Rumah Dinas episode 9

BAGIAN 9 - TEKA-TEKI YANG BELUM TER-SELESAIKAN

Setelah aku tiba dirumah, aku pun langsung mengambil gambar yang telah aku bawa dari sekolah itu. Sekilas gambar itu tampak menyeramkan menurutku, dan juga penuh dengan teka-teki didalamnya. Mengapa tidak? yang aku lihat pada gambar itu adalah sebuah rumah di tepian sungai, dan ada sebuah jembatan roboh yang menghubungkan antara jalanan ke rumah tersebut. Suasana nya pun dibuat pada malam hari, tampak bintang dan bulan yang menghiasi langit itu. Lalu ada seorang anak, yang sedang berdiri di seberang jalan dekat dengan jembatan roboh itu sembari melihat ke arah rumah tersebut, seakan dia ingin pergi untuk ke rumah itu. Dan aku juga melihat disisi tepian sungai itu, ada sebuah kayu yang ukurannya tidak terlalu besar. Aku memikirkan dengan keras apa yang sedang khalil beritahukan kepadaku, rumah siapa itu, mengapa ada jembatan yang roboh, dan yang paling membuatku ganjal adalah anak itu, siapa anak yang khalil maksud pada gambarnya itu? Seharian aku memikirkan teka-teki itu dengan amat keras.

Tapi hasil yang aku dapatkan nihil, tidak satupun diantara teka-teki itu terjawab olehku. Aku pun sempat putus asa dibuatnya, dan yang jauh lebih penting lagi adalah “bagaimana dengan keadaan khalil disana? apakah dia baik-baik saja? atau sedang dalam bahaya? dan dimana dia sekarang?” risauku pada saat itu. Tak kusangka hari yang senja sudah berubah menjadi gelap gulita dan terdengar mamaku yang memanggilku untuk mengajakku makan malam, aku pun memutuskan untuk menjawab panggilan itu dan mengesampingkan teka-teki yang membuat kepalaku pusing tujuh keliling ini, lagipula perutku juga sudah sangat lapar karenanya. Setelah makan malam selesai aku santap, aku pun kembali ke kamarku untuk menyelesaikan teka-teki ini, hingga jarum jam telah menunjukkan angka sepuluh, “ah.. aku menyerah..” gumamku pada saat itu. Benar-benar teka-teki yang sulit bagiku, apa yang sebenarnya ingin khalil beritahukan kepadaku? dan mengapa harus teka-teki? seharusnya dia tahu aku paling bodoh dalam menyelesaikan teka-teki apalagi memikirkan sesuatu perkara yang sama sekali aku tidak mengerti.

Dengan keputus-asaan itu, aku pun menutup lembaran kertas ini dan memasukkannya kembali ke dalam ranselku. “Hoaam..” dan kantuk pun mulai menyelimuti tubuhku. Malam itu aku berbaring seperti malam-malam biasanya, dan terkadang masih terdengar langkah-langkah kaki yang belari-lari kecil itu lengkap dengan gesekkan antara wajan dengan spatulanya, sudah beberapa bulan ini aku selalu mendengar suara-suara aneh itu dan sepertinya aku sudah mulai terbiasa dengannya, aku pun sudah mulai tidak penasaran lagi dan memilih untuk tidak melihat bayangan-bayangan itu lewat ventilasi pintu tersebut. “Mungkin kalau aku mengabaikan mereka, mereka akan berhenti dengan sendirinya..” pikirku dalam hati, dan aku pun mencoba untuk rileks dan memejam mataku ini, “Sungguh lelah hari ini.. semakin lelahnya, mereka pun terabaikan olehku..” mungkin aku tertolong oleh teka-teki ini yang membuatku sedikit tidak peduli dengan kehadiran mereka.

Paginya aku pun pergi ke sekolah seperti biasanya dan hari ini pun aku masih berharap bahwa khalil sudah sembuh dari sakit yang dideritanya itu. Tapi sayangnya harapan hanyalah sekedar harap, hari ini pun khalil belum menampakkan batang hidungnya di sekolah ini, padahal aku ingin menanyakan maksud dari gambar-gambarnya tersebut. Pernah terpintas di benakku, apa jadinya jika aku memberitahukan teka-teki ini kepada si Iki? iki merupakan anak kelasku yang cukup dekat juga dengan khalil, dan dia pun terkenal di sekolah ini sebagai pemecah teka-teki terbaik. Karena dia sering sekali memecahkan teka-teki kuis-kuis soal yang diberikan oleh guru, mungkin dia juga bisa memecahkan teka-teki gambar yang menyeramkan ini. Tapi aku urungkan niatku untuk itu, karena aku tidak tahu bahaya apa yang akan menghampiri iki jika sampai dia tahu mengenai gambar-gambar menyeramkan ini. Terpaksa harus aku yang memecahkannya sendirian, karena mungkin ada sebuah jawaban yang bisa aku temukan pada gambar ini.

Hari-hari pun berlalu. Usaha kerasku, pikiran tajamku pun nampaknya tidak ada hasil, atau mungkin hanya aku saja yang terlalu bodoh dalam menyelesaikan teka-teki itu? Yang membuat setiap malam-malamku menjadi terasa melelahkan karena nya. “Perang pikiran ini ternyata sangat melelahkan ketimbang berurusan dengan para hantu itu..” Yang akibatnya aku pun mulai terbiasa dengan suara-suara aneh itu karena tubuhku ini telah lelah pada sore nya untuk memikirkan gambar-gambar aneh ini. Dan pada saat itu juga, khalil belum ada kabar beritanya bahkan guru pun sepertinya sudah melupakan khalil, karena setiap guruku membacakan daftar kehadiran siswa, nama khalil selalu di lampauinya. “Aku sudah lelah dengan teka-teki ini, aku menyerah..” itulah keputusan yang aku buat pada saat itu, daripada menyiksa pikiranku lebih lama lagi, sebaiknya aku hentikan saja. Karena memang, aku bukanlah tipe pemikir. Tugas-tugas sekolahku saja sudah membuat kepalaku cukup pusing, apalagi teka-teki ini. “Aku sudah muak..”

Minggu pun telah tiba, paginya aku memutuskan untuk mencari tahu sebenarnya tentang siapa yang mengetok-ngetok pintu itu pada hari-hari sebelumnya. Karena aku masih penasaran, semenjak ketukan itu dan tentang surat dari khalil itu, aku belum sempat untuk mengecek siapa yang ada dibalik pintu itu. Tapi, jika memang bang ewo pastilah mamaku akan terheran-heran kembali karena sambalnya yang hilang satu per satu, tapi beberapa hari kemarin sepertinya mamaku tidak terlihat mengeluh sedikitpun. “Apa bang ewo puasa ya? mungkin karena takut dimarahi lagi, atau malah bawa makanannya sendiri ya dari rumahnya?” pikirku pada saat itu. Entah kenapa, aku merasa tidak terlalu takut lagi untuk menjelajahi ruangan belakang itu, mungkin karena beberapa hari ini aku mengerjakan teka-teki khalil itu ya? seakan melupakanku mengenai hal-hal yang menyeramkan dirumah ini, hantu yang biasa menakuti ku pada malam-malam biasanya saja, aku abaikan karena lelahnya. Aku pun bergegas menuju ruangan dapur yang ada di paling belakang, dan dengan jantung yang sedikit deg-deg-an aku pun perlahan membuka pintu itu, ya pintu yang menghubungkan awal dari semua masalah di rumah ini.


cerbung.net

Rumah Dinas

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Waktu ku kecil dulu aku tinggal di rumah dinas oomku , rumah nya sangat besar , mungkin ga bisa disebut "rumah biasa" karena di dalamnya terdapat makhluk lain yang bersemayam didalam rumah itu.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset