Rumah Dinas episode 3

BAGIAN 3 - MISTERI DIBALIK RUANGAN YANG TERKUNCI

Sehari setelah kasus kejadian tamu yang tak diundang itu selesai, papaku pada akhirnya memaafkan apa yang bang ewo itu perbuat dan tidak ingin memperpanjang masalah lagi, karena papa pun sama-sama mengerti bagaimana kondisi bang ewo tersebut. Apalagi bang ewo itu sudah cukup dekat dengan kami sewaktu kami masih tinggal di pinggiran kota, ya walaupun aku dan bang ewo sering bertengkar untuk masalah-masalah sepele. Karena seperti yang aku bilang tadi, bang ewo walau umur dan postur badannya besar namun pikirannya masih lah seperti anak-anak karena penyakit “step” nya tersebut. Bang ewo adalah sepupu laki-laki dari adik papaku, dia sering membuat masalah di lingkungan rumahnya bahkan orangtua nya saja sudah angkat tangan melihat perilakunya. Kerjanya di rumah hanya lah tidur-tiduran saja seharian, di suruh sekolah tidak mau, di suruh kerja di bengkel nya sendiri pun juga tidak mau. Tapi, siapa sangka dia sangat ahli dalam urusan pekerjaan bengkel, jika diasah lebih jauh lagi pasti dia akan menjadi ahlinya. Namun karena malas nya itu lah, dia menyia-nyiakan kesempatan itu. Makanya tidak heran, dia dengan mudah membobol pintu rumah dinas ini. “Katanya, orang-orang tertentu bisa melihat hantu lho..” begitulah pikiranku terlintas setiap aku melihat bang ewo, entah mengapa firasatku mengatakan bahwa bang ewo ini bisa melihat atau merasakan hal-hal yang tak bisa dilihat oleh manusia pada umumnya.

Buktinya, dia tidak takut sedikitpun dengan apa yang dia lakukan pada ruangan yang terkunci rapat itu. Orang normal mana yang berani melakukan hal gila itu? bahkan oom dan papaku saja tidak pernah menyentuh ruangan yang terkunci itu, mereka menganggapnya seolah tak pernah ada. Bang ewo diizinkan menginap oleh papaku untuk beberapa hari disini, itung-itung sebagai teman mainku disini karena memang semenjak aku tinggal dirumah ini, aku tak pernah keluar selangkah pun kecuali untuk urusan sekolah. Apalagi dengan situasi lingkungan yang sepi ini, berharap ada anak yang seumuranku bermain di luar? mana mungkin ada. Pada akhirnya bang ewo lah yang menemaniku bermain di rumah ini walau terkadang kami pun masih sering bertengkar dalam memperebutkan bola misalnya. Seharian bermain bola terasa sangat melelahkan. Ketika aku sedang asik-asiknya untuk ber-istirahat sejenak sambil memandangi pohon beringin yang kokoh itu, tanpa aku sadar bang ewo sudah menghilang saja, padahal tadi dia berada tepat disampingku. “Val, siko lah..” (Val, sini lah..) terdengar suara bang ewo yang memanggilku dari arah lapangan tenis. “Ngapain bang?” lantas aku pun segera menjawab panggilan itu dan bergegas untuk pergi ke tempat bang ewo itu. “Gudang a ko val?” (Ini gudang apa val?) tanya bang ewo sembari mengacak-acak dokumen yang ada pada gudang tersebut. “Gak tau bang..” jawabku sambil melihat apa yang dilakukan bang ewo.

Seketika aku melamun sejenak ketika itu dan setelah itu aku melihat ada kabel listrik yang sudah sobek namun masih terhubung dengan kontaknya. Entah apa yang ada dipikiranku saat itu, tiba-tiba terbesit saja dibenakku untuk memegang kabel yang sudah sobek itu. Ketika aku memegangnya “…..” aku diam karena terkejutnya, ternyata aliran listrik yang ada pada kabel ini masih menyala dan membuatku kesentrum ringan seketika. Mungkin karena dulu aku masih anak-anak jadi suka coba-coba buat megang karena penasaran, atau mungkin karena ada “hal yang lain” yang membuatku terdorong untuk menyentuh kabel-kabel ber-listrik itu? Ketika itu bang ewo hanya melihatku sambil tertawa ringan dan berkata, “Haha.. kanai karajoan yo?” ((Haha.. dikerjain ya?) ketika itu aku sedikit kesal karena bang ewo mengejekku. Tapi aku tidak ambil pusing, kata-katanya itu hanyalah lanturan-lanturan yang tidak bermakna. Karena kondisinya itu terkadang apa yang dia bicarakan seperti melantur sana-sini, menghayal ngalong tidur. Setelah itu, bang ewo mengajakku untuk pergi ke sebuah pintu yang terkunci rapat itu. Lalu akupun menolaknya, tapi entah kenapa aku seperti tidak dianggap olehnya pada saat itu. Karena walau aku menolaknya, dia tetap pergi kesana dan itu membuatku terpaksa untuk mengikutinya. Lalu bang ewo pun mengeluarkan skill “bengkel” nya untuk membuka pintu yang terkunci itu.

Setelah beberapa lama dia mengutak-ngatik kunci itu akhirnya terbuka juga, aku sempat takjub seketika, “wah gila keren juga nih bang ewo bisa buka kunci kayak gitu” pujiku dalam hati. Tapi sayangnya, hal gila itu tidak cukup sampai disitu. Belum sempat aku melarangnya untuk tidak memasuki ruangan yang terkunci itu, bang ewo sudah memasukinya saja tanpa ragu sedikit pun. Dan lagi-lagi aku terpaksa untuk mengikutinya, “Yaudahlah, untung masih siang juga” keluhku dalam hati. Tapi walaupun pada saat itu matahari masih tegak diatas kepala, entah mengapa mendadak ketika aku memasuki ruangan tersebut aku merasakan perasaan yang sangat-sangat men-janggal. Jauh lebih men-janggal dari perasaan-perasaanku pada saat pertama aku mendatangi rumah dinas ini. Semakin aku menjauh melangkah ke dalam ruangan ini, semakin berdiri lah bulu kudukku satu per satu. “Bang, ndak takuik?” (Bang, gak takut apa ya? bang ewo pun tidak merespon apa yang aku tanyakan padanya dan lebih memilih untuk fokus melihat-lihat ruangan ini, seperti sedang mencari-cari sesuatu tapi apa itu aku pun tidak tahu. Aku hanya bisa mengikutinya dari belakang sembari was-was entah apa yang akan terjadi nantinya, karena jujur pada saat itu aku benar-benar merasa sangat takut. Sepintas aku melihat ruangan ini, ternyata disini sangat banyak sekali kamarnya. Ada dua ruangan disini, dan di dalam ruangan ini terdapat lagi ruangan lainnya, yaitu ruang kamar tidur yang sudah tidak terurus lagi.

Dalam satu ruangan ini terdapat dua ruang kamar tidur, berarti ada empat kamar tidur yang ada pada ruangan ini. “Tu val, bang manjek tu malompek lewat situ kapatang..” (Itu val, bang manjat lalu melompat lewat sana kemarin..) sambil menunjukkan atap tempat dia melompat. “Oh pantes, dia bisa lompat ternyata jarak dari atap ke tanah tidak terlalu jauh” gumamku dalam hati. “Tu kapatang bang lalok kamar ko..” (Terus kemarin, bang tidur di kamar ini) sambil menunjukkan salah satu ruangan yang ada disana. “Hah? gila gak tuh, jadi selama seminggu kemarin bang ewo ini tidur disini? gak takut sedikit pun?” dan ternyata ruangan ini terhubung dengan ruangan dapur yang sudah tidak terpakai itu. Lepas sudah rasa penasaranku dengan apa yang ada di balik pintu-pintu yang terkunci itu kemarin. Tapi, ada satu hal yang membuatku sangat penasaran di ruangan ini. Tepat di depan atap yang terbuka ketika bang ewo melompat kemarin itu, ada sebuah tanah kosong yang ukurannya tidak terlalu besar serta pohon bekas ditebang yang lumayan besar dan dikelilingi oleh pagar-pagar berkawat tinggi yang lagi-lagi digembok. Sepertinya pohon tersebut sangat dilindungi bahkan pagar berkawat ini lebih kokoh daripada pagar yang ada di depan rumahku ini. Entah mengapa seketika perhatianku hanya tertuju pada pohon ini, seperti ada daya tariknya tersendiri. Lalu tiba-tiba bang ewo menegurku, “Jan di caliak bana..” (Jangan terlalu dilihat kali..) aku pun yang agak melamun karena memperhatikan pohon tersebut, terkejut dengan teguran bang ewo.

Setelah puas kami meihat-lihat ruangan tersebut, kami pun menuju ke dalam lalu menutup pintu-pintu tersebut namun tidak kami kunci kembali. Aku yang masih penasaran dengan pohon itu, aku pun bertanya kepada bang ewo, “Bang, pohon a tu yang disitu tadi tu?” (Bang, pohon apa yang ada disitu tadi?) bang ewo hanya diam dan tidak menghiraukan tanyaku seolah dia tidak ingin membahasnya. Yang membuatku penasaran dari pohon itu adalah daya tariknya yang membuatku seolah-olah ingin melihat pohon itu terus, memang yang aku rasakan ketika aku melihat pohon tersebut adalah rasa hampa sekaligus menaikkan bulu-bulu kudukku satu per satu. Seperti sumber dari rasa hampa yang ada di rumah ini berasal dari pohon tersebut, paling tidak itulah pikirku setiap kali aku memikirkan mengenai pohon tersebut. Dan lagi, yang membuatku tambah penasaran adalah mengapa pohon yang sudah ditebang itu dipagari oleh kawat yang tinggi-tinggi? seperti sedang menyegel sesuatu, tapi apa? entah mengapa beberapa hari setelah kami memasuki ruangan itu, aku hanya terpikir akan pohon itu. Dan lagi, setelah pintu-pintu itu terbuka dari kuncinya, aku merasakan ada yang tidak beres terjadi dirumah ini. Terlebih lagi ketika bang ewo itu sudah tidak lagi berada di rumah ini.


cerbung.net

Rumah Dinas

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Waktu ku kecil dulu aku tinggal di rumah dinas oomku , rumah nya sangat besar , mungkin ga bisa disebut "rumah biasa" karena di dalamnya terdapat makhluk lain yang bersemayam didalam rumah itu.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset