Rumah Dinas episode 13

BAGIAN 13 - TANAH PENJAJAHAN(TAMAT)

Setibanya aku di puskesmas, aku langsung dibawa oleh papaku menuju lantai dua, tempat dimana aku khitanan pada waktu lalu. “Assalamualaikum dok, ini rival jahitannya lepas dok..” ucap papaku sambil membuka pintu ruangan itu, “Oh iya pak, silahkan bawa anaknya ke tempat tidur ya pak..” jawab dokter tersebut sembari mempersiapkan alat-alat untuk menangani jahitanku yang lepas. “Duh dek, ini kenapa kok bisa lepas gini?” tanya dokter itu, “Gak tau dok, gak sengaja kesambar sama tangan waktu lagi main game..” aku pun hanya bisa menutup mataku ketika dokter itu memulai operasi nya untuk menjahit jahitanku yang lepas, “Lain kali hati-hati ya dek, jangan sampai lepas lagi. Untung ini cepat dibawa..” aku pun hanya menganggung-anggukan kepalaku ketika itu. Setelah itu, aku pun pergi keluar ruangan dokter itu sedangkan papaku masih didalam untuk konsultasi lebih lanjut dengan dokter tersebut. Ketika aku berada diluar, aku pun teringat akan kejadian waktu lalu, suster sombong yang menutup jendela pada lantai atas padahal dilantai tersebut tidak ada siapapun.

Sekilas aku pun melihat tangga yang menghubungkan ke lantai tiga itu, begitu mencekam karna entah mengapa tangga menuju lantai atas itu terlihat sangat gelap padahal matahari masih menunjukkan sinarnya ketika itu. Aku pun melamun, seakan-akan ada seseorang yang berjalan dengan sangat pelan berjalan dari lantai atas itu menuju lantai dua. Namun, ketika sedang asiknya aku melamun tiba-tiba papaku pun memanggilku, “Bang.. yuk pulang..” aku pun sedikit terkejut ketika papaku menyenggol pundakku pada saat itu. “Iya pa..” jawabku, dan kami pun menuju lantai bawah. Dan seperti biasa aku menunggu diruang tunggu sembari papaku mengurus administrasinya, lalu tidak lama setelah itu aku melihat dokter yang menjahit-jahitanku tadi, “Dok, aku mau tanya dok..” sahutku ketika itu. Dari kecil rasa penasaranku memang sudah sangat tinggi, sesuatu hal apapun yang membuatku penasaran pasti akan aku tanyakan langsung pada saat itu juga. “Iya dek, ada apa? masih sakit jahitannya?” jawab dokter itu. “Enggak kok dok, cuman penasaran aja dok sama lantai tiga itu..”

Dokter itu pun menjawab, “Oh, memangnya kenapa dek dengan lantai tiga itu?” aku pun menjelaskan apa yang aku lihat pada waktu lalu, “Oh begitu ya, sebenarnya gak ada apa-apa dek dengan lantai atas itu. Yang membuatnya menjadi angker bukanlah puskesmas ini, melainkan tanah ini lah yang membuat puskesmas ini menjadi angker. Karena dulunya tanah yang ada di perumahan ini kan bekas kuburan masal ya pada waktu jaman penjajahan dulu..” jelas dokter tersebut. Setelah dokter itu menjelaskannya sedikit kepadaku, dokter itu lalu pamit untuk mengurus pasien yang sedang menunggunya di lantai atas. Setelah itu, aku pun kembali ke mobil sembari memikirkan apa yang telah dokter itu ceritakan kepadaku. “Jika yang dikatakan dokter itu benar, berarti rumah yang aku tempati sekarang juga termasuk dong?” tanyaku dalam hati. Seketika suasana yang ada di dalam mobil pun berubah, jalanan yang sepi ini, daun-daun rimbun yang ada disepanjang jalan ini, udara yang dingin ini, perasaan-perasaan yang tidak enak ini, penampakan-penampakan yang aku lihat dirumah dinas selama ini, sudah terjawab semuanya.

Mereka ada bukan tanpa sebab, namun mereka ada karena kita lah penyebabnya. Ya, luka dari masa lalu, dendam dari masa lalu, serta kebencian dari masa lalu akan peristiwa-peristiwa yang mereka alami selama hidup mereka karna ulah tangan manusia yang tamak akan kekuasaannya, karena manusia yang haus akan nafsunya, yang menyebabkan mereka ada dan mencoba untuk menganggu bahkan menghakimi kita. Walau secara tidak langsung bukan kita yang menyebabkan ketidakseimbangan itu, namun kita juga ikut terseret kedalamnya karena kita masih mewakili dari rasa haus mereka akan… manusia. Yang bisa kita lakukan sebagai manusia generasi yang lebih baik darpada yang terdahulunya adalah, berdoa kepada Tuhan agar jiwa-jiwa yang tidak tenang ini kembali ke tempat yang seharusnya. Ya, termasuk jiwa-jiwa yang selalu mengangguku di rumah dinas ini, jiwa anak-anak yang masih belum tau apa-apa yang dibunuh ketika masa peperangan itu.

“Belum puas bermain ya selama hidupnya? makanya, mencoba untuk bermain denganku saat ini? semoga kebencian dan kesedihanmu cepat berakhir ya, agar kamu semua bisa kembali ketempat asalnya, ketempat yang seharusnya kalian berada..”

Tamat.


cerbung.net

Rumah Dinas

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Waktu ku kecil dulu aku tinggal di rumah dinas oomku , rumah nya sangat besar , mungkin ga bisa disebut "rumah biasa" karena di dalamnya terdapat makhluk lain yang bersemayam didalam rumah itu.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset