SANG PAMOMONG episode 44

Chapter 44

Bingung nih…mau jalan2 ke mana coba? Apalagi ada masalah mendasar yang bikin serba salah…
Duit udah menipis…
Gimana dong?
Mau nolak..ga tega..secara baru jadian….masa udah mau nolak diajak dolan.
Bingung deh jadinya…
Baru juga ngitung-itung duit yang ada, Desi dah siap aja tuh. Dengan t-shirt putih dan celana jeans. Tampak simpel dan cantik. Apalagi rambut panjangnya dikuncir..menampakkan leher jenjangnya.
Skip aja deh… Intinya kita jadi jalan-jalan, dengan episode ngirit…
Kemana? Ke pantai aja deh. Biar nanti kalo panas kan terus ngajak pulang….

Dan bener aja, begitu jam 10, kan udah panas tuh… Desi ngajakin pulang…. Sesuai rencana….hahaha(ketawa jahat).
Yang penting, tidak mengecewakan pacar…

Skip ke malam hari… Saat aku meditasi dan mencapai keheningan… Aku merasakan sebuah firasat yang ga enak.
Seketika konsentrasiku membuyar…
Kulihat jam sudah pukul 12 tengah malam.
Aku keluar menuju teras…duduk sambil ngopi.
Saat itulah aku melihat bola api merah menuju ke arah kostku.
Entah siapa yang jadi sasaran… Tapi aku yakin, itu bukan sesuatu yang baik.
Zulaikha sudah bersiaga di depanku.
Aku mulai membangkitkan energi batinku. Membuat perisai ghaib untuk melindungi diri dan lingkungan kost.
Tapi ternyata aku tak mampu membuat peeisai ghaib yang melingkupi seluruh kostan. Zulaikha seolah mengerti… Dia membantuku membuat perisai dan akhirnya bisa meluas, hingga melingkupi seluruh bangunan kost.
Siapapun sasarannya, aku ga mau ambil resiko.
Lebih baik sedia payung sebelum hujan.
Hanya dalam hitungan detik, bola api itu membentur perisai ghaib yang kami buat.
BLAARR… Terdengar ledakan yang menggetarkan selaput telinga.
Bola api itu terus menerus datang.
Wah…kuat apa enggak perisai karyaku dan zulaikha?
Aku mengerahkan kekuatan batinku hingga puncak… Dan ternyata, otomatis tenaga dalamku ikut bereaksi dan memperkuat tenaga batinku.
Tampak perisai ghaib itu semakin menebal.
Huft..aku menghela nafas lega. Tampaknya tak perlu khawatir lagi terhadap kiriman bola-bola api itu.
Ledakan terus terjadi, seiring bola api itu membentur perisai ghaib.
Anehnya…tak ada penghuni kost lain yang keluar. Entah tidur..atau tidak mendengar.

“Zulaikha…kamu bisa melacak darimana datangnya serangan ini?”
“Tentu bisa… Tunggu sebentar…!”

Kupikir Zulaikha mau melesat pergi dan mencari sumber serangan itu.
Ternyata dia cuman terpekur diam dan ….clap….. Muncul dua sosok makhluk berjubah hitam di depan kami.
Lah…makhluk apalagi ini?

“Hamba datang memenuhi panggilan Gusti Putri!” kata mereka serentak dan membungkukkan badan pada Zulaikha.

“Tak usah banyak adat. Aku minta tolong kalian untuk melacak sumber serangan yang menuju ke sini! Cari informasi selengkapnya!”
“Baik Putri… Hamba segera berangkat!”
Wush….. Mereka berdua melesat cepat sekali.
Dalam sekedipan mata, bayangan mereka sudah lenyap.

“Aku pikir kamu yang bakal pergi, ga tahunya nyuruh anak buah!”
“Hehe…lagi males pergi-pergi sih. Lagian juga aku jaga di sini, supaya pagar ghaib itu ga tembus!”
“Pinter ngeles ah…!”
“Hihihi…..!”
‘Tapi kok mereka manggil kamu Gusti Putri tadi?”
“Ah…itu karena kebiasaan mereka kok.”
“Atau jangan-jangan kamu anak Raja Jin ya?”
“Ada deh .. Ntar juga kamu tahu sendiri kok!”

Malah nambah teka-teki aja. Udah lah..mending fokus sama serangan ini dulu.

Hanya kira-kira 10 menit, kedua makhluk suruhan Zulaikha tadi sudah kembali.

“Apa yang kalian dapatkan?”
“Ada beberapa hal yang kami dapatkan Putri! Pengirim serangan itu adalah seorang dukun di daerah X, yang dituju adalah Aji, dan yang menyuruh adalah Kevin?”
“Informasi itu sudah akurat?”
“Sangat akurat Putri…!”
“Baik, kalian boleh kembali!”
“Baik… Kami mohon pamit…!”

Zulaikha mengangguk dan kedua sosok itu segera memudar dan hilang dari pandanganku.

‘Kamu sudah dengar sendiri kan, apa yang dikatakan dua utusanku itu?”
“Wah ..ga ada kapok-kapoknya si Kevin ini!”
“Apa biar aku samperin aja si Kevin dan aku buat lumpuh saja dirinya!”
“Sudah…biarkan dulu saja… Biar kulihat apa maunya dia. Kok sampai ngirim begituan lagi! Gimana kalo kamu beri peeingatan saja dukun yang membantu Kevin?”
“Ga perlu… Dia pasti sudah ga berdaya, diinterogasi oleh dua telik sandi tadi!”
“Kok bisa begitu sih?”
“Coba deh kamu pikir, gimana bisa mereka dapat indormasi itu dengan cepat jika hanya mengandalkan penyelidikan? Paling efektif adalah, menginterogasi pelaku. Dan itu sudah terbukti efektif!”
“Wah…ga beda sama cara kerja manusia ya?”
“Manusia sih cuman meniru kami saja. Kami sudah melaksanakan itu sejak ribuan tahun lalu!”

Aku cuma mengangguk-angguk seolah mengerti.
Padahal ga paham…hehe.

Aku malah berpikir, kenapa Kevin kok sedemikian bencinya denganku.
Sampai aku tak sadar bahwa bola api sudah tidak ada lagi sejak tadi.
Entah kapan berhentinya. Kalau memang benar kata Zulaikha, berarti serangan itu berhenti saat dukun diinterogasi telik sandi tadi.

Aku penasaran…apa yang sedang diperbuat Kevin saat ini. Tiba-tiba aku pengin tahu banget.

“Kamu bisa bawa aku ke tempat si Kevin ga?”
“Tentu bisa..kamu pengin kesana sekarang?”
“Tapi aku ga tahu alamatnya…!”

“Kamu mau ke sana sekarang?”
“Iya…tapi aku ga tahu rumahnya…!”
“Tenang…aku tahu. Kan aku dah pernah nyuruh temen2 buat gangguin dia…!”

Oh ..iya… Kenapa daku sampai lupa…?

Zulaikha memegang tanganku dengan lembut ..menatapku dan…..

“Pejamkan matamu….!” katanya.
Wah…mau diapain nih…..pikirku.

BLETAKHHH….kepalaku digetok Zulaikha.

“Ga usah mikir yang engga-engga…!”
“Hehe…!” aku nyengir.
“Katanya pengin ke rumah Kevin…tutup mata dan jangan buka sampai aku suruh…!”
“Iya..iya… Galak amat sih…!”
“Makanya jangan mikir yang bukan-bukan…!”

Aku menutup mataku erat-erat… Lalu kurasakan belaian halus…..dari angin. Seperti diajak naik motor aja rasanya… Mukaku terdampar oleh angin.

“Sudah sampai… Buka matamu!”
“Ah…yang bener… Masa cuman bentar doank?” kataku sambil masih memejamkan mata.
“Mau digetok lagi kepalanya? Udah buka mata dan lihat…!”

Aku membuka mataku dan tampaklah sebuah rumah besar dan mewah di depanku.
Beneran…ini rumah Kevin? Mewah amat… Tajir amat…
Ah…aku ga yakin kalo ini rumahnya… Pasti ini rumah ortunya Kevin….

“Ini rumahnya?” tanyaku.
“Bukan..ini rumah bapaknya..!” sahut Zulaikha. Skak mat….
Gemes juga lama-lama sama jin satu ini… Pengin aku….

“Pengin ngapain?” tanya Zulaikha melotot padaku.
“Hehe…pengin tahu kamarnya Kevin!”
“Ayo ikut aku…!”

Zulaikha melayang menuju lantai dua rumah itu.
Lha aku? Pikun juga tuh jin cewe deh… Trus aku disuruh manjat dinding gitu?
Hadeeh…..bener-bener…
Aku cuma diam kayak orang bego melihat Zulaikha menghampiri sebuah jendela.
Tampak mulutnya bergerak…entah bicara apa.
Lalu kepalanya menengok ke belakang, dan mencari-cari… Ketika melihatku yang bengong di bawah…dia segera melesat menghampiriku.

“Disuruh ikut kok malah bengong di sini? Katanya pengin tahu kamarnya Kevin… Malah ngejogrok di sini. Gimana sih?”
Dah kayak petasan renceng aja tu mulut ngomel-ngomel.

Aku diem aja menunggu dia selesai ngomel.

“Udah selesai ngomelnya Tuan Puteri?” tanyaku.
“Belum…kenapa?”
“Lah..kamu bisa terbang ke lantai dua. Lha aku gimana? Suruh manjat dinding?” omelku.
Sekali-kali ngomelin jin ga papa kali ya?

Zulaikha menepuk jisatnya…

“Ahaha…maaf..maaf…aku lupa!”

Zulaikha meraih tanganku dan dia melesat ke atas. Aku ikut tertarik ke atas. Tanganku yang sebelah segera memegang erat tangannya.
Takut kalo pegangannya lepas dan aku terjatuh. Lantai 2 ini lho. Minimal 4 meter tingginya… Kalo jatuh khan sakit…

“Ngapain pegangan kenceng banget?”
“Takut jatuh lah…..!” jawabku.
“Udah…ga usah takut. Biar aku cuna menyentuhmu, kamu ga bakalan jatuh. Apalagi ini aku pegangin…!”
“Oh ..gitu ya…?” aku melepas satu tanganku. Dan ternyata aku masih dalam posisi melayang di sampingnya. Kok bisa ya?
Ilmu jin emang aneh-aneh…

“Ini…gimana caranya kita lihat si Kevin? Jendelanya aja ditutupi korden gitu?”
“Sebentar……!”
Zulaikha menyentuh dinding kamar Kevin… Dan dinding itu perlahan menghilang dan berubah seperti kaca. Memperlihatkan bagian dalam kamar Kevin.
“Dia bisa lihat kita ga?” tanyaku.
“Ga bisa lah… Dalam pandangannya, ini tetep tembok.”

Aku mengangguk dan menatap ke dalam kanar Kevin.
Tampak dia sedang duduk di kursi dan bermain lempar sasaran.
Namanya apa ya? Itu lho…yang ada papan bulat dengan lingkaran dan dilempar pake panah kecil…
Anggap saja reader paham yak?

Dan kulihat di papan itu ada sebuah foto. Karena agak jauh…aku kurang jelas.
Maka aku mendekati dinding yang hilang tadi dan memusatkan pandanganku pada foto itu.

Nah…jadi lebih jelas…
Eh..bujug ..itu fotoku ternyata. Dan ada beberapa anak panah yang menancap di fotoku.
Waduh….hilang sudah kegantenganku….

“Hahaha…matilah kau Aji. Jangan dikira aku sudah kalah. Rasakan penderitaanmu besok…. Huahaha…!”

Aku geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.
Begitu bencinya Kevin sama aku..hingga dia ingin menyingkirkan aku.
Betapa picik pikirannya….

“Biar aku hajar dia ya?” kata Zulaikha.
“Jangan…biarkan saja. Kita lihat saja kelanjutannya!” kataku.

Tak lama ponsel Kevin berdering…
Kevin mengambil ponselnya, dan melihat siapa yang menelponnya lalu….
“Halo….gimana Mbah? Sudah beres khan…?”
“……………………”
“Apa…??? Gagal mbah….? Kok bisa? Aku dah keluar uang banyak lho mbah… Kok bisa gagal?”
“……………………….”
“Ga mau tahu Mbah… Pokoknya harus berhasil mentingkirkan anak itu…!”
“………………….”
“Simbah ga berani lagi? Emang apa istimewanya bocah itu sih? Susah amat mau matiin dia….?
B*j*n**n….!”
“……………….”
“Ya sudah… Pokoknya uang harus kembali!”

Kevin menutup percakapan itu.
Aku tebak itu pasti dari dukunnya yang sudah dihajar sama utusannya Zulaikha.

“Pulang yuk…!” ajakku pada Zulaikha.
“Ga diapa-apain dia?”
“Ga usah… Biarlah..nanti juga dapet balasannya!”
“Ya udah… Tutup matamu…!”

Aku menutup mata, dan dalam 3 hitungan…aku dah sampai kost lagi.

Kasihan aku melihat Kevin.. Dia sudah dibutakan dendam dan iri dengki.
Semoga dia bisa sadar dan jadi lebih baik… Amiinn..

Aku mulai duduk bersila, bersiap.untuk meditasi lagi. Melatih lagi tenaga dalamku agar terus meningkat.
Saat itulah ponselku berbunyi..

cerbung.net

SANG PAMOMONG

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Dalam kepercayaan Jawa, bayi yang baru lahir, didampingi oleh sosok PAMOMONG. MOMONG dalam khasanah bahasa Jawa, artinya Mengasuh. Nah..sosok Pamomong itu bisa juga disebut sebagai PENGASUH. Sosok Pamomong adalah sosok.ghaib yang hanya bisa dilihat oleh sang jabang bayi. Kadang kita melihat bayi yang ketawa-ketawa sendiri, sambil matanya melihat ke atas. Dipercaya, bahwa saat itu, sang bayi sedang diajak bercanda atau bermain oleh Pengasuhnya. Dari kepercayaan tersebut, cerita ini terlahir. Sebuah kisah fiksi yang akan menceritakan tentang seseorang yang sampai masa dewasa bisa melihat dan berkomunikasi dengan Sang Pamomong. Semoga bisa menghibur para reader semua.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset