SANG PAMOMONG episode 36

Chapter 36

Sampai di kost Dino, tampak Dino udah nungguin kedatanganku di teras. Sudah ada 2 gelas kopi yang masih mengepul di tembok teras.

“Lah…malah ngopi… Katanya ada urusan sama makhluk ghaib?” tanyaku padanya.
“Ngapain buru2 sih… Ngopi dulu lah… Sambil gue ceritain masalahnya ntar. Sini duduk…!”

Akupun ikut duduk di tembok teras dan mengambil segelas kopi.
Kuseruput kopi itu sambil nungguin Dino cerita.

“Bagi rokoknya dulu bro… Kehabisan nih!” kata Dino.
“Halah..bilang aja lagi bokek..!”
“Wah…pelecehan lo… Gue lagi males aja ke warung. Entar deh gue beliin!”
“Becanda bro… Sensi amat lo!” kataku sambil menyodorkan sebungkus rokok yang udah kubuka tadi.
“Sekalian koreknya lah…!”
“Jiah… Modal paru-paru doank lo?”
“Hahaha…biarin…!”

Sambil menikmati rokok dan segelas kopi, Dino bercerita tentang masalah temen satu jurusannya.
Nama temennya itu Tania. Dia kost di sebuah tempat kost elite yang mahal. Pasti anak orang kaya lah .. Bayangin aja, kost ber AC, kamar mandi dalam, dan berbagai fasilitas lain…
Nah, si Tania itu, tiap punya uang cash…selalu hilang. Minimal seminggu dua kali. Dan setiap hilang, selalu pecahan 50 ribu dua buah.
Padahal ga ada yang pernah masuk kamarnya.
Lagian, uang itu selalu ada di dompetnya. Dan hilangnya selalu di kost..bukan tempat lain.
Mau nuduh siapa.coba?
Jadi satu-satunya kemungkinan…ada yang melihara tuyul.
Tapi, karena tidak ada yang bisa melihat tuyul itu, makanya tuduhan terhadap si tuyul berhasil dimentahkan. Dan si tuyul dibebaskan oleh majelis hakim…
Ini cerita apaan sih?
Intinya, Tania curiga ada yang melihara tuyul dan mengambil uangnya.

“Trus, gue mesti ngapain?” tanyaku setelah Dino bercerita.
“Ya tolong diliatin lah…tuyul beneran apa bukan yang ngambil duit si Tania?”
“Cuma liat doank lho ya?’
” kalo bener tuyul, ya lo atasin lah… Masak cuman dilihat doank… Lo ga sakit kan?” tanya Dino sambil memegang dahiku.
Aku tepis tangannya dari dahiku.
“Lo pikir gue gila kali yak… Enak aja!”
“Hahaha…siapa tahu lo stress gara2 kebanyakan cewe!”
“Cewe mah ga bakal bikin gue stress… Trus kapan kita mulai?”
“Ya sekarang aja lah… Kita ke kost Tania!”
“Bentar lah… Sabar ngapa? Kopi blum abis nih…!”
“Udah…buruan habisin… Keburu malam entar!” kata Dino.
“Lo duluan ga papa kok… Entar kalo kopi dah abis gue pulang…”
“Lah..kirain nyusul, malah pulang. Buruan ah…!”
“Buru-buru amat sih… Wah, gue tahu nih… Si Tania ini pasti gebetan lo yak?”
“Hehe…baru pdkt bro…!”

Setelah menghabiskan kopi, kami berboncengan menuju kost Tania.
Sampai di tempat kost Tania, aku melongo… Ini kostan apa hotel sih. Megah banget…
Wah…kost di sini sebulan, bisa buat bayar kostku setahun nih..pikirku.

“Ayo masuk…malah bengong?”

Saat mau masuk gerbang, ternyata ada satpam yang nunggu.
Kami dicegat dan ditanyai ada urusan apa.
Setelah menjelaskan tujuan kami, kami diminta meninggalkan KTP.
Macam mau ketemu pejabat aja.nih….
Setelah urusan selesai, satpam itu menyalakan intercom dan memanggil Tania, dengan mengatakan ada tamu dua orang dekil atas nama Dino dan Aji.
Becanda gan… Ga pake dekil juga kali…

Tak lama Tania keluar dan menyapa Dino. Aku ga disapa…orang ga kenal….
Dino lalu mengenalkan kami berdua.
Tania ini orangnya cantik, putih, dan seksi. Ditambah dengan kacamata minus yang dipakainya, memperlihatkan sisi kecerdasannya.
Kayaknya ga pantes deh ama Dino….

Kami diajak masuk ke kamar Tania yang suejuk dan harumm…
Jadi pengin tidur di spring bed yang besar. Kayaknya nyaman banget deh…
Beda jauh dengan kasur kapuk di kostku…

Saat baru masuk, aku melihat sesosok anak kecil bercawat, gundul pelontos, dan yang aneh adalah, bibirnya bukan melintang, tapi membujur dari atas ke bawah.
(Jangan bayangin bibirnya mirip sesuatu yang tersembunyi ya?)
Lagak makhluk itu seperti anak kecil, walaupun wajahnya tua.
Dia mengarah ke meja belajar Tania. Aku bersiaga dengan menyalurkan energi batin ke telapak tangan.
Aku mendekat ke meja belajar Tania seolah tidak melihat makhluk itu.
Kulihat makhluk yang biasa disebut tuyul itu memandang dompet Tania yang tergeletak di atas meja. Tangannya terulur, tapi tak menyentuh dompet itu. Cukup hitungan detik, dua lembar uang 50an ribu tergenggam di tangannya.
Aku menyambar tangan tuyul itu dan mengangkatnya. Aku rapal.doa supaya tuyul itu ga bisa lari. Lalu kuserahkan tuyul itu pada Zulaikha. Dengan gemas, zulaikha menerimanya dan langsung diikat tangan tuyul itu dengan tali hitam. Ga tahu dapet dari mana tuh talinya.

“Mbak Tania… Coba dipeeiksa dompetnya. Kayaknya barusan hilang lagi deh uangnya!” kataku pada Tania.
“Masa sih…!” katanya ga percaya. Dia segera menghampiri dompetnya dan membukanya.
“Wah..iya mas.. Ilang lagi 100 ribu. Mas kok tahu sih?”
“Tadi aku lihat ada sosok anak kecil yang ngambil duit dari dompet itu!”
“Trus…lo tangkap kan bro?” tanya Dino.
“Enggak… Kan lo bilang suruh liat doank tadi!”
“Hadeehh…kayaknya lo beneran stress deh Ji. Kan aku bilang, kalo emang bener tuyul, lo harus ngatasin. Malah didiemin…!”
“Tenang udah aku tangkap kok!” kataku sambil menghampiri tuyul itu dan mengambil uang yang dipegang tuyul itu.

“Nih uangnya….!’
” wah..kayak sulap aja lo Ji… Tangan lo tiba-tiba ada duitnya!”
“Gue ngambil dari tangan si tuyul.kok.’
” Wah…makasih mas Aji. Tapi gimana kalo tuyulnya besok ngulangin lagi?”
“Tenang…udah saya tangkap mbak. Kita tunggu aja, siapa yang bakal minta tuyulnya dilepasin!”

Belum tertutup mulutku, pintu kamar sudah diketuk seseorang.

“Eh…kamu Rin… Ada apa?”
“Maaf Tania, aku mau minta tolong supaya piaraanku dibebasin. Badanku sakit serasa diikat tali dengan kuat!”
“Piaraan apa maksudmu?” tanya Tania ga ngeh.
“Tuh…yang terikat di situ..!” katanya sambil menunjuk tuyul itu.
“Jadi mbak yang selama ini melihara tuyul dan mengambil uang orang lain?” tanyaku.
“Iya mas… Mas yang nangkap ya? Tolong mas…lepasin ikatan itu, saya merasa sakit sekali…!” pintanya sambil mengeluarkan air mata.
Aku menoleh pada Zulaikha dan mengangguk.
Zulaikha membuka ikatan pada tuyul itu.

“Ah…terima kasih mas… Lega rasanya. Badan ga seperti diikat lagi.”

Aku menegurnya bahwa mencari uang dengan menggunakan tuyul itu bukan jalan yang baik. Aku memintanya untuk bertobat dan melepaskan tuyul itu.
Gadis itu hanya mengangguk sambil menangis.
Lalu keluarlah ceritanya, bahwa dia, adalah mahasiswi dari keluarga yang pas-pasan. Dan sia sering diejek teman-temannya karena kekurangannya dalam hal materi.
Akhirnya, dia memilih jalan pintas untuk mengumpulkan uang dengan memelihara tuyul. Sehingga dia dapat hidup dengan uang yang cukup, bahkan bisa kost di kostan yang elit ini.
Dia bahkan bisa pamer pada teman-temannya yang dulu mengejeknya. Tapi ada resiko yang harus ditanggungnya.
Ia menjadi kurus karena setiap malam harus menyusui tuyul itu, supaya tuyul itu mau bekerja mencari uang.
Memang kulihat badannya ceking banget.
Gadis itu juga mohon, supaya jangan ada yang tahu kalo dia memelihara tuyul.
Dia akan pindah kost besok, karena sudah ada yang tahu tentang rahasianya.
Tapi dia belum mau melepaskan tuyul itu… Karena dia ga mau hidup sengsara dan miskin lagi.
Terserah lah… Yang penting, aku sudah memperingatkannya.

Gadis itu pergi sambil menggendong tuyulnya dengan di belakang.
Aku geleng-geleng kepala melihatnya.

“Ga nyangka…ternyata Rina miara tuyul!” kata Tania.
Oh..namanya ternyata Rina…
“Iya ya… Sampe segitunya. Padahal cuman karena diejek dan dibully teman-temannya. Eh..Ji…kenapa ga lo musnahin aja si tuyul tadi?”
“Dia kan makhluk juga bro… Ga tega gue… Lo tahu ga? Kalo.gue hajar tuh tuyul, yang bakal ngerasain sakitnya adalah tuannya!”
“Wah…gitu ya? Ga enak ternyata miara tuyul!”kata Dino.
” Wah…makasih ya maa Aji. Udah nolong aku dan teman-teman yang suka kehilangan uang!”
“Sama-sama Mbak… Cuman saya pesen, tolong jangan pernah mengejek atau membully orang-orang yang kurang mampu. Bagaimanapun juga, mereka punya perasaan.”
“Iya Mas… !”
“Bro..pulang yuk… Dah malem nih!” ajakku pada Dino.
“Oke deh… Tania, kami pulang dulu ya?”
“Iya Din… Makasih ya? Sekali.lagi makasih Mas Aji…!”
“Sama-sama mbak. Oh iya…hampir lupa. Tolong kejadian tadi biar menjadi rahasia kita saja. Jangan disebarkan pada yang lain!”
“Iya Mas… Aku janji!”

Lalu aku dan Dino segera gas menuju kost Dino. Lha kok ke kostnya Dino?
Ya iyalah… Nganterin dia dulu. Baru setelah itu aku balik ke kost…

Sampai di kost udah jam 10 malam. Wah…dah waktunya tidur nih.

Lagi rebahan mau tidur…ada telpon.
Kulihat nama yang terpampang di layar…
Mbak Dinda… Lama ga ketemu nih, ada perlu apa nih nelpon?

“Halo, assalamu’alaikum Mbak?”
“Wa’alaikum salam… Belum tidur kan Ji?”
“Baru mau tidur mbak.. Ada apa?”
“Besok pagi ada kuliah ga?”
“Pagi ga ada mbak. Ada kuliah jam 1 siang!”
“Oke deh… Besok kamu ke kost mbak ya? Jam 8 aja. Penting!”
“Kalo penting, aku ke sana sekarang aja mbak!”
“Dah malem ini… Besok aja, jam 8 aku tunggu!”
“Siap mbak!”
“Ya sudah itu saja. Selamat istirahat. Asslamu’alaikum!”
“Wa:alaikum salam!”

Ada hal penting apa ya? Bikin penasaran aja… Dan bikin ga bisa tidur.
Jangan-jangan motor pemberian mbak Dinda mau diambil lagi…
Atau…
Jangan jangan……

Dan aku tertidur…dalam balutan seribu jangan jangan…..


cerbung.net

SANG PAMOMONG

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Dalam kepercayaan Jawa, bayi yang baru lahir, didampingi oleh sosok PAMOMONG. MOMONG dalam khasanah bahasa Jawa, artinya Mengasuh. Nah..sosok Pamomong itu bisa juga disebut sebagai PENGASUH. Sosok Pamomong adalah sosok.ghaib yang hanya bisa dilihat oleh sang jabang bayi. Kadang kita melihat bayi yang ketawa-ketawa sendiri, sambil matanya melihat ke atas. Dipercaya, bahwa saat itu, sang bayi sedang diajak bercanda atau bermain oleh Pengasuhnya. Dari kepercayaan tersebut, cerita ini terlahir. Sebuah kisah fiksi yang akan menceritakan tentang seseorang yang sampai masa dewasa bisa melihat dan berkomunikasi dengan Sang Pamomong. Semoga bisa menghibur para reader semua.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset