Sandi Morse Berdarah episode 1

Chapter 1

“Hidup itu perjuangan, jangan pernah katakan tidak bisa, sebelum mencobanya.”

Masih terngiang-ngiang perkataan kakak pembina Pramuka yang bernama Hasan, saat masih di bangku sekolah dahulu, sekitar enam tahun yang lalu. Kini aku berada di atas tanah basah, tempat terakhir kalinya melihat kakak pembina itu meminta tolong dan aku tidak bisa menolongnya. Rasa takut muncul saat tatapan mataku bertemu dengan penampakan hantu yang mengendalikan sandi Morse, rangkaian kata acaknya dan begitu menyeramkan dengan pertunjukan darah segarnya.

Jika boleh meminta, andi tidak ingin belajari membaca sandi Morse, agar kejadian hari ini tidak terjadi. Sandi-sandi itu dengan seksama dan dalam waktu yang sangat singkat, sesingkat-singkatnya berhamburan keluar serupa ingin secepatnya menuntaskan tugasnya untuk menyebarkan setidaknya beberapa kalimat.

Pada akhirnya sandi Morse dengan mudah terbaca olehku, tiba-tiba tubuh gemetaran. Nyali tiba-tiba lenyap di bawa angin yang semakin dingin menusuk kulit Ari. Dan suara-suara kebatan sandi membuat tubuh mematung dengan tingkat ketakutan yang sudah tidak bisa kuterjemahkan lagi.

Sandi-sandi itu membentuk kata, “Harun dan kau adalah budak kami.”

Tiba-tiba kak Seto datang membuyarkan semua pandangan.

“Andi, kau baik-baik saja?”

Sambil menatap wajah kakak pembina yang menegur, tiba-tiba aku menangis sejadi-jadinya. Waktu itu tidak ada yang tau jika kak Hasan sudah di makan oleh tanah lumpur di bawah kaki yang sekarang kupijak.

Kenangan itu membekas hingga saat ini. Apalagi skenario kisahnya serupa vidio yang diputar kembali.

“Andiiii ….”

Bulu kudu merinding, tubuh tiba-tiba kaku sedangkan mata semakin membesar dan sulit mengatup.

“Kaulah tubuhku, kini!”

Angin seketika mengelilingi tubuh tetapi tidak ikut berputar. Hanya terasa sesuatu yang dingin memasuki ragaku. Dingin yang datang dari atas kepala sampai ujung kaki selama beberapa jam saja. Kemudian tubuh lemah tak berdaya.

Ketika kelopak mata terbuka, aku berada di rumah sakit. Istriku menangis, juga Lidia anak semata wayang yang paling tersayang.

Anehnya mengapa tiba-tiba ada sesuatu yang membuat tangan bergerak untuk menyentuh anak gadisku.

‘Sial! Kenapa ada rasa aneh yang bergetar ketika aku menyentuh Lidia. Apakah ini berarti dia ….”

“Aku ingin Lidia!” Suara itu serupa kakak pembimbingku yang sudah tidak ada. “Harun.”

“Tidakkkk! Jangan Lidia. Dia masih terlalu dini untuk menjadi sesuatu yang kau inginkan.”

Teriakanku membuat seluruh keluarga mendekat dan memanggil dokter. Menurut keterangan dokter halusinasi yang terjadi tadi karena efek obat tidur. Padahal kutau benar bahwa roh kakak pembina sudah berkolaborasi dengan tubuhku.

‘Ya Rab, kupasrahkan hidup dan matiku hanya untukmu, jauhkanlah dari segala bencana buruk.’ bahtiku mencoba berdialog bahasa pengharapan.

Malam harinya Lidia menjaga di rumah sakit, sebab istriku harus pulang untuk menjaga ibu yang sedang sakit di rumah, perasaan cemas menghantui diri. Kemudian memanggil Lidia dan menyuruhnya pulang saja. Namun Lidia menolaknya dan terus saja bermain ponsel sampai lekuk tubuhnya membuat kakak pembina keluar dari dalam tubuh dan mendekati Lidia.

“Jangan dekati anakku, Lidia!”

Lidia kaget kemudian membaca ayat kursi sesuai perintah ibunya. Aku sedikit lega. Sebab kakak pembina mulai meninggalkan tubuhku.

Tidurku nyenyak sekali, namun tiba-tiba suara kakak pembina membangunkanku.

“Ternyata tubuh istrimu benar-benar nikmat! Aku akan berpindah tempat dan berkolaborasi dengan kecantikannya.”

“Jangannnnnnnnnnn!”

“Ada apa, Mas?”

Nampak wajah istriku sudah berada di depan mata sambil tersenyum manis sekali. Namun anehnya, pada bibir bagian bawah terdapat potongan daging. Mata ini segera mencari keberadaan Lidia.

“Lidia benar-benar lezat. Ternyata istrimu juga wanita yang lebih mudah untuk kudiami. Selama sebulan penuh kupinjam sementara. Setelah roh ini menemukan tempat yang benar, pastinya kukembalikan.”

“Tidakkkk, Lidiaaaa …!”

“Jangan ganggu istriku, Kak.”

Namun sudah terlambat. Mereka sudah jauh meninggalkan diriku sendirian. Hujan datang begitu deras seolah-olah mengerti tentang hati yang sedang di rundung kesedihan.

Bendera semapur membentuk sandi Morse yang terbaca, “kaulah pelakunya.”

“Ayah … Sakit … Tolong aku ….”

“Lidia di manakah kau?”

“Di dalam tubuhmu ayah.”

Di antara sadar dan tidak sadar, mencoba memahami apa maksud dari perkataan Lidia. Pikiranku kembali kepada kejadian malam yang menegangkan dan mencekam.

“Mengapa kau menelanku hidup-hidup, Ayah?”

“Apa maksudmu, Lidia?”

Sejam kemudian polisi datang membawa tubuhku menuju mobil polisi. Dari jauh nampak tatapan mata istriku sudah begitu lain dari yang biasanya.

“Bye bye Andi …”

“Tidakkkk! Jangan ganggu istriku ….”

“Ayah, haruskan Lidia menjaga ayah di sini?”

Bayangan wajah Lidia semakin membuat air mata membasahi kedua pipi. Tiba-tiba ibu datang dan banyak sekali bertanya.

“Kenapa kau lakukan ini, Andi?”

Mulutnya lebih banyak mengeluarkan kata-kata yang lebih menyakitkan lagi.

“Bukan aku, Ibu. Ini perbuatan kakak pembina Pramuka.”

Sandi Morse tiba-tiba kulihat di belakang tubuh ibu. Kubaca “semua keluarga sudah ada dalam perut buncitmu itu, simpanlah hingga hari ketiga puluh.”

Tiba-tiba bayangan ibu menghilang dan semua orang-orang meneriakkan pembunuh berdarah dingin ke arahku. Mobil polisi bergerak begitu lamban, sehingga lemparan batu-batuan kerikil menusuk daging bagian belakang punggung.

Sedang dari kejauhan samar-samar melihat wajah istriku, dekat taman pertama kalinya berkenalan dengan kakak pembina, nampak di bibirnya ada potongan daging, kali ini bersama bercak darah di sekeliling mulutnya dan di tangannya menggenggam pakaian daster ibu. Mobil polisi berhenti tiba-tiba dan mata begitu jelas melihat setengah bagian tubuh ibu sedang berada di atas rerumputan.

“Ibuuuuuu ….”

Mobil melesat cepat membawaku menuju sel kematian. Dengan diikuti tangis rengekan kesakitan Lidia dan ibu di sepanjang perjalanan.

“Ya Rab, bagaimana dengan keluargaku?”

cerbung.net

Sandi Morse Berdarah

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2019 Native Language: Indonesia
"Hidup itu perjuangan, jangan pernah katakan tidak bisa, sebelum mencobanya."Masih terngiang-ngiang perkataan kakak pembina Pramuka yang bernama Hasan, saat masih di bangku sekolah dahulu, sekitar enam tahun yang lalu. Kini aku berada di atas tanah basah, tempat terakhir kalinya melihat kakak pembina itu meminta tolong dan aku tidak bisa menolongnya. Rasa takut muncul saat tatapan mataku bertemu dengan penampakan hantu yang mengendalikan sandi Morse, rangkaian kata acaknya dan begitu menyeramkan dengan pertunjukan darah segarnya.Jika boleh meminta, andi tidak ingin belajari membaca sandi Morse, agar kejadian hari ini tidak terjadi. Sandi-sandi itu dengan seksama dan dalam waktu yang sangat singkat, sesingkat-singkatnya berhamburan keluar serupa ingin secepatnya menuntaskan tugasnya untuk menyebarkan setidaknya beberapa kalimat.Pada akhirnya sandi Morse dengan mudah terbaca olehku, tiba-tiba tubuh gemetaran. Nyali tiba-tiba lenyap di bawa angin yang semakin dingin menusuk kulit Ari. Dan suara-suara kebatan sandi membuat tubuh mematung dengan tingkat ketakutan yang sudah tidak bisa kuterjemahkan lagi.Sandi-sandi itu membentuk kata, "Harun dan kau adalah budak kami."Tiba-tiba kak Seto datang membuyarkan semua pandangan."Andi, kau baik-baik saja?"Sambil menatap wajah kakak pembina yang menegur, tiba-tiba aku menangis sejadi-jadinya. Waktu itu tidak ada yang tau jika kak Hasan sudah di makan oleh tanah lumpur di bawah kaki yang sekarang kupijak.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset