmas tadi. “Sebenarnya ada apa sih dengan lingkungan ini? kenapa semuanya tampak menyeramkan..” kesalku ketika itu. Aku pun memutuskan untuk tidak memikirkan terlalu keras lagi, dan lebih mengalihkan perhatianku kepada game playstation milikku sembari mengkode-kode papaku mengenai janji yang telah kami kesepakati sebelumnya. “Gimana pa? kapan kita belinya?” tanyaku, “Sabar ya bang, tunggu kering dulu..” pungkasnya. Ya, mau gak mau harus menunggu khitanku ini mengering, kalau masih basah seperti ini aku ke toko komputer dengan papaku pun, bisa-bisa jahitannya pada lepas semua, jadi terpaksa aku harus menunggu sedikit lebih lama lagi untuk mendapatkan komputer idamanku itu. Malamnya aku pun bergegas untuk tidur, tapi anehnya suara-suara yang biasanya mengangguku pada malam hari tidak terdengar sama sekali, padahal waktu itu juga sudah menunjukkan jam sebelas lewat lima menit.

Besoknya, jahitanku masih belum mengering jadi aku pun diliburkan dari sekolah dalam beberapa hari ke depan Dan hari-hari liburku pun, aku memanfaatkannya untuk bermain game playstation seharian. Sempat bosan sih aku dengan playstation ini, karena sudah waktunya untuk beralih ke komputer dan selama beberapa minggu belakangan ini pun aku juga lebih sering main di warnet daripada memainkan joystick playstationku ini. Saking bosannya, aku pun berjalan dengan memegang kain sarungku ke arah halaman belakang dan sekilas aku melihat ayunan yang selama ini tidak pernah aku mainkan sebelumnya, “Udah hampir dua tahun ayunan itu gak pernah ada satupun orang yang naikin.. padahal kemarin ini juga keluarga dari jauh banyak yang kerumah, tapi mereka malah gak melirik ayunan ini sama sekali.. mungkin karena kesannya angker kali ya?” gumamku dalam hati. Memang sih keberadaan ayunan ini agak menyeramkan karena tepat sekali terletak disamping pohon beringin besar ini. Ditambah lagi, aku juga pernah bilang ke mereka bahwa pada malam hari ayunan ini sering bergerak sendirinya.

Aku pun duduk di ayunan itu sembari melamun dan menikmati angin yang sepoi-sepoi pada saat itu, seakan membawaku akan suasana yang tenang-menenangkan tersebut. Tidak terasa hari pun sudah mulai senja, aku pun masuk ke dalam rumah dan memulai aktifitasku pada malam harinya. Namun pada tengah malam ketika aku sudah terlelap untuk tidur, tiba-tiba suhu badanku naik drastis hingga aku pun mengigau dan membangunkan kedua orangtuaku yang sudah terlelap itu, “Bang.. bang.. bang..” panggil papaku sembari membangunkanku pada waktu itu. “Ma, ini si abang panasnya tinggi.. coba ambilkan air, kompres kepalanya..” suruh papaku. Sekujur badanku berkeringat ketika itu tapi anehnya yang aku rasakan pada saat itu malah dingin menggigil, “Pa.. dingin pa..” keluhku pada saat itu. Papaku pun mencoba untuk meng-kompreskan kepalaku dengan air es yang sebelumnya telah disiapkan oleh mamaku. “Gimana abang pa? gapapa kan?” tanya mamaku khawatir. “Abang sepertinya meriang nih..” malam itu pun papaku menyibukkan dirinya untuk mengganti setiap kompresan yang ada dikepalaku, hingga aku pun terlelap.

Pada pagi harinya, suhu badanku kembali normal walau kepalaku agak pusing ketika itu. “Rasanya, semalam suhu badan gak tanggung tingginya.. eh sekarang malah gak panas sama sekali..” ucapku pada waktu itu. Padahal papaku telah berencana membawaku ke puskesmas untuk memeriksa kesehatanku tersebut, “Mungkin karna khitanan kali bang makanya sakit..” ucap papaku pada pagi itu. Aku yang tidak tahu apapun hanya menggangguk saja ketika itu. “Tapi untunglah gak jadi ke puskesmas..”ucapku legah. Siangnya aku kembali ke aktifitas biasaku yaitu memainkan playstationku yang sudah mulai membosankan itu, dan ketika aku sedang asyik memainkan playstation itu tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki berjalan disampingku dengan memakai pakaian putih panjang, aku pun hanya melihat sekilas karena lebih fokus kepada permainanku pada saat itu, lalu berpikir, “Ah.. paling si mama..” tapi anehnya, mamaku malah terdengar sedang bernyanyi dari arah dapur, “Ma.. ma..” teriakku pada saat itu. Mamaku pun berjalan dari arah dapur menuju ke kamarku itu, “Iya, kenapa bang?” lalu aku pun terkejut, “Bukannya mama tadi yang barusan ke kamar mandi samping?” tanyaku, “Gak kok bang, mama di dapur aja dari tadi..” dan aku pun hanya bisa terdiam saat itu, seolah aku sudah tahu apa penyebabnya, “Oh.. mereka lagi ya..” ucapku.

Tidak lama setelah kejadian itu, entah apa yang membuat diriku lupa pada saat itu, tiba-tiba tanganku tidak sengaja menyenggol kemaluanku yang masih basah itu, dan sontak aku pun berteriak menangis, “Ma.. ma.. jahitannya lepas..” mamaku pun langsung berlari ke arahku dan melihat ke arah lantai yang sudah berceceran darah. Melihat hal itu mamaku pun langsung menelepon papaku dan segera membawaku ke puskesmas, tempat dimana aku melihat sosok perawat yang mungkin sudah menungguku di lantai atas. Sedangkan aku, sibuk diam terpaku melihat darah yang begitu banyaknya bercucuran dari kemaluanku.


cerbung.net

Rumah Dinas

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Waktu ku kecil dulu aku tinggal di rumah dinas oomku , rumah nya sangat besar , mungkin ga bisa disebut "rumah biasa" karena di dalamnya terdapat makhluk lain yang bersemayam didalam rumah itu.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset