Rumah Dinas episode 2

BAGIAN 2 - FENOMENA ANEH

Tidak terasa satu tahun lamanya telah berlalu aku lewati begitu saja. Hari demi hari aku berada di rumah ini tidak ada yang aneh sedikit pun, kecuali perasaan-perasaan yang terasa men-janggal itu saja. Perasaan mengenai suasana di rumah ini yang begitu sunyi, sepi dan juga terkadang terasa hampa. Mungkin karena aku pun sudah mulai terbiasa dengan perasaan-perasaan men-janggal tersebut yang membuat diriku terkadang tidak memikirkannya lagi. Namun tepat pada pertengahan tahun ke-2 (perkiraan antara bulan april atau juni) fenomena-fenomena yang aneh mulai terjadi di rumah ini. Di mulai ketika mamaku yang mengeluh bahwa makanan-makanan yang ada di kulkas akhir-akhir ini sering sekali cepat habis, padahal mamaku sudah menakarnya dengan benar seperti hari-hari biasanya. “Bang, malam-malam ada gak ke dapur nyuri-nyuri makanan?” begitulah tanya mamaku ketika itu. Aku memang orangnya pemakan, tapi untuk mencuri makanan ke dapur apalagi pada malam hari, aku tidak seberani itu. Pada malam kedua setelah fenomena aneh itu terjadi, aku mendengar suara-suara antara sendok dan piring yang saling bergesekan di dapur. Mungkin hanya aku sendiri saja yang mendengar hal tersebut, karena tempat tidurku lah yang paling dekat arahnya dari dapur. Sedangkan tempat tidur adikku, mama dan papaku berada di pojokkan dekat jendela luar.

Pada malam itu aku tidak dapat menggerakan anggota tubuhku sedikitpun bahkan melontarkan suara untuk memberitahukan kepada orang tuaku saja tidak bisa, semakin takutnya diriku karena mendengar suara-suara aneh tersebut. Namun aku mencoba untuk meyakinkan diriku sendiri sembari menundukan kepalaku ke bantal dan selimut dalam-dalam, “Palingan cuma kucing..” begitulah gumamku. Lalu terlintas di kepalaku kembali, “Oh iya, mungkin si oom yang ambil makanan ke dapur..” dan ketika itu aku sedikit tenang yang pada akhirnya berujung pada ketiduran. Besok paginya, baru lah aku menceritakan hal tersebut kepada mamaku, “Ma.. mungkin si oom kali yang ngambil-ngambil makanan di dapur. Soalnya kemarin malam juga, aku dengar oom ngambil makanan ke dapur..” Ekspresi wajah mamaku tak yang seperti aku harapkan, mamaku terheran seketika aku menceritakan hal tersebut. “Mana ada.. oom aja udah dua hari ini gak pulang.. kan oom lagi ada rapat di kantornya..” Seketika, bulu kuduk yang ada pada leherku langsung merinding mendengar pernyataan mamaku tersebut. Aku pun hanya bisa terdiam sembari memikirkan, “Lalu.. siapa dong? masa iya kucing bisa ngelakuin hal kayak gitu?” Aku yang biasanya main bola seorang diri di halaman perkarangan belakang rumah itu, hari ini aku tidak berani untuk kesana. Mungkin, aku tidak akan berani lagi seterusnya untuk kesana.

Besoknya adalah hari libur, siang-siangnya aku dikejutkan dengan suara teriakan mama yang mengatakan bahwa barusan mamaku melihat seseorang berlari ke arah dapur belakang. Sontak, papaku langsung mengecek ke dapur belakang itu sembari aku mengikuti papaku dari belakang dengan gugupnya serta jantung yang berdebar-debar tidak karuan. “Maling kah? atau jangan-jangan hantu?” pikiranku juga tidak karuan pada saat itu. “Oi! Sia tu! Kalua ang!” lantas bahasa minang papaku pun pada saat itu keluar, yang artinya adalah “siapa itu? keluar kamu!” begitulah halusnya. Lalu keluar lah seseorang itu dari tempat persembunyiannya, di bawah kolong meja sembari mengatakan, “Ko ewo om..” yang artinya “Ini ewo om..”. Rasa gugup dan cemas pun pada saat itu menjadi luntur lalu muncul lah perasaan lega sekaligus kesal karena ulah si ewo ini. Ya, ewo adalah sepupu laki-lakiku yang lumayan dekat denganku waktu rumahku masih di pinggiran kota. Walau umur dan posturnya lebih besar tiga tahun dariku namun tingkahnya masih seperti anak-anak karena keterbelakangan mental yang dia miliki. Ya, dia waktu kecil mendapatkan penyakit “step” yang membuat cara berpikirnya lebih lambat dari anak-anak lainnya. “Ang wo.. ndeh, yo asal jadi se nak karajo ang tu..” (kamu wo.. ndeh, ya asal jadi aja kerja kamu ndak..) ucap papaku dengan nada kesal. Setelah itu kami pun langsung meng-introgasi kan bang ewo itu di ruang tamu.

Lewat ma ang masuk wo?” (lewat mana kamu masuk wo?) Lalu ewo menjelaskan bahwa dia masuk memanjat ke atap rumah lalu melompat ke ruangan belakang (ruangan di dapur belakang yang terkunci pintunya itu oleh gembok) yang terbuka tidak ada atapnya tersebut. Dari situlah dia turun lalu mengotak-atik kunci pintu hingga terbuka. Lalu papaku bertanya kembali, “alah bara lamo disiko wo?” (sudah berapa lama disini wo?) “udah seminggu om”. jawabnya. Lantas terpecahkan lah teka-teki mengapa sambal di rumah akhir-akhir ini sering habis dan siapa kah orang yang menggesek-gesekkan sendok ke piring pada malam hari sebelumnya. Ya, siapa lagi kalau bukan ewo. Tapi anehnya, kenapa mamaku pada saat itu tidak sadar bahwa ada orang yang membobol pintu ruangan belakang? mengingat pintu tersebut digembok dari dalam, tidak mungkin si ewo bisa membukanya tanpa mendobraknya. Atau mungkin, ewo memulai aksinya tersebut ketika mamaku pergi ke pasar ya? Bisa saja iya. Dan dengan begitu, berakhir lah misteri mengenai fenomena-fenomena aneh yang terjadi di rumah ini beberapa hari belakangan ini.

Tapi.. tunggu dulu! berakhir? bukan, ini bukanlah akhir.
Melainkan awal, awal dari segala mimpi-mimpi buruk itu dimulai..


cerbung.net

Rumah Dinas

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Waktu ku kecil dulu aku tinggal di rumah dinas oomku , rumah nya sangat besar , mungkin ga bisa disebut "rumah biasa" karena di dalamnya terdapat makhluk lain yang bersemayam didalam rumah itu.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset