Rumah Dinas episode 5

BAGIAN 5 - PAWANG HANTU

Hari kelima setelah penampakan pertama, hari ini aku bertekat untuk menceritakan kejadian semalam kepada orangtuaku. Namun tekatku terpaksa harus aku buang jauh-jauh ketika aku mendengarkan sebuah cerita dari anak kelasku ketika mereka bercerita mengenai hantu. Ketika aku sedang ber-istirahat di kelas aku melihat segerombolan anak kelas itu mulai membuat geng mereka sendiri dan memulai percakapan mereka seperti biasanya. Mereka memang sudah biasa membuat geng untuk membicarakan hal-hal yang tidak penting itu, seperti menggosipkan guru-guru tertentu, membicarakan gadis yang mereka suka, atau sekedar membicarakan apa yang mereka tonton semalam. Aku yang memang terkenal sebagai anak yang pendiam tidak terlalu menghiraukan mereka, aku duduk di pojokkan belakang sembari memainkan kertas lipat yang aku buat secara acak dan terkadang aku juga mencuri-curi apa yang mereka bicarakan. Ya, itu pun jika ada hal yang membuatku tertarik.

Oi, kapatang aden jo si alber kan pai karumah si fajar. Wak samo-samo tau se kan jalan karumah fajar tu ba a jalannyo?” (Oi, kemarin aku sama si alber kan pergi main kerumah si fajar. Sama-sama tau aja lah kita kan kondisi jalanan kerumah fajar tu gimana?) jelas khalil dalam membuka pembicaraan hari ini. “Iyo, samak se isi jalan karumahnyo mah. Ba a emangnyo? alun lo di pelok’an jalannyo lai?” (Iya, semak beluar aja isi jalan kerumahnya kan. Emang kenapa? belum juga ya di perbaiki jalanannya?) tanya diki. Memang kondisi jalan untuk kerumah fajar ini sangat menyeramkan menurutku, untuk kerumahnya saja kita harus menempuh semak belukar yang cukup tinggi yang berada disisi kiri-kanan sepanjang jalan. Kalau siang hari sih memang mungkin masih tampak biasa saja, tapi kalau sudah malam hari lain lagi ceritanya. “Jadi waktu den jo alber nio pulang dari rumah fajar nak, den nampak hantu sadang tagak dakek samak-samak tu!” (Jadi ketika aku dan alber mau pulang dari rumah fajar kan, aku melihat hantu sedang berdiri dekat semak-semak itu!) jelas khalil dengan wajah seriusnya. Lalu alber pun yang pada saat itu juga ikut nimbrung mengenai pembicaraan mereka, juga membenarkan apa yang dikatakan khalil.

Iyo mah, ndeh ngeri bana.. putiah sodalah pakaiannyo kayak kuntilanak..”(Iya, ngeri kali.. putih semua pakaiannya kayak kuntilanak..) sambung alber. Lalu ipong pun membantah apa yang dikatakan khalil dan alber itu seakan tak percaya apa yang mereka katakan, “Salah caliak ang mah.. lai ndak amak-amak bapakaian putiah lho tacaliak jo ang?” (Salah liat kali kamu, jangan-jangan ibuk-ibuk yang berpakaian putih yang kamu lihat?) alber pun lalu membantah apa yang dikatakan ipong, “Hah? ma ado amak-amak di tapi jalan dakek samak-samak pulo malam-malam? yo gilo berarti amak-amak tu mah.. nyo jaleh tagak disitu sambil mancaliak den jo si khalil..” (Hah? mana ada ibuk-ibuk di tepi jalan dekat semak-semak pula malam-malam? gila ibuk-ibuk tu berarti, jelas dia berdiri disitu sambil melihat ke arahku dan si khalil..) Perdebatan demi perdebatan terus mereka lontarkan, seperti tidak ada yang mau kalah diantara mereka bertiga itu. Ada yang percaya mengenai cerita alber dan si khalil itu, ada pula yang menyangkalnya. Lalu disela-sela perdebatan mereka, ada satu orang yang bertanya kepada khalil dan si alber dengan penasarannya, “Eh, habis tu, lai ang caritoan ka urangtuo kalian?” (Eh, terus habis itu ada diceritakan gak ke orangtua kalian?)

Lalu khalil pun menjawab pertanyaan dari seorang anak kelas tersebut, seakan dia sudah berpengalaman dalam masalah per-hantuan ini, “Oh ndak, ndak buliah dicaritoan ka urang lain doh.. cukuik awak-awak se yang tau kalau seandainyo awak yang mengalami hal itu..” (Oh gak, gak boleh diceritain ke orang lain.. cukup kita sendiri aja yang tau kalau seandainya kita yang mengalami kejadian itu..) telingaku pun langsung berdiri ketika mendengar ucapan khalil. Lalu, aku pun berhenti memainkan lipatan kertas dan mencoba untuk fokus mendengarkan apa yang khalil bicarakan. “Soalnya kata kakekku dulu kalau ada hantu yang gangguin kalian, kalian tidak boleh untuk mengatakannya kepada orang lain. Karena kalau kalian ceritakan kepada orang lain, hantu itu bisa terus gangguin kalian bahkan bisa mencelakakan kalian dan orang yang mendengar cerita itu.” begitulah kira-kira apa yang khalil sampaikan pada waktu itu. Jadi memang benar seperti dugaanku kemarin, bahwa hantu ini sepertinya memang tidak ingin terlihat ada di mata manusia dan mereka hanya ingin menampakkan wujudnya pada manusia-manusia tertentu saja. Setelah aku mendengar ucapan khalil itu, aku pun langsung mengurungkan niatku untuk menceritakannya kepada orangtuaku. Ya, aku pun tidak ingin orang lain celaka karena ceritaku ini.

Teng..teng…teng..” Lonceng untuk pulang telah berbunyi, aku pun bergegas untuk pulang kerumah dengan harapan hantu-hantu itu tidak mengangguku lagi. Tapi sepertinya harapanku itu hanya sia-sia saja, hantu itu masih saja terus mengangguku hampir di setiap malam dengan jam yang sama. Suara langkah kaki mereka, bayangan kaki mereka, dan suara-suara aneh yang terdengar dari dapur terus saja menghampiri setiap malam-malamku. Ketakutan dan sikap was-was selalu menyelimuti malam-malamku ini, sungguh tidak tenang rasanya berada disini. Hingga keesokan harinya aku pun bertanya kepada khalil secara pribadi dikelas ketika sedang ber-istirahat, “Lil.. ada waktu gak?” tanyaku sembari menghimbaunya untuk duduk dipojokkan belakang. “Kenapa val? tumben manggil..” lalu aku pun langsung to the poin kepada khalil dengan menceritakan semua apa yang aku alami selama aku tinggal dirumah dinas itu. “Wah, berat masalahnya nih val. Tapi, sebenarnya ini bukan salah kamu sih, tapi salah sepupu kamu itu.” ucap khalil sambil mengkerutkan keningnya. “Lalu, bagaimana solusinya lil?” tanyaku dengan harapan khalil dapat menemukan solusi dari permasalahanku ini. Khalil merupakan teman kelasku yang cukup aneh menurutku, karena pada suatu waktu secara tidak sengaja aku pernah melihat dia sedang berbicara sendiri. Namun walau begitu, dia cukup baik terhadap orang-orang yang ada disekitarnya. Namun, sayangnya dia sering absen dalam pelajaran sekolah karena penyakit yang di deritanya. Dia memiliki penyakit yang membuat daya tahan tubuhnya menjadi lemah, jadi terkadang penyakit sangat mudah untuk masuk ke dalam tubuhnya.

Mau gak mau kamu harus cari tahu sumbernya ada dimana, val..” jelasnya lagi. “Hah? sumber? sumber apa? sumber air sudah dekat?” aku pun sedikit melontarkan lelucon kepadanya. Karena aku tidak ingin suasana terlalu tegang apalagi dalam memecahkan masalahku ini, aku tidak ingin dia sampai kepikiran karena bisa-bisa tubuhnya menjadi drop lagi kan. “Hahaha, bisa-bisanya kamu bercanda dengan kejadian yang udah seperti ini val. Jadi gini val, sebenarnya sifat hantu sama manusia itu gak jauh beda. Manusia kalau kita diamin, dia bakal diam kan? tapi sebaliknya kalau manusia kita ganggu pasti dia bakal balik gangguin kita. Apalagi kalau manusia nya tempramen, bisa-bisa ngajak berantem kita kan?” jelas khalil. Aku pun menganggukkan kepalaku. “Nah, sekarang posisinya hantu itu tingkat emosinya lebih tinggi dari manusia val.. emang sih secara gak langsung bukan manusia yang gangguin mereka, melainkan abang sepupu kamu yang memancing mereka. Tapi kenapa dampaknya ke kamu? karena kamu juga ada ditempat itu pada waktu itu. Apalagi sampai-sampai kamu melihat cukup lama pohon itu kan?” aku pun membatah ucapan khalil itu, “Gak adil lah lil, aku walau ada ditempat itu tapi kan gak ikut-ikutan lho..” khalil pun menjelaskannya kembali dengan sabarnya, “Iya aku tau val kamu gak ikut-ikutan, tapi posisinya kamu ada disana. Sama halnya dengan guru, kalau mereka liatin kamu nongkrong sama orang yang merokok, pasti kamu juga bakal kena kan walau kamu gak merokok? Iya gak?” Aku pun cukup paham apa yang khalil jelaskan padaku.

Tapi kenapa ya lil, ketika sepupuku ada dirumah itu mereka tidak menampakkan dirinya? tapi anehnya, tepat sehari setelah sepupuku pergi mereka langsung muncul.. itu kan gak adil?” lalu khalil pun kembali menjelaskannya padaku, “kata kakekku dulu, hantu itu juga milih-milih untuk menampakkan dirinya kepada orang. Jadi hanya kepada orang-orang tertentu saja, karena hantu itu juga melihat tingkat spritual dan pancaran aura dari orang itu val. Dan hantu pun banyak jenisnya val, ada hantu yang cuma ingin nakut-nakutin kita aja tapi ada juga hantu yang benar-benar bisa mencelakai kita. Contohnya hantu yang aku temui kemarin val, dia cuma ingin menampakkan dirinya saja, tidak lebih. Karena dia melihat tingkat spiritualku karena aku bisa merasakan kehadiran mereka lebih tinggi dari orang-orang biasa.” aku pun sedikit bingung dengan apa yang khalil jelaskan, tingkat spiritual? apa itu? aku sama sekali tidak mengerti sedikitpun. “Singkatnya, tingkat spiritual itu adalah tingkat kepekaan kita terhadap sesuatu val, mungkin bisa diibaratkan seperti itu.” lalu khalil menambahkan penjelasannya kembali, “Dan lagi, jika pancaran aura orang tersebut banyak jahatnya, hantu yang datang untuk menampakkan diri kepadanya bisa-bisa mencelakai dia val. Jadi, hantu itu menampakkan dirinya kepada orang-orang tertentu saja. Kalau tingkat spiritualmu rendah, tapi pancaran auramu jahat maka hantu bisa menampakkan dirinya dan bisa mencelakai kamu. Tapi kalau pancaran auramu biasa-biasa saja, ya paling cuma ditakut-takuti saja val.”

Aku pun sudah mulai paham mengenai apa yang khalil sampaikan, tapi aku masih belum mendapatkan jawaban dari khalil mengenai kenapa ketika bang ewo masih ada dirumah itu, mereka tidak menampakkan dirinya? “Tapi lil, aku masih belum mengerti kenapa ketika sepupuku itu masih ada dirumah itu, mereka tidak menampakkan dirinya?” khalil pun menjawab dengan detailnya, “Sepupumu katanya step kan? kata kakekku dulu, orang yang sakit seperti itu, biasanya tingkat kepekaannya diatas rata-rata orang normal. Apalagi sifat sepupumu itu juga agak nyeleneh kan? gak takut sedikitpun sama hantu. Bisa jadi hantu itu sudah ada disana tapi dia menahan dirinya untuk tidak menakut-nakutimu, val. Karena ya itu, ibaratnya sepupumu itu layaknya seorang pawang, val.” Setelah mendengar penjelasan dari khalil, aku pun sudah mulai mengerti sedikit demi sedikit mengenai dunia per-hantuan itu. Dari mengapa hantu itu hanya orang-orang tertentu saja yang mereka ganggu, hingga sifat-sifat serta jenis hantu itu sendiri. Dan aku berharap, hantu yang ada dirumahku saat ini bukanlah hantu yang mencelakaiku maupun keluargaku.


cerbung.net

Rumah Dinas

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Waktu ku kecil dulu aku tinggal di rumah dinas oomku , rumah nya sangat besar , mungkin ga bisa disebut "rumah biasa" karena di dalamnya terdapat makhluk lain yang bersemayam didalam rumah itu.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset