SANG PAMOMONG episode 21

Chapter 21

Alhamdulillah…kenyang bre. Porsi nasi padang emang bikin kenyang.
Aku menghirup es jeruk…wuah segarnya.

“Kenyang Ji?” tanya Teh Desi.
“Alhamdulillah Teh… Makasih banget ya Teh. Aku jadi bikin repot Teh Desi nih!”
“Ah..ga repot kok. Yang penting kamu ga papa. Tadi Teteh panik banget tahu, takut kamu kenapa-napa!”
“Iya Teh, maaf… Mungkin aku terlalu capai, jadi tidurnya sampai begitu!”
“Emang sering kayak gitu?”
“Baru sekali ini sih Teh…!”
“Oh…tapi syukurlah kamu ga knapa-napa. Teteh dah lega sekarang. Kamu ga merasa sakit atau pusing kan?”
“Enggak Teh…aku sehat banget kok!”
“Syukurlah… Dah malem, teteh ke kamar dulu ya? Kamu istirahat aja, tapi jangan lupa besok pagi bangun!”
“Hehe…iya Teh. Makasih banyak ya?”
“Sama-sama…!”
Setelah teh Desi pergi dari kamarku, aku membereskan bekas makanku tadi.
Lalu menutup pintu. Saat itulah Nyi Among dan Saloka muncul di hadapanku dengan mengucap salam.
Setelah kujawab salam mereka, aki bertanya..

“Ibu…kok aku ga dibangunin tadi pagi?
” Tadi pagi, keadaan darurat Nak. Kamu sedang ditransfer ilmu oleh Ki Patih. Jadi ibu ga mau mengganggumu!”
“Oh…begitu. Sepertinya cuma satu dua jam aku di sana Ibu.”
“Waktu di alam ghaib dan duniamu berlainan Nak… 1 tahun di dunia ghaib, sama dengan 100 tahun di duniamu.”
“Wah…aku baru tahu Ibu. Jadi begitu ya? Jadi Saloka yang seperti gadis berumur 19 tahun ini, berapa umurnya?”
“Umur saya sudah 1900 tahun Aden!”
“Wah…tua banget dong…hahaha!”
“Masak sih Den? Orang saya masih gadis gini kok Den!”
“Lha biar gadis, tapi umurnya dah 1900 tahun…hehe!”

Kami lalu bercakap mengenai ilmu yang diberikan oleh Ki Patih.
Ternyata, menurut Nyi Among, ilmu yang diberikan bukan cuma ilmu dari moyangku saja, tapi masih ditambah beberapa ilmu milik ki Patih sendiri.
Lalu fungsinya apa?
Nanti akan tahu seiring berjalannya waktu, kata Nyi Among.
Tak terasa waktu sudah sangat larut. Akupun pamit tidur pada Nyi Among dan Saloka.

Esok harinya, jam 5 pagi pintuku sudah digedor-gedor.
Aku yang baru selesai sholat subuh, membuka pintu.
Seuntai senyum manis terpampang di depanku.

“Alhamdulillah, ga lupa bangun kamu Ji!”
“Ah..teh Desi bisa aja. Kalo lupa bangun mah, mati namanya Teh…”
“Hush…jangan ngomongin itu ah.
Mau sarapan apa?”

Udah kenyang liat senyummu Teh…batinku.

“Nanti aku sarapan di kampus aja Teh!”
“Emang mau ke kampus? Ini kan hari Minggu?”
“Waduh…sampai lupa sama hari Teh..hehe!”
“Nyari sarapan bareng yuk. Aku pengin bubur ayam di ujung gang sana tuh!”
“Ayok lah… Emang enak Teh, buburnya?”
“Buburnya sih biasa aja rasanya, tapi dicampur sama bumbu santan, ayam suwir dan kerupuk sama kedelai goreng, jadi enak tuh!” kata Teh Desi sambil nyengir.
“Ah…becanda aja si teteh mah!”
“Biar ga stress lah… Hidup sekali mesti dinikmati Ji.. Jangan dibikin spaneng!’
” Trus, jadi ga nih cari sarapannya?”
“Ya jadi lah…masak enggak. Udah lapar nih…!”
“Aku ganti baju dulu ya Teh?”
“Oke, teteh tunggu di depan kamar teteh!”
“Siap…!”

Setelah ganti baju, kami segera cap cuz ke tukang bubur ayam ujung gang. Wuah…rame banget yang beli gan.
Kayaknya enak banget tuh, ampe ngantri.

“Teh..antrinya banyak nih, cari tempat lain yuk!”
“Kemana?”
“Ada opor lontong deket kampusku Teh, bubur opor juga ada. Mau?”
‘Hayu….cepet..keburu laper nih!”

Aku segera membawa Teh Desi ke tukang opor lontong dekat kampus.
Aku sengaja mengajak Teh Desi kemari, karena aku melihat sesuatu yang serem di warung bubur ayam ujung gang.
Pada panci buburnya yang terbuka, aku melihat sesosok kunti dengan air liurnya yang menetes ke dalam panci bubur.
Yah…begitulah, bagi orang yang tidak tahu, bubur ayamnya akan terasa sangat lezat dan bikin ketagihan.
Mereka tidak sadar bahwa rasa lezat itu adalah pengaruh liur sosok makhluk halus yang digunakan sebagai penglaris.
Semoga tidak banyak yang melakukan hal seperti itu supaya laris.

Teh Desi tampak lahap memakan bubur opor yang dipesannya, sedangkan aku makan lontong opor, biar lebih nendang di perut.
Usai makan kami pulang ke kost.

“Wah, enak dan murah ya warung tadi?”
“Iya Teh, harga mahasiswa sih!”
“Besok-besok kesana lagi yuk..!”
“Siap deh Teh!”
“Eh..ada acara ga hari ini?”
“Ga ada deh. Gimana?”
“Main ke pantai yuk!”
“Panas Teh…udah agak siang ini!”
“Atau ke bukit yuk, yang sejuk!”
“Emang Teteh tahu jalannya?”
“Tenang, teteh dah pernah ke sana kok. Nanti Teteh yang nunjukin jalan deh!”
“Oke…siap. Pake motor siapa nih?”
“Motormu aja deh. Ga papa kan?”
“Ya ga papa Teh. Kalau gitu, siap-siap dulu yuk!”
“Oke boss….!”

Kami segera bersiap untuk melakukan perjalanan menuju sebuah bukit yang menjadi sebuah tempat wisata di kota ini.
Teh Desi tampak cantik dengan celana denim yang dipadu dengan kaos putih dan jaket tanpa lengan..
Setelah siap, kamipun berangkat….

cerbung.net

SANG PAMOMONG

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Dalam kepercayaan Jawa, bayi yang baru lahir, didampingi oleh sosok PAMOMONG. MOMONG dalam khasanah bahasa Jawa, artinya Mengasuh. Nah..sosok Pamomong itu bisa juga disebut sebagai PENGASUH. Sosok Pamomong adalah sosok.ghaib yang hanya bisa dilihat oleh sang jabang bayi. Kadang kita melihat bayi yang ketawa-ketawa sendiri, sambil matanya melihat ke atas. Dipercaya, bahwa saat itu, sang bayi sedang diajak bercanda atau bermain oleh Pengasuhnya. Dari kepercayaan tersebut, cerita ini terlahir. Sebuah kisah fiksi yang akan menceritakan tentang seseorang yang sampai masa dewasa bisa melihat dan berkomunikasi dengan Sang Pamomong. Semoga bisa menghibur para reader semua.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset